Enam

1228 Words
    Jujur kalau bisa menolak, Jihan akan menolak berada dirumah Pandu saat dia baru sampai Jakarta. Namun apa daya saat Pandu sudah membelokkan mobilnya ke arah rumah Pandu. "Masuk dulu tadi aku udah sms mamah." Kata Pandu pada Jihan.     "Barangnya diturunin nggak Kak?" Tanya Panji pada Pandu. "Gimana Han?" Kata Pandu melempar pertanyaan Jihan. "Enggak usah Dek." Jawab Jihan.     Ketiganya masuk kedalam rumah Pandu. Rumah Pandu terdiri dari dua lantai. Rumah ini cukup nyaman. Ada taman yang cukup luas didepan rumah. "Assalamualaikum, Mah." Ucap Pandu saat memasuki rumahnya.     "Waalaikumsalam. Masuk sini." Ucap sang nyonya rumah.     Dengan sopan Jihan mengulurkan tangannya hendak bersalama dengan calon mama mertuanya, "Tante gimana kabarnya?" Sapa Jihan sambil mencium tangan ibu Pandu. "Sehat, nak. Capek?" Tanya ibu Pandu sambil menggiring Jihan untuk duduk di sofa depan.     "Oom kemana Tante?"     "Dinas keluar kota."     "Ketemu calon mantu aja lupa anak sendiri. Gimana kalo udah jadi mantu beneran. Hilang sudah kita Kak." Kata Panji mendramatisir. Sedang Pandu hanya meminum air putihnya tanpa berminat menanggapi Panji. "Drama kamu dek." Ucap sang Mamah.     "Makan dulu yah." Tawar Mama pada Jihan. "Kalau ndak ngerepotin hehe. Em, saya mau pinjem kamar mandinya boleh Tante?" Kata Jihan saat merasa dia butuh ke kamar mandi untuk kepentingan perempuan. "Boleh. Itu kamar mandinya deket dapur ya." Jawab Mama kemudian meninggalkan Jihan untuk kembali kedapur.     Jihan baru ingat kalau tas ranselnya ada dimobil Pandu. Melihat pria itu santai sambil memainkan ponselnya membuat Jihan berani menghampiri pria itu. "Mas." Panggil Jihan. "Apa?" Jawab Pandu cuek. Dia sama sekali tak melihat Jihan.     Jihan tak terlalu mempermasalahkan sikap Pandu, "Mau ambil sesuatu dimobil." Ucapnya.     "Siapa?"     "Aku."     Tanpa menjawab Jihan, pria itu berdiri sambil membawa kunci mobilnya. Jihan yang melihat itu hanya mengintili Pandu keluar. Sesekali Pandu memijat tengkuknya yang pegal. Dan hal itu tak luput dari perhatian Jihan. "Mau ambil apa?" Tanya Pandu     "Ransel." Jawab Jihan. Setelah mengambil ranselnya. Jihan mengucapkan terima kasih pada Pandu dan pergi mendahului Pandu masuk kedalam rumah.     ******     "Pandu itu gak bisa makan seafood." ... "Dia jarang banget makan buah. Dia agak pilih pilih kalau untuk makanan.” ...  "Dia jarang sakit tapi sekalinya sakit ngerepotin." Kata mama saat mereka makan bersama.     "Saya juga tante. Kata Bapak, punya anak cewek udah gedhe pula. Sekalinya sakit tetep aja bikin geger." Balas Jihan. Pandu yang melihat interaksi antara Mama dan Jihan hanya bisa diam, meskipun rahasianya dibongkar oleh mamanya.     "Kak." Panggil Panji. "Apa." Jawab Pandu. "Nemu calon kakak ipar kek gitu dimana?"     "Inget Imran?"     "Bang Imran? Inget."     "Itu adiknya." Kata Pandu.     "Kok gak mirip?" Kata Panji. Hal itu juga mengusik Pandu. Imran dan Jihan terlihat tidak mirip. Tapi interaksi mereka berdua sangat dekat. Dia ingat kata Imran yang memintanya untuk menanyakan langsung pada Jihan. "Oh iya, tumben gak aneh kamu tadi." Kata Pandu mengingat tingkah laku adiknya tadi.     "Setuju sih." Jawab Panji santai. "Asal, traktir makan seminggu." Lanjut Panji.     "Ogah. Mending kakak kasih uang ke kamu dari pada ngikutin kamu makan." Tolak Pandu. Adiknya itu doyan makan. Sangat.     "Mas." Panggil Jihan.     "Mbak duduk dulu deh." Ajak Panji. Sedang Pandu hanya melihat keduanya. Kemudian berlalu kekamarnya. Hampir maghrib. "Dulu kuliah dimana?" Tanya Panji.     "Semarang." Jawab Jihan.     "Dulu ambil apa?"     "Geografi."     "Ohh.. suka k-pop?"      Hahhh?? Jihan cukup terkejut dengan pertanyaan Panji, namun tetap menjawab pertanyaan itu, "Suka."     "Biasnya siapa?" Tanya Panji.     "Artisnya label warna pink." Jawab Jihan. "Ntar dulu dek, kamu suka K-pop?" Lanjut Jihan.     "Bukan kpopnya, tapi dramanya mbak." Jawab Panji. "Punya drama ap-" Ucapannya terhenti saat terkena lemparan sajadah oleh kakaknya.  "Mama. Kakak nih, kekerasan." Ujar Panji pada mamannya, meskipun tak ada di ruangan itu.     "Udah mau maghrib, sana siap-siap." Kata Pandu tegas. "Iya iya. Lanjut nanti ya mbak." Kata Panji kemudian pergi bersiap - siap.     "Sholat?" Tanya Pandu pada Jihan. "Lagi enggak." Jawab Jihan. "Kuanter ke kosan setelah Maghrib." Kata Pandu.     "Mas." Panggil Jihan. "Apa." Jawab Pandu. "Boleh pinjem hapenya?" Tanya Jihan.     Mendapat pertanyaan begitu, Pandu hanya memandang Jihan aneh. Untuk apa meminjam hapenya. "Buat ngehubungin rumah. Baterai hapeku habis. Bawa powerbank, tapi lupa dicas." Jelas Jihan. "Itu diatas meja." Jawab Pandu sambil menunjuk ponsel hitam diatas meja.     "Kodenya?" Kata Jihan.     "7899." Jawab Pandu.     "Ayo kak." Kata Panji keluar dari kamarnya. "Hem. Mas pergi dulu. Assalamualaikum." Pamit Pandu pada Jihan.     "Waalaikumsalam."     *******     Suara ponselnya yang terus meminta perhatian dari Imran memaksanya untuk memeriksanya. Sebuah panggilan dengan nama sang calon adik ipar tertera disana. "Assalamualaikum, Ndu. Ada apa?" Tanya Imran. Lama tak mendengar jawaban diseberang membuat Imran mengernyitkan dahinya.     "Ndu." Ulangnya.     "Waalaikumsalam bang, ini Jihan." Ucap Jihan.     "Kok pake telepon Pandu, Pandunya mana?" Tanya Imran.     "Mas Pandu lagi ke masjid. Hape adek tuh mati, powerbank juga lupa dicas. Adek udah sampe. Ini lagi di rumahnya Mas Pandu." Kata Jihan menjelaskan. "Kamu gak apa-apa telepon pake hape Pandu?" Tanya Imran.     "Tadi waktu pinjem dikasih kok. Nanti diganti deh pulsanya."     "Gak usah. Banyak uang dia."     "Yaudah kalau gitu, adek Cuma mau ngabarin itu."     "Iya. Nanti abang bilang sama bapak ibu, kalo kamu udah sampe. Jaga diri." Kata Imran mengingatkan.     "Iya abang. Assalamualaikum."     "Waalaikumsalam."     Syukurlah kalau adiknya itu mau main ke rumah Pandu. Dulu ibu mantan pacar adiknya sedikit tidak menyukai Jihan. Hanya karena dandanan Jihan yang memakai jilbab, kemeja kedodoran, celana kain, dan sepatu kets. Wanita itu langsung menganggap kerjaan Jihan terlalu apa adanya. Mungkin ibu mantan pacar adiknya ingin menantu yang high class.     *******       "Tante, Jihan pamit ya." Kata Jihan saat akan pulang ke kosannya. "Iya. Hati-hati. Kapan - kapan main lagi kesini. Tante suka kesepian kalo dirumah cuma sama adek." Ucapan calom mertuanya ini terdengar sedikit sendu, mungkin karena tidak memiliki anak perempuan. "InsyaAllah Tante." Ucap Jihan sambil mencium punggung tangan ibu camernya ini.     "Ayo." Kata Pandu. Kemudian dilihatnya Pandu mencium tangan ibunya dan berkata, "Pandu pergi dulu mah."     "Jangan ngebut kak." pesan mama.     Kemudian Pandu berjalan didepan Jihan, sambil membawa tas ransel Jihan. Jihan yang melihat itu hanya pasrah. Biarkan saja.     "Mbak." Panggil Panji. "Bagi drama korea ya kalo punya." Lanjutnya.     "Boleh, kapan-kapan aja, kalo mbak ada senggang dek." Kata Jihan tidak menjanjikan. "Sip deh, hati - hati ya mbak. Yang bawa mobil jinak jinak singa." Kata Panji sambil menggoda Pandu. "Hahaha. Belajar yang rajin kamu." Kata Jihan mengingatkan.     "Han." Panggil Pandu. Dia tidak ingin Jihan terlalu malam sampai kosannya.     "Iya. Mbak pergi dulu, Jihan pamit Tante." Ucap Jihan sambil melambaikan tangan pada Panji dan Ibunya Pandu. Kemudian masuk kedalam mobil Pandu. "Seatbelt." Kata Pandu. Kemudian Jihan yang merasa teringatkan, langsung memakai sabuk pengamannya. Mereka menikmati perjalanan dalam diam. Tak ada yang memulai pembicaraan aneh, kecuali ketika Pandu menanyakan arah kosnya.     "Tentang tiga bulanmu." Kata Pandu saat mereka terjebak kemacetan. Dia menjeda sambil memijat tengkuknya. Sedangkan Jihan, selaku pihak yang diajak bicara hanya sibuk mencari sesuatu diranselnya. "Nih." Ucap Jihan sambil menyodorkan krim pereda nyeri pada Pandu. "Buat apa?" Tanya Pandu seolah buta tentang krim itu. "Buat ngilangin pegelnya mas. Bang Imran sering pake ini juga." Jawab Jihan sambil membuka tutup krim itu.     Pandu kemudian menerima krim itu dan memakainya. Sensasi hangat tak lama dirasakannya. Tegang ditengkuknya sedikit berkurang. "Imran itu siapa kamu?" Tanya Pandu. "Abang aku." Jawab Jihan.     "Maksudnya?"     "Kami saudara, satu ibu beda bapak." Terang Jihan.     Fakta yang sebenarnya sudah Pandu duga, mengingat tak ada kemiripan diantara keduanya. "Kamu bebas gunain tiga bulan kamu, asal kamu tetap tahu batasan dan jaga diri kamu." Kata Pandu.     "Dan soal hubunganmu dengan Imran, aku senang kamu punya kakak seperti dia." Lanjut Pandu. Sedang Jihan masih memproses kata - kata Pandu barusan. 'tanggapan yang aneh.' pikir Jihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD