Mantan

1207 Words
Kebanyakan orang menghabiskan malam minggu bersama dengan kekasihnya, tetapi tidak untuk Doni. Sebagai seorang aparat penegak hukum Mabes adalah rumah kedua baginya. Sama seperti malam-malam sebelumnya, Doni bersama dua rekan kerja setianya Erin si fangirl sejati dan Fadli sang admin IG profesional. Doni yang merasa kepanasan karena AC ruang kerjanya masih belum juga dibetulkan merasa risih pada perilaku Erin. Gadis itu seperti biasa menyalakan Youtube dan menonton satu video yang sudah dia tonton hampir ratusan kali. Video duet Lucky bersama dengan salah seorang fansnya yang bernama Rania, gadis kecil berusia sepuluh tahun yang menderita kanker otak. Gadis itu meninggal tahun lalu. Sebelum operasi terakhirnya, dia meminta pada orang tuanya agar dipertemukan dengan Lucky. Di sebelah kirinya, Fadli ketawa-ketiwi nggak jelas sembari memainkan smartphone. Dia sibuk sekali membalas komen dari akun Instragram milik Doni, seolah dirinya sendiri adalah Doni. "Lihat, Bang Don, Mbak Lucky itu benar-benar kayak malaikat," ujar Erin sambil menunjukan video itu pada Doni. Doni hanya tersenyum separuh. "Bukannya itu pencitraan aja." "Ih, Bang Doni! Mbak Lucky itu aslinya emang baik tahu!" Erin tidak terima idola favoritnya diperolok. "Btw, Bang Don, kamu asli Tulungagung, kan? Pernah nggak ketemu sama Lucky nggak dulu di sana?" "Tulungagung itu luas keles," komentar Doni. Cowok itu tak pernah mau mengakui bahwa dirinya dulu pernah sangat dekat dengan artis penuh sensasi itu. "Ah, mosok, Bang, mestinya pernah dong. Ketemu cewek cantik kayak bidadari gini masak nggak notice." Erin tampak tidak percaya. Gadis itu menatap layar monitornya lalu melompat dengan terkejut. "Sudah jam sembilan ini. Waktunya Panason*k Gob*l Award!" Erin mengambil remote TV lalu menekan tombol power. Tak lama kemudian TV menyala dan menampilkan sosok Lucky yang tengah berduet dengan artis senior Chaka. "Ya, ampun sudah duet sama Mas Chaka!" seru Erin sembari membesarkan volume TV. Doni mau tak mau ikut menonton penampilan live mantan pacarnya itu. Lucky mengenakan gaun warna putih dengan hiasan bulu-bulu pada punggung dan lehernya yang membuatnya terlihat seperti malaikat kontras dengan pasangan duet yang memakai baju warna hitam pekat. Suara mereka yang menyatu bersama alunan musik terdengar begitu merdu sehingga membuat bulu kuduk Doni merinding. Doni tercegung. Bagaimanapun, Doni harus mengakui bahwa Lucky memang memiliki suara emas. Tidak peduli seberapa banyak skandal dan kontriversi yang dia ciptakan, ketika berada di atas panggung, semua penonton akan tersihir olehnya. Suara gadis itu jugalah dulu yang membuat Doni tertarik pada awalnya. "Don, Don, Don!" Doni terperanjat mendengar bentakan Fadli tepat di telinganya. Doni mengerut dan mendorong cowok usil itu sembari menutup telinganya. "Apaan sih!" protesnya kesal. Fadli terkekeh. "Ngelihatin Lucky sampai segitunya, dipanggil-panggil nggak denger," olok Fandi. Doni diam seribu bahasa. Dia tak bisa mengelak, karena dia memang terpesona pada penampilan Lucky yang memukau itu. "Laper nih, mau pesen Go Fo*d nggak?" tawar Fadli. "Boleh, ada promo nggak?" tanya Doni. "Ada nih, Pizza." Fadli menunjukan smartphone-nya. Doni mengangguk-angguk. "Aku bayar cash aja ya," ujarnya. Cowok itu membuka ranselnya dan mencari keberadaan dompetnya, namun setelah setengah jam mencari, benda itu tak juga di temukannya. "Ke mana ya? Apa ketinggalan di rumah?" Ketika Doni tengah sibuk mencari dompetnya itu, ada satu pesan masuk dari kakaknya. Doni menghentikan aktivitasnya dan membuka pesan itu lebih dulu. Kakaknya itu jauh lebih galak dari semua mantannya. Jika pesan sang kakak tidak dibalas dalam waktu lima menit, Doni bisa mendapatkan masalah yang besar. @Kakak : Dek, dompetmu dibawa Lucky. Katanya kamu disuruh ketemu dia kalau mau ambil. Doni tertegun ketika membaca pesan dari kakaknya itu. Kok bisa dompetnya dibawa sama Lucky. Doni mengingat-ingat, malam ketika dia bertemu dengan Lucky itu dia memang baru saja mengambil uang dari ATM ketika mendengar suara teriakan seorang cewek. Mungkin saat itu dia belum memasukkan dompetnya ke dalam saku dengan benar. Doni mendesah. Berarti dia harus menemui gadis itu lagi nanti? Doni menepuk jidatnya, dia ingat belum mengganti dompetnya sejak putus dari cewek itu. Alasan apa yang harus dikatakannya nanti *** Doni duduk di sebuah Kafe di sekitar rumah Lucky yang berada di kawasan Menteng. Doni mengaduk-aduk kopinya dengan kesal. Sudah hampir satu jam dia menunggu tetapi gadis itu tak tampak juga batang hidungnya. Lucky benar-benar tak berubah sejak dulu, manajemen waktu gadis itu sangat buruk. Doni memandangi Kafe yang tampak mewah dan megah, baru pertama kali Doni masuk tempat seperti ini. Biasanya dia hanya makan di warteg pinggir jalan. Gaji seorang abdi negara tak pernah sesuai dengan tanggung jawabnya yang berat. Setelah dipotong cicilan mobil dan rumah, hanya beberapa peser uang yang tersisa untuk kebutuhan sehari-hari. Itulah yang membuat Doni enggan menikah dulu meskipun ibunya terus merengek-rengek minta cucu. Akan tetapi menjadi polisi adalah impian Doni sejak kecil dan dia menikmati pekerjaannya ini walaupun penghasilannya tidak seberapa. Doni merogoh sakunya dan menemukan uang selembar sepuluh ribu rupiah hasil ngutang Fadli tadi pagi. Duh, kalau Lucky nggak datang bagaimana dia bisa membayar pesanannya? Ini bukan warteg milik Mbok Darmi di mana dia bisa ngutang. Pintu Kafe terbuka dan masuklah seorang gadis berkuncir satu yang mengenakan topi hitam dan masker. Gadis itu mengenakan jaket baseball dan celana jeans yang ketat dengan sepatu confess dengan merk ternama. Dia menghampiri meja Doni lalu duduk di depan cowok itu. Doni terpegun melihat bekas luka samar yang terlihat di belakang tengkuk gadis itu. Bekas luka yang membuat Doni merasa menjadi orang paling bodoh di dunia sebab tak dapat menjaga wanita yang dicintainya. Doni ingat sepuluh tahun yang lalu, seorang penjambret menarik kalung milik Lucky sehingga meninggalkan bekas itu di sana. Kejadian itu terjadi pada malam pensi, ketika Doni mengantarkan gadis itu pulang. "Kenapa sih kamu minta ketemu jam segini? Kamu pikir aku ini nggak sibuk apa?" Suara Lucky terdengar kesal. Doni hanya mendengus kecil. Dia yang telat kenapa dia yang marah. "Kamu pasti belum makan, kan? Kita makan dulu aja." Doni menelan egonya dan mengucapkan kalimat itu. Tak lama kemudian Doni, sang waiter muncul sambil membawakan pesanan yang sudah dipesan oleh Doni sebelumnya. Spageti asam manis dan milk shake strawberry. Seingat Doni itu adalah makanan favorit Lucky dulu. Lucky menggebrak meja sehingga menyebabkan Doni hampir melompat terkejut. "Kamu mau merusak program dietku ya? Kamu sengaja? Kamu senang kalau aku dikomentari netizen gendutan lagi?" tuduh Lucky penuh amarah. Doni memicingkan matanya. Dia sudah sabar menunggu di sini sejak setengah jam yang, dia pun tidak mendebat ketika Lucky malah datang dengan marah-marah, kini Doni tidak dapat menahan emosinya lagi. "Emangnya siapa yang mesenin kamu?" Doni merebut piring spageti dari depan Lucky dan milk shake strawberry itu dan mulai melahapnya. Dua posi spageti dan dua buah minuman kini di depan Doni sementara meja Lucky kosong melompong. Doni tak menggubris Lucky lagi, cowok itu mulai menguyah. "Kalau emang nggak mau, udah bilang aja nggak mau, apa susahnya sih!" geram Doni. "Kalau kamu emang sibuk banget aku juga nggak maksa ketemu hari ini. Kenapa nggak bilang aja kalau nggak bisa. Ya udah, kamu bisa balikin dompetku dan balik kerja sana!" Lucky tak menjawab, tapi Doni bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Astaga, selalu saja begini. Cowok memang selalu salah. Doni menelan ludah. Lucky membuka tas selempangnya dan mengeluarkan dompet Doni. Dia meletakkan dompet Doni di atas sana lalu bangkit dan melangkah pergi. Doni bahkan tak sempat mencegahnya. Doni menepuk jidatnya. Segalanya tak pernah benar jika dia berurusan dengan Lucky. Pria itu lalu memandangi makanan yang sudah terlanjur dia pesan. Rasanya tak mungkin dia menghabiskan semua ini sendiri. Maka Doni pun meraih ponselnya dan menghubungi rekan kerjanya untuk membantunya menghabiskan makanan ini. Yang pertama dihubunginya tentu Iptu Fadli, tetapi cowok itu tidak membalas setelah di-miscall lima kali. Akhirnya Doni mengubah haluan dengan menghubungi Ipda Erin. "Rin, di mana sekarang? Mau makan gratis nggak?" tawar Doni. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD