Dari kejauhan Yogi bisa melihat Diandra yang tertunduk lesu sambil menatap nanar satu titik di depannya.
Ia merasa aneh. Bukankah harusnya Diandra bahagia dengan keadaan Adam yang sudah lebih baik dan kini telah siuman? pikirnya.
“Diandra!”
Panggilan Yogi memecah lamunan Diandra. Ia mengandah, menatap ke arah suara.
Yogi berjalan tergesa-gesa menghampirinya yang duduk di depan ruang perawatan Adam.
“Bagaimana keadaan Adam? Kamu bilang dia sudah sadar? Harusnya kamu bahagia. Bukannya berwajah muram begini?”
Diandra menghela nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. “Aku bahagia dan bersyukur Adam siuman dan masa kritis dirinya telah hilang. Tapi setelah membuka mata, Adam kini tidak lagi seperti sebelumnya. Dia ....” Kata-katanya terpenggal. Suaranya mengambang di udara.
Yogi menanti lanjutan kata-kata yang terjeda itu. Namun Diandra tidak kunjung meneruskannya.
“Dia kenapa ...? Kenapa dengan Adam?” desak Yogi.
Belum juga menjawab pertanyaan Yogi. Air mata Diandra meleleh. Membasahi pipinya yang bersih.
Yogi menjadi penasaran dengan apa yang telah terjadi. Raut muka Diandra benar-benar kusut. “Hei, hei ... Ada apa? Kamu membuatku menjadi takut. Memangnya apa yang terjadi?” tanyanya berulang-ulang.
“Adam hilang ingatan. Dia tidak mengingatku. Tapi dia mengingat orang tuanya. Dia mengingat maminya. Tadi ketika siuman dari komanya, Adam mencari Tante Hesti. Bahkan dia tidak tahu jika Tante Hesti saat ini sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi dia tidak mengenal aku. Dia justru memanggil Suster Lina dengan panggilan Rena,” jelas Diandra lirih dan parau.
Hening.
Yogi menatap nanar Diandra.
“Adam tidak mengenaliku Yogi ... Dia benar-benar tidak mengenaliku ... Dia justru mencari wanita lain,” pekik Diandra lirih.
“Rena? Siapa Rena?” tanya Yogi tidak faham.
Diandra mengusap air matanya yang mengalir perlahan kembali. Suara sedu sedan tangisnya ikut menyayat perasaan Yogi yang selalu berempati padanya.
“Entahlah ... aku tidak tahu ...! Sepertinya Ardy mengenalnya.”
“Lalu sekarang dia di mana?”
Diandra mengendikkan bahunya. “Entahlah aku tidak tahu ...,” ulangnya masih diiringi isak tangis. “Adam tadi memanggil suster Lina dengan nama Rena. Adam bilang, dia sudah mencarinya ke mana pun. Sepertinya Adam sangat mencintai Rena.”
“Ini tidak bisa dibiarkan!” seru Yogi lirih. Ia mulai emosi. Kesal dengan Adam yang bisa-bisanya lupa dengan Diandra yang selalu mecemaskan dan menemaninya siang dan malam. “Katamu Adam hilang ingatan, tapi kenapa dia masih mengingat Mamanya, masih mengingat Rena?! Apa dia mempermainkan kamu? Lihat saja, jika dia mempermainkan kamu! Aku akan buat perhitungan dengannya! Tidak peduli jika dia masih sakit!”
“Tunggu dulu Yogi!” Diandra menahan sahabatnya itu untuk menghampiri Adam. “Jangan kamu lakukan!”
“Kenapa? Kenapa kamu terus membelanya?” Sepasang mata Yogi mulai berapi-api. “Dia pasti tahu jika kamu adalah istrinya. Bagaimana bisa dia mencari wanita lain di depanmu? Adam sama sekali tidak menghargai perasaanmu.”
“Dia memang tidak ingat padaku. Dia tidak merasa menikahiku.”
Raut muka Yogi berubah datar. “Astaga ... Bagaimana bisa ...?”
“Sudah aku bilang, Adam hilang ingatan! Dia tidak lagi mengingat aku.”
Yogi masih tidak faham. Baginya jika Adam hilang ingatan atau yang biasa disebut amnesia, harusnya Adam tidak mengingat semuanya. Tapi ini Adam masih mengingat pada Mamanya dan juga wanita bernama Rena itu.
“Adam ... Mengalami amnesia Retrograde ... Hilang ingatan sebagian karena kerusakan pada otak. Benturan ketika kecelakaan terjadi sangat keras hingga menyebabkan trauma kepala yang parah.”
Hening.
Yogi kini diam. Tidak lagi penuh kekesalan dan akan meledak-ledak. “Hilang ingatan sebagian?”
Diandra menganggukkan kepalanya pelan. Netranya terlihat sembab dan genangan air mata masih terlihat jelas di kelopak matanya. “Ya, kata dokter yang menangani Adam mengalami gejala amnesia Retrograde. Aku ... Sepertinya harus lebih sabar ....”
Yogi menarik nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengusap keningnya hingga ke bagian belakang, membuat rambutnya sedikit acak-acakan.
Diandra menatap Yogi yang kini terlihat gelisah. Ia tahu jika sahabatnya itu mengkhawatirkan dan memikirkan keadaannya ke depan. “Aku pasti bisa melewati semua ini, Yogi ... Kamu tidak usah mencemaskan aku.”
“Aku tidak mencemaskan mu,” jawab Yogi berdusta. Ia tidak mungkin menjawab jujur jika ia memang sangat khawatir. Adam mengalami kerusakan otak hingga membuat memorinya hilang sebagian. Dan entah amnesia ini hanya sementara atau akan selamanya?
Bagaimana jika Adam tidak mengingat masa-masa yang pernah dia lewati bersama Diandra? Apa Diandra akan terus berjuang untuk membangkitkan cinta Adam padanya kembali? pikir Yogi dalam diamnya.
Diandra tersenyum kecut. Ia tahu Yogi berbohong padanya. Sejak kecil mereka tumbuh bersama, di panti asuhan hingga menghadapi dunia dengan keringat mereka sendiri. Mereka saling menjaga dan melindungi satu sama lain.
Yogi tidak tahan dengan tatapan Diandra yang berkaca-kaca. Ia memalingkan mukanya sambil berucap, “Aku tidak mencemaskan kamu. Aku tahu kamu adalah orang yang kuat. Kamu pasti bisa melewati ini semua.”
Bibir Diandra terkatup. Kedua tangannya merenggang dan kemudian memeluk erat Yogi.
Yogi terkejut dengan pelukan Diandra.
“Terima kasih sahabat terbaikku, kamu selalu ada bersamaku apa pun yang terjadi,” bisik Diandra lirih.
Nafas Yogi semakin berat dan dalam. Pelupuk matanya sudah terasa hangat dan mulai menggenang air mata. ‘Aku akan selalu ada untukmu Di ... Walau kamu hanya menganggapku seorang kakak,’ ujarnya di dalam hati.
“Diandra!” panggil seseorang dengan suara khasnya. Ia melambaikan tangan.
Diandra dan Yogi spontan menoleh dan kemudian melepaskan pelukan.
Pasangan muda yang terlihat kompak berjalan menghampirinya.
“Maaf, aku baru ke mari lagi. Halina, sedang tumbuh gigi ... Dia sedikit demam dan rewel,” ujar Bunga sambil memeluk saudara kembarnya.
Diandra membalas pelukan saudarinya. “Tidak apa-apa. Justru harusnya kamu tidak usah ke mari. Kasian Halina jika ditinggal sendirian.”
“Tidak apa-apa. Ada pengasuhnya – Ida,” jawab Ardi. “Bagaimana keadaan Adam? Aku ingin melihat keadaannya. Syukur puji Tuhan dia sudah siuman.”
“Kita sudah boleh menjenguknya kan? Tidak ada batasnya beberapa orang yang boleh masuk ke dalam ruangan?” tanya Bunga hati-hati.
Diandra menggeleng. Di dalam hati ia ingin mengetahui apa dengan Ardi dan Bunga, Adam masih ingat? Atau juga lupa seperti dia melupakannya?
Setelah Ardi menyapa Yogi yang berdiri di samping Diandra, ia pun berjalan lebih dulu dari pada yang lainnya. Ia terlihat sangat bersemangat ingin segera bertemu dan memeluk saudara tirinya itu.
Diandra memandangi punggung bidang Ardi dengan tatapan kosong. Lalu ia menoleh ke kanan dan memandangi Bunga. “Bun, apa kamu pernah mendengar nama Rena?” tanyanya lirih.
Kening Bunga berkerut ketika mendengarnya. Ia memandangi Diandra. “Memangnya kenapa?”
“Apa kamu mengenalnya?” Diandra ingin tahu.
Bunga mengigit bibir bawahnya. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu Di?”
“Aku hanya ingin tahu ... Tolong jawab Bunga ... Aku hanya ingin tahu. Apa kamu kenal dengan wanita bernama Rena?”
Bunga mengangguk. “Sebetulnya mengenalnya tidak. Tapi aku pernah mendengar nama itu diceritakan oleh Ardi.”
“Jadi kamu tahu di mana Rena sekarang?”