“Oh, tidak... Tidak... Apa-apa kok. Kakak hanya kaget saja tadi, karena sepertinya kakak melihat reptile ada di bahu kamu, Za,” gugup Lena karena Rieza mengetahui gerakan tubuh pada diri Ka Lena ada yang tidak beres.
“Oh iya, Ka. Kakak ke sini sebetulnya ada keperluan apa? Apa kakak ingin menagih pembayaran atas makanan yang telah aku pesan ini ya, ka?” tuduh Rieza karena menurut dia tidak mungkin seorang pelayan rumah makan ini mendatangi dia.
Kalau bukan masalah uang, seperti itulah pemikiran dari Rieza atas tindakan Ka Lena ini tetapi dia juga menunggu jawaban dari Ka Lena ini atas pertanyaan dirinya tadi.
“Ayo, Ka jawab. Sebenarnya ada apa ini kenapa kakak bisa mendatangi saya sampai ke luar rumah makan dimana tempat kakak bekerja ini?” tanya Rieza yang tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Ka Lena.
“Kamu tadi dipanggil oleh pimpinan saya, anak manis. Dia ingin melihat wajah kamu seperti apa?” jawab Ka Lena kepada Rieza.
“Hem, ada apa ya? Kok pimpinan Ka Lena ingin bertemu dengan diriku ya?” pikir Rieza terhadap permintaan dari pimpinan Ka Lena tersebut.
“Hai, Za. Kamu kenapa melamun saja? Apa kamu ingin menemui pimpinan kakak itu atau tidak, Za?” tanya Ka Lena mempertegas permintaan itu.
“Tetapi sebelum aku menemui pimpinan kakak. Aku ingin tahu dahulu, keperluan pimpinan kakak sama aku tuh apa? Karena sebelum kedua orang tua aku meninggal, mereka berpesan kepada aku untuk tidak mudah percaya sama orang asing,” jelas Rieza.
“Hem... Anak ini ternyata cukup cerdas juga, tidak mudah untuk aku bujuk, Lena berpikir keras agar Si Rieza bisa ikut bersama aku bertemu dengan pimpinan aku,” bathin Lena yang sedang berbicara.
“Hai, pelayan dari rumah makan yang berada di depan. Apa nama pimpinan kamu itu adalah Yukiko Xan?” tanya Sang Kakek kepada Ka Lena, karena sang kakek merasa kenal sama pimpinan dari pelayan rumah makan tersebut.
“Hah? Bagaimana kakek ini mengetahui nama dari pimpinan aku itu? Siapa kakek ini yang sebenarnya? Dan bagaimana dia bisa mengenal pimpinan aku, Bu Yukiko?” gumam Lena sendirian.
“Kau tak usah heran, karena yang dapat melihat anak kecil ini berbeda hanya aku dan dia saja,” ujar sang kakek percaya diri.
“Berbeda? Apa yang kakek maksud dengan berbeda, Kek? Kan aku sama seperti kakek, seorang manusia biasa,” tanya Rieza bingung karena tidak mengerti apa yang di maksud dengan ucapan dari sang kakek.
“Pada saatnya nanti kamu akan mengerti apa yang aku maksud sekarang, Rieza. Lebih baik sekarang kita temui pimpinan dari Ka Lena ini,” ajak Sang Kakek kepada Rieza untuk segera menemui Yukiko yang sedang menunggunya.
Akhirnya dengan di bujuk oleh sang kakek, Rieza luluh atas permintaan dari sang kakek untuk menemui Yukiko Xan.
Pada saat ini mereka bertiga berjalan menuju ke dalam rumah makan itu, dengan perlahan-lahan mereka menapaki kaki-kaki mereka di jalanan yang sepi ini.
Rieza dengan perlahan membuka pintu dari rumah makan itu dengan cara mendorongnya ke dalam, pada saat masuk kembali ke dalam. Ia melihat ke kanan dan ke kiri untuk melihat sekali lagi interior yang megah dari rumah makan ini.
Sedang asyik memandang keindahan interior dari ruangan yang menyajikan makanan yang siap saji tersebut, yang terdiri dari ayam goreng, steak, nasi kuning, burger dan sebagainya.
Tidak lama setelah Rieza melangkahkan kakinya untuk masuk lebih ke dalam rumah makan tersebut.
Terdengar suara gaduh yang berasal dari tempat saji, dimana makanan yang siap untuk dihidangkan itu berada.
“Kek, apa yang terjadi di depan? Kenapa terdengar suara-suara teriakan dari depan ruangan tadi? Ayo, kita lihat kek, apa yang terjadi di depan?” ajak Rieza kepada sang kakek.
Tanpa menunggu jawaban dari sang kakek, Rieza berlari ke depan kembali untuk mengecek keadaan rumah makan yang terdapat di depan dekat pintu masuk.
Di ruangan makanan cepat saji
“Bruak” Suara pintu yang ditendang.
“Semuanya angkat tangannya, kalau ada yang berani melawan kami akan tembak,” ancam para penyandera seraya menodongkan senjata-senjata mereka ke semua pengunjung di dalam rumah makan tersebut.
Ternyata diantara para sandera, ada salah satu dari seorang wanita langsing, putih dan berambut panjang tersebut berdiri dengan kedua tangannya ke belakang.
“Hei! Kau yang sedang berdiri itu, kamu mau ngapain? Kamu mau saya tembak! Cepat jongkok kembali!” perintah dari salah satu penjahat.
Sang wanita itu tanpa menggubris ucapan dari salah satu penjahat yang sedang mengancamnya, dengan perlahan tangan kanannya mulai turun dari atas kepalanya. Ia dengan lemah gemulainya mengayunkan tangannya tersebut.
Kepada salah satu penjahat yang sedang mengancamnya tersebut. Dengan gerakan perlahan dari tangannya itu keluarlah sebuah angin besar yang menerpa sang penjahat tadi.
Hingga ia terpental keluar ruangan dan memecahkan kaca dari pintu masuk tersebut yang terbuat dari kaca itu.
Membuat semua dari para penjahat tersebut, mulai mendatangi wanita berambut panjang itu dan ada pula yang menodongkan senjata laras panjangnya ke arah kepala dari sang wanita tersebut.
“Hei! Apa yang telah kau perbuat dengan teman kami tadi?” bentak salah satu penjahat kepada wanita berambut panjang tersebut.
“Apa kau memang bosan hidup ya, jadi kamu melakukan tindakan konyol seperti itu,” ejek salah satu penjahat dengan menodongkan senjata laras panjangnya ke arah kepalanya.
“Dor” Suara senjata yang memuntahkan isi pelurunya ke arah kepala wanita tersebut.
Tiba-tiba saja Rieza langsung melompat ke arah datangnya peluru tersebut guna melindungi wanita berambut panjang itu.
“Hei, adik kecil, kenapa kau mau melindungi aku? Sedangkan kita baru saja bertemu,” lirih wanita itu melihat tubuh Rieza yang mulai bersimbah darah dari peluru yang bersarang di dalam perutnya tersebut.
“Tidak apa-apa ka, aku juga di dunia ini tidak mempunyai siapapun untuk aku lindungi, jadi tindakan kecil tadi anggaplah sebagai hadiah dari anak yatim piatu ini,” ujar Rieza yang kian melemah karena darah yang mengalir dari tubuhnya kian banyak.
Tanpa terasa bulir air bening mengalir dari mata indah sang wanita berambut panjang tersebut hingga menetes di kening dari anak kecil tersebut.
Air itu mulai meluncur dari kening turun ke bawah menuju ke pipi lalu turun kembali hingga akhirnya sampai dimana luka tersebut berada.
Di lain tempat
Di sebuah ruang hampa yang berwarna putih. Terlihat sosok anak kecil yang sedang meringkuk dengan kaki yang dilipat ke atas dan kedua tangannya memeluk kaki-kakinya.
Ia menangis di sudut ruangan yang bernuansa putih bersih tersebut. Tidak lama kemudian anak kecil tersebut mendengar sayup-sayup suara yang memanggil namanya.
“Rieza... Rieza... Ke sini, Nak” Suara tersebut berasal dari lorong di depan Rieza meringkuk.
“Kau! Kau! Siapa? Aku tidak mengenal kamu,” jawab Rieza atas panggilan yang mulai terngiang di daun telinganya.
“Aku di sini, Rieza. Kemarilah, Nak” Suara itu semakin keras untuk berusaha memanggil anak kecil itu dari sudut ruangan.