Bab 4 - Ditengahin Walter

1687 Words
Walter cepat datang lalu meraih tangan Rachel, bergegas dibawanya ke lift. Vienna tampak lega, sebab Walter membantunya. Walter tahu Rachel sedang shock, tidak bisa dipaksa menghadapi Keith. Jadi Walter memutuskan mengantar Rachel pulang, Vienna yang menghadapin Keith. “Mama!” Keith muncul dengan wajah panik, segera didekati Vienna yang berusaha tampak natural seolah tidak bertemu Rachel, atau tidak tahu kalo Keith bertengkar sama Rachel. “Mama lihat Rachel?” ditanya ibunya ini yang sebenarnya gugup. “Rachel?” tanya Vienna mulai berakting ke Keith. Tapi Dia lakukan sangat hati-hati, sebab Keith punya kemampuan membaca bahasa tubuh lawan bicaranya sangat baik. Kemampuan ini diturunkan dari Walter, dan dilatih oleh Brylee. “Bukannya bersamamu di kamarmu?” Keith menghela nafas, “Dia pergi, Ma.” “Pergi? Kenapa?” “Rachel marah ke Keith yang perawanin dia.” JRENG. Vienna tersentak mendengar Rachel masih perawan. “Rachel benar masih perawan seperti yang Nico bilang semalam?” tanyanya gugup. “Iya Ma. Keith yang perawanin dia.” Vienna menghela nafas, ‘Pantas Rachel shock. Kalo bukan perawan, saat Keith menjelaskan kenapa Keith mesrain Rachel, pasti Rachel tidak shock. Hanya marah biasa.’ Bisik hatinya. “Mama, lihat Rachel kah?” Keith menegur Vienna yang sedikit melamun. “Ooo,” Vienna tersadar, “Tidak Keith, Mama tidak melihatnya. Mama kan sedang sarapan.” Keith mengamatin Vienna, merasa curiga Vienna membohonginya, sebab saat Keith mengatakan Rachel perawan, Vienna tersentak kaget gugup, dan berpikir. Pasti Vienna bertemu Rachel, dan melihat Rachel shock. “Mama benar tidak melihatnya?” “Benar Keith.” “Lalu kenapa Mama di sini?” Keith melirik sekitar mereka yang adalah tangga dan lift, akses naik turun di rumah mewah ini. “Ooo,” Vienna melihat lirikan Keith, “Mama mau ke Ruang kerja Mama, mau menghubungin Walter. Soalnya sampai saat ini Walter belum menelpon Mama, untuk merespon laporan Mama mengenai kejadian Rachel di Leaf Link.” Dia menjadikan Walter alasan untuk melindunginnya dari ceceran Keith. “Ya sudah, Mama ke ruang kerja Mama dulu ya.” Dia segera memutuskan meninggalkan Keith. “Mama tunggu!” Keith menyergah Vienna pergi, pelan dia lebih ke dekat Vienna, lalu hidungnya mencium wangi parfum Walter. Hal lain hidungnya juga mencium aroma tubuh Rachel yang sedari mereka kenalan sampai mesraan semalaman mengisi penuh otaknya. Lalu Keith memang punya indera penciuman yang peka, dan mampu menghapal bau yang diciumnya. Mampu pula menghapal bau itu berasal dari mana. JLEB. Vienna menelan salivanya, feeling Keith mencium sesuatu dari dirinya. Keith bergegas lari ke lantai 3, menyambar dompet dan kunci mobil dari atas meja kerjanya, lalu segera keluar dari rumah ini. Dia harus menemukan Rachel, yang diduganya dilarikan Walter dari rumah ini. Vienna menghembuskan nafasnya, ‘Semoga Walter mampu menghadapin Keith. Keith tahu Walter melarikan Rachel dari Keith.” +++ Walter mengamati rumah lumayan bagus tempat tinggal Rachel dan Muria sejak Emily menikah sama Ivan. Rumah ini Ivan yang belikan untuk Emily, sebagai hadiah pernikahan mereka. Dan Ivan tidak mengambilnya saat pergi meninggalkan Emily. Ivan tahu Emily, Rachel, dan Muria membutuhkan tempat tinggal pribadi, bukan mengontrak. “Tuan.” Rachel menegur Walter, “Terima kasih mengantarkan Saya pulang.” “Sama-sama.” Walter tersenyum, “Kamu dan Keith biar sama-sama tenang dulu. Nanti kalo sudah tenang, baru bisa bicara dari hati ke hati. Keith bukan pria jahat atau hidung belang, Rachel. Yang dilakukan ke kamu, semua dari hatinya.” Rachel tersenyum getir mendengar ini. Dimatanya Keith pria b******k. Menolongnya, tapi memangsanya. Rachel kini tidak lagi perawan. “Rachel, apa boleh Saya bertemu Kakekmu?” “Untuk apa?” “Rachel, kamu semalam tidak pulang, pasti Kakekmu bertanya-tanya. Jadi biar Saya yang menjelaskan alasan yang dibikin Keith itu. Kalian pulang dari psikotest over night, terpaksa Keith membawamu ke rumah Paris sepupu Keith, dan karena kamu tidak mau merepotkan Keith atau Paris, kamu mau pulang sendiri. Maka saya sebagai paman kedua orang itu, mengambil alih keadaan, mengantarmu pulang. Menemui Kakekmu.” “Apa itu baik, Tuan?” “Kamu takut Kakekmu kena serangan Jantung?” Rachel menghela nafas, Walter mendengar pembicaraannya dengan Vienna. “Rachel, Kakekmu sakit Jantung?” Pelan Rachel menganggukan kepala. “Dari kapan?” “Kata Ibu, dari Kakek mengalami kebangkutan bisnisnya.” “Kakekmu bisnis dulunya?” “Iya Tuan. Maaf tidak bisa saya cerita lebih dari ini.” “Saya paham. Tapi izinkan Saya mengenal Kakekmu. Siapa tahu Saya bisa membantu beliau nantinya.” “Tidak perlu Tuan. Saya tahu Tuan dan Nyonya ingin membantu Keith menebus kesalahannya ke Saya.” Walter tersenyum mendengar ini, mau ditanggapin, tapi Ponselnya berdering. Dia tahu siapa menelponnya. Dia segera mengeluarkan Ponsel dari saku depan celana panjangnya, dijawab panggilam masuk dari Keith. “Ya Keith?” “Om sama Rachel sekarang di mana?” tanya Keith sambil mengemudikan mobilnya di jalan raya. “Kenapa Kamu mengira Om sama Rachel saat ini?” “Please Om, Keith tahu Om membawa Rachel keluar dari rumah, dan Mama menghadapin Keith.” Walter menghela nafas, ‘Anakku duplikatku ini. Pantang menyerah saat hatinya sudah tersentuh cinta.’ “Please Om kasih tahu Keith.” “Keith baiknya sementara ini kalian berdua menenangkan diri. Nanti kalo sudah tenang, baru kalian bicara berdua.” Keith menghela nafas, lalu, “Apa Rachel ada di dekat Om? Tolong izinkan Keith bicara sama Dia.” Walter menghela nafas, dipandangnya Rachel yang tampak memalingkan wajah saat mendengarnya menyebut nama Keith. Walter pelan membujuk Rachel, “Bicara sebentar dengannya. Paling tidak membuatnya tenang, jadi konsentrasi menyetir. Keith saat ini sedang mengemudikan mobilnya.” Rachel menghela nafas, hatinya tidak tega mendengar ini, diambil Ponsel dari tangan Keith. “Ya Keith.” “Thanks God!” Keith lega mendengar suara Rachel, “Sayang, apa Kamu sudah sampai di rumahmu?” ditanyanya Rachel, tidak diungkit kenapa Rachel pergi tanpa pamit ke dia. Dia ingin Rachel perlahan percaya bahwa Dia pria baik, bukan seperti Robert. “Sudah Keith.” “Syukurlah.” Keith lega, “Sekarang Kamu istirahat dulu ya. Nanti Aku ke rumahmu, kita ngobrol sama Kakekmu juga.” “Ngga usah Keith.” “Please sayang, jangan menghindar dariku. Aku tahu bersalah ke Kamu, namun izinkan Aku menebusnya.” “Keith, Aku sudah bilang kan, kita tidak lagi saling kenal. Jadi jangan memaksakan dirimu menebus kesalahanmu ke Aku.” +++ Vienna segera menyongsong Walter yang baru turun dari mobil Walter. Tampak Vienna cemas dan penasaran. “Gimana?” tanya Vienna begitu mereka berhadapan, “Kamu ketemu Kakeknya?” Walter menggelengkan kepala, “Rachel tetap melarangku bertemu Kakeknya.” “Astaga.” Walter membawa mereka ke teras depan, duduk di kursi tamu. “Mana Keith? Apa sudah pulang?” “Belum. Dan ngga bisa dihubungin.” “Sudah biarkan saja dulu. Biar Dia kali ini merasakan tidak semudah itu mengatakan bertanggungjawab. Karena Rachel punya harga diri tinggi. Keith melukai harga diri itu, membuat Rachel menolak Keith.” “Lalu gimana sekarang?” “Aku sudah utus Steve untuk mencari tahu lebih banyak mengenai Rachel dan Kakeknya. Sebab kulihat rumah Rachel boleh dikatakan rumah bagus. Tapi kenapa Rachel susah payah ikut psikotest itu, padahal dalam curriculum vitaenya di Aku, Rachel hanya lulus SMU.” “Rachel hanya lulus SMU?” “Yup. Tapi Robert menilai Dia ada kemampuan writing iklan, jadi Robert memanggilnya untuk ikut psikotest itu.” “I see. Tidak mengapa, Rachel bisa melanjutkan sekolah. Aku akan kasih Dia beasiswa untuk itu.” “Tunggu Keith dulu. Rachel bukan perempuan yang mudah menerima ini itu dari orang yang baru dikenalnya.” +++ Rachel duduk di bangku meja riasnya, tampak sudah mandi dan memakai kaos dan short pants. Rachel mengamati dirinya, teringat kembali awal kejadian yang membuat Keith mesrain dia. Air matanya berlinang lagi. Dia merasa membenci Keith. Tidak menyangka Keith yang dikenalnya saat psikotest punya kepribadian baik dan menyenangkan, ternyata mampu perawanin dia, di saat dia dalam keadaan antara sadar dan tidak akibat obat perangsang itu. Sementara di luar, Muria merasa terjadi sesuatu atas Rachel. Sebab Rachel sejak pulang, tampak murung, dan kedua mata Rachel pun sedikit bengkak merah akibat lama menangis. Muria tidak pernah melihat Rachel seperti ini, sebab Emily dan dia mendidik Rachel kuat mental. Karenanya Rachel tidak gentar setelah Emily meninggal, bekerja apa saja, termasuk menjadi penulis. Rachel mencoba peruntungan di Agensy periklanan untuk posisi Copy Writer, namun yang didapatnya kenistaan, sebab Keith mengambil kesuciaanya. Sementara di sebuah Pantai di Jakarta, Keith duduk di bangku mobilnya. Pintu mobil dibiarkan terbuka. Dia dari kecil menyukai Pantai dan Laut. Setahun awal Brylee meninggal, Keith sering menyendiri di Pantai. Mengenang saat-saat indah bersama Brylee. Brylee mendidiknya bermacam ilmu pengetahuan dan akhlak, namun juga melimpahkan perhatian yang membuat Keith sangat dekat dengan Brylee. Keith menghela nafas, dibuangnya kaleng bir dingin ditangannya ke sembarang tempat, lalu meraih tas Rachel yang tertinggal di dalam mobilnya. Keith lupa menurunkan tas itu. Baru teringat saat Dia mencoba menelpon Rachel, tapi dari dalam tas terdengar deringan Ponsel. Tahu lah dia bahwa dia lupa menurunkan tas itu. Dia lalu mengeluarkan dompet Rachel, mengecek isinya. Dia menghela nafas, Rachel hanya membawa uang ngepas untuk ongkos pulang kemarin. Apa Rachel mau menarik uang tunai di anjungan Mesin ATM di Leaf Link untuk menambah keuangannya? Tapi kan keburu ada insiden itu. Dia lalu mencari kartu identitas Rachel. Saat ditemukan dibaca sesaat identitas Rachel, lalu segera diphoto Kartu itu, dan Kartu Debit milik Rachel dengan Ponselnya. Setelah itu disimpan kembali kedua kartu ke card holder di dompet, dan matanya melihat photo di bawah card holder. Dia mengamati photo itu yang adalah photo Rachel saat remaja bersama Emily dan Muria. Itu photo terakhir Rachel dengan Emily. ‘Kamu blasteran ini.” Keith melihat Muria yang roman Italynya kental ketimbang kombinasi Italy Indonesia. ‘Rasaku kakekmu orang Italy, karena namamu memakai nama keluarga negara itu. Espanola. Rasaku juga Kakekmu orang terpelajar dan terhormat. Pantas Kamu punya harga diri tinggi. Tidak mudah menerima penyesalanku.’ Keith lalu mengambil photo itu, disimpan ke dalam dompetnya. Paling tidak, saat Rachel masih belum mau bertemu dia, adanya photo itu bisa melepas kerinduannya ke Rachel. Keith lalu menyimpan Tas Rachel di bawah bangku mobilnya, berdiri, menjauhi mobil, baru berteriak lantang menghadap Lautan biru, “Rachel! Aku tidak akan menyerah! Aku menyukaimu! Merasa suka ini karena cinta!” + TO BE CONTINUE +
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD