03 New Life

1619 Words
~ Manhattan, New York ~ Setelah melalui penerbangan sekitar 20 jam dari Jakarta ke New York, kini mobil Maserati GranCabrio berwarna merah itu melaju menyusuri jalanan kota New York yang padat. Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Gio itu memasuki pekarangan rumah mewah sangat besar, atau lebih cocok disebut sebagai mansion. Halaman mansion itu sangat luas dan dihiasi dengan bunga berbagai jenis dan warna. Air mancur ditengah halaman menambah kesan indah dan mewah pada mansion bergaya Eropa klasik tersebut. Begitu mobil berhenti didepan pintu utama, Gio segera melepas seat belt-nya dan keluar mobil. Sementara Gizca masih memandang kagum masion didepan matanya. Ia benar-benar takjub karena seumur hidupnya belum pernah masuk kedalam rumah semewah ini. Gio berjalan mengitari mobil dan kini membuka pintu penumpang tempat Gizca duduk. "Ayo turun, kita sudah sampai dirumahmu!" Ajak Gio sambil mengulurkan tangan kanannya. Senyuman hangat masih terus tampak jelas dari lengkungan bibirnya yang tipis dan berwarna pink itu. "Ini rumah? Aku pikir istana." Seloroh Gizca sembari melepaskan seat belt-nya yang kemudian menerima tangan Gio dan turun dari mobil. Gio yang mendengar ucapan Gizca terkekeh geli. Lesung pipinya pun nampak lebih jelas saat dia tertawa seperti ini. "Apa aku akan tinggal disini?" "Ya. Aku sudah memberi tahu pengurus rumah ini kalau pemiliknya akan segera datang. And here you're!" Seru Gio menjelaskan. "Kak Gio tinggal disini juga?" Tanya Gizca lagi. Kini ia sudah mulai terbiasa memanggil Gio dengan panggilan kak, meskipun masih ada rasa canggung dalam dirinya. "Tidak! Aku tinggal di penthouse tak jauh dari sini. Hanya 15 menit berkendara sudah sampai." Jawab Gio panjang. "Jadi aku tinggal disini sama siapa, kak?" Tanya Gizca lagi. "Umm.....maid, hardener, security?" Jawab Gio yang lebih seperti pertanyaan. Gizca mengerutkan kedua alisnya hingga menampakkan garis-garis halus di dahinya. "I'll need some familiar face!" Gumam Gizca. Gio tersenyum dan merangkul pundak Gizca menenangkan. Keduanya kini telah melewati pintu utama yang disambut dengan beberapa maid, security, dan hardener yang telah berbaris rapi di balik pintu. "Dan ini Mr. Mateo Cavaro, head butler di rumah ini. Beliau sudah bekerja disini sejak kakek masih ada dan merupakan salah satu orang kepercayaan om Gavin." Jelas Gio sambil memperkenalkan pria berseragam rapi dan sopan dihadapan Gizca. Mateo merupakan pria berusia sekitar 60an, namun masih tetap berkharisma dengan wajah yang ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan, begitupula rambutnya yang menunjukkan usianya yang tak lagi muda. Meskipun demikian, Mateo masih terlihat cukup bugar. Iapun nampak memberikan senyuman terbaiknya pada nona muda sang pemilik sebenarnya rumah yang ia rawat sejak puluhan tahun lalu ini. "Saya sudah menyiapkan semua keperluan nona. Kalau ada apa-apa, langsung beritahu saya saja, jangan sungkan." Ujar Mateo dengan senyuman terbaiknya. "Dan tolong panggil saya Mateo saja, jangan Mr. Cavaro nona!" "Rasanya tidak sopan jika aku memanggil dengan nama. Aku akan memanggilmu dengan sebutan paman saja. Bagaimana?" "Oke." "Dan tolong panggil aku Gizca juga ya, tidak perlu pakai nona. Masih terdengar aneh di telingaku, paman." Balas Gizca dengan sedikit kekehan dan dibalas dengan anggukan Mateo. Setelah itu, Gio mengajak Gizca berjalan ke lantai atas menuju kamar utama. Langkah mereka terhenti di depan sebuah kamar dengan pintu kayu besar berukir bunga tulip di tengahnya. Gio menatap Gizca tajam yang dibalas dengan pandangan bingung gadis itu. Gio kemudian mendorong pintu kayu tersebut dan memasuki ruangan kamar itu diikuti dengan Gizca. "Ini kamar siapa?" Tanya Gizca kemudian setelah menyadari betapa rapi dan terawatnya kamar tersebut. Ia terus melangkah menyusuri kamar perlahan dengan mata yang terus memperhatikan setiap detail furniture hingga ornamennya. Matanya terhenti ketika ia melihat sebuah foto kecil berpigura yang diletakkan diatas nakas sebelah kanan kasur besar di tengah ruangan. Itu adalah foto seorang pria dan wanita muda, mungkin sekitar 20an akhir. Sang wanita terlihat sedang menggendong bayi kecil yang masih tertutup selimut dengan rapat hingga tidak menampakkan wajahnya sedikitpun. Namun yang membuat Gizca heran adalah background tempat foto itu diambil. Itu adalah rumah masa kecil Gizca yang berada di pinggiran Jakarta sebelum ia dan keluarganya pindah ke daerah Menteng Dalam yang menjadi alamat tinggal Alvian, Diana, dan sang anak saat ini. "Mereka siapa kak?" Tanya Gizca lagi, kali ini ia mengarahkan pandangannya pada Gio yang saat ini berdiri di belakangnya. "Om Gavin dan tante Sophia, orang tuamu." Jawab Gio cepat tanpa memandang Gizca. Matanya terfokus pada foto yang ada diatas nakas. Gio kembali mengingat sedikit kebersamaannya bersama om dan tantenya tersebut yang kemudian menimbulkan senyuman rindu dari kedua ujung bibirnya. Gizca kembali mengalihkan pandangannya ke atas nakas. Ia mengangkat bingkai yang berisi potret kedua orang tuanya dan memandang keduanya. "Jadi seperti ini wajah kedua orang tua kandungku?" Tanya Gizca bergumam, seperti ia tunjukkan pada dirinya sendiri. Gio membalasnya dengan anggukan pelan. Semakin memperhatikan foto ditangannya, Gizca semakin menyadari betapa miripnya dia dengan sang papa. Mereka sama-sama memiliki mata hazel dan rambut coklat gelap yang bersinar. Hanya saja kulit putih dengan sedikit bercak merah sang papa tidak menurun padanya, Gizca lebih mirip dengan sang mama yang memiliki kulit sedikit lebih gelap. Setiap fitur wajah Gizca pun sangat mirip dengan papanya, Gavin. Jika diingat-ingat lagi, Gizca memang sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan Alvian maupun Diana, terutama dari warna rambut dan mata. "Dirumah ini ada beberapa kamar yang bisa kamu pilih. Kamu juga bisa tinggal di kamar ini kalau mau." Kata Gio membuyarkan setiap lamunan Gizca. "Apa kakak yang meminta kamar ini dijaga tetap rapi?" Tanya Gizca kemudian. Gio menggeleng. "Bukan! Aku bahkan tidak bisa masuk rumah ini sebelumnya." Jawab Gio pasti. Gizca memandang kakak sepupunya itu heran. Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan, tapi ia bingung memilih mana pertanyaan yang pantas ia tanyakan terlebih dahulu, dan mana yang harus dikesampingkan. "Kenapa kak Gio tidak bisa masuk kesini?" Setelah memilah, akhirnya hanya itu pertanyaan yang mampu Gizca tanyakan. "Apalagi kalau bukan karena latar belakang keluargaku?" Jawab Gio dengan pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui Gizca dengan pasti. "Meskipun aku tak pernah ikut campur dengan urusan keluargaku, namun Mr. Cavaro benar-benar sangat protective. Dia tidak membiarkan satu orangpun dari keluargaku menginjakkan kakinya disini, karea dia sendiri tahu bagaimana bencinya ayahku pada ayahmu. Sampai pada tahun lalu, aku kemari bersama pengacara ayahmu untuk mencari informasi tentangmu. Barulah Mr. Cavaro percaya kalau aku serius ingin mencarimu." Jelas Gio panjang lebar yang dibalas dengan anggukan Gizca tanda ia memahami situasinya. "Kau pasti lelah! Pilihlah kamarmu dan beristirahatlah! Aku juga akan kembali ke apartment-ku untuk beristirahat. Besok aku akan kembali lagi." Ujar Gio kemudian. Giopun hendak melangkahkan kaki keluar dari kamar tidur utama sebelum Gizca berhasil menahan langkahnya lebih jauh. "Apa aku boleh bertemu dengan orangtua kakak? Om Graham, kan? Dan, siapa nama ibu kak Gio? Aku belum sempat mendengar namanya darimu." Tanya Gizca dengan sedikit nada keraguan. Gio yang mendengarnyapun membalik badannya dan menatap Gizca dengan menautkan alisnya heran. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa adiknya ini meminta bertemu dengan orang-orang yang telah membuat hidupnya sengsara dan terpisah selamanya dengan kedua orang tua kandungnya. "Apa kau yakin, Giz? Mereka mungkin tak akan bersikap baik padamu!" Seru Gio sangat penasaran. Gizca mengangguk pelan, "Bagaimanapun, mereka adalah om dan tanteku. Setidaknya aku bisa tahu bagaimana wajah mereka dan seberapa bencinya mereka padaku. Apa kau bisa mempertemukan aku dengan mereka, kak?" Gio nampak berpikir keras. Tangan kirinya ia tekuk didepan dadanya, sedangkan tangannya menumpu dagunya. "Baiklah kalau kau yakin. Aku akan mengatur pertemuan kalian." Jawab Gio memberikan kepastian pada Gizca. "Tapi sebelumnya, aku harus minta maaf lebih awal, kalau-kalau nanti keluargaku melakukan hal yang tidak menyenangkan. Ingatlah, aku akan selalu membantumu, Giz!" Gizca tersenyum ramah dan membalas peringatan Gio dengan anggukan. "Thanks, kak!" "Ah, by the way nama ibuku Bianca. Kakak pertamku Gary dan kakak keduaku Gianna." Ujar Gio yang sudah berdiri diambang pintu sambil tersenyum. Gizca kembali mengangguk tanda mengerti. ***** Setelah Gio berpamitan pulang, Gizca kembali berjalan menyusuri koridor di lantai dua yang menurutnya tidak memiliki ujung itu. Ia lagi-lagi takjub dengan kemewahan interior rumah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tak lama kemudian, ia merasa kakinya sudah pegal. Belum lagi efek jet lag setelah perjalanan panjangnya tadi membuat Gizca cukup kelelahan. Akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi home tour-nya dan memilih untuk memasuki kamar tepat disebelah kamar tidur utama. Ia tidak ingin mengganggu tatanan kamar itu, karena akan ia gunakan sebagai museum pribadi untuknya sendiri sembari mengenang orang tuanya yang sama sekali tidak ia kenal itu. Kamar yang dimasuki Gizca sangat luas dengan ranjang king size dan dekorasi yang netral. Pengurus rumah ini memang sengaja mendesain kamar dengan furniture berwarna netral, karena mereka belum mengetahui selera nona muda mereka. Kamar ini di lengkapi dengan kamar mandi dalam yang ukurannya bahkan lebih luas daripada kamar tidur Gizca di Indonesia. Disebelah kamar mandi, terdapat sebuah pintu menuju walk-in closet yang tak kalah luas pula. Di ruangan itu hanya ada beberapa pasang pakaian dan sepatu. Terlihat agak kosong memang, namun hal ini lagi-lagi dikarenakan pengurus rumah belum mengetahui selera Gizca. Puas memperhatikan seisi ruangan, Gizca pun merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sebelumnya ia telah mengganti pakaiannya dengan piyama berupa tank top bertali spagetti berwarna merah maroon dan celana super pendek dan ketat yang panjangnya bahkan tak sampai setengah pahanya. Tak butuh waktu lama, Gizca yang telah berada dibalik selimut itu langsung terlelap kealam mimpi. ***** Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, saat sepasang kaki yang berjalan sempoyongan itu membuka pintu utama rumah mewah yang sudah sepi dari kehidupan didalamnya. Ia berjalan menyusuri ruang tamu dan kemudian menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan sesekali menghentikan langkahnya dan harus berpegangan dengan pembatas tangga karena ia merasa pusing. Ia benar-benar mabuk dan penampilannya pun cukup berantakan. Kemeja berwarna navy yang dikenakan pria ini dua kancing teratasnya telah terlepas, dasi yang harusnya melekat diujung lehernya sudah ia tarik cukup panjang hingga tak lagi beraturan, dan lengan kemejanya ia gulung setinggi siku. Rambut hitamnya tak lagi beraturan setelah beberapa kali ia sisir dengan jari-jarinya. Begitu sampai di lantai dua, ia langsung masuk ke salah satu kamar dengan asal. Ia melepaskan kemeja, dasi, celana panjang, dan sepatunya ke sembarang arah, menyisakan boxer ketat yang menutupi area pribadinya. Setelahnya ia pun menjatuhkan dirinya keatas kasur empuk dihapannya dan masuk kedalam hangatnya selimut. Tanpa banyak bersuara, pria berbadan tegap dengan d**a bidang dan perut eightpack berwarna kecoklatan sangat seksi itupun tertidur dengan cepat. Pengaruh alkohol membuatnya benar-benar ingin segera menyudahi harinya saat itu juga. ***** to be continued *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD