Tak dilihat

1073 Words
Adam terbangun dari tidur siangnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Sunyi. Perut Adam berbunyi dan merasa lapar. Netranya melirik ke arah jam di dinding. Sudah pukul dua siang. Pantas saja perutnya terus berbunyi. Jam ini, memang sudah lewat waktu santap siang. Adam ingin mandiri walau belum bisa berjalan. Ia ingin naik ke atas kursi roda sendiri. Tapi sayangnya kursi roda miliknya berada jauh dari jangkauan. Disimpan di sudut ruangan agar tidak sempit. Kursi roda tersebut tidak berada di sisi ranjang tidur. Karena tidak bisa menggapai kursi roda, Adam kembali berteriak-teriak memanggil Diandra. “Diandra!” “Diandra!!” panggilnya beberapa kali. Tapi sayangnya Diandra tidak segera datang dan membuat Adam semakin murka. “Astaga di mana sih dia. Katanya ingin merawat dan membantuku, tapi saat aku butuh, dia tidak segera menghampiri,” lanjutnya menggerutu. Lina yang datang ke rumah Adam dan Diandra karena memang memiliki niat tertentu, tentu saja selalu waspada berjaga di dekat kamar Adam. Ia memang berencana untuk mengambil hati Adam. Merusak pernikahan Adam Diandra. Adam jatuh cinta dan tergila-gila padanya, tapi saat Adam tengah jatuh cinta padanya, ia akan mencampakkan pria yang sudah membuat Kakak perempuannya bunuh diri. “Di mana sih, Diandra itu ...,” sungut Adam kesal. Ia segera berusaha turun dari ranjang dan meraih kursi roda. “Brak!” Adam terjatuh dan tersungkur di atas lantai yang dingin. Kepalanya terbentur lantai keras. Membuat keningnya terlihat memar biru keunguan. “Ya Tuhan, Mas Adam ...,” ujar Lina lirih. Raut mukanya sengaja dipasang ekspresi cemas. Ia langsung menghampiri Adam lalu setengah merangkulnya untuk membantu berdiri. “Kenapa tidak memanggilku? Aku pasti akan segera datang membantu,” sambungnya dengan mimik muka seseorang berhati tulus dan baik hati seperti malaikat. “Aku sudah memanggil Diandra. Tapi dia tak kunjung datang,” gerutu Adam. “Kenapa memanggil Mbak Diandra? Sudah jelas mbak Diandra itu tidak iklas merawat Mas Adam. Lihat kan, mbak Diandra tidak segera datang ketika dipanggil?” Adam diam mengatupkan bibirnya. Ia tidak berkomentar. Lina membantu Adam untuk kembali duduk di tempat tidur. Tapi Adam menolak. “Aku ingin menggunakan kursi roda. Aku ingin ke dapur,” ujarnya lirih. “Mas Adam ingin makan siang?” tanya Lina menembak. “Iya, aku lapar saat bangun tadi,” jawab Adam. “Ayo, aku antarkan mas Adam ke ruang makan. Tadi sebetulnya aku sudah membawakan satu nampan berisi makanan dan obat untuk dikonsumsi mas Adam. Tapi mbak Diandra memarahiku dan mengusirku keluar kamar. Dia bilang harusnya aku tidak pantas masuk tanpa permisi ke kamar Mas Adam. Padahal aku kan hanya membawakan makanan dan obat,” kata Lina mulai mengadu domba dan mencari simpati. “Telat makan itu akan berakibat fatal.” Adam tidak menyahut. Ia hanya menyimak. Di dalam hati ia sangat kesal kepada Diandra yang meninggalkannya sendirian di kamar. ‘Katanya ingin merawatku. Tapi apa ini ... Aku ditinggal sendirian di kamar. Untung saja ada Suster Lina yang bekerja di rumah ini,' batinnya. Lina mendorong kursi roda dan kini mereka sudah sampai di ruang makan. Ia membuka tutup saji, memperlihatkan menu apa saja yang telah dibuatkan oleh Bi Ijah. “Mas Adam mau makan yang mana?” tanya Lina lembut. “Kentang goreng balado ini pasti kesukaan Mas Adam,” sambungnya sembari menyendokkan nasi dan kentang goreng balado ke dalam piring keramik lebar dengan ukiran indah. Bi Ijah yang tengah mengupas buah-buahan untuk diolah menjadi es buah, mendengar ada suara seseorang bercakap-cakap. Ia pun langsung beranjak berdiri dan mengintip dari balik dapur. Netranya terkesiap dan membola tak kala melihat perawat yang baru bekerja di rumah besar ini tengah menyuapi majikan prianya. Lina menyuapi, seakan Adam adalah anak balita yang perlu di manja. “Astaga, perawat itu bisa-bisanya tidak tahu batas!” gerutu Bi Ijah dan berniat hendak melaporkan apa yang dilihatnya kepada Diandra. Sampai Adam sudah selesai makan siang, dan Lina menyeka sudut bibir Adam dengan tissue dari sisa-sisa makanan, Diandra yang baru pulang dari ruang Bunga melangkah masuk ke dalam ruang makan. “Rupanya kamu ada di sini, Adam,” ucap Diandra. “Tadi aku sudah panik ketika melihat kamu tidak ada di kamar.” “Oh ya, kamu panik?” Dari nada bicara Adam, terdengar seolah tak percaya. “Memang kamu mencemaskan aku?” “Kok kamu bilang begitu? Ya tentu saja aku mencemaskan kamu.” “Lalu, kenapa kamu baru pulang? Aku kan lapar!” Diandra sadar jika ini adalah kesalahannya. Harusnya tadi ia tidak terlalu lama berbincang dengan Bunga. Niat awal hanya ingin berbicara sepuluh menit tentang Rena, eh malah lupa waktu hingga lebih dari satu jam. “Maaf, Adam ... Aku memang salah. Tadi aku lupa waktu ke rumah Bunga.” “Katanya kamu ingin agar kamu saja yang merawat ku, dan akan membuatku jatuh cinta lagi padamu? Tapi mana? Kau itu hanya bisa omong besar. Gak ada niat! Aku yakin, kita menikah karena dijodohkan. Karena dari wajah dan sifat kamu bukanlah tipeku.” Hening. Hati Diandra terasa sakit. Ya sikapnya yang sedikit urakan di masa lalu memang bukanlah tipe Adam. Pada awalnya Adam menyukai Bunga yang memiliki sifat lemah lembut, feminim, lugu dan tidak urakan sepertinya. Tapi Bunga dan Ardy saling mencintai, sehingga Adam mengalah. Lalu karena obat perangsaang yang diberikan Dendi di minuman mereka. Membuat Adam dan Diandra melakukan cinta satu malam. “Ya, kamu mencintaiku karena memang wajahku yang mirip Bunga,” ucap Diandra lirih dan parau. Netranya mulai sedikit berkaca-kaca karena menahan air mata agar tak tumpah. Adam memandangi Diandra. Ia baru tahu bila awalnya ia menyukai Bunga – istrinya Ardy. Diandra menarik nafas panjang. Mencoba bersabar dan tak terprovokasi marah juga sakit hati dengan kata-kata Adam. ‘Adam sedang sakit, aku harus maklum,' ucapnya di dalam hati. Mencoba terus bertahan. Ia mendekat ke dekat meja dan akan mengambil satu piring kosong untuk Adam. Tapi netranya sudah keburu melihat sebuah piring dengan sisa makanan di atas meja. “Kamu sudah makan?” “Hm ... Sudah,” jawab Adam ketua. “Untung ada Lina. Jika menunggu kamu, aku keburu sakit mag.” Diandra terdiam. Ia hanya memandang Adam. Lalu netranya beralih memandang Lina yang berdiri di sisi Adam. Lina tak bersuara. Ia hanya tersenyum simpul dan kemudian menundukkan kepalanya. “Lina, antar aku kembali ke kamar. Aku mau menonton televisi,” pinta Adam dengan suara nyaring. “Baik Mas ....” Lina pun mendorong kursi roda dan membawa Adam ke tempat yang diinginkannya. Diandra diabaikan. Ia hanya bisa membisu dan berdiri seperti patung sambil memandangi kepergian Adam dan Lina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD