“Lina sedang apa kamu di sana?”
Lina menoleh dan terkejut ketika melihat Diandra berjalan dari ambang pintu dan mendekatinya.
“Aku mengantarkan makan siang untuk Mas Adam. Juga obat yang harus diminum siang ini,” jawab Lina sambil memandangi nampan yang ditaruhnya di atas meja.
Diandra mengikuti ke mana netra Lina memandang. Ia pun melihat satu nampan berisi makanan dan juga obat untuk dikonsumsi Adam.
“Adam sedang tidur siang. Bawa lagi saja makanan itu ke belakang,” ujar Diandra. “Padahal kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan ini. Ada bi Ijah untuk menyiapkan makanan. Juga ada aku, istrinya yang akan mengurus tentang kebutuhan Adam. Kamu di sini, hanya untuk membantu Adam kembali pulih berjalan lagi.”
“Tidak apa-apa, mbak,” jawab Lina sambil tersenyum. “Semuanya sudah satu paket. Aku akan menyiapkan makan Mas Adam dan juga obatnya,” sambungnya.
“Baiklah terserah kamu saja,” kata Diandra. “Bawa lagi makanannya ke belakang. Karena jika dibiarkan di atas meja, ketika Adam bangun, pasti sudah dingin.”
Diandra mengangguk. Lalu ia kembali mengambil nampan dan kemudian keluar kamar. Pergi ke arah dapur.
Diandra memandangi punggung Lina yang berlalu. Di dalam hati, ia mulai merasakan gelagat dan cara mata Lina memandangnya terasa aneh. Tapi ia tidak tahu apa itu ....
“Apa ini hanya perasaanku saja ...,” ujarnya lirih.
Diandra menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk melepaskan penat yang ada. Lalu ia melirik ke arah Adam yang masih nyenyak tidur siang.
Diandra berjalan ke lemari gantung untuk mengambil blezer dan juga tas selempang kecilnya. Ia akan pergi ke rumah Bunga yang masih di dalam satu lokasi perumahannya. Hanya berbeda blok.
Sebelum pergi, Diandra mendekat ke arah ranjang dan memandangi Adam lekat. Ia mengamati wajah Adam yang terlihat tenang.
Diandra mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di kening suaminya itu. “Aku pergi sebentar. Jangan bangun dulu sebelum aku pulang,” bisiknya lirih.
***
“Non Bunga ....” Bi Tini memanggil-manggil dari ruang tengah.
Bunga yang baru saja akan menyantap makan siang menoleh. “Apa Bi?”
“Non Diandra berkunjung.”
“Wah kebetulan sekali,” ujar Bunga senang. “Diandra, ayo kita makan bareng. Aku baru saja mau makan siang ini ....”
Derap kaki Diandra terdengar mendekat. “Aku juga belum makan siang. Ayo kita makan ...,” jawabnya sambil segera duduk di kursi makan. Berhadapan dengan Bunga. “Halina, mana?”
“Lagi diasuh sama Aida,” jawab Bunga.
“Ke mana baby sistermu itu membawa Halina? Tadi aku lihat tidak ada di ruang tengah.”
“Ada di taman belakang. Dari sini kelihatan,” jawab Bunga sambil menunjuk ke arah kanan. Dari jendela besar dengan kaca besar tembus pandang, memang terlihat Aida sedang menemani Halina bermain.
Lima menit Bunga dan Diandra makan siang bersama dengan selingan obrolan ringan seputar kesehatan Adam. Dan setelah bunga selesai menghabiskan isi piringnya, Diandra baru berani mengangkat topik pembicaraan yang lebih berat.
“Bunga ... Tadi pagi, saat Adam pulang dari rumah sakit, aku dan Adam mengunjungi rumah Rena. Di sana hanya ada bibinya. Orang tua Rena sengaja pindah rumah untuk melupakan sakit hati atas kematian putrinya yang bunuh diri,” ujar Diandra memberitahu. “Kenapa kamu tidak memberitahuku jika Rena sudah meninggal?”
Bunga menatap Diandra. “Ketika kamu bertanya padaku tentang Rena, sebetulnya aku ingin memberitahu kalau harusnya kamu tidak terlalu mencemaskan tentang Rena. Karena mantan Adam yang bernama Rena sudah meninggal. Tapi karena apa ya ... aku bisa lupa enggak ngasih tahu kamu,” jawabnya sambil memainkan bibir. Mengingat-ngingat kenapa niatnya yang ingin memberitahu Diandra soal Rena yang sudah meninggal sampai teralihkan.
“Jadi kamu sudah tahu kan kalau Rena telah meninggal?” tanya Diandra memastikan.
Bunga langsung mengangguk. “Sudah. Kenapa memang?”
“Jadi kamu juga tahu kalau Rena meninggal bunuh diri?”
Bunga mengangguk sekali lagi. “Iya,” jawabnya cepat. “Memangnya kenapa?”
“Apa kamu tahu juga jika Rena meninggal bunuh diri itu kemungkinan karena Adam?”
Seketika langsung hening.
Bunga memandangi Diandra lekat-lekat. “Maksudnya?”
“Bibinya Rena yang bernama Dahlia, mengungkit soal Adam yang mengetahui alasan Rena bunuh diri. Kemungkinan Adam menjadi penyebab kematian Rena,” jelas Diandra.
Bibir Bunga terbuka. “Aku baru tahu tentang ini, Di ... Ardy sama sekali belum menceritakannya kepadaku.”
“Menurut kamu, apa yang dikatakan bibinya Dahlia itu benar?” Diandra mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Suaranya berat dengan nada sedikit ditekan. Kedua alisnya mengerenyit seolah takut dengan firasat hatinya.
Bunga mengendikkan bahunya. “Entahlah ...,” jawabnya sembari menghela nafas panjang. “Tapi kamu tidak usah cemas. Kematian Rena memang terbukti bunuh diri. Dia melompat dari gedung universitas yang tinggi. Hasil otopsi juga menunjukkan jika tidak ada tanda-tanda bekas luka penganiayaan sebelumnya.”
“Aku yakin Adam tidak mendorong Rena dari atas gedung atau menganiayanya. Tapi aku berpikir ... Mungkinkah kala itu Rena sedang mengandung dan dia memutuskan untuk bunuh diri karena Adam tidak bertanggung jawab?” Diandra menyimpulkan. “Membayangkan hal itulah yang sebenarnya, membuatku bergidik ngeri. Karena jika pemikiran ku benar, aku pasti ikut kesal dan muak dengan Adam.”
“Astaga, Di ...,” tegur Bunga. “Kenapa kamu berpikir jauh? Lagipula masalah ini sudah lewat. Semua orang sudah melupakannya. Keluarganya pun pasti telah mengiklaskan kematian Rena. Dan Adam sudah move on. Buktinya dia menikahi kamu kan ....”
“Entahlah ... Tiba-tiba saja aku berpikir jika mungkin saja Rena bunuh diri karena tengah mengandung dan Adam tidak mau bertanggung jawab. Lalu ia bunuh diri dan hal itu membuat di dasar hati Adam yang terdalam sangat bersalah. Hingga ketika mengalami kecelakaan dan amnesia. Rasa bersalahnya lah yang masih membuatnya ingat tentang Rena dan masa-masa di usia dua puluh dua tahun.”
Bunga terdiam sembari memandangi saudari kembarnya. Lalu ia tertawa lirih sambil mengambil segelas air putih dan meminumnya.
“Hei, Bunga ... Kenapa kamu malah tertawa?” tegur Diandra tak suka.
“Kamu ini kebanyakan nonton film,” jawab Bunga masih dengan tawanya.
“Terkadang film itu terinspirasi dari kisah nyata.”
“Aku tahu, masa lalu Adam adalah seorang player. Dia play boy. Tapi aku yakin, Adam tidak akan berbuat kelewat batas sampai dia menghamili pacarnya dan tidak mau bertanggung jawab. Lari seperti seorang pecundang.”
“Bagaimana jika memang- ....”
“Hentikan Diandra,” tegur Bunga. “Kamu ini terlalu banyak berasumsi. Singkirkan kata ‘bagaimana’ dan ‘mungkin saja’ dari dalam kepalamu itu. Saat ini kamu harus fokus dengan kesehatan dan kesembuhan Adam. Lupakan tentang Rena atau membahas kematiannya,” sambungnya. “Memangnya kamu mau, jika Adam selamanya amnesia dan tidak melupakanmu? Dia tidak mengingat sama sekali tentang cinta di antara kalian? Buat Adam jatuh cinta lagi padamu.”
Diandra diam mendengarkan nasehat Bunga dengan seksama.
Bunga menatap lekat bola mata Diandra. “Buat Adam jatuh cinta lagi padamu ... dan dia akan mengingat semua kenangan yang sudah dilupakannya,” ucapnya dengan air muka serius.
Diandra mengatupkan bibirnya. Netranya gemetar memandang Bunga.