Lima

1103 Words
    Rindu itu jeda agar tak membosankan.     Sesampainya distasiun, Imran membantu adiknya untuk menurunkan barang bawaan. Tak banyak memang, hanya sebuah koper kecil dan tas ransel. Kemudian keduanya berjalan menuju tempat tunggu. Kereta Jihan akan datang 30 menit lagi. Imran memilih menunggu adiknya hingga naik kereta.     "Abang." Panggil Jihan.     "Apa?" Jawab Imran.     "Jaga bapak sama ibu ya." Ucap Jihan. Ucapan adiknya itu membuat Imran menolehkan kepalanya pada Jihan. "Masih kangen sama bapak ibu?" Goda Imran dengan nada sedikit mengejek. "Iya."     "Tenang aja. Abang jaga kok. Oh ya, ayah nanyain kabar kamu kemarin." Kata Imran. Panggilan Ayah adalah panggilan Imran untuk ayah kandungnya. Jihan beberapa kali bertemu pria berseragam itu. Dia pria yang tegas dan hangat. Sama seperti bapak.     "Salamin untuk ayah juga." Kata Jihan.     Imran mengangguk sebagai jawaban untuk perkataan adiknya. "Pandu udah punya nomor kamu. Abang yang kasih kemarin. Abang yang minta dia untuk jemput kamu. Kamu sampe sana kan malem. Tenang ada adeknya Pandu kok. Cowok sih." Jelas Imran.     "Emang adiknya harus cewek?" Balas Jihan. "Kayanya sih lebih keren adiknya dari si Pandu. Adiknya lebih hangat sih. Playboy, cuma takut sama orangtua dan kakaknya." Ucap Imran sambil membayangkan adik Pandu yang tengil itu. "Hehehe, gak apa apa kali. Kalo kaya Mas Pandu semua kan gak seru." Balas Jihan. "Haha, iya."     Suasana kembali hening. Sejujurnya Jihan ingin mengatakan sesuatu pada abangnya. Tapi dia tak ingin abangnya melihat air matanya. Beberapa saat dalam diamnya mereka. Kereta yang akan membawa Jihan sudah datang. "Masuk sana!" Kata Imran.     Tanpa diduga Jihan memeluk abangnya dan mengatakan sesuatu. Kemudian mengambil koper yang dibawa Imran dan memasuki kereta. "Hati-hati." Kata Imran dari luar kereta. Adiknya memang tidak pernah berubah. Saat kuliah dulu pernah dia ke Bandung hanya untuk merawat Imran yang sedang tifus. Dan Imran memarahinya karena pergi tanpa izin orang tua mereka.     "Abang itu captain america-ku. Sehat terus, Bang. Makasih udah jadi abang super untukku. Jangan kangen ya." Bisikan Jihan tadi masih diingatnya. Hah, adiknya akan jadi istri orang beberapa bulan lagi. Dasar Mulan kecilnya sudah besar.     ******     Dilain tempat lain pula keadaannya. Pandu yang baru menyelesaikan satu operasi segera mengecek ponselnya yang  terus bergetar sejak ia memasuki kamar mandi diruangan dokternya hingga keluar dari sana. Lima panggilan tak terjawab dari Imran. Sekhawatirkah itu calon kakak iparnya itu pada dirinya. Dia memilih menelepon balik ke Imran. Terdengar nada tunggu diseberang.     "Halo, Ndu." Ucap Imran diseberang.     "Assalamualaikum. Iya, Ran. Ada apa?" Ucap Pandu lemas. Tenaganya benar - benar dikuras habis untuk berkonsentrasi pada operasi yang memakan waktu 5 jam setelah semalaman lembur mengerjakan laporan. "Waalaikumsalam. Lemes banget, Ndu." Tanya Imran.     "Iya gue baru kelar operasi, Ran. Ada apa telepon?" Tanya Pandu balik. Dia kemudian mengistirahatkan tubuhnya diatas kursi miliknya. "Jihan udah berangkat. Paling sampe sana sorean. Biasanya dia turun di stasiun Gambir. Dia bilang biar enak, gak harus deg degan. Ntar lu tanya udah sampe mana." Kata Imran mengingatkan. "Nomor yang gue kasih masih lu simpen kan, Ndu?" Lanjut Imran.     "Masih." Jawab Pandu.     "Ya udah. Ada jadwal lagi lu?" Tanya Imran.     "Enggak ini mau balik sih. Udah itu aja kan. Ya udah ya Assalamualaikum." Ucap Pandu mengakhiri pembicaraannya dengan Imran.     "Waalaikumsalam." Ucap Imran diseberang.     Setelah selesai mengemas barangnya. Pandu memilih untuk kembali kerumah. Hari ini jadwalnya kosong, hanya ada operasi pagi tadi. Dia harus istirahat. Tubuhnya benar - benar lelah. Namun sebelumnya, dia harus mengirim pesan pada Jihan. 089237478xxx : Assalamualaikum, nanti kalau sudah sampe stasiun jatinegara, beri tahu saya. Hati - hati. Pandu.     Sesudah itu dia menuju parkiran mobil dan pulang kerumah.     ******     Sebuah pesan sukses mengalihkan eksistensi pemandangan disekitar jalur kereta yang dilewati Jihan. Nomor tidak dikenalnya. 089237478xxx : Assalamualaikum, nanti kalau sudah sampe stasiun jatinegara, beri tahu saya. Hati - hati. Pandu.     Ternyata sebuah pesan masuk dari Pandu. Pria yang seminggu ini berada di pikirannya. Kaku sekali pesannya, pikir Jihan. Jihan : Iya.     Cukup singkat saja balasnya. Tak usah panjang - panjang. Lagi pula memang belum saatnya berbalas pesan yang panjang. Perjalanannya masih lama, dia memutuskan untuk mengeluarkan buku yang sedang dibacanya belakangan ini. Dia sengaja membawanya untuk mengusir penatnya.     Ngomong - ngomong soal Pandu, lelaki itu jauh berbeda dari mantan pacar Jihan. Lelaki itu kaku, dingin, namun dewasa. Berbeda dengan mantannya yang ekspresif, hangat, namun masih seperti anak - anak. Apalagi ditambah dengan tingkahnya yang benar - benar diluar dugaan Jihan. Pria kurang garam itu berselingkuh dengan sahabat Jihan saat SMA. Hebat sekali. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Jihan sudah tidak peduli.     Bagi Jihan sekarang adalah bagaimana dia menikmati tiga bulan waktu bebasnya. Mungkin lebih baik jika kerjaan dicicil sebelum hari pernikahan. Ataukah Jihan sudah harus diet dan mulai perawatan. Haaahh.. lelah memikirkan banyak hal, bukunyapun jadi tak menarik. Lebih baik dirinya tidur sebentar.     ****** Jihan : Sudah lewat Jatinegara. Mas mau jemput dimana? Pandu : Kata Imran biasa turun di Gambir. Saya jemput disitu. Ini sudah di Gambir sama Panji. Jihan : Dari jam berapa disitu? Pandu : Belum lama, sekalian keluar sama Panji. Hati-hati. Jangan tidur. Jihan : Iya.     Pandu sudah distasiun Gambir 20 menit yang lalu. Sebenarnya tubuhnya masih lelah dan sedikit demam. Kalau adiknya tidak membangunkannya mungkin sekarang dia masih tidur.     "Nji." Panggil Pandu pada adiknya. "Apa?" Jawab Panji.     "Nanti jangan tengil - tengil." Kata Pandu mengingatkan. "Gampang. Liat nanti deh, Kak." Jawab Panji santai sambil memainkan ponselnya. "Jangan kaya dulu. Kamu godain, trus kamu kasih serangga. Kenapa kamu dulu?" Tanya Pandu saat mengingat waktu dia pacaran ketika SMA dan membawa pacarnya ke rumah. Kemudian dijahili adiknya dan putus.     "Gak cocok sama kakak." Jawab Panji super santai.     Tak berapa lama terdengar pengumuman kereta tiba. Pandu langsung melihat kearah pintu keluar. Setelah beberapa saat tidak melihat sosok Jihan. Kemudian Pandu meneleponnya. "Assalamualaikum. Dimana?" Tanya Pandu.     "Waalaikumsalam. Saya sudah lihat Mas." Kata Jihan. Setelah mengatakan hal itu keduanya saling bertatapan. Kemudian Pandu menghampiri Jihan dan membantunya membawa koper miliknya. Setelah mematikan teleponnya     "Capek?" Tanya Pandu basa basi. "Lumayan." Jawab Jihan.     "Ini Panji. Adikku." Kata Pandu memperkenalkan Jihan pada Panji. "Jihan." Ucap Jihan sambil mengulurkan tangannya. "Panji mbak." Jawab Panji sambil menjabat uluran tangan Jihan. “Sudah kan? Kita pulang ya. Sudah mau maghrib." Ajak Pandu sambil berjalan mendahului keduanya.     "SMA atau Kuliah?" Tanya Jihan. "Mau kuliah." Jawab Panji yang masih asik dengan gadgetnya meskipun sedang berjalan. "Jangan sambil jalan main gamenya. Nanti aja kalau udah di mobil." Ucap Jihan mengingatkan. "Heem." Balas Panji kemudian memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.     Pandu yang sedari tadi didepan sebenarnya memperhatikan keduanya. Adiknya sedikit bertingkah normal. Untunglah. "Han." Panggil Pandu. "Iya." Jawab Jihan. "Mampir kerumah mama dulu mau?" Pertanyaan Pandu sungguh diluar dugaan Jihan. Dirinya hanya menatap Pandu dengan pandangan bingung.     'muka kucel, belum mandi, nggak wangi, masih berani mampir kerumah calon mertua? Cari mati kamu?' bisik hati Jihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD