Mengutuk Adam

1271 Words
“Aku cemburu sama kamu?” Adam mencibir. “Jangan harap!” “Ah, bilang saja kamu cemburu,” kata Diandra sembari nyengir kuda. Mengejek. “Aku tidak cemburu. Amit-amit deh ... Kita itu sudah dijodohkan. Kamu juga buka tipeku. Jadinya, tidak mungkin aku cemburu!” Diandra tersenyum kecut mendengarnya. Berulang kali Adam mengatakan jika mereka dijodohkan. Padahal kenyataannya mereka menikah dan berjanji sehidup semati karena memang sama-sama saling mencintai. “Tebakan aku benar kan?” Adam masih menuding. Diandra menaikkan kedua alisnya ke atas. Lalu menghela nafas panjang dan dalam. Ia tidak mau memperpanjang perdebatan. “Terserah kamu lah ... Aku jawab yang sebenarnya, kamu juga tidak akan mau mendengarnya. Terus saja bilang, kalau kita dijodohkan!” “Lah memang begitu kan kenyataannya? Kenapa kamu marah?” tukas Adam. Diandra buru-buru memejamkan matanya dan berharap ia segera terlelap. Tidur siang selama dua puluh menit, setidaknya akan membuat kondisi tubuhnya yang selalu kelelahan lebih baik. Semenjak Adam kecelakaan dan koma. Diandra merasa tubuhnya selalu cepat lelah. Seolah fisik dan mentalnya habis digerogoti keletihan. “Diandra ...,” panggil Adam setelah beberapa saat mereka tidak lagi bicara. “Kamu sudah tidur ya?” lanjutnya bertanya. Memastikan jika perempuan yang dengan santainya tidur di sisinya itu sudah pergi ke alam mimpi. “Ah ... dia sudah tidur ....” Ia mengambil remote dan menyalakan televisi. Kini satu-satunya hiburannya adalah acara televisi, film-film, membaca buku dan game di smart phonenya. Tidak banyak yang bisa dikerjakan oleh orang yang hanya bisa duduk di atas kursi roda. “Tok ... Tok ....” Suara ketukan pintu terdengar menggema. Spontan, Adam menoleh dan memandangi daun pintu. “Mas Adam ... Mbak Diandra, maaf ... ini aku suster Lina. Aku mengantarkan sussu khusus untuk memperkuat tulang.” “Ya, masuk. Buka saja pintunya ....” Adam mempersilahkan. Lina membuka pintu kamar. Dari ambang pintu, ia sudah mengendarkan senyuman. “Maaf mengganggu Mas Adam.” Adam mengangguk. “Ya, tidak apa-apa ... Masuk saja.” Lina berjalan menghampiri sembari membawa sebuah nampan berisi segelas sussu putih. “Aku membawakan minuman hangat dengan kalsium tinggi yang baik untuk kesehatan tulang. Mas Adam kan harus kuat agar bisa segera berjalan lagi.” “Sussu tersebut memang harus aku minum ya?” tanya Adam dengan raut muka mengerenyit. “Seperti anak kecil saja. Minum begini pakai dijadwal.” “Iya, mas. Ini memang harus anda minum. Susuu ini termasuk obat yang harus dikonsumsi dan dijadwalkan oleh dokter,” jelas Lina sembari menyodorkan gelas berisi cairan putih yang hangat itu kepada Adam. Adam mengambil gelas tersebut. Memandanginya sesaat. Lina mengamati gestur tubuh Adam yang seolah enggan meminum sussunya. Sebelum menempelkan gelas di bibir dan menenggaknya, Adam mencium terlebih dahulu aromanya. Ia mengendus bagai kucing sebelum makan. “Kenapa aroma ssusu ini berbeda ya?” Deg! Jantung Lina seolah berhenti berdetak. Ia berharap, Adam tidak akan mengetahui apa yang tercampur di dalam ssusu itu. “Aku menghirup aroma obat yang aneh ...,” tutur Adam. “Tentu saja anda mencium aroma obat. Minuman ini kan obatnya ...,” jawab Lina beralasan. “Hm ... Begitu ya?” Lina mengangguk. Adam kemudian tak lagi mengendus permukaan susuu yang gelasnya digenggam olehnya. Ketika Adam menempelkan permukaan gelas di bibir, bola mata Lina mengkilat. Ia tampak senang Adam menenggak minuman yang diberikan olehnya tanpa perasaan curiga sedikit pun. ‘Minumlah sussu itu sehari tiga kali selama dua bulan, maka perlahan tapi pasti bukannya kesehatan yang kamu dapat. Justru kamu akan benar-benar menjadi pria lumpuh karena sussu yang aku berikan kepadamu sudah aku campurkan racun untuk melemahkan otot. Jika aku langsung memberikan dosis racun itu sekaligus, maka semua orang pasti akan langsung menuduhku. Kalau pelan-pelan begini kan ... orang-orang mengira penyakitmu semakin memburuk,’ katanya di dalam hati. “Ini ....” Adam mengembalikan gelas yang sudah tandas isinya kepada Lina. Lina menerima gelas tersebut sembari tersenyum. “Saya keluar kamar ya Mas. Jika anda membutuhkan bantuan saya, bunyikan lonceng ini ...,” tuturnya sambil memberikan sebuah lonceng. Adam mengerenyit sambil menerima lonceng tersebut. “Kenapa harus memanggilmu menggunakan lonceng? Sudah seperti di film horor saja. Sedang sakit, dan memanggil dengan lonceng,” protesnya. “Itu sih terserah Mas Adam. Mau menggunakannya atau tidak. Yang pasti jika Mas Adam membutuhkan bantuan ku, maka bunyikan lonceng ini.” “Memang posel kamu ke mana?” tanya Adam. “Kamu tidak memiliki ponsel?” “Punya Mas. Tapi aku takut ketika Mas Adam memanggilku, saat itu aku tidak memegang ponsel.” Adam mengangguk mengerti. Ia memandangi lonceng yang diberikan oleh Lina. “Aku pergi dulu, Mas. Selamat beristirahat,” ujarnya dengan seulas senyuman lebar. Tangan kanannya mengusap lembut punggung tangan Adam. Adam terdiam. Membiarkan punggung telapak tangannya diusap oleh Lina. “Selamat istirahat,” kata Lina sekali lagi. Lalu kemudian ia pergi berlalu berjalan menuju keluar kamar. Adam memandangi lonceng yang diberikan oleh Lina. Entah kenapa setelah lama memandangi lonceng perak mengkilap yang bagus itu, lama kelamaan ia merasa tidak asing. “Sepertinya aku pernah melihat lonceng ini sebelumnya ...,” tuturnya lirih. “Tapi di mana ya ...?” Adam menggantungkan lonceng yang dipegangnya tepat di depan wajahnya. Lalu menggoyang-goyangkan lonceng tersebut. Awalnya hanya perlahan. Namun lama kelamaan Adam menggoyangkan lonceng hingga berbunyi nyaring. Suara kelincingan lonceng yang nyaring mengganggu tidur siang Diandra. Raut muka Diandra merengut, ketika tidurnya terusik. Kelopak matanya bergerak-gerak dan kemudian membalik badan. Ia memandang Adam sembari memicingkan mata. “Kamu sedang pegang apa?” tanyanya lirih dan parau karena habis bangun tidur. “Apa itu lonceng?” “Seperti yang kamu lihat, ini lonceng. Bukannya sodet atau coet,” jawab Adam ketus. “Astaga ... Aku tanyanya kan baik-baik,” kata Diandra menggerutu. “Habisnya ... Kamu kalau bertanya asal saja. Anak TK juga tahu, ini adalah lonceng.” “Hm ... iya, iya ... Sudah tidak usah dilanjut. Iya, aku salah. Penglihatan mataku buruk, sampai aku tidak tahu jika yang kamu pegang itu lonceng!” Diandra memilih mengalah dari pada memperdebatkan pepesan kosong. “Kenapa Lina memberikanmu itu?” tanyanya sambil turun dari ranjang tidur. “Kalau aku butuh dia, maka aku dipinta untuk membunyikan lonceng ini,” jawab Adam. “Baguslah jika begitu ... Setidaknya ternyata suster Lina memiliki tanggung jawab. Aku pikir dia hanya ingin mendekatimu saja,” kata Diandra jujur. “Dia mendekatiku? Kamu berpikiran begitu?” Raut muka Adam berubah cerah. Lalu ia teringat ketika Lina sengaja menekankan buaah dadanya menempel di bahu dan lengannya. “Dia memang tipeku sih ....” Diandra langsung menoleh dan menatap Adam lekat. “Dan karena dia mirip Rena? Mantan kekasihmu itu?” Tanpa sadar ia keceplosan menyebutkan nama Rena kembali. Padahal Diandra sudah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak akan memulai membahas nama ‘Rena’. Agar Adam tidak teringat tentang kematiannya yang tragis. Adam memandang Diandra dengan tatapan menerawang setelah ia mendengar nama Rena keluar dari bibir Diandra. Diandra mengatupkan bibirnya. Ia harus mengalihkan pembicaraan secepatnya. “Oh, ya ... Ini sudah mau jam empat sore. Ayo kita ke rumah sakit jiwa, mengunjungi Mamimu,” ujarnya sambil melihat ke arah jam bulat yang tergantung di dinding. “Ayo, aku sangat tidak sabar ingin bertemu Mami. Aku ingin bertanya kepada Mami, kenapa bisa Mami menjodohkan aku denganmu?!” sahut Adam. Diandra menarik nafas panjang dan dalam. “Aku ingin memberitahukan mu sesuatu ...,” katanya lirih. “Apa?” “Asal kamu tahu ... Mami kamu itu tidak merestui pernikahan kita, dan dia membenciku. Jadi keyakinan kamu tentang kita yang dijodohkan adalah salah besar.” “Hah? Mami membencimu? Tapi kita bisa menikah ya ....” Adam setengah tidak percaya. “Padahal biasanya aku tidak akan berani melawan keputusan Mami ...,” sambungnya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD