Delapan

1011 Words
    Setelah mengantar Jihan pulang dan Panji ke tempat basket, Pandu langsung bergegas ke rumah sakit. Dia ada jadwal operasi siang ini. Entah mengapa kehadiran mantan pacar Jihan membuatnya terusik. Imran pernah bercerita padanya tentang bagaimana kelakuan mantan pacar Jihan kepada gadis itu, harusnya Imran dulu tidak bercerita padanya.  "Dokter Pandu, sudah ditunggu." Ucap seorang perawat ketika Pandu baru akan bersiap.     "Iya sus." Jawab Pandu. Jangan bawa masalah pribadi ke meja operasi. Tugas kita untuk mengangkat masalah. Bukan menambahanya. Kata Pandu dalam hati.     ****** Jihan : Tadi katanya mau telfon.     Ahh, yang benar saja bagaimana Pandu bisa lupa untuk menelepon Jihan. Pesan yang dikirim gadis itu 3 jam yang lalu baru dibacanya. Tanpa membuang waktu, Pandu segera men-dial nomor Jihan, berharap gadis itu belum tidur.     "Apa?" Suara serak Jihan yang pertama kali dia dengar.     "Assalamualaikum." Kata Pandu.     "Waalaikumsalam. Ini siapa?"     "Ini Pandu. Udah tidur?"     "Kenapa Mas? Udah tadi, sebelum ditelepon Mas." Jawab Jihan dengan suara agak jelas. "Maaf tadi lupa telepon. Tadi diskusi sama senior."     "Tadi operasi berapa jam?"     "5 jam."     "Udah makan?"     "Udah. Tadi siang"     "Makan dulu!"     "Maaf kalau tadi mas lancang nelepon mantan kamu." Ucap Pandu sambil tanpa memperdulikan perkataan Jihan. "Hem." Ucap gadis itu sambil menahan kantuk.     "Dek." Panggil Pandu.     "Tunggu barusan, Mas bilang apa?"     "Enggak, cuma biar kamu bangun aja."     "Ini udah bangun." Jawab Jihan kesal. "Mas bilang apa aja sama dia? Diem deh Lan." Lanjut Jihan sambil berkata pada seseorang.     "Mas tanya kenapa dia ganggu kamu. Dia bilang dia merasa bersalah sama kamu, dan sekarang dia sama pacarnya ada masalah. Dan pacarnya nuduh kamu. Jadi, mantanmu minta ketemu buat ngejelasin ke mantannya. Sama siapa kamu?" Ucap Pandu menjelaskan.     "What!!! Is he serious?!!" Pekik Jihan.     "Ini telepon nempel ditelinga loh Han. Sama siapa disitu?" Desis Pandu.     "Maaf. Sama Lani. Temen kos, dia lagi nginep dikamar aku." Jawab Jihan. "Terus mas bilang apa ke dia?" Lanjut Jihan.     "Saya bilang nanti saya tanya ke Jihan. Jadi gimana?" Tanya Pandu.     "Biasanya- Alaniiii jangan peluk - peluk deh, itu lohh geserrr.." Suara ricuh terdengar dari seberang. Kemudian suara Jihan kembali terdengar "Maaf. Kalau ketemu dia aku biasanya ditemin Siska atau-"     "Saya temenin." Ucap Pandu memotong perkataan Jihan.     "Tapi aku nggak mau deket deket ini, mas."     "Sama, saya juga sibuk. Kirimin nomor dia ke saya, terus blokir nomor dia dihape kamu." Kata Pandu.     "Besok. Aku mau tidur. Assalamualaikum." Ucap Jihan mengakhiri teleponnya.     "Waalaikumsalam."     "Jangan lupa istirahat Mas." Ucap Jihan sebelum menutup teleponnya.     ******     Pandu baru saja menerima sebuah pesan dari mantan pacar Jihan saat dirinya sedang istirahat setelah selesai mengecek kondisi pasien. Dion : Tolong biarin aku ketemu sama Jihan. Besok. Tempatnya nanti aku share.     Tak tahu sopan santun sekali pria ini. Batin Pandu. Dia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Jihan kalau Dion ingin bertemu dengannya. Setelah selesai mengirim pesan pada Jihan, Pandu langsung bergegas melanjutkan piketnya. Tinggal satu lorong lagi selesai. Saat akan berbelok ke lorong tersebut hapenya berbunyi. Jihan : Besok ada rapat penting. Jam 1. Jam 10 harus dikantor. Pulangnya malem paling. Ini masih lembur. Pandu : Lembur dimana? Jihan : Dikantor Pandu : Sama siapa? Jihan : Anak anak divisi Pandu : Jaga diri. Jihan : Mas dimana? Kok belum tidur. Pandu : Rumah sakit. Lagi piket.     Tak mendapat balasan lagi, Pandu memilih melanjutkan piketnya. Dia sebenarnya tak suka Jihan pulang malam. Apa daya dia belum ada hak untuk melarangnya. Lagi pula mamanya bilang untuk membiarkan dia mandiri sepuasnya sebelum manja pada dirinya, lagipula ini cara dia untuk menikmati waktunya.     ******     Jihan tidak akan mengira kalau dia akan lembur sampai selarut ini. Beruntumg dia tidak harus menginap dikantor. Teman kantornya juga sedang lembur untuk bahan rapat besok. Jihan memutuskan untuk menelepon Pandu karena dia merasa pria itu masih terjaga mengingat dia shift malam. Beruntung masih ada Aris dan Dewi yang tinggal untuk menemani Jihan. Dia terlalu sungkan untuk pulang bersama mereka, karena beda arah pulang. Mas Pandu is calling     "Assalamualaikum, Mas." Sapa Jihan terlebih dulu.     "Waalaikumsalam. Ada apa, Han?” tanya Pandu penasaran.     “Mas dimana? Lagi sibuk ngga?” tanya Jihan lagi.     “Masih dirumah sakit, nggak terlalu ini. Kenapa?”     “Begini, aku udah selesai lemburnya, tapi ini ngga ada yang bisa di tebengi buat pulangnya. Ojek online pun jam segini sudah ngga ada. Jadi Mas bisa ngga tolongin jemput ke kantor?”     "Share loc kantor kamu ya, Tunggu disitu." Kata Pandu kemudian menutup teleponnya.     "Bang, Jihan udah ada yang jemput nih, ngga apa apa kok kalau mau balik duluan." Kata Jihan pada kedua seniornya. "Kita temenin deh." Kata Bang Aris.     Sesekali mereka mengobrol tentang pekerjaan, atau Jihan yang lebih banyak menggoda Bang Aris yang akan menikahi Mbak Dewi. Tak berapa lama deru mobil Pandu terdengar semakin dekat didepan kantor Jihan. Mobil itu berhenti agak maju didepan mobil Aris. Pandu langsung keluar dari mobil itu.     "Waahh ini toh, yang calonnya Jihan." Goda Bang Aris. "Apaan sih bang." Jawab Jihan sambil cemberut. "Saya Pandu, makasih udah nemenin Jihan." Ucap Pandu sambil memajukan tangannya hendak berjabat tangan dengan Aris. "Saya Aris, dan ini calon saya Dewi. Kita seniornya Jihan sih, cuma kaya dianggep seangkatan aja sama ini bocah." Jawab Aris sambil menjabat tangan Pandu.     Setelah berbasa-basi singkat dengan Aris dan Dewi, Pandu pamit pada kedua pasangan itu, "Kalau begitu kami permisi, Assalamualaikum.”     "Iya hati-hati, Waalaikumsalam." Jawab Aris. Kemudian mobil Pandu melaju meninggalkan kantor Jihan. "Mas udah makan?" Tanya Jihan. Jalanan cukup lengang namun tak selengang saat mudik tiba. "Belum." Jawab Pandu singkat. "Ini. Ada roti." Ucap Jihan sambil menawarkan sebungkus roti. "Saya lagi nyetir." Kata Pandu.     "Kalau ngga keberatan ini udah aku bukain bungkusnya." Ucap Jihan sambil memberikan roti yang sudah dibuka kepada Pandu. Pandu menerima roti itu dan memakannya dalam dia. "Ini minumnya." Kata Jihan sambil menyerahkan sebotol air mineral yang masih tersegel pada Pandu. "Makasih." Kata Pandu. Beruntung keadaan traffic light sedang merah, jadi dia bisa meminumnya sendiri. Mereka sampai di indekos Jihan setelah berkendara sekitar tigapuluh menit. Beruntung Jihan punya duplikat kunci gerbang, jadi dia bisa masuk kedalam.     "Mas langsung pulang?" Tanya Jihan. "Iya." Jawab Pandu.     “Makasih, Mas. Maaf ngerepotin malam-malam begini.”     “Its Okay, saya pergi dulu kalau gitu.” Pamit Pandu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD