SOMEONE FAMILIAR

1479 Words
Masih ada beberapa pelanggan di lantai dasar, beberapa duduk saling berjarak di sofa dan kursi, beberapa lagi sedang di tangani oleh Bree dan Jessy. Aku menghampiri meja kasir di mana Alin sedang duduk santai memainkan ponsel, nampak tak terganggu oleh sekitarnya. "Al" Panggilku menyamarkan getaran dalam suaraku. "Ehh, kenapa kak?, pucet amat mukamu" Sahutnya dengan alis terangkat seraya menaruh HP di atas meja. "sakit ya? " "Gak kok, cuma belum makan aja dari pagi. Pemasukan hari ini udah kau catat semua, kan?. Aku mau langsung pulang nih" kataku menopang kedua tangan di atas meja counter untuk menyanggah tubuhku. Kakiku seperti kehilangan tenaga, atau perlahan berubah jadi jelly. "Udah sih, yang terakhir transaksi jam tiga. Yakin mau ke Bank sendiri, nih?, ntar kalau pingsan gimana? " Alin menyusun tumpukan uang sesuai nilainya di atas meja. "Ini udah di kurangin buat kembalian seratus lima puluh ribu, jadi total dua juta lima puluh ribu. " jelasnya menyatukan uang-uang itu lalu memasukkannya kedalam amplop coklat. "Oke," gumamku memasukkan amplop itu kedalan tas. "Tunggu Noel aja gimana, kak?, udah di jalan dia. Biar dianterin. Seriusan mukamu udah kayak mayat" Alin masih belum mau menyerah, mukanya mengerut khawatir. Membuat rasa bersalah semakin menyiksa lambung dan ulu hatiku. "Aku gak apa-apa Al, cuma butuh tidur semaleman" kataku keras kepala seraya memasang masker baru yang ku ambil dari dalam kotak di atas meja counter. "Ntar, kabarin kalau mau tutup, jangan kemaleman" tambahku sebelum berlalu. "Kirim chat kak kalau udah nyampe Bank, pokoknya kalau ada apa-apa telpon, oke? " Aku mengacungkan tanda oke tanpa menghentikan langkah menuju pintu kaca, nyaris tersandung kakiku sendiri sangking gugupnya. Membisikkan maaf untuk Alin dan mereka semua seraya mendorong pintu hingga terbuka. Untuk pertama kalinya aku akan mencurangi mereka karyawan yang sudah setia bertahan di masa sulit seperti sekarang. Tubuhku merinding memikirkan apa yang sedang ku perbuat, aku seperti pencuri di lumbung padi ku sendiri, membohongi anggota keluargaku yang ikut bekerja kerja keras mengisinya Aku bersumpah akan menemukan cara mengembalikan uang itu sebelum lebaran, mereka tetap akan menerima gaji utuh sekaligus THR tanpa perlu tahu aku sempat memakai uang salon untuk keperluan ku sendiri. Aku gak akan membiarkan orang lain terluka gara-gara kebodohanku. Aku tiba di Bank B** sepuluh menit lebih lama dari waktu yang ku janjikan. tentu saja mereka sudah tutup sejak berjam-jam lalu, aku mesti menghampiri security yang berjaga di depan rolling door yang tertutup, memberi tahukan jika aku ada keperluan di lantai dua yang membuatku menyadari kalau aku gak sempat menanyakan siapa yang mau ku temui di sana selagi di telepon tadi. "Sebentar, pak" gumamku segera mendial nomer HP yang sebelumnya meneleponku. Suara pria yang sama terdengar menyapa. "Sore pak ini Nagita, saya sudah di bawah." kataku mengatur nada bicaraku sedatar mungkin untuk menutupi kondisi fisik dan mentalku yang sepertinya sudah berada di titik nadir. "Ohh, Bilang aja mau ketemu pak Naren" Sahut suara itu. "Oke pak, terimakasih" gumamku memutuskan sambungan dan memberitahukan namanya pada pak security. "langsung naik aja ya bu, sudah tau kan jalannya? " ujar si security yang aku gak tau namanya dengan keramahan terjaga seraya membukakan pintu untukku. "makasih pak" aku mengangguk sejenak sebelum melangkah masuk. Udara dingin AC menerpa membuat tubuhku menggigil, cardigan rajutan yang ku kenakan sama sekali gak ada gunanya. Sambil meremas jari-jari tangan aku melewati bagian ruang tunggu menuju lorong yang kemudian membawaku ke dasar tangga yang harus ku tapaki untuk sampai kelantai dua. Tangganya gak cukup bersahabat dengan orang yang sedang gak sehat, terlalu curam, membuatku harus berpegangan erat pada pegangan di sepanjang sisi kanan. Hanya ada satu orang di lantai dua, menempati meja yang biasanya di tempati mba Miftha, orang itu terlihat gak asing bagiku, nampak fokus pada apapun di layar ponsel do tangannya. Meskipun rambutnya sudah di potong pendek dan di tata rapi, aku tetap bisa mengenalinya, dia masih memiliki sepasang alis rapi alami yang bisa bikin perempuan iri, garis rahang tirus dan hidung lurus yang gak terlalu mancung. "kak Naren? " panggilku berhenti di ambang pintu yang terbuka lebar. Orang itu mengangkat wajahnya dan benar saja, senyum lebar menyerupai cengiran jahil itu gak mungkin salah. Dia memang benar Narendra. "Jadi beneran kamu, Gi!," Serunya bergegas berdiri dan menghampiriku."Gimana kabarmu? " tambahnya menyodorkan tangan yang ku sambut dengan tanganku yang dingin dan gemetar. "Baik kak" "Beneran baik nih?, tangan mu dingin banget" sanggah Naren menatap tanganku yang masih dalam genggamannya. "cuma kecapekan kan, aku boleh duduk dulu kan, ya? " "ya.. ya.. tentu" Naren menuntunku ke satu-satunya sofa di dalam ruangan. "Tunggu sebentar" ucapnya setelah aku duduk, lalu bergegas menuju pintu di sisi lain ruangan. Apa-apaan ini, kenapa semesta justru mempertemukan ku lagi dengannya di fase terburuk dalam hidupku. Dan kenapa juga dia berubah jadi se keren itu?. Naren yang ku ingat adalah mahasiswa favorit ayah, salas satu asdos yang paling sering main ke rumah. kakak-kakak kurus gondrong dengan tampilan khas mahasiswa, sneakers usang, jeans, t-shirt dan kemeja flanel. Sangat bertolak belakang dengan dirinya sekarang, tubuh kurusnya kini lebih berisi, postur tegap penuh percaya diri, rambut tertata rapi, kemeja slim fit, celana bahan dan sepatu pantofel mengkilat. well, bagai manapun, dia sudah menghilang belasan tahun lamanya, waktu yang sangat panjang bagi seseorang untuk berubah. Naren kembali dengan sebotol air mineral serta jaket jeans tersampir di lengan kiri. Jaket itu dia sodorkan padaku, memintaku memakainya biar lebih hangat karena katanya dia gak bisa menemukan remot AC. Selagi aku menyampirkan jaket itu di bahuku Naren membuka penutup botol air mineral lalu menyodorkannya juga. "Minum dulu" ujarnya melebarkan senyum khasnya yang dulu sering membuatku berharap punya kakak laki-laki. "Makasih" gumamku menurunkan masker lalu meneguk isi botol hingga berkurang sepertiganya. "maaf kak ngerepotin" aku tersenyun canggung. gak pernah ku bayangkan pertemuan pertama kami setelah belasan tahun malah seperti ini, benar-benar gak lucu. "Kayak sama siapa aja " sanggah Naren, matanya yang sedari tadi mengamatiku gak beralih juga, membuat rasa canggungku semakin menjadi. Dalam kondisi normal aku mungkin bisa dengan mudah melontarkan candaan untuk mengurai suasana awkward ini, tapi otakku sedang sibuk dengan rasa bersalah serta banyak hal lagi. "Uhmm, kak?" panggilku, aku gak bisa berlama-lama di sini, aku mau segera sampai di rumah lalu menyembunyikan diriku di balik selimut di dalam kamarku yang nyaman. Mungkin menangis sesegukan sampai lega. Mata Naren mengerjap seperti baru tersadar dari lamunan panjang dan senyum meyerupai cengiran jahil itu kembali terkembang menapilkan barisan giginya yang rapi terawat. "Sorry Gi, aku keingat masa lalu. uhm, tunggu sebentar ya" ujarnya lalu menghampiri meja yang tadi dia tempati. Aku gak tau memori yang mana di masa lalu yang dia ingat, dalam ingatanku sendiri Naren adalah kakak baik hati yang sering membantuku mengerjakan PR fisika dan matematika. Dia juga gak pernah pelit meminjamiku koleksi komik one piece miliknya. Gak banyak yang ku ingat karena waktu itu aku masih SMP sibuk dengan duniaku sendiri dan dia juga gak sesering itu datang ke rumah. Naren kembali dengan tanda bukti pembayaran yang mesti ku tanda tangani. Rasa bersalah dan gugup itu kembali muncul kepermukaan,membuat tanganku gemetar dan basah oleh keringat dingin. Aku mesti mengatur nafas untuk meredakan debar jantung yang bertalu hingga ke kuping, berharap dengan begitu gemetar di tubuhku juga berkurang. Menggenggam pena yang di sodorkan Naren dengan jari-jariku yang licin oleh keringat, rasanya seperti bersiap menandatangani kontrak dengan iblis. Perutku yang tadinya mulas sekarang berganti mode jadi mual. "kalau sakit kenapa kesini sih, Gi. Kamu udah kayak siap pingsan dalam hitungan menit" komentar Naren dengan nada cemas. Aku gak mengindahkan perkataannya, memfokuskan seluruh sisa tenagaku membubuhkan tanda tangan di permukaan kertas berwarna putih itu. Aku bukan hanya akan pingsan sebentar lagi tapi bisa lebih parah, aku mungkin akan mengotori kantornya dengan apapun yang tersisa di lambungku kalau gak segera ke toilet. BERHASIL! Segera ku jatuhkan pena dari genggamanku begitu berhasil mengguratkan tanda tangan lalu berlari ke toilet di samping tangga sambil membekap mulutku. Aku sudah gak peduli lagi apakah sudah menutup pintu atau enggak, tujuanku hanya satu, menumpahkan isi lambung yang sudah siap meluncur dari tenggorokan. Gak ada yang namanya lega setelah muntah, aku gak percaya hal semacam itu eksis. Terlebih muntah dalam keadaan lambung belum terisi sejak pagi. Saluran pernafasan dan tenggorokan ku sakit, begitu juga perutku, belum lagi bau memuakkan yang menguar dari mulut dan mukaku. Membuatku ingin muntah lagi. Setelah mencuci muka dan berkumur, pikiran warasku mulai terjaga, tapi entahlah apakah kali ini benar pikiran waras atau yang satu lagi aku gak ingin mencari tau lebih jauh. Ku pandangi wajah kuyu yang di pantulkan oleh cermin di atas wastafel, kantung mata berwarna gelap, bibir pucat dan kulit kusan, belum lagi sorot mata yang terlihat muram. Terakhir kali aku begini adalah setelah ayah meninggal. Sebegini hebatnya kah stress yang ku alami. Tanpa bertanya pun aku sudah tau persis jawabannya. Aku gak ingin lagi memikirkan apapun saat ini, aku hanya ingin bergelung di balik selimut semalaman lalu terjaga keesokan paginya, mendapati diriku adalah seorang Song hye kyo dan semua drama memalukan sore ini hanyalah mimpi buruk super aneh gara-gara kebanyakan syuting drakor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD