04 Cavaro

2091 Words
Pagi itu, bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya, namun suara cuitan burung dari sekitar pekarangan mansion mewah yang asri itu cukup mampu menjadi alarm alami Gizca. Gadis yang sudah dibiasakan bangun diwaktu subuh untuk menunaikan ibadahnya itu tak memiliki sedikitpun kesulitan untuk membuka matanya. Meskipun masih dengan aura mengantuk yang kental, Gizca mencoba membuka matanya dan berusaha untuk duduk sebelum nantinya akan ke toilet untuk mengambil air wudhu. Namun gerakannya dan usahanya untuk bangun harus terhenti saat ia merasakan tangan seseorang yang melingkari perut dan pinggangnya, bahkan kaki orang ini juga mengunci pergerakan kaki Gizca hingga ia tak mampu bergerak. Ia mengerjapkan matanya untuk mencari focus terbaik pada kamar yang minim cahaya ini. Aroma hembusan napas seseorang yang mengunci pergerakannya itu terasa begitu jelas menerpa wajah Gizca. Aroma itu bukanlah aroma yang bisa Gizca definisikan, karena ia belum pernah mencium bau seperti itu. Setelah mata Gizca mendapatkan fokusnya, ia bisa melihat dengan jelas bahwa seorang pria telah tidur disampingnya, dan lebih parahnya lagi pria itu memeluk Gizca dengan erat dalam dekapannya. Merasa terkejut, Gizca membulatkan kedua matanya sambil memperhatikan keadaan pria disampingnya yang nampak polos tanpa pakaian. Sontak hal ini menimbulkan kepanikan luar biasa dari gadis cantik itu. "AAAAAAAAA!!!!!!!!" Teriak Gizca kencang sambil mendorong dan menendang pria disebelahnya dengan kekuatan penuh. Ia menarik selimutnya hingga keatas d**a dan segera memposisikan dirinya untuk duduk di pinggir ranjang. "Who are you? Why did you sleep in my room? You pervertt!" Cecar Gizca dengan nafas terengah dan jantung berdebar kencang karena kepanikannya. Dia memang belum pernah dipeluk pria selain keluarganya di Indonesia dan Mario pastinya. Hingga kejadian ini menimbulkan ketakutan yang luar biasa untuk Gizca. Pria yang ia dorong dan tendang itupun sontak langsung terjatuh dari ranjang besarnya. Ia melenguh kesakitan karena tubuhnya harus mencium lantai dipagi buta ini. "Aaww...it's hurt! What happen?" Pria itu malah bertanya dengan suara seraknya sembari berusaha untuk duduk di lantai dan matanya yang mengerjab beberapa kali. Sepertinya ruh pria ini masih belum benar-benar kembali ke tubuhnya karena sedetik kemudian ia malah kembali merangkak keatas kasur empuk nan hangat itu. Tentu saja hal ini membuat Gizca semakin panik dan membuatnya kembali menendang pria itu agar menjauh darinya. "Pergi kamu! Bisa-bisanya kamu tidur disini! Cepat pergi!" Perintah Gizca dengan tatapan nyalang. "Shut up, honey! Let's just sleep again!" Balas pria itu sambil menarik selimut yang sedari tadi digunakan oleh Gizca untuk menutupi tubuhnya yang berpakaian sangat minim. Namun pria dihadapannya ternyata juga berpakaian jauh lebih minim yang baru saja disadari oleh Gizca. Gizca yang tak tahan lagi melihat perilaku pria berperawakan bak model itupun lantas turun dari ranjangnya dan berjalan kesisi ranjang pria itu dengan hentakan kaki yang kesal. Ia yang cukup bar-bar itu pun dengan segera menarik tubuh pria itu hingga ia jatuh kembali dan erangan keras kembali terdengar dari bibir tipis yang sayangnya menghasilkan suara serak yang seksi. "Keluar kamu dari kamarku, Pervertt!" Seru Gizca kembali. "What the hell! I'm sleepy!" Balas pria itu yang malah merangkul kaki Gizca yang posisinya saat ini sedang berdiri disebelah pria yang telah terduduk dilantai itu. Suara langkah kaki dari luar kamar Gizca yang semula terdengar samar-samar, kini terasa semakin dekat. Pintu kamar Gizca pun terbuka dan sedetik kemudian lampu kamar dinyalakan, hingga pemandangan tidak senonoh itupun bisa dilihat oleh siapapun itu yang baru saja membuka pintu kamar Gizca. "Gizca, ada apa? Kenapa kau berteriak?" Tanya suara pria paruh baya yang tak lain adalah Mateo yang bergegas menuju kamar yang ditempati Gizca setelah ia mendengar suara teriakan dan gaduh dari kamar ini. Gizca yang sedang bersendekap itupun menatap Mateo dengan tatapan kesal yang disebabkan oleh pria yang memeluk kakinya itu. Tidak, pria itu tidak hanya memeluk kaki Gizca, namun juga sambil menggosok-gosokkan kepalanya yang bersandar di paha Gizca yang tidak sepenuhnya tertutup celana. Hal ini sungguh sangat membuatnya tidak nyaman. Mata Mateo membelalak sempurnya menyaksikan kejadian itu. Iapun bergegas kearah Gizca dan dengan segera membungkuk dan menarik pria muda yang memeluk kaki Gizca. Pria itu terlihat ogah-ogahan hingga membuat Mateo harus menariknya dengan kasar. "Maafkan aku Gizca, aku tidak tahu kalau anak nakal ini bisa masuk kesini!" Ujar Mateo masih sambil memaksa pria itu melepaskan tangannya dari kaki Gizca. "ADRIAN GERONIMO CAVARO! Bangun kau, anak nakal!" Seru Mateo memukulkan tangannya pada pria yang ia sebut sebagai Adrian itu dengan cukup keras hingga membuat siempunya nama menggeliat dari posisinya. Adrian bangkit dari duduknya masih dengan setengah sadar. Ia yang hanya mengenakan boxer pendek dan ketat itupun membuat Gizca memalingkan pandangannya, karena menurutnya sangat tidak sopan melihat orang lain dalam keadaan hampir naked seperti itu. "Apa sih, dad? Aku masih ngantuk!" Gerutu Adrian. "Dia anakku, Gizca. Sepertinya dia habis mabuk hingga membuatnya seperti ini. Tolong maafkan dia! Aku akan memarahinya saat dia sudah sadar nanti. Aku benar-benar minta maaf atas perilakunya yang membuatmu tidak nyaman." Jelas Mateo panjang sembari menyeret pria muda bernama Adrian itu keluar dari kamar Gizca. Tak lupa ia juga memungut pakaian Adrian yang berserakan di lantai kamar Gizca. Selepas kepergian Mateo dan Adrian yang mengacaukan mood Gizca sepagi ini, iapun menghela napasnya dengan kasar. Ia masih berdiri di tepi ranjang, matanya menutup, tangan kirinya berkacak di pinggang, dan tangan kanannya ia letakkan diatas kepalanya. Ia tak habis pikir dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Ingat dengan kewajibannya yang belum terpenuhi, Gizca segera menuju toilet di kamarnya untuk segera berwudhu. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang lebih berguna daripada hanya sekedar memikirkan Adrian, si cabull yang terus-terusan berusaha memeluknya dari segala sisi itu. ***** Siang itu selepas makan siang, Gizca terlihat tengah asyik mengobrol bersama beberapa pria paruh baya dan juga Gio sepupunya. Pria-pria itu adalah Mateo, Ivan Euler yang merupakan pengacara orang tua Gizca, dan Melvin Hill, orang yang bertanggung jawab atas seluruh perusahaan keluarga Gizca. Mereka membahas segala hal yang perlu Gizca ketahui tentang orang tuanya berikut dengan properti-properti yang akan menjadi milik dan tanggung jawabnya. "Saat ini Stiller Corps masih masih saya yang menangani, Ms. Stiller. Kapanpun kau siap, kau bisa langsung mengurus kantor." Jelas Mr. Hill sambil menunjukkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan Stiller Corps. "Nanti saya akan menjadwalkan rapat direksi untuk mengenalkan nona pada semuanya." Tambahnya kemudian. "Oh, tolong panggil aku Gizca saja, Mr.Hill. Aku tak akan pernah terbiasa dengan sebutan seperti Ms. Stiller, nona, ataupun sejenisnya!" Pinta Gizca sambil tersenyum simpul. "Tapi," "Aku memaksa!" "Baiklah, Gizca." Gizca tersenyum sebentar sebelum melanjutkan membolak-balik dokumen yang ada ditangannya. Membaca profil garis besar perusahaan yang menurutnya sangat tidak masuk akal besarnya. Jelas saja, Stiller Corps telah bergerak di berbagai bidang. Mulai dari property, perhotelan, restaurant, medis, IT, hingga otomotif. Ini benar-benar hal yang bahkan tidak pernah sedikitpun terlintas dalam angan seorang Gizca Angela Syarif, namun sebuah kenyataan yang harus dihadapi oleh seorang Gizca Angela Stiller. "Mr. Hill, apakah tidak apa-apa kalau aku langsung mengambil alih? Maksudku, kau sudah berpengalaman. Akan lebih baik jika kau bisa menjadi pembimbingku karena aku masih sangat awam." Tanya Gizca dengan teliti. "Tentu saja aku akan membimbingmu selama beberapa bulan kedepan." Jawab Mr. Hill meyakinkan. "Sejujurnya aku sangat senang saat mengetahui Giovanni akan membawamu kembali, karena itu berarti aku akan bisa meninggalkan perusahaan dengan tenang setelah aku pensiun nanti." "Terima kasih, Mr. Hill." Balas Gizca dengan senyuman terbaiknya. "Tidak, Giz. Seharusnya aku yang berterima kasih pada orang tuamu, karena memberikanku kesempatan yang sangat langka ini. Berkat mereka, keluargaku bisa memiliki kehidupan yang layak hingga saat ini." Terang Mr. Hill tulus. Saat mereka disibukkan dengan urusan perusahaan, seorang pria muda yang adalah Adrian dengan santainya melenggang masuk melewati ruang tengah. Ia terlihat lebih manusiawi saat ini dengan celana jeans abu-abu tua dengan sedikit robekan disekitar lutut yang dipadankan dengan kemeja bermotif garis-garis yang lengannya ia lipat hingga setinggi siku. Rambut hitamnya ia sisir rapi ke belakang, menampakkan dahinya yang tidak lebar namun juga tidak sempit. Ia berjalan diiringi siulan di bibirnya yang mengerucut. Jari telunjuk kanannya memainkan kunci mobil dengan memutar-mutarkannya dengan santai. "Dad, aku pergi dulu!" Ujarnya tepat setelah melewati tempat Gizca duduk. Tak sengaja pandangannya bertemu dengan Melvin Hill yang duduk disebelah Gizca. Sontak ia langsung membenarkan sikapnya menjadi lebih sopan. "Oh, Mr. Hill. Saya tidak tahu anda akan kemari, sir. Bukankah hari ini jadwal anda kosong?" Tanya Adrian. "Ya, memang. Semalam Mr. Euler memberitahuku kalau Ms. Stiller sudah ada disini, jadi kita harus membicarakan tentang Stiller Corps dengannya." Jawab Mr. Hill membikan penjelasan. "Kau juga, duduklah disini! Ada yang harus kutanyakan padamu." Pintanya sembari menunjuk kursi kosong dihadapannya. Adrian menuruti perintah Mr. Hill segera. "Gizca, ini Adrian. Dia asistenku di Stiller Corps." Kata Mr. Hill memperkenalkan Adrian. Gizca yang mendengarnya hanya menaikkan pandangannya sekilas dan kembali fokus pada dokumen-dokumen ditangannya. Adrian yang melihatnya pun berdecih kesal karena diacuhkan. "Ck, apa-apaan bocah ini? Bisa-bisanya dia mengacuhkanku? Dia pikir dia siapa?" Batin Adrian. "Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku, Mr. Cavaro?" Tanya Gizca dengan nada yang datar dan tanpa mengalihkan pandangan. "A..aku?" Merasa nama belakangnya disebut, Mateo bertanya dengan nada gugup karena pertanyaan Gizca. Gizca yang menyadari Mateo terbata mengalihkan pandangannya pada Mateo dan iapun tersenyum simpul. "Bukan kau, paman. Tapi dia." Jawab Gizca dengan nada yang hangat sembari menunjuk Adrian dengan dagunya. "Aku? Apa yang harus kukatakan?" Tanya Adrian acuh dengan mengedikkan kedua bahunya. "Sebuah kata maaf mungkin?" Gizca balik bertanya yang lagi-lagi tanpa memperhatikan Adrian, lawan bicaranya. "Kenapa aku harus minta maaf?" "ADRIAN! Kau lupa dengan perilakumu pagi tadi?" Kali ini Mateo yang menanggapi pertanyaan Adrian dengan nada sedikit tinggi. Adrian yang telah mengingat kejadian pagi ini pun hanya menanggapi dengan santai. "Ah...itu? Bukankah harusnya kau Ms. Stiller yang meminta maaf padaku? Bagaimanapun kau menendang dan menyeretku hingga terjatuh.dua.kali!" Balas Adrian dengan memberi tekanan pada akhir kalimatnya. "Apa yang terjadi pagi tadi?" Tanya Gio penasaran. "Bukan urusanmu!" Sergah Adrian dingin. "Ada tikus yang masuk kekamarku tadi pagi, kak." Jawab Gizca dingin. "Jadi kau anggap aku tikus, hah?" Tanya Adrian dengan nada tidak terima. Gio yang mendengar perdebatan Gizca dan Adrian pun menautkan kedua alisnya hingga menampakkan garis halus di dahinya. Ia tidak mengerti dengan situasi yang ada dihadapannya kali ini. "Ah...sepertinya ini tidak akan berjalan dengan baik, bukan begitu Mateo, Mr. Euler?" Tanya Mr. Hill mencoba mencairkan suasana yang sedang memanas. "Sepertinya begitu, Mr. Hill." Jawab Mr. Euler yang sedari tadi lebih banyak diam. "Adrian, minta maaf sekarang! Kalau bukan karena kesalahanmu sendiri, Gizca tidak akan menendang dan menyeretmu!" Perintah Mateo. Adrian menghembuskan nafasnya kesal. "Whatever, dad." Balas Adrian dengan mengibaskan sebelah tangannya keudara. "Jadi Mr. Hill, apa yang ingin anda bicarakan?" "Ah, itu... Gizca, seperti yang kau tahu, aku akan segera pensiun dan Adrian disini adalah asistenku," kata Mr. Hill yang mendapat perhatian sepenuhnya dari semua orang yang ada diruangan itu. "untuk memudahkan pekerjaanmu, sebenarnya aku ingin mengajukan Adrian untuk menjadi asistenmu juga. Aku harap kalian setuju." "What? Anda akan pensiun Mr. Hill? Kenapa saya baru tahu?" Tanya Adrian terkejut yang dibalas dengan anggukan dan senyum kecil dari bibir Melvin. "Apa harus dia, Mr.Hill?" Protes Gizca. "Tak bisakah kak Gio yang membantuku? Apa kau mau kak?" "Jangan kau pikir aku juga akan bersedia menjadi asistenmu, Miss.Stiller." Balas Adrian kesal. "Sebenarnya aku sudah bekerja sebagai manager finance di perusahaanmu, Giz. Tapi kalau kau mau aku menjadi asistenmu, aku akan melakukannya." Jelas Gio menyanggupi permintaan Gizca. Mr. Hill, Mr. Euler, dan Mateo yang mendengar permintaan Gizca dan kesanggupan Gio sedikit terkejut. Mereka sebenarnya tidak terlalu percaya dengan Gio, mengingat asal usulnya yang berasal dari keluarga Graham Stiller yang selalu saja mengganggu stabilitas perusahaan selama dijalankannya. "Apa kau yakin, Giz? Adrian ini sangat professional, loh! Dan dia juga sangat cekatan saat bekerja bersamaku." Tanya Mr. Hill menyuarakan keraguannya. "Bukankah dalam bekerja bersama, salah satu faktor utama adalah saling nyaman? Aku akan lebih nyaman bersama dengan kak Gio." Jelas Gizca. Mr. Hill menghembuskan nafasnya, Adrian memutar kedua bola matanya menandakan ia tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya, sedangkan Gio tersenyum hangat hingga menampilkan lesung pipi indahnya. "Ck...memangnya orang sepertinya bisa melakukan pekerjaan sebaik aku?" Gumam Adrian lebih untuk dirinya sendiri. Gizca ternyata mendengar gumaman Adrian namun lagi-lagi ia mengabaikan pria dihadapannya itu. "Tapi miss," Mr. Hill tampak ragu melanjutkan kalimatnya. Ia bingung bagaimana caranya menyampaikan keraguannya tanpa menyinggung Gio dan Gizca sendiri. Bagaimanapun ia tidak memiliki bukti akan kecurigaannya terhadap Gio, karena pria muda itu memang tidak pernah terlihat terlibat dengan rencana-rencana keluarganya Gizca tampak sangat berharap. "Bagaimana bisa dia malah percaya pada Giovanni yang seperti ular itu? Apa dia tidak tahu kalau keluarganya sangat licik? Aku saja muak dengan perilaku mereka yang semena-mena dan selalu memainkan sandiwara. Dasar gadis bodoh!" Gerutu Adrian dalam hati. Suasanya senyap menghampiri ruangan berisi 6 orang itu beberapa saat. "Aku menerima tawaranmu, Mr.Hill." ***** to be continued *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD