Empat

1004 Words
    Acara lamaran itu berjalan dengan lancar meski hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak dan beberapa orang tetangga serta kerabat dekat. Jihan dengan sadar menerima lamaran Pandu.  Gadis itu juga mencoba bersikap lebih lembut dihadapan orang tua Pandu. Bukan pencitraan, tapi lebih pada rasa hormat pada orang yang lebih tua.     Kedua keluarga juga menyetujui untuk mengadakan pernikahan secepatnya, meskipun ada satu orang yang masih memiliki keberatan dihatinya, yaitu Jihan. Dengan ahati-hati dia menyampaikan sesuatu kepada Pandu.     “Boleh saya ajukan sebuah pendapat?” ucap Jihan, yang kemudian diangguki oleh beberapa orang disana. "Apa itu?" Tanya Pandu ketika lamarannya telah diterima oleh Jihan. "Bisa nggak Mas beri saya waktu tiga bulan untuk sendiri." Ucap Jihan sambil menatap kedua mata Pandu. Dan saat itu pula ada yang aneh dengan jantungnya. Jantungnya berdetak lebih cepat.     "Dek, kenapa?" Tanya sang Bapak.     "Jihan ingin menyelesaikan urusan pekerjaan Jihan dalam waktu tiga bulan, Pak. Jihan gak bisa janji kalau Jihan bakal resign setelah tiga bulan. Tapi pernikahan bisa dilaksanakan setelah itu." Jelas Jihan. "Baiklah. Tiga bulan. Silakan kamu menikmati waktumu." Ucap Pandu setuju.     "Sudah selesai ngobrolnya? Mari makan dulu." Ucap Ibu Jihan saat menghampiri ruang tengah. "Mari." Ajak Bapak Jihan pada keluarga calon besannya.     ******     "Jadi, apa hubunganmu dengan Jihan?" Tanya Pandu saat menemukan Imran ditepi kolam belakang rumah Jihan. "Abangnya." Ucap Imran sambil menimang Vira. "Maksudnya?" Tanya Pandu belum puas.     "Nanti tanya aja sama Jihan lengkapnya. Eh, dia ngeliatin lo tuh."     "Siapa?"     "Jihan. Dia kesini."     "Bang, adek mau gendong Viranya." Ucap Jihan saat tiba disamping Pandu.     "Enggak boleh. Tidur dia." Ucap Imran.     "Iihh." Gerutu Jihan.     "Sana ih ngobrol sama Pandu." Ucap Imran sambil mengerling kearah sahabatnya. Jihan hanya melihat sekilas kearah Pandu dan melangkah pergi dari sana.     "Dibelain kenapa, Ndu." Ucap Imran ketika Jihan sudah pergi. "Nanti kalau udah halal." Jawab Pandu enteng, kemudian lebih memilih berkonsentrasi dengan makanannya.     *******     Selepas Ashar, keluarga Pandu pamit karena besok harus berangkat ke Jakarta. "Jaga diri." Begitu pesan Pandu pada Jihan. "Iya." Jawab Jihan. Setelah mengantar kepergian keluarga Pandu. Jihan memasuki kamarnya. Dia letih. Baginya ini terlalu cepat. Terlalu membingungkan. Seperti Lawang Sewu. Namun tak semenyeramkan bangunan tua itu.     Sebuah chat masuk dari Imran, Captain Imran : Pandu itu kaku ya dek, gak ada senyum senyumnya sama kamu tadi. Jihan : Kenapa Bang? Yang keukeuh mau adeknya sama temennya siapa? Captain Imran : Hahaha, bercanda. Kalau udah nikah, terus nanti Pandu nagapa2in kamu, bilang ya. Jihan : Typo deh Bang. Ogah amat cerita sama Abang. Dah, aku ngantuk mau tidur. Captain Imran : Maklum dek, typo. Selamat sore adeknya abang. Ciyee mau jaga rahasia rumah tangga yaa. Soswit. Jihan : Berisik bang     Kemudian terdengar gelak tawa dari kamar sebelah. Abangnya itu benar - benar. Lagian mana mungkin dia bercerita kehidupan rumah tangganya kelak.     ******     Seminggu sebelum kembali ke ibukota, dihabiskan Jihan dengan berkeliling Semarang. Dia lebih memilih naik angkutan umum saja. Lebih bebas. Meskipun dia harus siap diinterogasi abangnya setiap saat. Abangnya itu benar - benar overprotektif, pernah Jihan sekali tak pulang tepat waktu dan tak ada kabar, abangnya langsung mencarinya hingga demam. Tak hanya itu, Abangnya adalah orang pertama yang menghajar mantan pacarnya. Bahkan Jihan pernah menangis ketika abangnya dihukum Bapak karena berkelahi. Padahal abangnya melakukan itu untuk melindunginya.     Bila Bapak adalah Super Man, maka abangnya adalah Captain America.     Sarapan pagi hari ini adalah sarapan terakhir kali sebelum Jihan berangkat ke Jakarta. Imran dan keluarganya datang menginap sejak semalam. "Nanti disana hati-hati. Jangan lupa telepon rumah kalau sudah sampai. Inget Allah ya Nduk." Ucap Ibu. Sebenarnya Jihan sudah hafal dengan wejangan ibu. Namun pergi dari rumah tanpa nasehat ibu, itu hampa. Bagai pergi tanpa tahu tujuan.     Beda dengan bapak, yang lebih cerewet di telepon dari pada saat seperti ini namun, Jihan tahu, Bapaknya sama khawatirnya seperti ibu. Dulu saat Jihan memberitahu kedua orang tuanya bahwa dia diterima di kedinasan. Bapak bilang Terbanglah, Allah dan doa bapak ibu ada disampingmu, Nduk. Itulah yang membuat Jihan berani mengambil pekerjaan itu.     "Iya Bu. Jihan faham." Ucap Jihan menenangkan. "Kalau udah bawa barangmu keluar. Ntar biar abang yang masukin ke mobil. E-ticket jangan lupa." Ucap Imran kemudian keluar memanasi mobil. "Iya." Jawab Jihan singkat kemudian berlalu memasuki kamarnya. Diikuti oleh Siska. "Lo naik pesawat?" Tanya Siska yang duduk di pinggiran kasur Jihan. "Kereta." Jawab Jihan.     "Oohh. Sampe disana jam berapa?"     "Mungkin sore."     "Udah ada yang jemput?"     "Udah."     "Siapa?"     "Taksi online." Jawab Jihan malas.     "Oalah. Bakal kangen gue sama lo. Mas Imran juga pasti kangen. Yahh. Lo bakal susah ketemu Vira." Ujar Siska sambil menahan laju air matanya.     "Ah elah. Cuma tiga bulan dan kita ketemu lagi. Makanya suruh abang cepetan selesaiin doktor nya. Biar bisa ke Jakarta,- eh tunggu. Jangan! Abang biar disini nemenin ibu sama bapak." Kata Jihan sambil memeluk sahabat yang sudah jadi kakak iparnya itu.     "Tiga bulan dan kita ketemu lagi, okeh." Ucap Jihan menjanjikan.     "Dek- lah kok malah peluk-pelukan. Ayok." Kata Imran saat melihat dua wanita berharga dihidupnya itu saling berpelukan. "Bawain kenapa?" pinta Jihan sambil memasang wajah lugunya. "Iya. Kamu kira abang kesini buat apa?" Balas Imran sambil membawa tas Jihan.     Tiba diruang tengah, kedua orang tuanya sudah bersiap untuk melepas kepergian anak bungsu mereka. "Jihan berangkat, Buk. Pak." Pamit Jihan sambil mencium kedua tangan orangtuanya dengan khidmat. "Inget pesan ibu dan bapak." pesan ibu sambil mengusap kepala putrinya yang tertutup jilbab.     "Hati-hati." Ucap bapak sambil memeluk Jihan kemudian.     "Aku berangkat. Jaga Vira, bapak sama ibu." Ucap Jihan pada Siska. Kemudian mencium pipi gembil Vira. "Siap. Hati-hati ya." Ucap Siska.     Jihan perlahan melangkah mendekati mobil abangnya. Benci rasanya harus keluar dari zona sangat nyamannya. Cuma tiga bulan. Dan kita ketemu lagi. -pikir Jihan menguatkan. Kemudian dengan langkah mantap, Jihan memasuki mobil abangnya dan melambaikan tangan pada keluarganya.     "Udah siap?" Tanya Imran.     "Udah. Ayok." Jawab Jihan.     "Nanti disana dijemput Pandu sama adeknya." Ucap Imran yang kemudian dihadiahi pekikan kaget adiknya. "APA!!"     "Iyaa. Daripada sama taksi online coba." Balas Imran.     "Abangg." Rajuk Jihan.     "Cuma sekali aja." Bujuk Imran.     "Terserah."     "Terimakasih, adik kecil." Ucap Imran sambil mengusap kepala adiknya.     Bagaimana bisa marah, kalau usapan abang saja sama kaya usapan ibu - Batin Jihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD