Diandra terkejut saat melihat jari-jari Adam bergerak. Tangan Diandra yang sejak tadi memegangi tangan Adam juga ikut gemetar. “Adam ...,” desisnya lirih. Ia terkejut bahagia dan juga bercampur panik.
Diandra mulai berteriak, “Dokter! Suster Lina! Tolong!”
Perawat Lina yang baru saja melangkahkan kaki keluar dari ruangan rawat Adam untuk mencatat perkembangannya itu pun terkesiap mendengar suara teriakan Diandra. Ia pun bergegas kembali ke dalam.
“Ada apa?” tanya Lina dari gawang pintu. Kedua matanya melihat ke arah Diandra yang memegangi tangan Adam.
“Adam bergerak,” jawab Diandra dengan mimik muka panik. “Monitor jantung itu pun grafiknya naik turun. Apa ini pertanda baik?”
Lina bergegas menghampiri Adam. Dengan cepat ia melihat kondisi Adam dan kemudian bergegas kembali keluar untuk memanggil dokter.
Diandra ditinggal sendirian dengan perasaan berkecamuk. Tangannya gemetaran. “Adam ... apa kamu sebentar lagi akan sadar? Aku di sini ....”
Tidak lama kemudian, Lina datang bersama dokter Tio. Dokter yang menangani Adam itu pun cekatan memeriksa pasiennya. Tapi belum juga Dokter Tio menyimpulkan sesuatu pada kondisi Adam.
Kelopak mata Adam terbuka pelan.
Dokter Tio pun senang melihatnya.
Perawat Lina pun juga demikian. Ia ikut bahagia melihat satu pasien yang sudah lama terbaring tak berdaya ini memberikan tanda-tanda kemajuan.
Sepasang mata indah Diandra langsung berkabut. Air mata sudah mengantri di pelupuk matanya. Ia menangis dan memeluk Adam yang baru saja membuka mata.
“Sabar ... sabar mbak Diandra. Berikan suaminya ruang untuk bernafas dulu,” ujar Dokter Tio.
Diandra menganggukkan kepalanya, mengerti. Niatnya yang ingin memeluk Adam kini diurungkannya.
Tatapan Adam nampak masih lesu. Gerakannya pun masih lemas. Ia melihat satu persatu semua orang yang ada di dalam ruangan.
***
Setelah bersabar selama beberapa jam, kini Diandra sudah tidak sabar untuk mendekati Adam dan berbicara dengannya.
Pesan Dokter Tio tadi, agar Diandra sedikit bersabar dan membiarkan Adam memahami kondisinya.
Ketika siuman tadi, Adam terlihat seperti orang linglung. Ia belum berbicara sepatah kata pun.
Adam hanya melihat sekeliling ruangan dan melihat satu persatu orang yang ada di dalam ruangan tanpa berbicara. Anehnya, Adam memandangi Suster Lina lebih lama ketimbang ia melihat Diandra dan dokter Tio.
“Hei ...,” panggil Adam pada Diandra. Seraya Diandra adalah orang asing.
Diandra langsung beranjak dari duduknya. Ia tidak mempersoalkan soal cara Adam memanggilnya. “Ada apa Adam? Apa kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Diandra perhatian.
Adam menggelengkan kepalanya. Setelah minum air putih tenggorokannya seakan ada yang mengganjal. Rasanya seperti saluran kerongkongannya itu kering dan menempel. “Aku ingin buah,” jawab Adam sembari menunjuk pelan beberapa apel yang ada di atas piring.
Diandra langsung mengambilkan buah apel yang diminta Adam dan mengupasnya secepat kilat. Ia senang Adam kini sudah sadar. ‘Nanti malam ketika Yogi datang untuk menemaninya, pasti dia kaget saat mengetahui Adam sudah siuman,’ batin Diandra.
Beberapa potongan apel sudah terkupas dan terpotong dadu di atas piring kecil berbahan melamin warna biru. Diandra hendak menyuapi Adam apel itu.
Namun tanpa diduga, Adam memundurkan wajahnya. Menghindari suapan dari tangan Diandra.
Diandra terkejut mendapati sikap Adam begini. “Ini apelnya ....”
Adam memilih mengambil potongan apel dengan garpu kecil dengan tangannya sendiri. Lalu ia menyuapnya tanpa bantuan Diandra.
Diandra terdiam sambil menatap Adam. Sikap Adam terasa dingin dan seperti orang lain. Dan sejak siuman tadi, Adam tidak mengajaknya berbicara.
Separuh apel yang sudah dikupas dan dipotong dadu itu pun sudah disantap Adam.
Adam dan Diandra saling menatap.
“Hei ...,” Adam memanggil Diandra tanpa nama.
“Ya apa?” sahut Diandra buru-buru.
“Siapa kamu? Dan ke mana Mamiku?” tanya Adam yang sontak membuat Diandra sangat terkejut.
Sepasang mata Diandra langsung membulat mendengar pertanyaan Adam. “A-apa maksudmu Adam? Kenapa kamu tidak mengenalku? Aku Diandra. Apa kamu tidak ingat siapa aku?”
“Aku tidak mengenalmu!” sahut Adam dengan nada lebih tinggi. “Di mana Mamiku, Hesti?! Aku ingin bertemu Mamiku dan juga Rena.”
Diandra menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menyangka akhirnya akan seperti ini. Kenapa bisa-bisanya Adam tidak mengenalinya. “Aku Diandra, istrimu. Di sini tidak ada yang bernama Rena.”
Adam menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengenal kamu! Aku ingin bertemu Mamiku dan juga Rena. Bisa-bisanya mengaku-ngaku sebagai istriku!”
“Aku memang istrimu, Adam. Dan tidak ada yang namanya Rena di sini!” sahut Diandra menjelaskan. Dari awalnya bersuara pelan. Kini Diandra sudah mulai tidak sabar. Ia berbicara dan menjelaskan pada Adam dengan suara nyaring.
“Tadi Rena ada di sini. Apa sekarang Rena sudah menjadi Suster? Kenapa dia menjadi suster? Padahal kuliah jurusan bisnis,” ucap Adam melantur.
Diandra benar-benar kebingungan dengan yang baru saja terjadi. “Siapa Rena? Engga ada yang namanya Rena di sini ....”
“Selamat sore Mas Adam,” sapa Lina sambil membawa buku besar berisikan catatan medis dan juga alat tensi darah.
Diandra dan Adam sama-sama melihat ke sumber suara. Mereka memandangi Lina yang berdiri di gawang pintu.
Tatapan Adam tidak bisa lepas dan tak berkedip dari Lina yang melangkah menghampirinya.
“Mbak, kenapa Adam tidak mengenali saya ya? Kenapa dia terus mencari− ....” Kalimat Diandra yang ingin memberitahu pada Lina langsung terpotong oleh kata-kata Adam yang menggebu.
“Rena!” ujar Adam sambil menarik tangan Lina dan menggenggamnya. “Rena, kenapa kamu engga di sini saja sih! Kamu jadi suster sekarang?”
Ucapan Adam terus menerus melantur.
Diandra dan Lina seketika langsung saling bertatapan. Mereka terkejut dengan sikap Adam.
Lina melepaskan tangan Adam dengan perlahan dan lembut. “Tenang lah Mas Adam ... Aku bukan Rena.”
Mendengar jawaban Lina, Adam justru tidak terima. Ia mencengkram kuat pergelangan tangan Lina. Memaksa untuk Lina mengaku sebagai Rena. “Jangan berbohong Ren! Aku tahu kamu marah padaku. Aku memang pria b******k yang hanya menyukai pesta dan kesenangan semata. Tapi perasaanku padamu itu tulus dan nyata. Aku mencintaimu, Rena ....”
Bagai disambar petir di siang bolong, Diandra tidak percaya mendengar semuanya.
Apa-apaan ini?! Siapa Rena? Kenapa Adam tidak mengenaliku? Kenapa dengan Adam? Kenapa tingkahnya menjadi aneh?, tanya Diandra di dalam hatinya.
Banyak tanya memenuhi kepalanya. Membutuhkan jawaban segera secepatnya.