BAB 29 : Hantu Tanpa Lidah - Bagian 1

823 Words
“Tuan Peter, jika Anda tidak bisa bersikap baik. Mengapa kita tidak membatalkan pertemuan ini? Walaupun Anda adalah klien saya, tetap saja Anda adalah orang yang paling dirugikan apabila saya tidak mau mengurus kasus Anda. Jadi, bersikaplah dengan baik bila ingin tetap hidup dengan damai.” Peter Rodriguez membungkam mulutnya begitu mendengar ucapan Zenon. Saat ini, Peter tengah berdiri di penghujung tanduk dan Zenon adalah satu – satunya tali yang mampu menyelamatkannya. Bila dia tidak mau menerima bantuan dari Zenon, maka sama saja Peter tengah melakukan bunuh diri. Melihat Peter tidak membalas ancamannya, akhirnya Zenon bersikap lebih tenang dan mulai bertanya dengan profesional, “Jika tidak ada lagi keluhan, maka kita bisa memulai pekerjaan. Sebelum menangani kasus, bisakah Anda menceritakan kronologisnya terlebih dahulu?” Di bawah tekanan Zenon, Peter mengangguk patuh dan mulai menceritakan pengalaman buruk yang ia alami belakangan ini. Gangguan yang ia alami pertama kali terjadi pada dua minggu yang lalu. Saat itu, Peter baru saja pulang dari pesta perayaan ulang tahun agensi modelnya yang memasuki usia ke – 10 tahun. Ketika di pesta perayaan, Peter telah minum begitu banyak alkohol sehingga pulang dalam keadaan mabuk dan linglung. Karena hal itu pula, Peter langsung bersiap untuk tidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu. Tepat ketika Peter baru ingin memejamkan mata, dia mendapati suara gedoran terdengar dengan sangat keras di pintu ruang tamu dan membuat Peter terjaga. Seorang pelayan yang masih bangun segera membuka pintu utama, tetapi tidak mendapati ada seseorang di depan pintu. Merasa aneh, akhirnya pelayan itu bertanya kepada pihak keamanan yang berjaga di pagar utama untuk mengetahui apakah memang ada tamu yang datang ataukah tidak. Namun, satpam yang berjaga malah menatap pelayan itu dengan kebingungan. Karena dia tidak lagi membuka pintu pagar setelah Peter Rodriguez memasuki rumah, yang artinya sama sekali tidak ada tamu yang bisa mengetuk pintu utama rumah. Akhirnya pelayan itu kembali ke dalam rumah dan berpikir mungkin suara ketukan itu hanyalah halusinasi semata. Akan tetapi, baru saja pelayan itu menutup pintu utama, suara ketukan pintu kembali terdengar, membuat wajah pelayan itu memucat dan tidak berani membuka pintu secara langsung. “Siapa di sana?” tanya pelayan itu dengan penuh ketakutan. Bukannya menjawab, seseorang yang ada di balik pintu malah menggedor pintu semakin keras dan tidak terkendali, bahkan sesekali terdengar seperti tendangan. Pintu berguncang dengan hebat setiap kali dipukul keras, seolah yang memukul bukanlah seorang manusia melainkan sebuah bola besi yang siap menghancurkan pintu. Keributan yang ditimbulkan begitu keras sehingga membuat para pelayan di rumah Peter Rodriguez berbondong – bondong untuk berkumpul di ruang tamu tapi tidak ada satu pun yang berani membuka pintu. Beberapa dari pelayan memegang senjata di tangan mereka agar bisa melindungi diri sendiri apabila benar – benar ada penjahat yang ingin melukai mereka. Peter yang tidak tahan dengan suara gedoran pintu itu akhirnya keluar dari kamar dan mulai berteriak marah, “Siapa yang ingin bertamu malam – malam begini?! Kenapa pula kalian tidak membukakan pintu dan diam seperti patung?” Seorang pelayan berkata bahwa tidak ada orang di luar sana ketika ia membuka pintu dan satpam yang berjaga di halaman pun tidak melihat ada orang yang mengetuk. Lantas suara ketukan itu berasal dari mana bila tidak ada orang yang mengetuk? Merasa kesal dan tidak mempercayai omong kosong mengenai hantu. Peter memaksa pelayannya untuk membuka pintu. Pelayan yang ditunjuk tidak berani menolak permintaan Peter dan menuju pintu dengan takut – takut. Dia akhirnya membuka pintu dengan tangan gemetar dan langsung bernapas lega karena tidak melihat ada apa pun di depan pintu. Namun, reaksi Peter saat itu berbeda dengan para pelayan. Dia sontak berteriak begitu pintu terbuka dan bahkan mundur beberapa langkah hingga kakinya tersandung oleh kaki meja. “Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya melihat hal yang mengerikan. Di ambang pintu, ada satu sosok yang sekujur tubuhnya berlumuran oleh darah. Ketika sosok itu membuka mulut, akan selalu ada darah kehitaman yang mengalir ke bawah dan menetes ke lantai sampai menimbulkan aroma busuk.” Xena, “Hanya Anda sendiri yang dapat melihatnya?” Peter mengangguk, “Ya, hanya saya sendiri saja.” Xena lantas menoleh kepada Zenon untuk meminta penjelasan. Padahal Peter juga tidak mempunyai kemampuan untuk melihat hantu seperti para pelayannya, tapi tiba – tiba saja dia mampu melihat satu hantu itu. Zenon berkata, “Sebelum melanjutkan, ada dua pertanyaan yang ingin saya ajukan.” “Silahkan.” “Pertanyaan pertama, apakah wajah hantu itu terlihat jelas? Dan bila terlihat jelas, apakah Anda mengenal identitas hantu itu saat dia masih hidup?” Peter memabalas, “Penampakan hantu itu sangat – sangat jelas tapi aku tidak mengenal sosok hantu itu sama sekali.” “Aneh sekali.” Lirih Zenon. “Mengapa bisa aneh?” “Hantu tidak akan pernah menghampiri manusia tanpa alasan. Selain ingin mempertahankan wilayah mereka, ada beberapa hantu yang menghampiri manusia untuk melampiaskan dendam. Jadi, bukankah aneh bila Anda tidak mengenal hantu itu tapi dia malah ingin melampiaskan dendam kepada Anda?” • • • • • To Be Continued 23 September 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD