Keith memperlambat laju mobilnya sambil melihat ke rumah-rumah di kiri kanan depannya. Dicari nomor rumah 90, nomor rumah orangtua Rachel. Keith sedari awal sampai di Kompleks Perumahan ini, merasa orangtua Rachel cukup berada, sebab hampir semua rumah di sini modelnya bagus dan bertingkat dua.
Tapi kenapa Rachel begitu susah payah terlihat oleh Keith saat psikotest? Keith belum mendapat jawabannya, sebab belum menyuruh Veron menyelidiki siapa Rachel dan keluarga Rachel.
Keith melihat nomor 90 di sebuah rumah bercat cream kombinasi coklat tua. Keith lalu memundurkan mobilnya, dan dihentikan sedikit jauh dari pagar rumah itu. Keith tidak mau Rachel melihatnya datang, takut Rachel bereaksi marah seperti tadi ke dia. Keith mematikan mesin mobil, lalu keluar dari mobil, baru perlahan mendekati rumah itu. Dia lalu berdiri depan pagar rumah, diamati rumah dari sana.
‘Rumah orangtua Rachel lumayan bagus,’ bisik hatinya menilai rumah ini lumayan bagus, ‘Ayah atau kakeknya kah yang membeli rumah ini? Ah, kamu masih misteri bagiku, Rachel. Tapi kusuka ini. Membuatku mencari tahu, dan memberikan apa yang kamu dan keluargamu butuhkan.’
Lalu matanya melihat Muria jalan tertatih dengan bantuan tongkat stainless berkaki empat. Diamati Muria.
‘Apa pria ini kakeknya Rachel?’ tanya hati Keith, ‘Rasanya iya, sebab seperti diphoto Rachel itu. Lalu juga mirip Rachel.’ Dia menjawab sendiri pertanyaannya, ‘Kenapa Rachel begitu takut kejadian semalam diketahui kakeknya? Apa kakeknya sangat galak? Tapi kalo kulihat, kakeknya berhati lembut dan penuh kasih sayang.’ Dia pun menilai profiel wajah Muria saat ini.
Dia masih mengamati Muria. Tampak kini Muria memegangi dadanya, lalu tertatih duduk di salah satu kursi teras, dan segera mengeluarkan sebotol obat dari saku depan kaosnya. Muria menelan satu capsul obat, tanpa disertai minum air putih.
‘Apa kakeknya Rachel ada sakit serius?’ tanya hatinya feeling Muria menderita penyakit serius, ‘Apa Jantung? Kalo iya, pantas Rachel takut kakeknya tahu kejadian semalam. Rachel tidak mau membuat kakeknya kena serangan jantung dan meninggal. Rachel bilang hanya punya kakeknya. Keluarga ibunya menepikan mereka saat ayahnya selingkuh. Keluarga ayahnya dari dulu tidak pernah perduli ke mereka, sebab ibunya dari keluarga miskin. Itu yang Rachel ceritakan ke aku saat psikotest, saat kutanya sedikit mengenainya.’
Muria sudah merasa membaik, matanya memandang ke sekitar, lalu melihat Keith. Diamatin Keith. ‘Siapa pria ini?’ tanya hatinya, ‘Apa temannya Rachel? Tapi sejak Emily meninggal, Rachel giat bekerja, tidak pernah ada teman Rachel mampir kemari. Bahkan Rachel tidak punya pacar sama sekali. Rachel fokus bekerja untuk kami, terutama aku yang sakit jantung ini.’
Keith sadar Muria mengamatinya, diberi senyumnya sambil sedikit membungkukan badan ke depan, caranya menyapa Muria. Lalu Keith melihat Rachel datang mendekati Muria. Keith bergegas bersembunyi ke sisi tembok pintu pagar. Keith tidak mau Rachel melihatnya.
Muria melihat yang dilakukan Keith, merasa aneh. Namun Dia tidak mencaritahu dari Rachel, sebab dilihatnya Rachel sudah rapih dengan menyandang tas kecil.
“Kek.” Rachel menegur Muria, “Acha keluar sebentar ya.” Dia berpamitan ke Muria. Rachel memanggil dirinya dengan Acha, nama panggilan dari Ivan saat dia lahir.
“Kamu mau kemana? Sebentar lagi mau makan siang.”
“Ke pasar, Kek. Acha belum belanja apa pun wat persedian pangan kita, Kek.” Rachel menghela nafas, duduk di lantai, menyandarkan kepala ke salah satu paha Muria, “Maafin Acha, Kek.”
Keith diam-diam mengamati Rachel, hatinya tersentuh melihat Rachel manja ke Muria. Hatinya juga bertambah menyesal sudah perawanin Rachel. Kalo Muria tahu, pasti hati Muria hancur. Rachel terlihat cucu kesayangan Muria.
“Untuk hal apa, nak?” Muria pelan membelai sayang rambut ikal indah Rachel.
“Beberapa hari ini sibuk interview sana-sini, sampai lupa belanja. Jadinya Kakek selalu makan nasi bungkus yang kakek beli dari Warteg depan kompleks.”
“Hehehe.” Muria terkekeh mendengar ini, “Acha, Kakek tahu kamu sibuk demi kita berdua. Jadi Kakek tidak masalah beli nasi bungkus dari Warteg. Toh kan uangnya dari Kamu.”
“Andai Rachel punya uang lebih, pasti Rachel hayer ART untuk mengurus Kakek. Sayangnya uang Rachel hanya cukup membayar ART paruh waktu, itu hanya untuk cuci strika dan membersihkan rumah. Tidak masak untuk Kakek.”
Muria tersenyum mendengar ini. Rachel dari kecil sangat perduli ke dia. Rachel selalu mengurusnya. Namun sejak Emily meninggal, Rachel terpaksa membagi diri untuk pekerjaan. Membuat Rachel merasa bersalah ke Muria. Tapi Muria tidak pernah menyalahkan Rachel. Muria malah bangga sama Rachel.
“Acha.” Muria pelan mengangkat wajah Rachel, “Sudah jangan bicara itu terus.” ujarnya lembut ke Rachel, “Coba lihat dirimu,” dia minta Rachel melihat diri Rachel, “Karena giat bekerja ini itu, kamu lupa mengurus dirimu sendiri. Badanmu sekarang lebih kurus dari yang dulu. Kakek sedih melihatnya. Kakek mau Kamu enjoy bekerja, bukan semata demi mendapatkan banyak uang demi kita.”
“Iya Kek, Acha perbaikin diri.”
“Benar ya. Sebab hanya kamu yang kakek punya.”
“Acha paham Kek.” Rachel tersenyum, lalu angkat badannya, dipeluk sayang Muria. ‘Maafin Acha, Kek. Acha sudah tidak perawan.’ Dia kembali teringat kejadian semalam.
Keith yang masih mengamati semua itu, merasa terenyuh. Dia banyak bertemu perempuan, namun yang seperti Rachel yang dekat dengan keluarganya tidak ditemuinya. Rata-rata para perempuan itu sibuk dengan diri sendiri. Keith tidak suka itu. Keith menyukai perempuan yang dekat dengan keluarga, agar kelak dekat dengan keluarganya, dan Keith dekat dengan keluarga pasangan.
“Sudah-sudah.” Kekeh Muria melepas pelukan Rachel, “Sana lekas belanja, biar tidak kehabisan.”
“Iya Kek. Kakek pengen Acha masakan apa siang ini?”
“Apa pun yang Acha masak, Kakek pasti lahap memakannya.”
+++
Keith mengikuti Rachel diam-diam dengan berjalan kaki, karena Rachel pergi dari rumah berjalan kaki. Keith tertegun saat sampai di sebuah pasar tradisional. Dia tidak menduga Rachel akan ke pasar ini. Tapi Keith merasa salut, sebab Rachel yang cantik terpelajar, tidak segan ke pasar tradisional.
Keith terus mengikuti Rachel, penasaran Rachel mau belanja apa di pasar ini. Tampak olehnya, Rachel ke toko emas.
‘Rachel mau beli perhiasaan?’ tanya hati Keith heran, pelan dia membaur ke para customer toko itu, diamati apa yang Rachel lakukan. ‘Astaga!’ desaunya sebab melihat Rachel melepas gelang rantai yang menghias pergelangan tangan kanan Rachel, ‘Jangan-jangan dia menjual gelangnya. Apa karena dia sadar tas dan dompetnya tidak bersamanya?’ Keith feeling Rachel menjual gelang sebab sadar kehilangan tas dan dompet. Keith cepat memikirkan cara agar gelang itu tidak terjual, sebab dia teringat Rachel mengatakan gelang itu hadiah ulangtahun dari Emily, sebelum Emily meninggal.
Keith melihat petugas toko membawa gelang itu untuk ditimbang agar bisa ditaksir harga jualnya. Keith bergegas mendekati petugas itu.
“Stss!” Keith memanggil petugas itu, “Mbak!” dia melambaikan tangannya saat petugas itu melihatnya, “Kemari Mbak.” Ujarnya minta petugas mendekatinya, sambil melirik ke Rachel yang tampak menanti tapi tidak terlalu mengawasi sekitarnya.
Petugas itu mendekati Keith,
“Iya Mas?”
“Siapa pemilik toko ini?”
“Kenapa memangnya Mas?”
“Boleh saya bertemu sekarang juga? Penting banget.”
“Mas ini siapa?”
“Saya Keith Carter.” Keith segera mengeluarkan sehelai kartu nama dari dalam dompetnya, dikasih ke petugas itu, “Lekas ya, Mbak.”
“Baik Mas.” Petugas paham, lalu segera mengerjakan yang diminta Keith. Dia mendekati seorang pria berprofil wajah Cina keturunan, bicara sejenak sambil memberikan kartu nama Keith, lalu menunjuk ke Keith.
Pria itu bernama Ang Shu, sebenarnya kenal baik sama Emily. Dulu semasa Emily masih istri Ivan, Emily sering membeli perhiasan dari tokonya. Lalu saat Emily meninggal, Rachel terpaksa satu persatu menjual perhiasan Emily untuk pengobatan Muria. Ang Shu segera mendekati Keith.
“Tuan Keith?” Ang Shu menyapa Keith dengan sopan.
“Stss!” desis Keith, “Pelankan suara anda, agar tidak terdengar nona itu.” Pelan ditunjuknya Rachel, lalu menarik Ang Shu menjauh dari toko ini.
“Bapak kenal Acha?” tanya Ang Shu heran, dan sedikit menyelidik.
“Acha?”
“Perempuan itu dipanggilnya Acha. Nama lengkapnya Rachel.”
“I see.” Keith paham, “Gini Pak..”
“Saya Ang Shu, Pak.”
“Iya Pak Ang Shu. Gini, saya lihat Acha mau menjual gelangnya ke Anda. Betul?”
“Ha eh, iya Pak. Sepertinya untuk biaya pengobatan Jantung Kakeknya.”
“Kakeknya sakit Jantung?”
“Iya Pak.”
“I see.” Keith kini tahu kalo Muria memang mengidap penyakit serius. “Gini Pak Ang Shu, Saya minta Anda mengembalikan gelang ini ke Acha, dan memberinya uang senilai harga jual gelangnya itu. Uang untuk dia dari Saya.”
“Lalu saya bilang semua ini dari anda?”
“Tidak perlu.”
“Pak, Acha tidak akan mau. Acha harga dirinya tinggi. Pantang baginya menerima cuma-Cuma uang dari orang. Kecuali alasannya tepat dalam pikirannya.”
‘Iya sih,’ desau Keith tahu kalo Rachel punya harga diri tinggi.
“Atau gini saja, Pak.” Keith bicara lagi, “Bapak bilang ke Acha, bapak pinjamkan sejumlah uang senilai harga gelang, dan Acha bisa menebus kapan saja gelangnya. Nanti Bapak tolong antar gelang itu ke rumah Acha. Dibungkus kertas kado ya, biar kakeknya tidak shock tahu kalo Acha nekat menjual gelangnya. Ongkos kirim ke sana, saya bayar.”
Ang Shu mengamati Keith,
“Anda ini siapanya Acha?”
“Kekasihnya Acha.”
+++
Keith tampak gemas melihat Rachel menolak dikasih pinjaman sama Ang Shu, dan membawa kembali gelang itu.
‘Kamu tu ya,’ Keith gregetan, segera diikutinnya lagi Rachel. Tampak Rachel kini duduk di sebuah bangku kayu di depan warung makan. Terlihat Rachel resah. Keith menghela nafas, pelan duduk disebelah Rachel. “Rachel.” Pelan ditegurnya Rachel.
Rachel mengenali suara Keith, memutar badannya, dan mau berseru kaget, tapi cepat jari telunjuk tangan kanan Keith menyentuh permukaan bibirnya. Rachel lalu tampak gemas memandang Keith.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Rachel judes ke Keith.
“Menemaninmu belanja untuk kakekmu.” Sahut Keith kalem.
“Aku ngga belanja.”
“Karena kehilangan dompetmu?”
Rachel memandang Keith dengan heran, kok tahu?
Keith segera meraih tangan kanan Rachel, ditariknya Rachel berdiri bersamanya.
“Kamu mau apa?” Rachel berusaha melepas genggaman tangan Keith. “Keith, lepasin.” rengeknya pelan.
“Sudah jangan gengsi lagi.” Keith bicara kalem dengan senyum diwajah, “Ayo kita belanja untuk kamu dan kakekmu. Aku yang bayar.”
+ TO BE CONTINUE +