Setelah yakin Adam sudah terlelap, Diandra segera meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya dan menghubungi Ardy.
Tidak membutuhkan waktu lama menunggu, Ardy segera menjawab panggilan ponselnya. “Halo ... Ada apa Di?” tanyanya langsung menyapa.
“Hai, Ardy ... Maaf aku menganggu jam kerjamu,” jawab Diandra sambil melirik ke arah Adam yang sudah nyenyak tidur. Karena takut Adam pura-pura tidur dan mendengarkan perbincangannya dengan Ardy, Diandra berjalan menjauh. Ia keluar kamar.
“Diandra?” tegur Ardy memastikan jika Diandra masih berbicara dengannya.
Ketika sudah sampai di luar kamar dan berjalan di koridor, Diandra melanjutkan kata-katanya. “Ya, Ardy. Aku masih di sini.”
“Kamu meneleponku karena ada hal yang penting bukan?” Ardy sudah bisa menebak.
“Hm ... benar. Aku ingin menanyakan tentang Rena,” jawab Diandra.
“Rena? Adam masih menanyakannya?” tanya Ardy sekali lagi.
“Ya, nama Rena selalu ditanyakan oleh Adam,” tukas Diandra menegaskan.
Lina yang hendak berjalan menuju ke arah kamar Adam untuk mengantarkan makan siang dan juga obat untuk diminum kedua kali di hari ini, mendengar nama Rena disebut oleh Diandra. Ia pun langsung menghentikan langkah kakinya. Bersembunyi di balik dinding. Menguping.
“Tadi saat keluar dari rumah sakit, kami mampir ke rumah Rena,” tutur Diandra memberitahu. Ia menghentikan langkah kakinya dan berdiri sembari bersandar di dinding.
“Kalian ke rumah Rena? Serius?”
“Serius Ardy. Kami ke sana. Dan Adam sedikit kebingungan karena rumah Rena sudah berbeda. Tidak ada pohon mangga di depan rumahnya. Furniture yang berbeda. Dekorasi yang tak sama. Dia kebingungan ...."
Ardy yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan di ruang kerjanya, menghentikan tangannya yang sedang mengecek kertas-kertas di atas meja. Ia memilih fokus menyimak cerita dari saudara kembar istrinya itu. “Lalu ...?” tanyanya penasaran. “Apa Adam kini sudah tahu jika Rena sudah meninggal?”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku jika Rena sudah meninggal? Aku sampai harus menyiapkan diri, ketika ke rumahnya. Aku sampai harus berusaha biasa saja saat harus bertemu dengan mantan pacar suamiku. Kenangan terindahnya. Yang sampai sudah berlalu dan mengalami kecelakaan pun, masih diingat Adam,” ucap Diandra dengan nada kesal. "Eh ternyata Rena sudah meninggal. Aku terkejut. Adam pun kembali terpukul."
Ardy mengatupkan bibir. Menjilat bibir bawahnya. Raut mukanya tampak bersalah. “Maaf ... Tadinya aku memang ingin memberitahu kamu jika Rena yang dicari oleh Adam itu sudah meninggal. Tapi saat itu, karena melihat kondisi Adam yang belum stabil, aku tidak ingin membuat Adam tertekan.”
“Tertekan?” Diandra sedikit bingung. “Sebetulnya Rena itu meninggal bunuh diri karena apa? Tadi bibinya Rena yang bernama Dahlia, seolah menyalahkan kematian Rena pada Adam,” ujarnya memberitahu. “Apa Adam terseret dalam kasus kematian Rena?”
“Kala itu ayahku juga ikut mendampingi Adam. Adam tidak terbukti melakukan pembunuhan. Rena memang bunuh diri.”
“Hah ... Pembunuhan?” Wajah Diandra mendadak pucat. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
“Itu hanya praduga saja. Jangan khawatir. Dan jangan dengarkan apa pun yang dikatakan oleh bibinya Rena,” kata Ardy menasehati. “Sebetulnya- ....”
Belum juga kalimat Ardy selesai bicara, ponsel Diandra mati. “Halo ...? Ardy?” panggilnya berulang kali karena tidak mendengar suara Ardy.
Diandra menjauhkan ponsel yang dipegangnya. Ia memandangi layar ponsel yang mati. Lalu menekannya.
Ponsel tidak menyala. Tetap gelap.
“Siaal! Sepertinya daya baterai ponselku habis,” gerutunya.
Diandra menarik nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. “Aku penasaran dengan kematian Rena ....,” tuturnya lirih dan kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya. Ia berjalan menuju ke arah ruang keluarga bagian belakang, lalu menuju ke dapur untuk mengambil segelas air es. Kerongkongannya terasa kering dan harus dibasuh air dingin.
Setelah Diandra berjalan pergi dan yakin sudah jauh, Lina baru keluar dari balik dinding. Ia memandangi punggung Diandra sesaat dengan tatapan misterius. Dari sorot bola matanya, terlihat jika dia memiliki niat terselubung pada keluarga ini.
Lina berjalan menuju ke kamar Adam. Niatnya yang ingin menyuapi Adam ketika makan siang tidak terealisasi karena Adam tidur siang. Ia menaruh nampan berisi sepiring nasih dengan ayam goreng, dan semangkuk sayur bayam bening. Juga segelas besar air putih. Tidak lupa di mangkuk kecil sudah disiapkan obat untuk Adam konsumsi di jam makan siang.
Lina memandangi Adam. Ia tersenyum tipis. ‘Semoga saja amnesia mu ini akan terus berlanjut. Kamu harus mengingat terus kepada kakakku,’ katanya di dalam hati.
Flash back,
Lina yang kala itu masih remaja berdiri di belakang pintu kamar. Ia menangis setelah kepergian kakaknya Rena yang meninggal bunuh diri secara tragis. Melompat dari gedung universitas yang sangat tinggi membuat kepala Rena pecah dan hancur. Sebagian otaknya pun berceceran. Tulang-tulang rusuknya patah dan menonjol keluar merobek permukaan kulitnya sendiri.
Suara tangis orang tuanya dan juga pria asing terdengar berdebat.
“Adam tidak mungkin mendorong Rena dari atas gedung hingga jatuh,” ujar Hesti – Mami Adam.
“Ya, anak kamu memang tidak mungkin secara langsung mendorong Rena jatuh dari gedung. Tapi secara mental anakmu telah mendorong putri kamu untuk mengakhiri hidupnya!” Ernawati - ibunda Rena yang masih dilanda kesedihan dan berkabung itu berteriak.
“Adam dan seluruh keluarganya harus bertanggung jawab!” Wemvi - ayah Rena menambahi.
“Apa buktinya hingga kalian bicara seperti itu?” tukas Andri Subargja – ayah Adam yang juga merupakan ayah Ardy. Mereka saudara satu ayah beda ibu. “Semua tuduhan harus didasari bukti. Jika tidak, ini namanya fitnah!”
“Ya, ini fitnah!” tukas Hesti menegaskan. “Kami ke mari berniat baik. Kami ingin melayat dan bela sungkawa.”
“Kami tidak butuh bela sungkawa kalian! Kami tidak butuh kalimat sedih dan prihatin dari keluarga penjahat!” bentak Ernawati penuh emosi. “Tadi siang Adam ke mari, dan sudah kami usir! Kami tidak butuh air matanya.”
“Adam menghamili Rena, dan tidak mau bertanggung jawab! Makanya anak kami bunuh diri! Dia frustasi!” Suara Wemvi menggema dan menggelegar.
“Mana buktinya? Jika Rena memang hamil, tim otopsi pasti tahu. Jangan hanya karena berdasarkan curahan hati putri mu di buku diary, lantas kamu menuduh Adam sudah menghamili, tidak bertanggung jawab lalu membuat Rena bunuh diri,” sahut Hesti. “Omong kosong! Bilang saja kalian ingin memeras kami!”
“b******k! Keluarga biadaap!” Wemvi memaki sangat murka. Wajahnya memerah dan sepasang matanya menggenang air mata. “Aku tahu kalian orang kaya yang mampu membeli keadilan dan menutupi fakta. Kalian telah mengubah hasil otopsi Rena yang seharusnya meninggal dalam keadaan hamil, menjadi tidak hamil.”
“Orang-orang miskin hanya bisa memeras dengan cara rendahan seperti ini.” Hesti kembali memaki.
“Maaf, tuan Wemvi dan Nyonya Ernawati ... Kami ke mari tidak ingin berdebat dan bertengkar. Kami ke mari hanya ingin berbelasungkawa,” ujar Andri Subargja. Air mukanya terlihat sedih dan tertekan. Ia beranjak berdiri dari duduknya dan mengajak Hesti, istri sirinya itu untuk pergi dari rumah keluarga mendiang Rena.
“Lihat saja, cepat atau lambat kami akan membalas dendam! Kalian memang sangat kaya hingga bisa membeli keadilan! Tapi karma akan datang cepat atau lambat!” teriak Ernawati diiringi isak tangis. “Putriku yang malang ... Rena ...,” lanjutnya dengan suara lirih dan perih yang menyayat hati.
Lina berdiri di belakang pintu sambil menangis. Sejak saat itu, ia berjanji akan membalaskan dendam kakak perempuannya. “Aku akan membuat keluarga ini tidak bahagia ...,” gumannya lirih sambil memandangi Adam yang masih tertidur. “Harusnya kamu menikahi kakakku. Bukannya wanita itu ....”
“Lina, sedang apa kamu di sana?” Suara Diandra menegur.
Lina terkesiap dengan suara Diandra.
“Siapa yang menyuruhmu ke mari?” tanya Diandra yang berdiri di ambang pintu kamar.