BAB 30 : Hantu Tanpa Lidah - Bagian 2

2170 Words
Wajah Peter Rodriguez tampak memerah saat mendengar tuduhan dari Zenon. “Saya benar – benar tidak mengenalnya!” Bila Peter bersikeras tidak mengenal sosok hantu itu, maka Zenon juga tidak mau bertanya lagi. “Kalau memang tidak mengenalnya, maka kasus ini mungkin akan terasa sulit. Aku akan memeriksanya terlebih dahulu, baru kemudian kita bisa memikirkan langkah selanjutnya.” Mobil limusin yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di sebuah rumah besar yang terletak di kawasan mewah. Di bagian luar, terdapat sebuah halaman yang begitu luas, pepohonan rindang berwarna hijau berdiri di tepi halaman sedangkan pada bagian tengahnya terdapat sebuah taman bunga dengan warna yang beragam. Akan tetapi, halaman itu tidak tampak begitu indah dan terurus. Dedaunan kering mengotori jalan setapak di bawah pohon, bunga – bunga di taman pun tampak agak layu dan tak segar. Selain itu, Xena dan Zenon turut melihat halaman itu dilingkupi oleh asap hitam yang membentuk gumpalan – gumpalan besar di udara dan menyebar ke banyak tempat. Energi yang dikeluarkan oleh asap hitam itu pun terasa sangat negatif dan membebani manusia yang berjalan di sekitarnya, terbukti dengan beberapa pelayan yang tampak lesu saat sedang menyapu halaman, pandangan mereka kosong seolah tidak lagi mau hidup di dunia. Begitu Xena menginjakkan kakinya di atas tanah kediaman Rodriguez, detak jantungnya berdebar cepat dan seluruh tubuhnya terasa sedang ditekan dari berbagai arah. Dia mengangkat kepalanya dan secara mengejutkan hamparan halaman di depan matanya berubah. Dibandingkan dengan halaman rumah Rodriguez yang sekarang terlihat agak berantakan, halaman di hadapan Xena tampak sangat rapih hingga tidak ada sedikit pun daun kering yang mengotori jalan. Di tengah halaman, Xena melihat sesosok pemuda tengah menyapu halaman seraya menggunting daun – daun yang berantakan pada tanaman agar terlihat rapih. Suara deru mobil yang memasuki halaman terdengar sehingga membuat Xena menoleh. Dia lantas melihat Peter tengah keluar dari mobil bersama dengan seorang wanita muda yang wajahnya tampak samar di mata Xena. Xena menyipitkan matanya, berusaha keras supaya ilusi dihadapannya menjadi lebih jelas. Akan tetapi, tiba – tiba saja ilusi itu menjadi pudar dan pandangan Xena kembali ke dunia nyata. Ketika sudah sadar sepenuhnya, Xena bisa merasakan tangannya tengah digenggam erat oleh Zenon. Pria itu lantas berbisik pelan di samping telinga Xena, “Energi kemarahan dari hantu di sini sangat kuat sehingga akan bahaya bila kamu melakukan empati sekarang.” Xena tertegun, “Aku tidak sengaja masuk.” Ternyata hantu yang ada di rumah itu mempunyai energi yang begitu kuat sampai memaksa Xena untuk masuk ke dalam pikirannya. Akan berbahaya bila Xena masuk dengan paksaan karena dia bisa saja terjebak di dalam dunia ilusi dan tak mampu kembali akibat ditahan oleh energi hantu. Karena itulah, Zenon langsung menarik kesadaran Xena sebelum wanita itu terlalu jauh menyelami ilusi. “Pegang ini dan jangan dilepaskan sampai kita pergi.” Perintah Zenon seraya menyerahkan payung hitam bergagang kayu yang selalu ia bawa. Xena menatap payung itu dengan bingung tapi tidak mengatakan apa pun. Seingat Xena, setiap kali Zenon mengetukkan payungnya ke tanah atau membukanya, para hantu pasti tidak akan mampu mendekat. Jadi, Xena beranggapan bahwa payung itu berfungsi seperti jimat pelindung. “Tuan Rodriguez, apakah hantu itu hanya pernah mengetuk pintu sekali?” tanya Zenon. Peter Rodriguez menggiring mereka ke dalam rumah, “Sejak kedatangannya, hantu itu selalu mengetuk pintu utama setiap malam dan baru berhenti saat fajar menjelang.” Zenon menatap pintu masuk di hadapannya dan mendapati ada gumpalan – gumpalan energi negatif yang tertinggal di seluruh permukaan pintu, pertanda bahwa hantu itu benar – benar selalu mengetuk setiap malam. Pantas saja Peter Rodriguez selalu terlihat lesuh dan kekurangan tidur, tampaknya hantu itu mengetuk pintu sangat keras hingga membuat penghuni rumah tidak bisa memejamkan mata. “Kata Master Xie Anda pernah dicelakai, apa itu berlangsung di dalam rumah.” Tanya Zenon. “Tidak. Malam itu, saya pergi keluar rumah untuk mengambil paket yang dikirimkan oleh rekan kerja saya. Dan saat ingin kembali ke dalam rumah, tiba – tiba saja ada tangan berlumuran darah muncul dari dalam tanah dan memegang kakiku hingga membuat saya terjatuh. Karena tangan sialan itu juga, saya harus mengalami patah tulang!” Zenon, “Saat hantu itu mengetuk pintu, apakah Anda pernah membuka pintu dengan menggunakan tangan Anda sendiri?” “Tidak pernah! Nah, itu juga saya tidak mengerti, kenapa hantu itu tidak masuk ke dalam rumah saat pelayan saya membuka pintu?” Di dalam hati, Xena juga mempertanyakan hal yang sama. Padahal jika memang memiliki dendam, hantu itu tinggal masuk ke dalam rumah dan mengganggu Peter secara langsung. “Hantu tidak bisa masuk sembarangan apabila tuan rumah tidak memberikan akses masuk. Pada hakikatnya, pintu – pintu di sebuah rumah membentuk penghalang yang mampu menghalau manusia dan makhluk selain manusia. Selama Anda tidak mengundang masuk hantu tersebut, maka Anda akan aman.” Peter, “Saya tidak perduli dengan pintu yang bisa menjadi penghalang! Saya hanya ingin Anda melakukan pengusiran hantu sehingga saya dapat tidur dengan tenang setiap malam! Tidak bisakah Anda melakukan pengusiran hantu sekarang juga?” Zenon, “Tidak perlu melakukan pengusiran hantu hari ini.” Baik Xena mau pun Peter terkejut setelah mendengar pernyataan dari Zenon. Peter merasa sangat kebingungan sehingga bertanya, “Mengapa tidak perlu?” “Seperti yang tadi saya katakan, selama Anda tidak membuka pintu, maka hantu itu tidak akan masuk.” Jawab Zenon dengan nada santai. “Omong kosong!” peter berteriak, “Saya sudah mengundang Anda jauh – jauh ke Paris dan tanggapan Anda hanya seperti ini!! Apakah shaman memang tidak berguna?” Zenon, “Maksud saya tidak seperti itu. Pengusiran hantu itu adalah hal yang rumit. Sebelum melakukan pengusiran hantu, saya harus menyiapkan beberapa bahan yang sulit untuk ditemukan dan melakukan ritual yang akan menghabiskan energi. Selain itu, saya juga tidak bisa melakukan pengusiran hantu di saat energi hantu itu belum begitu kuat." Xena hanya menghela napas di dalam hati saat mendengar kebohongan yang diucapkan oleh Zenon. Pada dasarnya, pengusiran hantu tidaklah serumit itu. Selama Zenon mempunyai niat untuk menolong, dia pasti akan melakukannya dengan cepat. Sayangnya, Peter memperlakukan Zenon dengan buruk sehingga pria itu ingin melihat penderitaan dari Peter terlebih dahulu. “Kalau begitu, kapan Anda bisa melakukan pengusiran hantu?” “Estimasi waktunya belum pasti. Hari ini, saya hanya akan memberikan jimat perlindungan dan tempel jimat ini di pintu kamar Anda agar hantu itu tidak dapat memasuki pintu kamar.” Peter, “Pintu kamar? Tapi, hantu itu mengetuk pintu utama bukan pintu kamarku.” Zenon tersenyum, “Kita harus berjaga – jaga. Mungkin saja malam ini dia menemukan cara untuk masuk ke dalam rumah. Bila memang itu terjadi, Anda hanya perlu bersembunyi di dalam kamar.” Zenon memberikan dua lembar jimat kepada Peter, kemudian mengajak Xena untuk pergi dari rumah Peter. Namun, baru mereka ingin keluar dari gerbang, Peter segera menahan mereka. “Mengapa Anda tidak menginap saja di sini? Ada banyak ruang kosong yang bisa Anda tempati.” Saran Peter yang tampaknya tidak mau ditinggal seorang diri. “Maaf, tapi kami masih ada urusan lain. Anda bisa langsung menghubungi saya bila ada keadaan darurat, saya pasti akan langsung datang.” Kata Zenon seraya memberikan kartu nama miliknya. Setelah itu, Zenon dan Xena berjalan menelusuri jalanan perumahan agar bisa sampai ke jalan raya dan memanggil taksi. Sesungguhnya, mereka bisa saja meminta Peter memberikan mereka tumpangan untuk pergi ke hotel tapi keduanya terlalu malas untuk berbicara dengan Peter lebih lanjut. “Mengapa kamu harus berbohong?” tanya Xena. “Karena dia juga berbohong, sampai dia mengatakan identitas asli dari hantu itu, aku tidak akan melakukan pengusiran.” Xena berkata, “Kukira kamu akan menyuruhku melakukan Empati.” Zenon tertawa kecil, “Kamu pikir aku atasan yang kejam? Aku tidak mungkin membiarkanmu melakukan Empati untuk hantu tingkat tiga yang sangat kuat seperti itu. Aku harus menekan energinya dulu bila memang ingin menyuruhmu melakukan Empati.” “Dia benar – benar hantu tingkat tiga? Kupikir tingkat empat?” Luna mengambil alih pertanyaan itu, “Bagaimana kamu bisa menyimpulkan hantu seperti itu sebagai tingkat empat?! Perbandingan antara hantu tingkat empat dan tiga itu sangat jauh! Jika hantu di rumah itu benar – benar tingkat empat, dia pasti bisa langsung masuk ke dalam rumah tanpa perlu menunggu Peter membukakan pintu dan langsung membunuhnya!” “Ya, Luna benar. Hantu tingkat empat itu bahkan bisa membahayakan satu wilayah bukan hanya satu rumah saja. Bahkan kamu tidak akan mungkin melakukan empati kepada hantu tingkat empat karena energinya pasti akan menekanmu hingga mati.” Xena menelan ludahnya sendiri. “Seburuk itu kah?” Zenon tersenyum penuh arti, “Nana takut?” Xena memalingkan wajahnya saat mendengar nama itu, “Tidak.” “Tenang saja, selama ada aku, maka kamu akan selalu aman.” Xena mendengus, “Jangan kebanyakan berbicara omong kosong.” Xena lantas kembali membicarakan Peter. “Hari ini kamu baru bertemu dengan Tuan Rodriguez. Menurutmu, Tuan Rodriguez itu orang yang seperti apa?” “Keras kepala dan menyebalkan.” Zenon berpikir sejenak, “Dia juga kurang menghargai orang lain.” “Aku juga pernah mendengar rumor bila dia sering memperlakukan model di agensinya dengan buruk, makanya sering ada model yang keluar dari agensinya setelah kontrak mereka habis.” “Orang seperti dia pasti mempunyai banyak musuh. Bahkan energi hantu yang ada di rumahnya juga kental akan energi dendam.” Zenon melanjutkan, “Apakah ada banyak orang dengan sifat buruk seperti itu di industri hiburan.” “Tentu saja banyak. Jika ingin mencari banyak orang dengan sifat sombong, kamu bisa menemukannya di industri hiburan. Dan orang – orang seperti ini yang biasanya senang menekan pendatang baru dan menyebabkan mereka bunuh diri.” Zenon berhenti melangkah saat mereka sudah sampai di tepi jalan. “Bagaimana denganmu, Apakah kamu pernah ditekan oleh orang lain?” Xena tertawa miris, “Tentu saja. Ketika pertama kali menjadi aktris, ada banyak aktor dan aktris senior yang membicarakan aku di belakang. Mereka berkata bila aku mampu menjadi aktris hanya karena bantuan keluargaku. Bisa dibilang, kemampuanku dulu sangat diremehkan.” Mendengar hal itu, ekspresi Zenon berubah marah. “Siapa yang bisa – bisanya merendahkan kemampuanmu?! Aku bahkan sudah menyukaimu sejak kamu membintangkan film yang pertama!” Akting Xena memang tidak pernah buruk. Dia itu bisa terbilang orang yang mempunyai bakat alami, mampu belajar dengan cepat dan tidak sulit untuk menghapal naskah. Namun, karena dia menyandang nama Archer, maka selalu ada saja orang – orang yang memandangnya sebelah mata. “Kamu menyukaiku?” tanya Xena dengan nada bercanda. Zenon menanggapi, “Jika iya, apakah kamu mau menikah denganku?” Xena langsung memukul bahu Zenon. “Berhenti membicarakan omong kosong.” Wajah Xena memang terlihat masam, tetapi jantungnya tanpa sadar terus berdetak dengan cepat seolah tengah melakukan lomba maraton. Xena perlahan menggigit bibir bagian dalam dan meyakinkan diri bahwa detakan cepat itu berasal dari pengaruh energi hantu. Setelah pergi menggunakan taksi, Zenon dan Xena sampai di sebuah hotel berbintang lima yang letaknya tidak begitu jauh dari kawasan rumah Peter. Langit di luar tampak menggelap dan hujan langsung mengguyur Kota Paris begitu mereka melangkah masuk ke lobby hotel. Pada saat hujan, biasanya jumlah hantu yang masuk ke dalam sebuah bangunan akan menjadi dua kali lipat karena mereka ingin mencari tempat untuk menghindari hujan. Oleh karena itu, kini Xena bisa melihat ada ratusan hantu dengan berbagai macam bentuk tengah berlalu lalang di dalam lobby. Selama beberapa hari ini, Xena dan Zenon belum mengisi energi untuk anting miliknya sehingga ia tidak mampu menutup mata batin. Jika melihat beberapa hantu mungkin Xena bisa bertahan, tapi bila ada ratusan hantu yang menatapnya dengan mata kosong yang berdarah, Xena mungkin akan segera pingsan apabila mereka mendekat. Tanpa mengatakan apa – apa, Xena segera memegang tangan Zenon dan bersikeras tidak mau melepaskannya. “Xena, kita memesan kamar yang terpisah. Jika kamu terus memegang tanganku, bagaimana kita bisa beristirahat di kamar masing – masing?” tanya Zenon. Xena sudah tidak lagi perduli sehingga menjawab, “Pesan saja satu kamar!” Tanpa Xena ketahui, Zenon mengangkat sudut bibirnya. “Kalau begitu jangan marah kepadaku nanti karena hanya memesan satu kamar.” “Ya! Ya! Terserah.” Zenon akhirnya memesan satu kamar suite di meja resepsionis, kemudian memberikan kartu kreditnya. Seusai itu, mereka lantas pergi menuju kamar yang terletak di lantai teratas. Di sepanjang perjalanan, Xena melingkarkan tangannya di lengan Zenon dengan erat dan lebih memilih untuk menutup mata alih – alih melihat hantu. Sedangkan Zenon malah merasa senang ada banyak hantu yang datang sehingga dia tidak perlu takut dengan kerumunan manusia. Begitu memasuki kamar, Zenon buru – buru memasang jimat di permukaan pintu sehingga tidak ada satu pun hantu yang dapat menembus pintu. Bahkan Luna turut terkunci di luar ruangan dan berteriak tanpa henti karena tidak terima ditinggalkan oleh Zenon. “Zenon! Biarkan aku masuk! Aku tidak akan membiarkan kalian berduaan saja di dalam kamar!” teriak Luna yang tentunya diabaikan oleh Zenon. • • • • • To Be Continued 25 September 2021 Catatan Author : Mohon maaf atas keterlambatan chapternya, padahal sudah janji akan update kemarin sore Sebagai informasi tambahan, Reflection of Death tidak akan update selama lima hari karena ada beberapa hal yang harus aku lakukan. Karena itu, Reflection of Death akan kembali update pada tanggal 1 Oktober 2021. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD