“Sini biar aku bantu, Mas Adam naik ke atas ranjang,” ujar Lina dengan suara lembut. Gundukan bulat kebanggannya sengaja sedikit ditempelkan ke badan Adam. Ia memang benar-benar ingin menggoda Adam. Seolah ingin menguji apa Adam masih seperti dulu. Seorang playboy. Pria b******k yang sampai membuat kakak perempuannya meninggal.
Karena kakak perempuannya bunuh diri, meninggal secara tidak wajar. Membuat orang tua Lina terpukul. Kehidupan mereka tidak sama lagi. Ayahnya menjadi tidak semangat bekerja. Ibunya menjadi murung. Dan Lina tumbuh menjadi gadis pendendam.
Tadinya, Lina berniat untuk merusak tangga Adam. Karena berpikir jika yang pantas menjadi istri Adam hanyalah kakaknya saja – Rena. Ia juga akan membuat Adam dan orang tuanya celaka.
Namun ketika melihat betapa kaya rayanya Adam, niat Lina berubah. Ia harus mengambil hati Adam dan menguras habis hartanya. Lalu baru mendepak Adam. Membuatnya menderita dengan tubuh yang cacat dan kemiskinan.
“Lina, ayo bantu angkat aku ke atas ranjang. Jangan diam melamun begitu ...!”
Suara teguran Adam membuyarkan lamunan Lina yang tiba-tiba hinggap di kepalanya. “Oh iya, Mas ... Maaf ...,” tuturnya dengan wajah gelagapan.
Lina membantu Adam berdiri terlebih dahulu dengan melingkarkan lengan Adam di sekeliling bahunya. Lalu dengan gerakan tertatih-tatih, Adam mendekati ranjang dan duduk di sisi.
Tubuh Adam memang berat. Hal itu membuat Lina menjadikan situasi menjadi kesempatan. Ia pura-pura terjatuh dan menindih Adam.
Adam terkejut Lina jatuh tepat di depan badannya. Dua gunung kenyalnya itu terasa menekan.
Mereka bertatapan sejenak.
Tidak seperti yang diduga oleh Lina sebelumnya jika Adam akan senang dan tersenyum menggoda ke arahnya. Adam justru bersikap ketus.
“Suster Lina, apa yang kamu lakukan?!” tegur Adam dengan suara lantang.
Diandra yang baru membuka pintu kamar, terkesiap melihat apa yang ada di depan matanya. “Suster Lina? Adam?” tegurnya dengan nada suara terkejut tak percaya.
Lina langsung berdiri. Ia menunduk dan pura-pura malu. “Maaf, tadi badan mas Adam terlalu berat. Makanya ketika aku membantunya duduk, aku justru menimpa dirinya.”
Adam terlihat biasa saja. Ia sama sekali tidak merasa kikuk atau berwajah merah tersipu karena malu. “Lain kali hati-hati,” tukasnya dingin.
Lina melirik ke arah Adam. Kedua alisnya bertaut. Merasa sikap Adam aneh, tidak seperti yang ia duga.
“Ya sudah kalau kamu tidak sengaja. Terima kasih ... Kamu bisa melanjutkan pekerjaan lainnya.”
Lina mengangguk pelan. “Baik, mbak ....”
Diandra berjalan menghampiri Adam. Sedangkan Lina berjalan menuju pintu kamar. Mereka berpapasan dan saling melempar senyuman basa basi.
Diandra merapikan letak kaki Adam. Lalu menarik selimut yang ada di ujung.
“Tidak usah memakai selimut!” seru Adam. Suaranya yang nyaring, hingga membuat gema di dalam kamar yang luas dan besar ini.
Diandra langsung menghentikan gerakan tangannya yang akan melebarkan selimut.
“Siang-siang pakai selimut. Memang kamu pikir, aku seorang yang penyakitan?” tukas Adam ketus.
Diandra menghela nafas panjang dan dalam. “Aku perhatian sama kamu. Tapi kalau enggak mau diperhatikan ya sudah!” Diandra tidak kalah ketusnya.
“Kamu sudah berterima kasih kepada dokter Tio?” tanya Adam ingin tahu. “Jangan sampai orang luar menilai keluarga kita sama sekali tidak memiliki adab. Mamiku bilang jika nama baik itu sangatlah penting untuk bisnis.”
“Sudah. Hanya mengirimkan pesan chat ucapan terima kasih karena sudah perhatian dengan kesehatanmu. Sampai mengirimkan seorang suster ke mari. Tapi sih ... pesan chat yang aku kirimkan itu belum dibaca. Mungkin sepertinya dokter Tio sedang sibuk.”
“Hm ...,” jawab Adam singkat.
Sedikit sunyi sesaat.
“Katamu kita akan mengunjungi Mamiku. Kapan?” Pertanyaan Adam memecah kembali keheningan.
Diandra memandangi Adam. “Apa kamu rindu Mami?”
Adam mengangguk pelan. “Hm ... Aku merindukannya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.”
“Kamu mau sore ini, kita ke sana?”
“Oke.”
“Baiklah, kita akan menemui Mami Hesti jam empat sore ini,” jawab Diandra sambil tersenyum simpul. “Aku tidur siang dulu ya ... Aku ngantuk.”
“Memang kamu tadi dari mana?” tanya Adam ingin tahu.
“Aku ke rumah Bunga.”
Adam mencibir. “Kamu bilang, akan merawat ku dan akan membuatku jatuh cinta padamu. Tadi saja aku ingin ke ruang makan, kamu tidak ada. Aku nyaris saja terjatuh dari tempat tidur. Jika Lina tidak datang, jidatku ini pasti sudah benjol.”
“Aku berbicara sesuatu yang sangat penting dengannya, makanya harus saat ini juga.”
“Membicarakan apa?”
Diandra ingin menceritakan apa saja yang sudah dibicarakan pada Bunga. Namun kemudian ia teringat jika sepertinya hal itu akan membuat Adam teringat kembali dengan Rena dan juga tentang kematiannya. Bagi Adam peristiwa kematian Rena masih baru saja terjadi. Walau faktanya lima tahun sudah terlewati.
“Kamu dan Bunga membicarakan apa?” tanya Adam sekali lagi.
“Hm ... Hanya soal masalah perempuan saja. Kamu tidak perlu tahu,” jawab Diandra sambil tersenyum kecut dan memiringkan badannya. Ia tidur dengan membelakangi Adam.
“Soal begitu saja dibilang penting,” tukas Adam kesal. “Oh ya, teman pria mu yang berkulit agak hitam itu siapa namanya?”
Diandra yang sudah memejamkan matanya, kini kembali terjaga. Ia langsung membalik posisi tidurnya. Kini dirinya berhadapan dengan Adam yang duduk di atas ranjang. “Teman priaku yang berkulit hitam? Siapa?” tanyanya dengan kening berkerut sambil berpikir.
“Laki-laki yang mengomeliku karena membentakmu. Yang memiliki tahi lalat kecil di dagunya,” jelas Adam.
Mulut Diandra langsung membulat berbentuk huruf O. “Maksudmu Yogi?”
“Ah ya ... Itu ...,” jawab Adam dengan muka acuh tak acuhnya.
“Kenapa dia?”
“Dia pacarmu sebelum menikah denganku?” tanya Adam menebak.
Seketika hening. Kesunyian dan rasa kikuk langsung terasa.
Adam melirik Diandra. Ia penasaran dengan siapa Yogi. Apa lagi tadi Lina sempat menceritakan hal yang tidak-tidak tentang Yogi dan Diandra.
Keheningan yang berlangsung selama dua menit itu segera diisi dengan tawa Diandra yang menggelegar. “Astaga ... Kamu berpikir seperti itu? Kenapa?”
“Ya, karena kita menikah dijodohkan. Aku pikir, pasti temanmu yang bernama Yogi itu dulunya pacar kamu kan? Dan kalian tetap berhubungan walau kita sudah menikah,” jawab Adam mulai menerka-nerka.
Tawa Diandra perlahan mereda. Tapi kini ia mulai sedikit kesal. “Astaga ... Kamu su udzon sama aku, Adam ...! Masa aku bisa-bisanya selingkuh sama Yogi.”
“Yogi begitu membela kamu,” sahut Adam. “Dan aku bisa melihat sinar cinta dari bola matanya.”
Diandra mengatupkan bibirnya. Ia memandangi lekat wajah Adam yang selalu ia cintai itu. Hidung mancung, kedua alis yang berjajar lebat, juga jambang panjang dan sedikit jenggot kasar yang membuat tampilan terlihat maskulin. “Apa ... kamu cemburu?”