Bab 6 - Sakit Hati Tapi Butuh

1841 Words
Keith menggandeng tangan Rachel, digenggamnya erat, sebab berkali Rachel berusaha melepaskannya. Keith tidak mau melepas Rachel yang sudah mengisi hati dan pikirannya, apalagi Keith sudah perawanin Rachel. Baginya Rachel sudah wanita tercinta seumur hidupnya. Rachel terlihat gusar, berjalan sedikit dibelakang Keith. Persis banget sikapnya ini seperti bocah yang sedang ngambek, terpaksa ikut ayahnya belanja ke pasar. “Sayang.” Keith menegur Rachel yang sedari tadi diam, setelah upaya terakhir Rachel melepaskan genggaman tangannya gagal. Rachel menghela nafas, ‘Hadeuh memanggilku sayang. Eneg banget dengernya.’ Dumelnya kesal mendengar Keith memanggilnya sayang. Keith menghentikan langkah mereka, tanpa memberitahu Rachel, sehingga Rachel sedikit menubruk Keith. Rachel menjadi kesal, sedikit memukul lengan Keith. “Ihh kalo berhenti, bilang kenapa.” Keith tersenyum geli diomelin Rachel. Dimatanya Rachel bertambah menggemaskan. Dijawil sayang hidung mancung Rachel, “Biar Kamu sadar diri.” “Memangnya Aku pingsan?” “Ngga. Kamu diam aja seperti Arca patung Budha.” “Jahat!” Rachel mengerucutkan bibirnya, “Sudah, Kamu kenapa memanggilku?” ditanyanya Keith dengan judes. “Jadi Kamu dengar Aku memanggilmu?” Keith tersenyum, lega kalo ternyata Rachel mendengar dipanggil olehnya. “Iya dengar, Aku tidak tuli.” sahut Rachel masih judes ke Keith. Padahal sebelum kejadian itu, Rachel sangat luwes dan menyenangkan ke Keith. “Keith, kamu mau bicara apa?” ditatapnya Keith dengan galak. Keith tersenyum lagi, dijawil sayang hidung Rachel, dia bertambah gemas melihat wajah galak Rachel. “Kamu mau belanja apa sekarang? Dari tadi ngga ada mampir ke lapak mana pun.” “Gimana mau mampir, Aku tidak ada uang. Aku gagal menjual gelangku.” “I see.” Keith tersenyum lagi, “Ya sudah biar Aku bayar belanjaanmu.” “Ngga mau. Ngga mau menerima apa pun darimu yang brengsek.” JLEB. Keith tersentak mendengar perkataan Rachel. Baru kali ini ada perempuan berani mengatakannya b******k. Keith menghela nafas, dibawa Rachel ke Parkiran yang agak sepi, dihadapkan Rachel ke Dia. “Rachel.” Keith menatap Rachel lekat-lekat, “Begitu marahkah Kamu ke Aku, sampai dimatamu, Aku ini b******k?” tanyanya dengan nada serius. “Menurutmu?” Rachel memandang Keith dengan kesal, “Kamu menolongku, tapi kamu memangsaku. Apa bukan Kamu itu b******k?” tanyanya to the point. “Kamu bukan siapa-siapa Aku, tapi sangat berani mengambil kesucianku.” Kedua mata Rachel mulai menghangat, merasa bilur air mata mau meleleh. Keith menghela nafas, ‘Ternyata masih ada di dunia ini perempuan sepertimu, yang tidak akan memberikan kesucian ke sembarang pria. Aku beruntung mencintaimu, artinya Kamu benar-benar perempuan yang menjaga kehormatan dirimu.’ Air mata Rachel meleleh juga, buru-buru disekanya. “Sudah lupakan semua itu.” Desaunya, “Aku baiknya pulang, tidak jadi belanja.” Dia memutuskan untuk pulang, menenangkan dirinya, “Keith, makasih kamu sudah berniat menebus kesalahanmu.” Dipandangnya Keith, “Tapi tidak semudah itu Aku menerimanya. Kamu boleh mengambil hartaku, tapi tidak kesucianku tanpa komitmen.” “Komitmen menikahimu?” tanya Keith to the point, pelan jari telunjuknya menyeka air mata yang membasahi wajah cantik Rachel. Rachel mengangguk. “Kalo gitu,” Keith tahu apa yang diinginkan Rachel, agar kembali terhormat, “Aku nikahin Kamu sekarang juga.” “Hanya demi menebus kesalahanmu?” “Demi semuanya. Demi mencintaimu. Demi menghapus kemarahanmu. Demi kembalinya kehormatanmu.” “Keith, kita baru kenal kemarin. Kita tidak tahu satu sama lain.” “Tidak masalah. Sejalan waktu, kita pasti saling tahu.” “Kamu gila.” Rachel menghela nafas. Keith meraih dagu Rachel, dibikin mereka saling menatap, “Iya Aku gila. Aku tergila-gila sama Kamu dari kita bertemu.” “Keith, Kamu sadar kah, mana bisa secepat itu tergila-gila ke perempuan?” “Bisa. Buktinya Aku. Karena tergila-gila sama Kamu, Aku tidak bisa menahan hasratku semalam ke Kamu. Aku juga tidak akan melepaskanmu apa pun alasannya, tidak perduli Kamu membenciku karena itu.” Rachel terperangah mendengar semua ini. Apalagi disampaikan di Parkiran pasar pula. Tidak romantis sekali. Tapi itu lah Keith. Saat Dia meyakini sesuatu, tidak perduli apa pun, di mana pun, bisa disampaikan. Bisa dilakukan. Keith memegang kedua sisi lengan Rachel, ditatap Rachel penuh cinta. “Acha,” dipanggilnya Rachel dengan Acha, “Jika Aku tidak yakin dengan perasaanku, Aku tidak akan melakukan hal semalam. Meski Aku ini playboy, namun tidak sembarangan juga aku melakukan hubungan seks. Kalo pun bermain, hanya untuk fun. Tapi saat bersamamu semalam, Aku melakukannya karena hatiku inginkan itu. Gairahku tersulut karena aura sensualmu begitu kuat memenuhi hati dan pikiranku, hal yang tidak pernah kurasakan selama ini.” Rachel terperangah lagi. ‘Edan ini pria. Mengatakan isi hati di sini.’ Keith mau bicara lagi, cepat jari telunjuk tangan kanan Rachel menyentuh permukaan bibir Keith, “Sudah berhenti bicara.” Rachel meminta Keith berhenti bicara, “Aku mau pulang.” Dia sekali lagi mengatakan ingin pulang, dan mau melalui Keith, tapi cepat Keith meraih lengannya, bikin dia memandang Keith, “Keith, ini pasar, ngga banget kamu ungkapkan isi kepalamu itu.” Dihardiknya Keith sambil melirik sekitar mereka. “Aku tahu. Aku tidak ingin bicara soal itu. Kan Kamu minta Aku berhenti bicara itu.” TUING-TUING. Rachel menjadi gemas mendengar ini, dikeplak sedikit lengan Keith, “Lalu kenapa menahanku?” “Kakekmu butuh makan, Rachel.” JLEB. Rachel tersentak mendengar ini. “Kalo Kamu pulang tanpa membawa bahan masakan,” Keith bicara lagi, “Kakekmu makan apa? Apa Kamu belikan dari resto?” JLEB. Rachel tersentak lagi. “Ayolah kita belanja.” Keith meraih tangan Rachel, digenggamnya lagi, tetap tabah menghadapin Rachel yang masih uring-uringan ke dia. “Ayo sayang.” Dia sedikit menggoyangkan tangan Rachel, sebab Rachel enggan menurutinya. Rachel menghela nafas, “Iyalah, demi Kakek. Kali ini kuterima kamu yang bayar belanjaanku.” Ujarnya kesal, terpaksa menerima kebaikan Keith. Keith tersenyum, ‘Gitu dong. Lain kali Aku sebut nama Kakekmu, jadi kamu tidak bisa menolak apa pun dariku.’ Kekehnya nakal. “Kamu mau masak apa siang ini?” “Untuk Kakek hanya bisa masak yang dikukus atau rebus.” “Karena beliau sakit Jantung?” JLEB. Rachel tersentak kaget, ditatapnya Keith, kenapa Keith tahu hal ini? Keith pelan mengusap pipi Rachel, “Ngga usah ditanya kenapa aku tahu itu. Yang penting sekarang, ayo buruan kita belanja. Aku juga lapar ini.” Keith sambil cengegesan segera mengamit tangan Rachel dilengannya, dibawa Rachel berjalan. Rachel tampak gregetan dengan sikap Keith. ‘Kamu memang ngeselin, Keith.’ Dumelnya kesal tidak berdaya menghadapin Keith. Rachel terpaksa belanja bahan makanan ditemanin dan dibayarin Keith. Baru setelah itu Dia dan Keith meninggalkan pasar. Keith menghentikan langkah mereka saat diluar pasar. “Ada apa, Keith?” tanya Rachel memandang Keith yang menenteng semua plastik belanjaan, sebab Keith yang inginkan, “Kamu merasa berat nenteng belanjaanku? Siapa suruh menawarkan membawakan semua itu.” Dikiranya Keith menghentikan langkah mereka karena merasa berat menenteng semua plastik belanjaan. “Bukan itu, sayang.” Kekeh Keith tersenyum geli, “Kita pulang naik kendaraan ya.” “Mana aku ada kendaraan kek Kamu?” “Itu mudah.” Kekeh Keith segera membawa Rachel berjalan menuju sebuah Ruko di seberang pasar. Rachel tertegun melihat dibawa ke Ruko itu. Sebab itu Ruko menjual motor baru dan second, dihentikan langkah mereka sebelum masuk ke dalam Ruko tersebut. “Ya sayang?” tanya Keith memandang Rachel. “Kita ngapain kemari?” tanya Rachel memandang balik Keith dengan keheranan. “Kita butuh kendaraan kan wat pulang ke rumahmu?” “Astaga Keith!” desau Rachel, “Ruko ini bukan tempat penyewaan kendaraan.” Dikiranya Keith mau menyewa motor di sini untuk membawa mereka pulang ke rumah Muria. “Aku tahu.” kekeh Keith tersenyum geli mendengar perkataan Rachel, “Aku kan bilang kita butuh kendaraan, bukan kita mau menyewa kendaraan kan?” “Lalu?” “Liat aja deh.” Keith membawa mereka kembali berjalan, masuk ke dalam Ruko itu. DAN.. “Astaga!” Rachel tidak percaya dengan yang dilihat dan didengarnya saat ini bahwa Keith membeli satu unit motor matic keluaran terbaru secara cash, “Keith!” dia tegur Keith yang sedang membaca brosur list beberapa merk motor matic, “Kamu mau beli motor?” “Iya.” Sahut Keith santai, “Kan kita perlu wat pulang ke rumah. Daripada jalan kaki, atau naik kendaraan umum.” “Astaga Keith!” Rachel mengelus dadanya, “Tapi kan proses beli motor lama, Keith.” “Ngga. Aku pilih unitnya, bayar, lalu kita pulang ke rumah pakai motor baru.” Keith menjawil sayang hidung Rachel. “Lalu nanti kamu pulang ke rumahmu dengan motor itu?” “Dengan mobilku lah.” “Maksudmu?” “Rachel, Aku ke rumahmu pake mobilku. Nah motor ini, nanti wat Kamu.” “Ngga mau.” “Harus mau.” “Kok maksa?” “Karena Kamu butuh kendaraan, Rachel. Kalo kamu kemana-mana jalan kaki, atau pakai kendaraan umum, akan lama sampai di rumah dari tempat tujuan. Apa Kamu tidak kasihan sama Kakek yang menunggumu di rumah, karena kamu belum juga sampai ke rumah?” Keith memakai lagi nama Muria untuk membuat Rachel tidak bisa menolak dibelikan motor baru. JLEB. Rachel tersentak mendengar ini. “Kamu bisa kan mengemudikan motor matic?” Keith bertanya ke Rachel. “Aku belum pernah pakai matic, bisanya manual. Tapi itu dulu saat Ibu belum meninggal. Ibu kredit motor sama temannya, dan mengajarkan aku mengemudikan motor itu.” “Tapi Aku tidak melihat ada motor ibumu.” “Ibu terpaksa menjualnya, selain untuk biaya berobat Ibu, Kakek, juga biaya Aku sekolah.” “I see.” Keith paham, “Sudah sekarang ayo ikut pilih motor di brosur ini.” Keith mengalihkan pembicaraan, dihadapkan brosur ditangannya ke Rachel, “Kamu naksir yang mana?” tanyanya saat Rachel terpaksa melihat brosur itu. “Terserah Kamu aja, kan kamu yang belikan.” “Oke.” Keith paham Rachel masih gengsi, padahal butuh kendaraan ini. Keith melihat kembali deretan model motor di brosur, lalu matanya menemukan pilihan yang tepat untuk Rachel, “Mas.” Ditegurnya Sales counter yang sedari tadi setia banget menanti mereka mengobrol, “Yang ini ready stock dan on the road kan?” dikasih lihat pilihannya ke sales itu. “Sebentar Pak, Saya telpon bagian Unit dulu.” Sales kemudian menghubungin bagian unit, menanyakan motor pilihan Keith, lalu kembali bicara dengan Keith, “motornya ready dan on the road, Pak.” “Good.” +++ Rachel kembali mengelus dadanya melihat motor matic berwarna merah dove diparkir mekanik di jalan depan Ruko ini. Itu motor yang Keith baru beli dari counter motor. “Gimana, sayang?” tanya Keith mesra ke Rachel, seolah mau menunjukan ke semua orang yang ada di dekat mereka saat ini, Rachel adalah istrinya.”Kamu suka motor yang kupilihkan wat kamu?” mana main merangkul pinggang Rachel dari belakang dengan satu tangan. Rachel menahan geram, sebab Keith aji mumpung saat ini. Tapi dia tidak mau mempermalu diri sendiri dan Keith dengan bersikap ketus ke Keith. “Keith, tadi kan kubilang terserah kamu.” Rachel memandang Keith dengan senyum hambar. “Iyalah.” Kekeh Keith tersenyum geli melihat Rachel tersenyum hambar, “Ayo sekarang Kamu coba dulu motornya. Keliling jalanan Ruko ini aja dulu.” “Sekarang Keith?” “Iyalah. Biar kita cepat pulang.” + TO BE CONTINUE +
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD