05 Family?

1358 Words
“Ih, Gio apa-apaan sih, nyuruh-nyuruh kumpul keluarga gini? Buang-buang waktu aja!” Gerutu seorang gadis berambut keemasan yang di biarkan terurai dan ujungnya dibuat bergelombang. Ia terlihat telah rapi dengan dress selutut berwarna nude off shoulder yang elegan. “Padahal sekarang di 7th Avenue lagi ada pameran berlian.” “Kau tidak tahu kalau Gio akan membawa si anak buangan itu kesini?” Tanya pria muda yang tampak tak jauh berbeda usianya dengan gadis disampingnya. “Bagaimana bisa anak itu menemukannya? Bukankah kau sudah memerintahkan siapapun untuk menghalangi Gio menemukan keponakanmu itu?” Kali ini seorang wanita paruh baya yang berpenampilan glamor dengan perhiasan hampir di setiap jengkal tubuhnya itu ikut berbicara. “Kalian juga tahu kalau orang-orang Gavin sangat loyal, susah untuk bisa membeli mereka untuk melakukan kemauan kita.” Jawab seorang pria paruh baya dengan mengeratkan genggaman tangannya diatas meja. “Apa itu artinya kita tidak akan bisa lagi menikmati uang uncle Gavin, dad?” Tanya si gadis muda yang tak lain adalah kakak Gio, Gianna Raelyn Stiller. “Kita lihat saja nanti.” Gumam pria yang dipanggil dad itu. Ia adalah Graham Alexius Stiller. Saat ini mereka tengah ada disebuah ruangan VIP di restoran mewah yang juga merupakan bagian dari anak usaha Stiller Corps. Giovanni yang telah berjanji untuk memperkenalkan Gizca pada keluarganya mengatur pertemuan makan malam ini. Setelah menunggu sekitar 5 menit, akhirnya sang pemilik acara hadir bersama dengan gadis cantik yang berpenampilan sederhana. Gizca mengenakan little black dress selutut yang ia padukan dengan blazer untuk menutupi bagian pundaknya yang tidak berlengan. Ia memasuki ruangan ini tepat di belakang Gio. “Fams, perkenalkan ini Gizca Angela Stiller. Giz, ini keluargaku, daddyku Graham, mommyku Bianca, dan kakak-kakakku Gary dan Gianna.” Kata Gio memperkenalkan Gizca pada keluarganya dan sebaliknya. Gary merespon dengan pandangan yang sangat datar dan dingin. Gianna bahkan tidak mau melihat Gizca dan terus fokus pada gadget ditangannya. Sedangkan Bianca terlihat mengembangkan kedua sudut bibirnya memberikan senyuman, begitupula dengan Graham yang tersenyum hingga sangat lebar. Siapapun juga bisa langsung tahu saat melihat senyuman yang dibuat-buat itu sangatlah palsu, termasuk Gizca yang langsung menyadarinya. Namun ia berusaha untuk tetap sopan dan mencoba mengenal keluarga kakak dari orang tuanya itu. “Selamat malam, uncle, aunty, kak Gary, kak Gianna.” Sapa Gizca dengan senyuman tulusnya. Graham beranjak dari duduknya dan menghampiri Gizca. Tangannya ia rentangkan dan dengan segera meraih bahu Gizca dan memeluknya. “Oh, keponakan uncle yang cantik. Selamat datang! Kami sudah sangat lama menantimu kembali diantara kami.” Ujar Graham. “Ya, menanti untuk merampas milik orang tuaku! Tidak akan kubiarkan itu terjadi, manusia serakah!” Batin Gizca sembari memutar kedua bola matanya dalam benaknya. “Terima kasih uncle. Gizca juga sangat tidak sabar ingin bertemu dengan uncle dan keluarga, makanya Gizca minta kak Gio segera mengatur pertemuan kita.” Balas Gizca dengan membalas pelukan Graham sekilas. “Kemarilah! Aku juga mau memeluk keponakanku.” Bianca ikut berdiri dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Gizca. Pelukan mereka, tak ada satupun yang terlihat tulus. Gizca hanya berusaha mengikuti permainan. Bagaimanapun juga, ia bukanlah gadis polos yang bisa terbuai dengan kata-kata manis uncle dan aunty nya itu. Terlebih ia telah mendengar semua cerita tentang Stiller bersaudara dari Mateo, Mr. Hill, Mr. Euler bahkan pekerja-pekerja dirumahnya. Gio pun membenarkan semua yang pernah diceritakan mereka pada Gizca. ***** “Bagaimana kabarmu selama ini?” Tanya Graham disela-sela makan malam mereka. “Sangat baik, uncle.” Jawab Gizca singkat. “Meskipun terkadang masih sangat asing.” “Loh, kenapa asing?” Tanya Bianca dengan nada khawatir. “Masih belum terbiasa saja, aunty.” Jawab Gizca jujur. “Sudah tahu asing masih mau-mau saja kembali kesini, cih!” Gumam Gary yang sayangnya tidak cukup pelan hingga bisa didengar seluruh orang di ruangan VIP itu. “GARY!” Sergah Gio yang dibalas dengan Gary dengan memutar bola matanya. “Kau benar-benar copy Gavin yang sempurna, Giz.” Ucap Graham mengalihkan pembicaraan. “Benarkah, uncle?” “Tentu. Bukankah sepupumu ini sangat cantik, sweetheart?” Tanya Bianca pada Gianna yang lebih banyak diam karena ingin segera menyudahi pertemuan ini. Gianna mengalihkan pandangannya dan melihat Gizca sekilas, “Sekali gembel, tetap saja gembel. Lihat saja dandanannya yang sangat norak dan kampungan itu!” Jawab Gia tanpa memberikan filter sedikitpun pada ucapannya. “Gianna! Kau tidak boleh berkata seperti itu pada saudaramu!” Bentak Bianca. “Memang kenyataannya seperti itu, mom.” Ujar Gary menyetujui ucapan adiknya. “Kalian ini benar-benar,” “Tidak apa-apa aunty. Aku memang sudah terlalu terbiasa hidup jauh dari kemewahan. Jadi tidak salah kalau kak Gianna dan kak Gary memanggilku kampungan.” Balas Gizca dengan senyuman di bibirnya. “Percuma punya kehidupan berkelas kalau mulut mereka sangat rendah. Minta disekolahin itu mulut!” Batin Gizca. “Kalau saja kau pria, mungkin aku akan mengira adikku itu hidup kembali saking miripnya.” Kata Graham. “Tapi sayangnya mereka terbunuh dengan sangat cepat!” “Orang tuamu meninggal karena kecelakaan, Gizca! Siapa yang memberi tahumu kalau mereka dibunuh? Tak ada yang menyatakan mereka dibunuh, kau bahkan bisa mengecek catatan kepolisian!” Sergah Bianca dengan nada yang gusar. “Gotcha! Bagaimana bisa dia terpancing dengan begitu cepat? Aunty-ku ini bodoh atau bagaimana sebenarnya?” Batin Gizca sambil mengeluarkan smirk sekilas dari sudut bibirnya. “Memang tidak ada bukti kalau mereka dibunuh. Bahkan masa daluwarsa juga sudah lama lewat. Tapi firasatku mengatakan demikian dan aku akan mencari tahu sampai ke akarnya meskipun itu sulit. Aku akan memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah menyusahkan orang tuaku dan juga membuatku terpisah dari mereka selamanya.” Balas Gizca panjang lebar dengan tatapan tajamnya pada masing-masing orang dihadapannya. “Giz,” Gio menepuk pundaknya pelan mencoba menenangkan. “Good luck!” Seru Gary sinis. “Off course! Thank you atas semangatnya, kak Gary!” Gianna bangkit dari duduknya, “Aku mau ke toilet sebentar.” Ujarnya seraya melangkah keluar ruangan. Tangan Gianna membawa keluar segelas wine yang masih penuh. Begitu sampai disamping kursi Gizca yang ada didekat pintu, ia pura-pura tersandung hingga menumpahkan wine ke pakaian Gizca. Gizca segera berdiri dan mengibas-ibaskan tangannya pada blazer yang sudah basah. “Oh, maaf Gizca. Aku tidak sengaja!” Seru Gianna dengan nada bersalah, namun senyuman miring tampak terukir dari ujung bibirnya. “Aduh, bagaimana ini? Noda wine sangat sulit untuk dihilangkan! Maafkan aku Gizca!” “Gianna, apa-apaan sih kau ini? Sengaja ya?” Tanya Gio dengan nada tinggi. Ia segera membantu Gizca membersihkan sisa wine dari pakaiannya. “Tidak apa-apa kak, aku akan membersihkannya nanti.” Balas Gizca dengan senyum manisnya. Meskipun ia sangat kesal, tapi sebisa mungkin tidak ia tunjukkan dihadapan keluarga ini. “Kita pulang saja, Giz!” Ajak Gio. “Tapi kak..” “Pergi sana, tidak ada yang menginkanmu disini!” Seru Gary acuh dari ujung meja. Gizca melirik kearah Graham dan Bianca yang tidak menunjukkan respon apapun. Keduanya sama-sama membuat ekspresi smirk dari sudut bibirnya, yang meskipun sekilas masih sangat terlihat oleh Gizca. Merasa tak dihargai kehadirannya, Gizca pun beranjak dari duduknya. “Baiklah, terima kasih atas sambutan kalian.” Gizca melangkah keluar diikuti Gio dibelakangnya. Namun ia berhenti sebentar saat tangannya telah menggenggam gagang pintu. Gizca membalikkan tubuhnya, “Ah, uncle, kak Gary, jangan terlambat ke kantor besok! Kalian tahu kan kalau Mr.Hill meminta rapat direksi pagi-pagi sekali?” Setelah mengucapkan kalimat terakhir dengan sedikit smirk-nya, Gizca langsung melenggang pergi dari ruang VIP itu. “Memangnya besok ada rapat, dad?” Tanya Gary begitu Gizca menutup pintu. “Makanya, periksa emailmu!” Jawab Graham sambil menepuk kepala Gary pelan dengan sendok. “Sepertinya anak buangan itu sudah akan mengambil alih perusahaan.” “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, hon?” Tanya Bianca. “Cih…anak bau kencur sepertinya tau apa tentang perusahaan sebesar Stiller Corps!” Sungut Graham. “Untuk sementara, hati-hati dengan yang kau lakukan, Gary! Kita belum tahu bagaimana cara kerja anak itu.” “Baiklah, dad.” “Giovanni sialan, bisa-bisanya dia memihak anak kampung itu daripada kita, keluarganya sendiri!” Geram Gianna. “Kau seperti tidak mengenal adikmu saja, Gia.” Balas Bianca. ***** to be continued *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD