Lalu setelah Alex berbicara seperti itu, sang kakek pun mengangguk, ia mulai setuju dengan ucapan dari Alex karena dia juga ingin datang ke sana.
“Tetapi kamu harus benar-benar menjaga Rieza baik-baik karena ia baru saja terluka karena tembakan penjahat tadi, Alex,” ucap Guan Yu kepada murid pertamanya tersebut.
“Jadi kakek mengizinkan aku pergi ke Gunung Lost Drago itu?” tanya Rieza kepada sang kakek.
“Iya, Rieza. Kakek mengizinkan kamu pergi ke sana tetapi sebelum kamu pergi, lebih baik kamu tinggal bersama kakek saja, temani kakek di rumah kakek yang sudah usang,” ajak sang kakek yang telah menganggap Rieza sebagai cucunya sendiri.
Tanpa ia sadari sebuah tetesan bening keluar dari mata indahnya, Rieza. Karena dari dahulu memang dia yatim piatu, jadi setelah ada yang ingin merawatnya. Rieza tiba-tiba tidak bisa menahan air mata untuk tidak mengalir.
“Iya, Kek. A-aku... A-aaku sangat setuju untuk ikut dengan kakek Guan Yu ke rumah kakek,” ungkap Rieza menangis seraya memeluk tubuh Kakek dengan sangat erat.
“Sudah Rieza, sudah... Jangan peluk kakek erat-erat seperti itu, kamu ingin membunuh kakek bila kamu memeluknya dengan erat seperti ini,” ledek Guan Yu kepada Rieza dengan tertawa terbahak-bahak.
“Maaf... Maaf... Aku tidak bermaksud seperti itu kakek,” lirih Rieza seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Tidak apa-apa kok, Rieza. Kakek tadi hanya becanda saja dengan dirimu. Ingin sekali aku kerjain kamu,” ungkap Guan Yu dengan terbahak-bahak.
“Huh... Kakek. Ternyata kamu mengerjai aku ya. Kakek jahat, haha,” ujar Rieza yang ikut tertawa karena tahu dirinya ternyata dikerjai oleh sang kakek.
“Hei... Hei... Guru, jangan lupakan aku. Lebih baik guru dan kamu, Rieza. Menginap saja di villa milik diriku ini,” bujuk Alex agar mereka berdua bersedia menempati villa yang tak pernah terisi itu.
“Bukankah villa itu terletak jauh dari tempat ini, bagaimana kita pergi ke sananya, Alex?” tanya Guan Yu perihal tentang bagaimana mereka berdua akan pergi ke sana.
“Haha... Guru, apakah kamu lupa aku sudah menjadi orang terkenal di daerah sini, Kakek Guru?” ledek Alex kepada Guan Yu.
“Tetapi bagi diriku, kamu belum memiliki kekayaan yang berlebihan. Aku akui memang kamu yang sekarang sudah mulai memiliki kekayaan yang sudah lumayan dari yang dahulu, aku ketemu dengan kamu dulu,” ungkap Guan Yu yang sangat bangga terhadap Alexander Torreto yang sekarang.
“Guru bisa saja ya, dalam memuji aku. Aku tidak seperti yang guru bayangkan, aku masih seperti Alex yang dahulu,” balas Alex yang tetap rendah hati meskipun sekarang perekonomian dia mulai membaik.
“Yasudah kapan kita akan pergi ke villa kamu tersebut, Alex?” tanya Guan Yu yang terlihat tidak sabar untuk pergi ke villa milik kediamannya Alex itu.
“Besok pagi kita akan ke sana guru karena malam ini guru dan Rieza lebih baik menginap di rumah aku dahulu, soalnya di sana sedang aku perbaiki sedikit,” jawab Alex itu dengan wajah yang tertunduk lesu.
“Kita tidak apa-apa kan Rieza? Kalau malam ini kita tidur di rumahnya Alex?” tanya Guan Yu kepada Rieza.
“Tentu tidak apa-apa dong, Kek. Aku dimanapun tidur, tidaklah menjadi masalah karena aku sudah terbiasa tidur dimanapun juga,” ujar Rieza dengan pelan dan halus.
“Anak ini mengingatkan aku akan seseorang dahulu. Dia seorang pria yang ramah dan murah senyum tetapi juga memiliki kekuatan yang sangat luar biasa,” gumam sang kakek kepada dirinya sendiri.
Setelah Alex membicarakan rencananya, untuk membawa mereka berdua ke villa miliknya tersebut.
Guan Yu dan Rieza sangat antusias dengan rencana yang disampaikan oleh Alex. Tetapi mereka bertiga tidak mengetahui bahaya apa yang sedang menunggu mereka di villa tersebut.
Karena lahan yang dibangun untuk sebuah villa oleh Alex tersebut, dahulunya adalah tempat para penjahat tingkat langit yang bersembunyi di belakang hutan.
Terkadang mereka menjadi lahan kosong yang berada di depan hutan tersebut untuk bersembunyi, hanya orang-orang tertentu saja lah yang mengetahui di lahan tersebut terdapat sebuah gua.
Di dalam gua inilah mereka menyembunyikan dirinya dari kejaran para pendekar yang barang bawaannya dirampas oleh mereka.
Itulah kenapa daerah tersebut sangat berbahaya dan bisa disebut sebagai tempat berdarah.
Setelah beberapa tahun setelah kejadian tersebut, lahan yang dahulunya dijadikan tempat untuk bersembunyi itu dibeli oleh Alexander Torreto untuk dijadikan villa.
Yang sekarang akan ditempati oleh Guan Yu dan Rieza untuk sementara waktu adalah villa yang bergaya klasik eropa.
Itu yang akan mereka tempati sementara sebelum akhirnya mereka pergi ke Gunung Lost Drago.
“Kakek, Rieza. Ayo, kalian masuk ke dalam mobil. Kita akan segera berangkat ke rumah aku sekarang,” ajak Alex kepada guru dan Rieza ini.
Setelah dirasa semuanya sudah masuk, Alex pun mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat makan, yang sebelumnya mereka datangi.
Lima belas menit sudah Alex berkendara. Dia melihat Rieza dari balik kaca spion yang terpasang di atas kemudi. "Bagaimana pemandangannya, indah bukan, Rieza?"
Rieza pun mengangguk pelan, ada guratan bahagia yang terpancar dari bibirnya. Matanya ikut berkilau saat pantulan lampu-lampu jalan yang ada di kota bersinar.
Rieza tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sulit bagi dia untuk bisa merangkai kata-kata saat ini. Suasana malam yang begitu indah membuat Rieza larut dalam kebahagiaan.
Semilir angin pun menghembus pelan, menerpa wajah Rieza tatkala ketika Alex dengan sengaja membuka jendela mobilnya. Dia menekan salah satu tombol kendali yang membuat jendela tersebut terbuka.
Rieza pun bereaksi, ada gumaman kecil yang ingin dirinya katakan. Akan tetapi, Alex sudah lebih dulu memahami kalimat yang Rieza katakan.
Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan itu, yang tidak lain adalah rumah dari Alex dengan gaya arsitektur eropa klasik berpadu gaya modern yang sedang kekinian.
Meskipun rumah tersebut sedikit sempit dengan banyaknya kaca sehingga membuat efek rumah ini terlihat luas pada saat mereka mulai memasukinya.
“Rumah kamu sangat indah sekali ka, aku suka dengan gaya rumah kakak, mengusung konsep minimalis tapi terlihat luas dengan adanya kaca-kaca yang terpasang di setiap sudut rumah ini,” jelas Rieza yang memperhatikan seisi rumah ini dengan baik.
“Terima kasih ya, Rieza, telah memuji desain dari rumah ini,” ucapnya bangga karena gaya yang ia masih usung sampai sekarang ternyata ada yang menyukainya.
“Tetapi bagaimana caranya kamu tahu tentang gaya atau corak dari sebuah rumah yang mengusung gaya klasik Eropa seperti ini,” tambah Alex yang gantian, sekarang dia sedang memuji penglihatan dari Rieza ini.