Dusta

967 Words

"Apa yang mau kamu bicarakan?" Doni menatap wajah Lucky yang tampak menghindari tatapannya. Lucky, wanita yang dulu pernah sangat dia sukai. Doni tidak pernah menyangka bahwa kini dia kana berhadapan dengan gadis ini sebagai seorang tersangka pembunuhan. "Kami menemukan mayat lagi, seorang wanita. Anting yang kau berikan sebagai kado ulang tahunmu dulu, ditemukan dalam genggaman tangan mayat itu." Netra Lucky tampak melebar mendengar ucapan Doni itu. Wajah pualam gadis itu makin memucat. Sepertinya dia akan pingsan kalau nggak duduk. "Duduklah." Doni menunjuk space kosong di sebelahnya. Lucky yang lemas, terpaksa mendaratkan pantatnya di sana. Gadis itu sampak tercengung dan memandangi paving di bawah kakinya dengan gamang. "Kali ini apa lagi alasanmu?" tanya Doni. "Kamu sudah pasti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD