Jam menunjukkan pukul tiga siang, dan ini adalah jam pelajaran terakhir. Sekitar lima belas menit lagi Bell pulang berbunyi dan kelas pun bubar. Mrs. Anna, wanita dengan rambut cokelat gelap dan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya sejak tadi tak berhenti mengoceh tentang materi Bahasa Inggris yang akan keluar untuk Ujian Tengah Semester nanti. Rinjani benar-benar bosan.
"Okay, the lesson we're done here. See you tomorrow!"
Jackpot!
Tidak ada yang mengira kalau pelajaran berakhir sebelum Bell berbunyi. Secara serentak semua murid menutup bukunya dan membereskan alat tulis yang berantakan di meja masing-masing. Arsen menyikut lengan Rinjani, hingga perempuan itu menolehkan kepalanya. "Jalan, yuk?"
Rinjani menghela nafas samar, ia sendiri bahkan lupa kalau di jam istirahat tadi, Arsen terang-terengan mendeklarasikan Rinjani sebagai pacar barunya. Padahal Rinjani sendiri merasa sedang memikul beban berat dengan status tersebut.
"Oke," Rinjani mengangguk.
"Senyum, dong. Lo kaya nggak iklas gitu kesannya."
Rinjani berusaha menarik kedua sudut bibirnya selebar mungkin. "Iya, Iya, ini senyum..."
Dengan gemas, Arsen mencubit pipi Rinjani. "Nah, gitu, kan lucu."
Diam-diam Rinjani menarik nafas dan memutar kedua bola matanya. Demi apapun, Rinjani benar-benar risih.
Lalu, Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada bangku yang berada di sudut kelas, dan tatapannya saat itu juga langsung meredup.
Kosong.
Dari pelajaran pertama, hingga bell pulang berbunyi, bangku itu memang kosong tiap kali Rinjani menolehkan kepalanya.
Arjuna absen hari ini. Tanpa keterangan. Membuat Rinjani khawatir kalau cowok itu sakit akibat kejadian kemarin. Terakhir yang Rinjani lihat, sore itu Juna benar-benar kacau dan babak belur.
Rinjani berharap, cowok itu baik-baik saja.
***
Saat Arsen menawarinya makan di salah satu Restoran cepat saji milik Keluarganya, Rinjani menolak. Perempuan itu ternyata benar-benar tipe cewek sederhana dan tidak suka hal-hal yang terlalu berlebihan.
Pada akhirnya, Mereka berdua memilih berjalan-jalan di sekitar taman kota dengan dua buah Bubble Tea. "Lo beda sama mantan-mantan gue,"
Rinjani menoleh, dahinya berkerut. "Apa? Mantan-mantan? Kok kesannya kalau mantan lo itu lebih dari satu?"
"Itu fakta," Arsen menjentikkan jarinya. "Tapi, gue yakin... lo nggak bakal masuk ke daftar koleksi mantan gue."
Rinjani tertawa kecil. "Masa?"
"Hmm," Arsen mengangguk mantap, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana.
Rinjani mengangkat cup Bubble Tea-nya ke udara, menerawang es batu dan Bubble yang tenggelam. "Sen?"
"Ya?"
"Boleh nanya sesuatu nggak?"
"Tanya aja,"
Rinjani diam sejenak, menarik tangan Arsen untuk duduk di sebuah kursi sisi Taman yang kebetulan kosong. Rasanya, bicara sambil berjalan nggak nyaman untuk Rinjani. "Duduk dulu,"
"Kenapa, sih?" Tanya Arsen, setelah ia menjatuhkan bokongnya di kursi besi yang agak menguning karena karatan.
"Gue mau nanya," Rinjani menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menatap sekumpulan orang yang berjalan melintasi mereka. "Um, Alasan lo... ngebully Juna, apa?"
"Ya ampun, masih di bahas juga..." Arsen sempat memutar bola mata.
"Ih, lo gimana, sih. Katanya kita pacaran, harus saling jujur dong.."
Arsen mendengus, mengacak rambut Rinjani pelan. "Alesannya simpel, kok."
Rinjani menaikkan kedua alisnya, seolah bertanya dengan isyarat; apa?
"Gue nggak suka segala sesuatu dari Arjuna."
"Itu doang?"
"Iya, Intinya, sih itu. Menurut gue, dia itu mahkluk paling menjijikan."
Rinjani melotot, memukul keras lengan Arsen. "Mulut lo, tuh ya!"
Arsen meringis, lalu kemudian mengangkat kedua bahu. "Itu Fakta, kok! Gue emang benci banget sama Arjuna."
"Tapi, kan... benci itu pasti ada alesannya, Sen."
Arsen menatap Rinjani lama. "Lo tau nggak, sih? Lo itu orang pertama yang nanya ginian soal Juna. Baru nyadar, anak sialan itu ternyata ada yang peduliin."
Rinjani menghela nafas. Mungkin Arsen ini tipikal orang yang keras dan tidak terbuka. Sikap kasarnya selalu terselip dari gestur hingga intonasi bicaranya. Iya, Arsen emang cowok kasar. "Ya udah, sih kalau lo nggak mau kasih tau. Mungkin lo emang punya alesan tersendiri yang nggak pengen semua orang tau. Oke, gue ngerti."
Arsen memutar bola mata lelah, menandaskan Bubble Tea-nya hingga tak tersisa lalu melempar Cup plastik bekasnya ke tempat sampah yang berjarak sekitar dua meter di depan.
Satu lemparan mulus.
Dan, tepat sasaran. Pas seperti saat Arsen memasukkan bola basket ke dalam ring.
"Lo seriusan mau tau?"
Rinjani hanya mengangguk, dan Arsen membalasnya dengan tawa remeh. "Percaya atau enggak, ini hal paling gila yang pernah gue omongin. Dan lo itu orang satu-satunya yang gue kasih tau tentang ini."
Rinjani mengacungkan jari kelingkingnya di depan wajah Arsen. "Janji, deh!"
Arsen tertawa kecil, menepis tangan Rinjani agar menyingkir dari wajahnya. Ia diam sebentar, menarik nafas dan menahannya beberapa detik. Sementara Rinjani terus menatapnya dari sisi kanan, Arsen justru mengalihkan pandangannya ke jalanan yang banyak di lalui oleh orang-orang.
"Juna itu saudara gue," Dalam satu tarikan nafas, Arsen menuturkan.
Rinjani mengerjapkan matanya. Beberapa kali sampai ia benar-benar yakin kalau yang tadi itu suara Arsen. "Hah?"
"Gila, kan?"
"A-Apa, sih gue nggak ngerti!" Rinjani masih terus berkedip, ekspresi wajahnya seperti orang bodoh yang benar-benar tidak bisa mencerna materi di kelas.
"Gue geli kalau harus ngulang sekali lagi. Yang penting sekarang lo udah tau, kan?"
"T-Tunggu, deh," Rinjani merubah posisi duduknya, berharap Arsen mau melihat wajahnya. "K-Kalau emang lo sama Juna itu sodaraan, harusnya... kalian nggak gini-Maksud gue, Lo nggak gitu ke Juna. Lo memperlakukan Juna kayak bukan manusia, apalagi sodaraan."
Arsen tertawa getir. "Sampai kapanpun, di mata gue, Arjuna nggak akan pernah jadi Manusia. Dia itu setan."
"Gue nggak yakin, kalau kalian saudara beneran." Rinjani menatap Arsen penuh selidik.
"Dih," Arsen bergidik. "NGGAK!"
"Terus?"
"Dia itu anak selingkuhan bokap gue,"
Terang-terangan Arsen berucap. Seolah tidak ada rem khusus untuk menyeleksi kalimat yang seharusnya tidak di lontarkan ke sembarang orang. Cowok itu blak-blak an soal aib keluarganya. Atau mungkin... ini adalah sisi lain dari Arsen?
Demi apapun, Rinjani nggak mengenal dekat Arsen. Bahkan mereka baru saling mengenal kurang dari satu bulan. Itu pun diawali hubungan yang kurang baik. "K-Kok bisa?"
Arsen mengangkat bahu. "Manusiawi, kan kalau gue benci sama Juna?"
Rinjani mengangguk samar. Jujur saja, kalau ia ada di posisi Arsen, mungkin saja Rinjani bisa melakukan hal yang sama. Membenci orang-orang yang membawa pengaruh buruk untuk keluarganya.
"Dari... kapan?"
"Ketauannya, sih waktu gue masih SD. Gue inget banget, gimana Nyokap kabur gara-gara cewek itu. Karena anaknya laki-laki, Bokap gue mau nerima meskipun beberapa tahun sempet dimasukkin ke Panti-"
"Jadi? Juna itu anak Panti?" Rinjani memotong kalimatnya, membuat Arsen memutar bola mata kesal.
"Gue belum selesai ngomong," Arsen berdecak. "Pas cewek itu ngebawa Juna ke rumah, sih, dia masih seumuran sama gue. Sama-sama kelas 5 SD. Langsung bokap gue kirim ke Panti Asuhan di Bandung karena keadaan rumah lagi panas-panasnya. Nyokap sama Bokap gue sering banget berantem,"
Rinjani bertopang dagu, menyimak setiap penuturan tulus dari Arsen. Dalam hati, Rinjani sempat berpikir, apa ia termasuk orang yang beruntung bisa mendengar curhatan cowok yang di kenal dengan image garang dan biang onar. "Terus, terus?"
"Pas gue mau masuk SMP, Juna balik. Kita satu SMP, dan kayaknya otak Juna udah sengklek semenjak pulang dari Bandung. Dia jadi kayak lekong gitu. Suka karaoke sendiri di kamar, ngedance ala-ala cewek dan Ish! GELI, DEH!" Arsen tak sanggup lagi membicarakannya, dan hal itu membuat Rinjani tertawa.
Karena melihat perempuan itu tertawa, Arsen melanjutkan. Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasakan hatinya sedikit menghangat. Rinjani adalah orang pertama yang mendengarkan ceritanya, tawanya hampir secerah matahari sore ini. "Lanjutin nggak?"
"Lanjut, dong. Gue bener-bener tertak sama cerita lo. Kadang, sekuat apapun lo nyimpen sesuatu, pada akhirnya lo juga bakal ngungkapin itu semua. Dan gue cukup seneng ngedenger cerita lo," Rinjani tersenyum. "Gue juga ngerti gimana posisi lo."
Arsen menyilangkan kedua tangannya di bawah d**a, punggungnya disandarkan ke kursi agar lebih rileks. "Sampai kapanpun, gue nggak akan pernah anggap Arjuna ada. Karena semenjak dia ada, keluarga gue bener-bener hancur. Nyokap yang nggak tau dimana, Bokap yang sibuk dinas keluar kota dan akhirnya, rumah gue yang biasanya rame kayak kandang ayam, sekarang jadi sepi kayak kandang singa."
"Jadi... lo satu rumah dong sama Juna?"
Arsen tergelak. "Anjir, ogah banget!"
"Kok gitu, sih? Berarti rumah lo sepi banget, dong?"
"Dia gue suruh tinggal sendirian. Biar dia ngerasain hidup sendiri kayak apa. Baru beberapa bulan yang lalu dia pindah ke apartemen punya Bokap gue juga. Gue udah eneg sama dia, Jadi, mending gue yang pergi atau dia yang pergi, dan ternyata Bokap nyuruh Juna pergi," Arsen tertawa kecil. "Rasanya seneng banget! Seenggaknya dia nggak lagi ngerusak pemandangan gue."
"Segitu bencinya lo sama Juna?" Tanya Rinjani lembut.
"Dia bahkan lebih dari layak buat ngedapetin itu semua."
"Lo yakin nggak akan nyesel?"
"Ngapain harus nyesel? Itu belum seberapa daripada apa yang gue rasain."
"Kalau seandainya satu sekolah tau lo sama Juna itu-"
"Nggak akan ada yang tau kalau lo tutup mulut. Soalnya, cuma lo doang yang tau ini."
Rinjani mengatupkan mulutnya. Ya ampun, dia benar-benar di bebani oleh satu aib keluarga. Perempuan itu menarik nafas. Menyandarkan punggungnya pada kursi karena mulai merasakan pegal. "Lo nggak takut kalau seandainya ntar Juna balik mukulin lo gitu?"
Mendengar itu, tawa Arsen pecah. Cowok itu sampai memegangi perutnya sendiri saking gelinya mendengar ucapan Rinjani, matanya berair karena terlalu banyak tertawa. "HAHA, Apa tadi? Mukulin gue?"
Rinjani mendengus, memukul punggung Arsen keras. "Ih! Serius, gue nggak main-main loh! Segala kemungkinan itu bisa aja terjadi."
"Astaga, kayaknya mustahil banget Juna bisa jadi gentle. Asal lo tau, salah satu alesan gue ngebully Juna juga karena dia itu enak di bully, nggak bakal ngelawan dan lebih milih ngehindarin gue. Yah, sekedar buat jadi bahan pelampiasan mood gue bisa kali, ya?"
Rinjani memutar bola mata, lalu berdecak. "Lo emang bener-bener tipe orang yang suka ngeremehin orang lain, ya?"
Arsen hanya mengangkat bahu. "Emang kenyataannya gitu, kok."
Setelah beberapa detik, antara Arsen dan Rinjani sibuk dalam pikiran masing-masing. Sampai Arsen mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam. "Udah sore, nih. Lo mau pulang?"
Rinjani mengangguk, menyedot habis isi Bubble Tea yang sudah tidak segar lagi. Arsen berdiri dari kursi, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Gue nggak bisa nganterin lo. Tau sendiri, kan?"
Iya. Rinjani mengerti. Seharusnya tadi mereka bisa jalan menggunakan mobil. Hanya saja, tanpa bisa dicegah, Ban mobil Arsen mendadak kempes seperti ada seseorang yang iseng melakukannya. Kata Arsen, hal itu sudah biasa. Mengingat, banyak sekali orang yang tidak menyukai keberadaannya di sekolah.
Rinjani mengangguk. "Hmm, gue naik Bus aja. Di depan ada halte, kok."
"Kenapa nggak naik taksi bareng gue aja? Gue yang bayarin, lah." Tanya Arsen dengan dahi berkerut.
Rinjani menggeleng. "Nggak, ah. Gue lebih suka naik Bus aja. Lo mau nganter sampe halte atau enggak?"
"Ih, padahal naik taksi lebih aman, loh." Arsen meyakinkan Rinjani sekali lagi, tapi ia tetap menggeleng. Yah, seandainya Arsen bisa naik Bus juga, kalau bukan karena tidak ada Bus yang melewati daerah tempat tinggalnya. "Ya udah gue anter sampe halte, deh."
Rinjani hanya tersenyum tipis, lalu berjalan lebih dulu-beberapa langkah-di depan Arsen.
***
"Bye. Take care, ya!"
Rinjani membalas lambaian tangan Arsen dari luar kaca Bus. Di depan halte dekat taman kota, biasanya banyak sekali yang naik Bus hingga Rinjani harus buru-buru mencari tempat duduk kalau tidak ingin berdiri sampai bau ketek.
Matanya menyisir pandang kursi penumpang yang rata-rata sudah di tempati sebagian orang. Rinjani mengulum senyum saat pandangan matanya berhenti di salah satu kursi kosong di barisan kanan.
Begitu Rinjani duduk, perempuan itu memangku tas-nya di paha, dan mulai mengeluarkan ponsel.
Deg.
Entah ini takdir atau kebetulan, yang pasti Rinjani tak bisa mengatur degup jantungnya yang terlalu kentara, saat ia menolehkan kepala ke samping.
Dia disini.
.
.
.
(TBC)