“Ya, tapi karena kamu sangat mencintaiku ... Makanya kamu memilih dan melawan Mami Hesti. Tapi karena itu ....” Tiba-tiba wajah Diandra berubah murung dan kalimatnya menggantung.
“Tapi apa?” tanya Adam penasaran. Raut mukanya tampak menunggu kelanjutan kata-kata yang akan diucapkan oleh Diandra.
“Tapi karena hal itu, Mami mu menjadi lebih terpukul ... Kejiwaannya sedikit terganggu,” jawab Diandra dengan mimik muka datar.
Adam menatap Diandra tak percaya. “Jadi alasannya Mamiku menjadi stress karena aku lebih memilihmu daripada mendengar nasehatnya? Aku adalah anak tunggal. Bisa-bisanya aku melawan Mami. Padahal aku selalu mengikuti kata-katanya!” Ia sungguh tidak percaya pernah bertindak durhaka dengan melawan maminya.
Diandra mengangguk. “Itu menjadi salah satu penyebabnya. Semoga kamu ingat kembali masa-masa di mana kita sedang dihadapi banyak masalah. Tentang aku dan Bunga, saudara kembar yang terpisah dan baru bertemu kembali. Lalu tentang kematian Mami Angelica ....”
“Apa hubungannya Mami Angelica – Maminya Ardy itu dengan Mamiku yang menjadi gangguan mental?” Adam benar-benar tidak ingat apa pun.
“Semua berhubungan Adam,” timpal Diandra.
Kedua alis Adam bertaut. “Berhubungan bagaimana? Aku tidak faham.”
“Sebetulnya kamu dan Ardy ....” Kata-kata Diandra menggantung. Ia masih ragu untuk menceritakan yang sebenarnya kepada Adam, jika dia dan Ardy adalah satu ayah beda ibu. Diandra takut, Adam menjadi goyah kembali jika mengetahui hal ini. Memorinya yang hilang kemungkinan berdampak kepada mentalnya.
Karena memorinya yang hilang itu pun, hingga membuat sikap Adam yang semula romantis, menjadi dingin.
“Hei, sebetulnya aku dan Ardy kenapa?” tanya Adam sekali lagi. “Kamu membuatku penasaran. Kalau ngomong jangan setengah-setengah kaya gitu!”
Diandra mengigit bibir bawahnya. Ia memandang nanar Adam. “Kamu sudah siap tidak mendengar ceritaku ini?” tuturnya lirih.
Adam mengangguk.
Diandra sudah membuka mulutnya. Ia hendak berbicara memberitahukan tentang jika Adam dan Ardy itu bukan hanya sahabat dari kecil. Tapi mereka adalah saudara kandung satu ayah, beda ibu. Kejadian yang sangat membuat semua orang tak percaya. Juga tentang Mami Hesti yang ternyata simpanan Ayah Ardy selama puluhan tahun lamanya. Semenjak Adam dilahirkan dan tumbuh menjadi seorang pemuda tampan.
Lalu ketika Bunga akan dihabisi Mami Hesti dengan cara menculik dan menembaknya. Permusuhan sengit antara Mami Angelica dan Mami Hesti, yang sudah tumbuh dari jaman mereka muda.
Sepertinya semua cerita fakta itu, tidak akan membuat Adam sanggup menerimanya. Terlalu banyak drama dan juga intrik yang terjadi.
“Hei, Diandra!” seru Adam sembari menggerakkan telapak tangannya di depan muka Diandra. “Kok kamu malah bengong begitu?” gerutunya. “Bukannya cepetan dijawab. Kamu malah bengong gak jelas.”
Diandra kembali melirik jam bulat besar yang tergantung di dinding. “Sepertinya kamu harus mandi dan membersihkan diri. Biar segar.”
Adam merengut. “Hah, mandi? Ini belum terlalu sore. Sudahlah, kita langsung berangkat saja. Lanjutkan ceritamu tadi. Sepotong-sepotong gitu. Dosa bikin orang penasaran. Katakan aku dan Ardy kenapa?” desaknya.
Diandra pura-pura tidak mendengar. Ia merentangkan kedua lengannya ke kanan dan ke kiri. “Lebih baik kita mandi dulu. Aku masih merasa mengantuk. Kalau mandi kan terasa segar.”
Adam melipat kedua tangannya di depan d**a. “Tidak. Kamu saja duluan yang mandi. Aku tidak. Ini terlalu sore. Baru juga jam setengah empat,” jawabnya sambil menguap.
Diandra mencondongkan tubuhnya ke dekat Adam. “Tuh kan kamu mengantuk ...,” tuturnya sambil menunjuk kedua mata Adam yang memerah dan wajahnya yang sayu. “Heran padahal kamu kan udah tidur siang lebih lama dari aku.”
“Habis minum sussu kalsium tinggi yang diberikan oleh Lina, aku malah mengantuk lagi. Sepertinya malas untuk ngapai-ngapain dan ingin tidur lagi,” jawab Adam jujur.
Kedua alis Diandra bertaut. “Oh, jadi tadi Lina ke mari?”
Adam mengangguk. “Hm ... Saat kamu tidur tadi.”
“Oh ....” Diandra merespon biasa saja. Karena dipikirnya, memang tugas Lina merawat Adam hingga kembali pulih bisa berjalan lagi.
Adam menguap. Kedua matanya memerah dan berair mata karena menahan kantuk. “Sejak tadi, aku merasa mengantuk dan tubuhku terasa lemas.”
Diandra memandang khawatir. “Apa kita batalkan saja mengunjungi Mami kamu? Kamu butuh istirahat.”
“Aku bosan berbaring terus-terusan. Dan tidur lagi, tidur lagi. Kamu tahu tidak, jika aku terus berbaring dan tidak ada kegiatan justru akan membuatku stress dan semakin sakit!” sahut Adam dengan suara nyaring.
“Tapi kamu terlihat mengantuk begitu, Adam ...,” tutur Diandra sambil menunjuk kedua mata Adam yang memang sangat merah. Raut mukanya pun tampak menahan kantuk yang berat.
“Apa kamu ada ide agar aku tidak mengantuk?” tanya Adam dengan tatapan penuh harap Diandra akan membantunya.
Diandra tidak langsung menjawab. Ia mengantupkan bibirnya. Lalu sesaat kemudian kembali bersuara dengan ide erotiis yang masuk akal. “Hm ... Berendam di bath tub dengan sabun aromatherapi dan juga lilinnya, aku rasa akan membuatmu rileks.”
“Hah?” Mulut Adam terbuka lebar. “Bukannya rileks justru akan membuat aku semakin mengantuk?”
Diandra menggeleng. “Enggak. Coba deh ....”
“Kita akan terlambat, bila aku harus berendam dahulu,” ujar Adam menolak.
“Tenang saja, masih ada waktu selama tiga puluh menit. Kita bisa berendam berdua.”
“Apa?! Kita berendam berdua?!” Suara Adam yang nyaring itu terdengar hingga keluar kamar.
Lina yang memang sengaja lalu lalang di depan kamar Adam, untuk mengintip apa saja yang dilakukannya dan berniat memisahkan Adam dengan Diandra pun tergoda untuk menguping.
Kata-kata ‘Kita berendam berdua!’ menggelitik hatinya untuk lebih tahu lebih detail.
“Ya, kita berendam berdua. Kenapa memangnya? Kamu kan paling menyukai hal ini. Kamu pasti lupa jika kita sering menghabiskan waktu berduaan dengan cara berendam dan ....” Diandra sengaja menjeda kalimatnya. Lalu jari-jarinya bergerak menggoda ke sekitar bahu Adam.
Adam mengendikkan bahunya. “Hentikan Di ...! Kamu membuatku takut.”
“Kamu takut aku perkosaa?” ejek Diandra.
Adam memicingkan matanya. “Hm ... Iya, aku takut. Kamu bukan tipeku,” timpalnya sambil memalingkan muka.
Diandra menarik nafas panjang dan dalam. Menatap lekat Adam yang duduk di kursi roda. Adam yang menjadi keras kepala dan tak menyukainya. “Baiklah ... Kita akan lihat, apa aku benar bukan tipe kamu!” serunya sambil memutar kursi roda Adam dan mendorongnya ke arah kamar mandi.
Adam terkejut. Ia berteriak. “Hei, hei! Hentikan! Kamu mau bawa aku ke mana?”
“Ke kamar mandilah. Kita akan berendam bersama biar segar dan melepaskan rasa ngantuk yang melekat!”
Bola mata Lina membulat. “Astaga ... Diandra akan menggoda Adam!” serunya sambil masih berdiri di depan pintu kamar dengan daun telinga menempel rapat. “Aku harus melakukan sesuatu! Diandra tidak boleh berhasil menggoda Adam ...!" gerutunya kesal.