Chapter 3 Hydra

1062 Words
Rieza akhirnya perlahan-lahan mulai menegakkan kepalanya dan memutar kepalanya untuk memastikan sumber suara itu berasal. Pada saat sudah ketemu sumber suara yang telah mengganggunya dari tadi. Ia mulai bangkit dari tempat yang didudukinya sekarang. Ia mulai berjalan perlahan-lahan menuju sumber suara itu berasal. Setelah hampir mendekati sumber suara yang semakin lama semakin jelas ia dengar. Rieza melihat ada sebuah jeruji besi di hadapannya sekarang, dengan sedikit memaksakan dirinya, ia berjalan dengan menarik kakinya. Karena sekarang kaki-kakinya sedang gemetaran akibat ia melihat di dalam jeruji tersebut terdapat seekor naga berkepala tiga tinggi besar dengan tubuh yang hitam legam seperti arang. “Kau? Kau? Siapa? Kenapa bisa berada di sini dan aku sebenarnya sedang berada di mana ini?” tanya Rieza kepada Sang Naga berkepala tiga. “Hei, anak terpilih. Kamu sekarang sedang berada di dalam wilayah diriku, anak terpilih,” ujar Sang Naga berkepala tiga tersebut kepada Rieza yang hanya kaget mendengar sebutan seperti itu. “Anak terpilih? Apa maksud dari ucapan naga ini tentang anak terpilih? Apakah itu aku yang dimaksud oleh naga ini?” bathin Rieza yang sejenak berpikir. “Hei anak kecil, kamu kenapa jadi melamun seperti itu? Tidak usah kau pikirkan ucapan aku tadi,” ujar naga yang kepala tengahnya tersenyum lebar. “Lebih baik kau cepat lepaskan aku, karena aku dapat membantu kamu untuk menyembuhkan luka yang sedang kamu derita sekarang,” bujuk naga berkepala tiga itu kepada jiwa Rieza yang ia panggil. “Lepaskan? Apa yang kamu maksud dengan lepaskan kamu?” tanya Rieza heran karena dia tidak mengerti kenapa harus melepaskannya. “Kalau kamu membebaskan aku, kamu akan selalu aku bantu untuk menjadi kuat dan sekarang aku akan membantu menyembuhkan diri kamu yang sedang terluka akibat peluru yang bersarang di dalam perut kamu,” jelas Sang Naga kepada anak kecil itu. “Luka? Memangnya aku kenapa? Aku kan baik-baik saja kok. Aku saja tidak merasakan apapun ini,” jawab Rieza heran karena dia tidak merasakan sakit apapun. “Iya, karena sekarang kau berada di bawah alam sadar kamu sekarang ini. Aku memang membawa kamu ke dalam ini untuk bisa berkomunikasi dengan aku,” ujar sang Naga yang selalu membujuk agar Rieza mau melepaskan dirinya dari dalam jeruji ini. “Memang apa untungnya aku melepaskan kamu dari dalam jeruji ini?” tanya Rieza kepada Naga berkepala tiga ini. “Aku akan menjadikan kamu yang terkuat di dunia ini, dengan kekuatan aku. Kamu dapat menegakkan keadilan dan perdamaian di muka bumi ini,” jawab sang naga terhadap pertanyaan yang telah dilontarkan oleh anak kecil ini. “Kamu juga dapat membantu orang yang lemah dan yang sedang tertindas,” lanjut sang naga kepada sang anak kecil tersebut. “Hem, jadi seperti itu ya keuntungan yang aku dapatkan apabila membebaskan diri aku,” ucapnya polos karena masih tidak mengerti akan sebuah kekuatan yang terpendam dalam dirinya tersebut. Rieza akhirnya mendekati jeruji tersebut, ia menyentuh salah satu tiang dari jeruji itu, tidak lama kemudian kepulan asap keluar dari dalam jeruji. Jeruji-jeruji tersebut menghilang dan Sang Naga berkepala tiga tersebut akhirnya bisa terbang bebas kembali. Ia mengangkat sang anak kecil tersebut ke leher kepala yang tengah. Kembali lagi ke ruang depan rumah makan “Ah... Ah...” Suara terengah-engah anak kecil tersebut pada saat ia sudah sadar karena telah melewati masa kritisnya. Disaat itu tubuh kecilnya sedang dibopong oleh sang kakek. Karena ia telah menganggap dia sebagai cucunya sendiri. Karena ia telah memberikan bantuan untuk sang kakek dalam mencari makan padahal dirinya bukan siapa-siapa untuk anak kecil ini tetapi anak kecil itu mau membantunya dengan setulus hati. “Kek, aku sebenarnya kenapa? Kok Rieza bisa digotong oleh kakek seperti ini?” tanya Rieza kepada Sang Kakek yang sudah mulai kelelahan. “Tadi kamu tertembak oleh salah satu penjahat yang berada di dalam rumah makan tadi,” jelas Sang Kakek kepada Rieza. Sang kakek dengan bersusah payah ia membopong Rieza dengan nafas yang tersengal-sengal akibat ia kelelahan pada saat membawa anak kecil tersebut. “Hah... Iya aku ingat sekarang. Tadi pada saat melihat Ka Lena ingin ditembak oleh salah penjahat tersebut. Aku lalu melompat ke arah Ka Lena berada, untuk melindunginya,” ujarnya mengingat kembali kejadian sebelum ia terluka. Terdengar suara sesenggukan dari seorang wanita muda yang tepat berada di belakang sang kakek. “Rieza, maafkan kakak ya. Karena kakak, kamu jadi terluka seperti ini,” lirih Ka Lena karena cemas terhadap keadaan Rieza yang masih mengeluarkan darah dari perutnya tersebut. “Oh iya, aku ingat sekarang, berarti pada saat diriku sekarat tadi, arwah aku ini dibawa bersama naga berkepala tiga ini masuk ke dalam dunianya ya,” pikir Rieza sendiri. Setelah mengingat-mengingat kejadian yang di dalam ruang hampa, Rieza perlahan membuka bajunya dengan tangan kirinya. Pada saat ia sedang mengelus perutnya yang rata itu, secara mengejutkan luka yang terdapat pada perutnya tersebut, hilang dalam sekejab dan peluru yang bersarang di sana pun, akhirnya bisa keluar tanpa bantuan dokter. “Rieza, kamu mendapatkan kekuatan seperti ini dari siapa?” tanya wanita muda yang sangat cantik meskipun dia sedikit lebih berumur dari pada Ka Lena. “Untuk apa kamu tahu tentang kekuatan ini?” tanya sang kakek kepada wanita yang baru saja datang menghampiri mereka semua yang sedang panik tersebut. “Karena aku baru pertama kali melihat kejadian yang luar biasa seperti ini,” ucap wanita muda yang hampir seusia dengan Ka Lena. “Kakak ini siapa? Kok bisa datang mendadak seperti ini? Sebenarnya siapa nama kamu, kakak?” cecar Rieza kepada wanita cantik dan muda tersebut. “Hei, anak kecil, aku yang kakek kamu panggil dengan sebutan Yukiko Xan. Aku adalah atasan dari Ka Lena kamu itu,” jawab Yukiko dengan sebal karena anak kecil ini tidak sopan bertanya kepadanya. “Hah? Ibu? Kenapa ibu keluar untuk melihat Rieza? Padahal nanti aku akan membawa Rieza ke ruangan ibu setelah itu baru akan membawa dia ketemu dengan Pak Alex,” jelasnya Ka Lena kepada Yukiko yang telah keluar dari ruangannya. “Oh, tidak apa-apa kok, Lena. Aku ke sini karena dengar berisik di depan pintu masuk ini, karena aku penasaran jadinya aku keluar untuk melihat keadaan disini,” jelas Yukiko kepada Lena yang melamun melihat pimpinannya keluar dari ruangannya. “Oh, kakak ini yang bernama Ka Yukiko. Kakak sama cantiknya seperti Ka Lena,” ujar Rieza terkekeh. “Kamu bisa saja, Rieza. Memang ada apa ini? Dan kenapa kamu bisa terluka seperti itu?” tanya Yukiko ini kepada Rieza yang mulai pulih seperti sediakala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD