Jimat buatan Zenon mungkin terlihat tidak meyakinkan dengan tulisan rune yang berantakan. Namun, dapat dipastikan bahwa jimat buatannya mampu berfungsi dengan sangat baik sehingga tidak ada satu pun hantu yang bisa menembus pintu masuk.
Dari dalam kamar hotel, Xena mampu mendengar suara – suara langkah kaki tengah berlarian di koridor hotel. Pengunjung yang menginap di hotel tidaklah banyak, jadi dia berasumsi bahwa langkah kaki itu berasal dari para hantu yang sedang berteduh dari hujan.
“Mereka sudah menjadi hantu. Kenapa masih takut basah oleh hujan?” tanya Xena seraya memperhatikan Zenon yang sedang mengeluarkan pakaian ganti dari dalam tas.
“Tidak ada alasan khusus. Mereka seperti itu karena terbiasa berteduh dari hujan saat masih menjadi manusia.”
Sesungguhnya, Xena tidak perlu takut kepada para hantu itu karena Energi Yin-nya telah ditekan oleh anting keramat. Tapi, rasa takutnya masih belum bisa ia kendalikan dan tanpa sadar langsung menjadi panik setiap kali melihat ada ratusan hantu berlalu lalang disekitarnya.
“Nana, kamu tidak perlu lagi memegang tanganku di sini. Hantu tidak akan bisa masuk sehingga kamu tidak perlu melihat mereka selama berada di dalam ruangan. Tapi, jika kamu memang ingin memegang tanganku, aku akan dengan senang hati memegang tanganmu juga.”
Sontak Xena melepaskan tangan mereka dan melangkah mundur. Pandangan Xena lantas diedarkan ke seluruh penjuru ruangan dan baru sadar bila dia telah membuat keputusan yang salah.
“Aku ingin memesan kamar lain.” Kata Xena.
Zenon tidak melarang, tapi memberikan peringatan singkat, “Kita belum berpegangan selama satu jam, bukankah artinya mata batinmu belum bisa tertutup? Nana, tempat yang paling hantu sukai adalah kamar kosong. Menurutmu, kamar hotel bisa kosong hingga berapa lama? Satu minggu? Satu bulan? Atau mungkin satu tahun?”
Pengunjung hotel tidak berdatangan setiap hari, akan ada kala di mana hotel sepi berbulan – bulan sehingga kamar-kamar itu kosong dalam waktu yang lama. Dengan kata lain, pasti akan ada banyak hantu yang bersemayam di dalam kamar.
Bisakah Xena bertahan sendirian tanpa Zenon?
“Kamu bisa memberikanku jimat untuk ditempel di pintu.”
“Terlalu merepotkan.” Zenon berkata, “Jimat yang kubawa adalah jimat perlindungan sementara sehingga perlu diganti setiap dua jam sekali. Kita malah membuang-buang banyak jimat bila tidur di kamar yang terpisah.”
Sesungguhnya, Zenon hanya perlu membuat jimat baru bila jimat yang dia miliki sudah habis. Namun, Zenon itu pemalas, bila jimatnya habis, maka dia tidak akan membuatnya dalam waktu dekat apabila tidak menghadapi situasi darurat.
Perkataan Xena membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk keluar dan kembali duduk di samping Zenon. “Kalau begitu kamu tidur di sofa.”
“Xena, aku sudah membiayai semua perjalanan kita ke Paris, membelikanmu makanan, dan membayar tagihan kamar. Tapi, kenapa kamu malah memintaku tidur di sofa.” Protes Zenon yang sebenarnya hanya main – main.
Sayangnya, Xena adalah seseorang yang agak serius, “Jika kamu tidak mau, aku saja yang tidur di sofa.”
“Aduh, kamu merepotkan sekali. Kenapa tidak tidur bersama saja. Kasurnya sangat luas, walau kamu banyak bergerak pun juga tidak akan mempengaruhiku.”
Xena ingin membalas ucapan Zenon yang kurang ajar itu, tapi dia tiba – tiba saja menyadari sesuatu. “Kamu bilang jimat yang kamu bawa hanyalah jimat perlindungan sementara. Apa artinya kamu juga memberikan jimat yang sama kepada Tuan Rodriguez?”
Zenon tersenyum puas, “Tentu saja. Aku memberikan dua jimat kepada Tuan Rodriguez, sehingga waktu perlindungannya hanya empat jam, setelah itu pintu kamarnya tidak akan terlindungi lagi.”
Seketika Xena memandang Zenon dengan curiga. “Tadi kamu bilang, Tuan Rodriguez harus berjaga-jaga karena mungkin saja hantu itu bisa menemukan cara untuk masuk. Zenon, apa tadi kamu …”
“Aku membantunya masuk.” potong Zenon.
Xena terkejut, “Membantunya? Kapan kamu membantunya?”
“Saat aku menarikmu keluar dari dunia ilusi, aku turut mengambil sedikit energi dari hantu itu dan membuangnya di dalam rumah Tuan Rodriguez. Walaupun energi yang kuambil hanya sedikit, tapi itu sudah cukup untuk menarik masuk hantu di luar secara utuh.” Jelas Zenon.
“Tapi, katamu Tuan Rodriguez harus membukakan pintu untuk hantu itu, baru dia bisa masuk.”
Senyuman di wajah Zenon tidak kunjung luntur saat dia berkata, “Saat kita masuk, bukankah dia sudah membukakan pintu menggunakan tangannya sendiri?”
Xena tidak mengira Zenon mampu berpikiran sampai selicik ini. Peter Rodriguez sengaja membuka pintu menggunakan tangannya sendiri karena ingin menyambut tamu dengan baik. Sayangnya Peter tidak tahu bila tamu yang ia sambut turut membawa hantu yang selama ini menerornya.
“Kenapa kamu melakukan hal itu? Memangnya seorang shaman boleh bertingkah buruk kepada kliennya sendiri?” Xena memang tahu bila Zenon senang bermain-main, tapi dia tidak menyangka Zenon juga bisa mempermainkan keselamatan orang lain.
Tanpa memperlihatkan rasa bersalah, Zenon menjatuhkan punggungnya ke atas tempat tidur seraya merobek bungkus permen lolipop yang ia bawa. “Tuan Rodriguez selalu memperlakukan orang lain dengan buruk dan bahkan membuat saudaramu menderita, sehingga tidak ada salahnya memberikan sedikit pelajaran untuknya.”
Xena menatap bagian samping wajah Zenon yang sedang menghadap ke langit-langit kamar. Dia ingin menyalahkan tingkah Zenon, tapi diam-diam merasa senang karena perlakuan buruk Peter terhadap Helios bisa terbalaskan. “Zenon, kamu benar-benar …”
• • •
Tring! Tring! Tring!
Sebuah panggilan dengan nomor tidak dikenal terus muncul di layar ponsel milik Zenon. Meskipun Zenon telah mengabaikan panggilan tersebut, si pemanggil tetap berusaha keras untuk menghubungi Zenon berulang kali sampai ponsel itu tanpa henti berdering.
Tanpa perlu mengangkat panggilan, Zenon juga sudah bisa menebak bila panggilan itu berasal dari Peter Rodriguez yang sekarang mungkin tengah ketakutan setengah mati dan mengharapkan bantuan dari Zenon.
Sesuai dengan perhitungan Zenon, jimat yang diberikan kepada Peter Rodriguez hanya mampu bertahan sementara, sehingga Peter harus menghadapi teror dari hantu tanpa lidah seorang diri hingga fajar menjelang.
“Angkat panggilan itu, Zenon.” Kata Xena yang sudah tidak tahan mendengarkan suara dering ponsel.
Zenon mengabaikan kata-kata Xena dan hanya menatap layar ponselnya itu seraya menggigit permen dengan tenang. Xena yang merasa kepalanya mulai sakit akhirnya menarik ponsel dari tangan Zenon dengan paksa dan ingin mengangkat panggilan. Namun, Zenon langsung merebutnya kembali dengan cepat.
“Jangan diangkat, biarkan saja.”
Alis Xena menekuk saat menunjukan ekspresi marah. “Jika tidak mau diangkat, matikan saja ponselmu!”
Zenon, “Tidak mau. Aku ingin membuat Tuan Rodriguez merasa frustasi karena panggilannya tidak kuangkat meski ponselku aktif.”
“Kalau begitu matikan suara notifikasinya!”
“Tidak mau! Jika dimatikan, aku tidak bisa mendengar keputus asaannya.”
Xena menggeram marah dan berusaha merebut ponsel itu lagi. “Jangan kebanyakan tingkah! Tanpa mendengar suara panggilan itu juga kamu tahu bila Tuan Rodriguez sekarang sedang menderita.”
Zenon segera bangkit dari tempat tidur dan berdiri, dia lantas mengangkat tangannya setinggi mungkin supaya Xena tidak mampu menggapai ponsel itu. Namun, perbedaan tinggi mereka tidak begitu jauh sehingga hanya dengan melompat saja Xena sudah bisa menggapai ponsel itu.
Antara Zenon dan Xena saling menarik ponsel tersebut sampai akhirnya mereka tanpa sengaja melempar ponsel itu ke udara.
BRAK!
Keduanya menundukkan kepala, menatap ke arah ponsel yang kini tengah tergolek di atas permukaan lantai dengan layar yang retak sepenuhnya. Nyala layarnya berkedip-kedip selama beberapa saat sebelum akhirnya mati total.
“Xena, aku baru membelinya bulan lalu!”
Xena tidak tahu harus menangis atau tertawa saat melihat ponsel itu sudah berhenti berdering, sehingga ia menaikkan kepalanya sedikit dan berkata, “Aku pasti akan bertanggung jawab! Besok … besok kita bisa membeli ponsel keluaran terbaru untukmu.”
Karena alih-alih terus mendengar suara dering telepon sepanjang malam, Xena lebih baik membelikan seratus ponsel baru untuk Zenon.
• • •
Keesokan harinya, Xena benar-benar menepati janjinya untuk membelikan Zenon ponsel keluaran terbaru. Karena itulah, semenjak keluar dari toko elektronik Zenon tidak pernah berhenti tersenyum dan memamerkan ponselnya itu kepada Luna.
“Lihat, Xena membelikanku hadiah.” Kata Zenon seraya memajukan ponselnya ke hadapan wajah Luna.
Luna yang semalaman terkurung di luar kamar masih menyimpan kekesalan sehingga memalingkan wajahnya dan berujar dengan ketus. “Aku tidak perduli.”
Zenon, “Kenapa harus semarah itu? Aku sengaja meninggalkanmu di luar karena berpikir kamu ingin bermain dengan teman-teman sesama hantu di hotel.”
Wajah Luna menghitam, lalu kulitnya yang puncak tampak retak seperti keramik. “Siapa yang mau bermain dengan hantu asing! Zenon, kenapa kamu selalu meninggalkanku dan pergi bersama Xena?!!”
Serendah apapun tingkatan hantu, energi yang mereka keluarkan saat marah tetap saja berbahaya bagi para manusia yang berdiri disekitar mereka. Oleh karena itu, Zenon berusaha menenangkan Luna yang ingin meledak di antara kerumunan warga Kota Paris.
“Tenanglah. Tenanglah. Xena pasti akan membelikanmu mainan juga. Benar kan, Nana?”
Xena menghela napasnya sekali saat namanya disebut, padahal dia berusaha keras untuk menjauh dari Zenon saat pria itu mulai berbicara dengan Luna dan tampak seperti bicara sendiri di mata orang normal.
“Apa yang kamu inginkan?” Bisik Xena sepelan mungkin.
Walau merasa kesal, Luna tetap menjawab, “Boneka.”
“Baiklah, akan kub—”
“Boneka yang matanya terbuat dari berlian.” Lanjut Luna.
Anak sialan! Batin Xena dalam hati. Sudah mati saja masih meminta hal yang aneh-aneh seperti itu.
Xena baru saja ingin membuka mulut, tapi diurungkan saat mendengar dering telepon dari ponsel baru Zenon. Sepertinya Zenon memasukkan nomor lamanya sehingga Peter Rodriguez dapat menghubunginya kembali.
Kali ini, Zenon langsung mengangkat panggilan itu. “Selamat siang, apak—”
Belum sempat Zenon menyelesaikan ucapannya, Peter sudah lebih dahulu berteriak. “Kenapa panggilan saya tidak diangkat semalaman?!! Padahal Anda sendiri yang bilang akan langsung datang apabila saya memanggil. Tapi, kenapa panggilan saya malah diabaikan?! Apa kerja shaman semuanya tidak becus seperti ini?!”
Zenon berdengus di dalam hati. “Mohon maaf, tapi ponsel saya kemarin tanpa sengaja jatuh dan rusak, sehingga tidak bisa menghubungi Anda. Apakah ada hal buruk yang terjadi kemarin malam?”
“Kenapa masih bertanya?! Tentu saja ada hal buruk yang terjadi kemarin malam!”
Peter mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan. “Hantu itu berhasil masuk ke dalam rumahku! Dia juga mulai mengetuk pintu kamar semalaman! Sepanjang malam saya bahkan harus mendengar suara goresan yang memekakan telinga dari arah luar kamar.”
“Anda tidak membukakan pintu kamar Anda, kan?”
“Tidak, saya masih cukup waras untuk tidak membukanya.” Peter melanjutkan, “Kapan Anda bisa melakukan pengusiran hantu?”
“Tenanglah, Tuan Rodriguez. Saya akan segera ke tempat Anda untuk mengecek beberapa hal, kemudian baru bisa memutuskan harus segera melakukan pengusiran hantu atau tidak.”
Setelah panggilan itu berakhir, Xena langsung bertanya, “Kamu ingin melakukan pengusiran hantu hari ini?”
“Semua tergantung kepada Tuan Rodriguez. Jika dia masih berbohong, maka aku tidak akan melakukannya.”
Berselang setengah jam kemudian, Zenon dan Xena sampai di kediaman Peter. Keduanya bisa melihat wajah Peter terlihat lebih lusuh dan berantakan daripada kemarin. Mungkin karena terlalu takut saat tahu hantu itu dapat memasuki rumahnya, dia sama sekali tidak bisa memejamkan mata dan terus merasa waspada sepanjang malam.
“Saat aku menempelkan jimat yang Anda berikan kemarin di pintu kamar, tidak ada sedikit pun gangguan dari hantu. Namun, setelah beberapa jam kemudian, hantu itu mulai menggedor pintu kamarku berulang kali tanpa henti.”
Zenon memperhatikan residual Energi Yin di permukaan lantai yang membentuk jejak kaki. Sedangkan pada permukaan pintu terdapat bekas pukulan tangan yang jumlahnya tak terhitung.
“Bisakah Anda membayangkannya? Semalaman saya harus mendengar suara gaduh dari pintu dan juga mendengar ada sesuatu yang diseret di depan pintu kamar saya.”
“Suara sesuatu yang diseret?” tanya Xena.
“Ya, saya terus mendengar suara ‘Srek.. Srek.. Srek..’ dari depan kamar tidur saya. Itu bahkan terdengar seperti dia sedang menyeret tubuh manusia.”
Zenon, “Itu bukan tubuh manusia, melainkan kakinya sendiri. Lihatlah, jejak kaki hantu itu aneh, satu terlihat seperti jejak kaki biasa tetapi satunya lagi terlihat seperti garis lurus.”
Xena menundukkan kepalanya dan memperhatikan jejak kaki yang dimaksudkan oleh Zenon. Dia melihat jejak – jejak kaki itu menumpuk di depan kamar Peter, menunjukkan bahwa hantu itu memang benar-benar selalu berada di depan kamar Peter sepanjang malam.
Dia bisa membayangkan Peter yang meringkuk ketakutan di sudut ruangan kamar, sedangkan hantu di luar kamarnya terus berlalu lalang dan menggedor pintu sampai Peter meneteskan air mata karena takut.
Cara terkejam untuk menyiksa manusia bukanlah mencabik-cabik mereka hingga mati, melainkan menghadapkan mereka kepada ketakutan terbesar mereka.
Peter pernah melihat sosok hantu itu sekali dan sekarang dia selalu terburu-buru saat meminta Zenon mengusir hantu itu, seolah Peter ingin melenyapkan sosok hantu yang mungkin dahulu pernah berhubungan dengannya.
“Mungkinkah kaki hantu itu patah?” tebak Xena.
“Ya, kakinya memang patah, maka dari itu dia berjalan dengan menyeret kaki sebelah kanannya. Menurutmu, apakah kakinya sudah patah sebelum dia mati atau kakinya baru patah saat dia mati?”
Xena berpikir sejenak, “Sepertinya kakinya baru patah saat dia meninggal, terlihat dari cara berjalan hantu itu yang sangat kesulitan. Tapi, jika memang benar begitu, artinya hantu itu meninggal karena kecelakaan sampai bisa membuat kakinya patah.”
Zenon mengitari jejak kaki tersebut, “Kamu benar. Jika dia sudah pincang sedari masih hidup, dia pasti mampu beradaptasi sehingga lebih memilih untuk menyeret tubuhnya di lantai alih-alih berjalan menggunakan kaki.”
“Sudah mati menyedihkan, kenapa masih saja ingin mengganggu hidupku?!” seru Peter.
Zenon melirik Peter dari sudut matanya, “Tuan Rodriguez, apakah Anda ingin segera melakukan pengusiran hantu?”
“Ya! Tentu saja! Semakin cepat, semakin baik.”
“Setelah berhasil memasuki pintu utama, maka hantu itu tidak akan kesulitan untuk mendobrak pintu kamar. Malam ini Anda bisa selamat berkat jimat yang saya berikan, tapi semakin dihalangi, maka hantu itu semakin gencar menemukan cara untuk melewati halangan.”
Xena melihat Peter masih merasa bingung, sehingga dia memperjelas ucapan Zenon. “Dengan kata lain, hantu itu mungkin bisa mendobrak pintu kamar Anda malam ini, Tuan Rodriguez.”
Peter tampak terkejut dan langsung menjadi histeris di hadapan Zenon. “Jika memang begitu, maka cepatlah lakukan pengusiran hantu. Saya pasti akan membayar mahal apabila kalian mampu mengusirnya dengan cepat!”
“Tapi, pengusiran ini tergantung dari Anda sendiri, Tuan Rodriguez.” Kata Zenon.
“Maksud Anda?”
“Anda harus menjawab pertanyaan saya dengan jujur terlebih dahulu, karena tanpa mengetahui kebenarannya, maka saya tidak bisa melakukan pengusiran.”
Peter Rodriguez tampak ragu, tapi setelah melewati malam yang mengerikan dia tidak lagi mau membohongi Zenon. “Tanyakanlah.”
“Anda pasti mengenali identitas hantu ini, kan?”
Peter Rodriguez menghela napas panjang sebelum berkata, “Namanya adalah Parlan Gustov, dia adalah pelayan saya.”
• • • • •
To Be Continued
1 Oktober 2021