Sudah dua minggu Jihan di Jakarta. Dan seminggu ini dia lalui seperti biasanya. Layaknya sebelum dia pulang ke Semarang empat minggu yang lalu. Weekend. Tak ada yang spesial dari akhir pekannya kali ini. Malam minggu kemarin saja dia lewatkan dengan nonton habis drama yang dimilikinya.
Lani : Ngafe kuy.
089721354xxx : Apa kabar? Bisa ketemu? Dion.
Mas Pandu : Tadi Panji minta nomor kamu.
087653322xxx : Mbak, ini Panji. Ketemu yuk. Mau minta drama.
Captain Imran : Kangeeennn. Ini Siska yaa.
Dari sekian banyak chat yang masuk ke ponselnya, yang paling membuat Jihan tak habis pikir adalah pesan dari Dion. Lelaki berengsek itu benar - benar tak tahu malu. Sudah menyakiti, pergi, dan meminta bertemu pula.
To : Lani : Kuy, baru bangun aku. Jam 10 ya. Tempat biasa.
To : Mas Pandu : Iya, udah ngechat aku dia Mas.
To : Captain Imran : Dion ngechat aku, aku harus gimana?
To : 087653322xxx : Boleh. Nanti mbak mau ke starbucks sama temen jam 10. Ikut?
Pesan dari Dion diabaikannya. Kemudian Jihan memilih bersiap - siap untuk bertemu Lani, sahabat sekosnya yang sudah dianggapnya seperti saudara.
*****
"Assalamualaikum, Bang." Ucap Jihan saat mengangkat telepon dari Imran. "Waalaikumsalam. Seriusan Dion ngechat lo? Cuekin aja, kalo perlu diblokir, gak usah ada apa-apa lagi sama cowok tipe kadal kaya dia, gue gak suka. Tadi Mas Imran udah bilang sama Pandu. Gue kurang ngeh apa yang mereka bicarain. Tanya aja sama Pandu." Bukan suara Captainnya yang didapat. Tapi suara nyaring ibu satu anak yang sudah sangat dikenalnya.
"Aku nggak tahu dia dapet nomorku dari mana, Sis. Nggak aku bales juga ini chatnya."
"Gak punya muka apa cowok itu. Abang lo mau ngomong nih." Ucap Siska cepat.
"Iya."
"Dek, tadi abang udah kasih tau Pandu. Kamu disitu sendiri. Kalo ada apa - apa bilang sama Pandu. Dia bilang kamu lagi diluar?" Tanya Imran .
"Iya bang. Aku lagi di starbucks. Nunggu temen ini." Jawab Jihan.
"Ya udah. Kalo ngerasa si kunyuk itu berulah lagi bilang sama Pandu. Ajak dia diskusi juga." Kata Imran mengingatkan.
"Jihan paham pak." Balas Jihan menggoda abangnya.
"Inget jangan bertindak sendiri. Sekalinya sakit hati, gak pulang kerumah setahun. Ini keluarga ada hatinya." Kata Siska sinis.
"Iya mamah muda. Maaf ya. Dulu adik ipar khilaf." Balas Jihan.
"Ya udah hati - hati. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sembari menunggu Lani, Jihan memilih untuk memesan menu terlebih dahulu. Iced Americano rasanya cocok untuk hatinya yang panas.
Lani : Jiji.. sorry, gue ada date sama Rio. Lo udah di starbucks? Apa gue ke tempat lo aja ya Ji?
Jihan : Ah elah, ya udah kamu jalan aja sama Rio. Lagian jarang ketemu juga. Aku sendiri aja gak apa. Santai aja. Kaya baru temenan kemarin sore.
Lani : I love you. Aku traktir ramen 3 hari.
Jihan : Asik. Okeh.
Kemudian Jihan memilih mengeluarkan laptopnya dan menyalakan benda itu. Ada film yang ingin dia unduh. "Mbak Jihan!" merasa namanya dipanggil dan Jihan kenal dengan suara itu menoleh ke arah suara. "Sini dek." Ucap Jihan sambil melambaikan tangannya. Panji tidak sendiri, dia datang bersama Pandu. Panji segera menuju ke meja Jihan setelah berbicara sebentar dengan Pandu, sedangkan Pandu, pria itu sepertinya memesan sesuatu.
"Dari rumah?" Tanya Jihan saat keduanya duduk dikursi meja Jihan. "Kalo gue iya mbak, tapi kak Pandu dari rumah sakit. Tadi jemput dulu kerumah." Jawab Panji. "Mbak pinjem laptop." Lanjut Panji. "Nih, difolder korea ya, jangan diclose Chromenya. Lagi download film." Kata Jihan sambil menyerahkan laptopnya.
Kemudian Pandu datang sambil membawa dua gelas minuman dan sebuah bucket sweet potato. "Nih Nji." Kata Pandu. "Trims kak." Kata Panji tanpa mengalihkan pandangan dari laptop Jihan.
"Udah lama?" Tanya Pandu pada Jihan.
"Belum kok."
"Katanya sama temen?" Lanjut Pandu.
"Dia nge-date sama cowoknya."
"Kata Imran, mantanmu ngontak kamu lagi?" Tanya Pandu sambil menyeruput kopi miliknya.
Jihan merasa sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan barusan, namun Jihan memilih untuk tidak membcarakan ketidaknyamanannya, dia menjawab pertanyaan Pandu, "Iya."
"Sini hape kamu." Kata Pandu. "Buat apa?" Tanya Jihan.
Udah sini aja."
"Kasih aja mbak, aman kok." Kata Panji yang tiba - tiba masuk obrolan.
Kemudian Jihan mengangsurkan hapenya pada Pandu. Entah apa yang Pandu lakukan pada hapenya Jihan tak tau. Tak berapa lama, Pandu pergi dari meja itu untuk keluar, Jihan hanya melihat Pandu menelepon seseorang menggunakan hapenya. "Nih." Kata Pandu sambil menyerahkan hape miliknya.
"Habis telepon siapa?" Tanya Jihan. "Mantan kamu. Siapa namanya? Yon yon siapa?" Ucap Pandu.
"Dion kak." Celetuk Panji. "Serius?!!" Pekik Jihan.
"Iya." Jawab Pandu santai sambil mencomot sweet potato didepannya.
"Ngomong apa mas?" Tanya Jihan.
"Urusan cowok." Jawab Pandu malas. "Intinya kalau dia ngechat kamu lagi abaikan aja. Biar saya yang urus. Kalo mau ngajak ketemu bilang sama saya." Kata Pandu serius.
"Serius banget kak." Celetuk Panji lagi.
"Tapi mas-" Ucapan Jihan terhenti saa dia melihat kepalan tangan Pandu diatas paha Pandu. Jadi dia marah, batin Jihan. "Kenapa?" Tanya Pandu sambil melirik Jihan. "Nggak jadi." Ucap Jihan. Jihan ingin masalah ini hanya dia bicarakan berdua dengan Pandu. Hanya berdua. Suara notifikasi pesan masuk membuat Jihan beralih ke ponselnya.
Mas Pandu : Nanti malem saya mau telepon.
Kemudian Jihan melihat kearah Pandu yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Pandu. Jihan paham. Pandu pasti juga berpikir tak seharusnya membicarakan masalah ini saat ada Panji. 'Kenapa ngga terpikir sih, kalau ada Panji disini.' Batin Jihan.