“Permisi Nyonya besar.” Veron menegur Vienna yang siap sarapan ditemanin Nico dan Austin. “Ada Tuan Walter.” digeser dirinya, agar terlihat oleh Vienna siapa pria yang bersamanya menemui Vienna.
Vienna, Austin, dan Nico mau berdiri demi menyongsong Walter, tapi Walter cepat mengangkat satu tangannya ke udara, minta mereka tetap duduk.
“Veron,” Vienna memanggil Veron, “Lekas minta Anung menyiapkan piranti makan dan minum untuk Walter. Biar dia sarapan bersama Kami.”
Walter Salvador dulunya adalah suami Vienna. Mereka menikah tanpa persetujuan orangtua Vienna, sebab dulu Walter belum Billionaire seperti sekarang. Sedangkan orangtua Vienna berharap Vienna menikah sama Billionaire, agar mengubah nasib mereka yang hanya hidup mengandalkan Restoran cepat saji yang sederhana.
Kemudian Vienna mengandung Keith, dan Walter pamit mau ke Italy. Walter ingin memberitahu mengenai pernikahan mereka ke orangtua Walter. Walter janji segera kembali. Namun ternyata pesawat yang ditumpangin Walter mengalami kecelakaan, dan dikabarkan Walter meninggal. Vienna mendengar ini merasa dunia runtuh seketika.
Vienna tidak mungkin kembali ke orangtuanya di Singapura. Dia pun pulang dari pemakaman Walter dengan pikiran melayang kemana-mana mengenai masa depan Keith. Saat itu mobil Brylee nyaris menabraknya. Dan Vienna pun pingsan dipelukan Brylee. Brylee segera membawa Vienna ke Rumah Sakit terdekat, ketahuanlah Vienna sedang mengandung Keith.
Brylee merasa fall in love sekaligus iba ke Vienna, setelah mendengar semua cerita Vienna. Brylee lalu membelikan satu unit Penthouse untuk Vienna di Los Angeles tempat kejadian tersebut. Brylee juga memenuhi semua yang Vienna butuhkan selama mengandung Keith. Bahkan tidak segan mengakui Vienna istrinya, saat dia menemani Vienna kontrol kandungan.
Saat Keith lahir, Brylee sangat bahagia, merasa dirinya menjadi ayah. Brylee yang memberi nama ke Keith, dan mencantumkan namanya sebagai ayah biologis Keith. Vienna tidak kuasa mencegah semua yang dilakukan Brylee, sebab merasa berhutang budi ke Brylee. Namun Brylee mengatakan semua itu karena Brylee mencintai Vienna, berharap Vienna berkenan menikah dengannya. Apa pun yang Vienna minta, Brylee berikan, asalkan Vienna berkenan menjadi istri tercinta Brylee.
Brylee juga berjanji akan membuat orangtua Vienna memaafkan Vienna, asalkan Vienna berkenan mengatakan bahwa Keith anak kandung Brylee. Ini agar Vienna tidak dipaksa orangtua Vienna membuang Keith demi menjadi istri Brylee, atau orangtua Vienna melakukan upaya membunuh Keith agar Vienna tenang menjadi istri Brylee. Brylee sangat menyayangin Keith. Brylee pun berjanji, jika dari pernikahan mereka akan lahir adiknya Keith, Keith tetap utama dalam hidup Brylee.
Vienna tersentuh hati dengan semua keseriusan dan ketulusan Brylee, menikah dengan Brylee, dan bahagia bersama Brylee. Namun setahun sebelum Brylee meninggal,Vienna bertemu Walter yang sudah Billionaire pemilik Salvador Company. Awalnya Vienna mengatakan Keith meninggal, yang ada Keith anak kandung Brylee. Namun Walter tidak semudah itu percaya, sebab menyelidiki riwayat kesehatan Brylee yang mana menunjukan Brylee mandul.
Walter tidak akan mengambil Vienna dan Keith dari Brylee, sebab dia tahu cinta Brylee luar biasa besar untuk keduanya. Walter hanya minta Vienna dan Brylee membiarkannya dekat sama Keith, tidak perduli apa status Walter bagi Keith. Brylee memenuhi hal itu, menyadari bahwa Walter meninggalkan Vienna karena kecelakaan pesawat.
Walter selamat dari kecelakaan itu, sebab ditolong Sandra yang saat itu melihat kecelakaan terjadi. Sandra seorang Wartawan yang tengah mencari berita. Sandra segera menyisiri sekitar pesawat, menemukan Walter masih hidup. Sandra cepat menolong Walter, dibawa ke rumah sakit, dan dirahasiakan dari umum, sebab Sandra kesemsem sama Walter. Walter kemudian kehilangan ingatan, hanya ingat Vienna.
Namun Walter sadar Sandra penyelamatnya, sehingga memutuskan menikahin Sandra yang saat itu tengah mengandung Allen putra Sandra dari almarhum suami Sandra. Sejalan waktu ingatan Walter pulih, diiringin kemudian bisnisnya semakin maju, Sandra terkena Kanker p******a. Sandra minta Walter menemukan Vienna, tapi tetap memomong Allen. Sebab Allen sangat dekat dengan Walter yang dikira ayah kandung Allen.
“Vie.” Walter duduk di sebelah Vienna, “Mana gadis yang nyaris dinodain Robert?” ditanyanya Vienna, “Apa semalam sudah sadar, dan Keith mengantar pulang gadis itu ke orangtua gadis itu?”
Vienna menghela nafas, “Keith tidak mengantar ke orangtua gadis itu.”
Walter terdiam, lalu memandang Vienna,
“Jangan bilang kalo Keith.” tidak diteruskan kalimatnya, feeling putranya mesrain Rachel.
“Walter, gadis itu semalam masih dalam pengaruh obat yang Robert kasih, dan rasaku itu menyulut gairah Keith.”
Walter menepuk keningnya, lalu menghela nafas. Feelingnya tepat banget.
“Kamu tenang saja,” Vienna bicara lagi, “Keith sudah berjanji bertanggungjawab atas Rachel dan kakeknya Rachel. Keith pun mengaku tersentuh hati ke Rachel.”
Walter kembali menepuk keningnya, “Ya sudah just wait and see.” desaunya.
Vienna tersenyum tipis, “Kamu keberatan kalo Keith segera meminang Rachel?”
“Tidak ada aku mengatakan itu. Yang kumaksud just wait and see, kita lihat perkembangan dari kenakalan Keith ke Rachel. Kita siap-siap diri meminang Rachel, semisal Keith tokcer dan Rachel disenggol langsung isi.”
Sementara di lantai 3.
PLAK..
Tangan Rachel mendarat keras di pipi Keith. Tampak Rachel penuh amarah ke Keith. Air mata Rachel berlinang saat ini. Untung saat Rachel menampar Keith, Keith sudah menaruh baki ke meja.
Keith menahan dirinya, sadar sudah melakukan kemesraan dengan Rachel, tanpa izin Rachel. Dan kemesraan itu tanpa keduanya memakai pengaman.
“Kupikir.” Rachel bicara dengan menatap marah Keith, “Kamu pria baik. Ternyata kamu sama dengan Pak Robert. Menjeratku dengan obat perangsang itu!”
“Tidak benar semua itu, Rachel.” sela Keith membela diri, “Aku tidak menjeratmu dengan obat itu. Aku membawamu kemari untuk mengeluarkan obat itu dalam dirimu. Tapi ternyata obat itu sangat kuat dalam dirimu, sehingga menyulut gairahku, dan,”
“Dan kamu lakukan ke Aku? Kamu pikir Aku murahan, Keith?”
“Rachel, tidak ada terpikir olehku hal itu.”
“Buktinya Kamu mampu melakukan itu.”
“Rachel, Aku pria normal, dan tersentuh hati dari awal kita berkenalan.”
“Apa pun itu, Aku menyesal mengenalmu.” Rachel semakin berlinang air mata, “Sampai disini saja perkenalan kita. Anggap saja tidak pernah kita saling mengenal.” Dia memutuskan untuk tidak mengenal lagi Keith, lalu bergegas lari ke Tangga.
“Rachel tunggu!” seru Keith segera mengejar Rachel, “Rachel, Aku pasti bertanggungjawab atas semua hal yang terjadi semalam.” diraihnya lengan Rachel, saat gadis ini menurunin tangga.
“Tidak perlu!” Rachel menyentak lengannya, agar terlepas dari pegangan tangan Keith, “Aku tidak perlu diberikan konpensasi apa pun. Aku sial sebab mengenalmu.” Dia kembali menurunin tangga.
“Rachel!” Keith kembali mengejar Rachel, kembali ditangkap lengan Rachel, “Tenang dulu, kamu bisa terpleset jatuh menurunin tangga dengan emosi dan air mata berlinang.” pintanya sebab Rachel emosi dan air mata berlinang menurunin Tangga. “Baik, kalo kamu mau pulang.” Dia mengalah, memenuhi keinginan Rachel yang keras ingin pulang.
“Apa Aku ada muka untuk pulang dan bertemu Kakek setelah semua yang Kamu lakukan?” tanya Rachel dengan suara keras dan parau disertai isak tangisnya.
Sementara pertengkaran ini terdengar ditelinga Vienna, Walter, Austin, dan Nico. Mereka bergegas meninggalkan Ruang makan, mengawasi keadaan dari pintu antar ruangan.
“Aku temanin Kamu menemui Kakekmu.” Keith sedikit keras suaranya, berusaha meredam emosi Rachel.
“Lalu kamu bilang mengenai yang terjadi sama kita?”
“Tidak saat ini. Paling tidak Aku bisa mengatakan, semalam psikotest berlangsung lama, kamu terpaksa kubawa menginap di rumah Paris sepupuku. Lalu aku jemput kamu dari Paris, dan antar kamu ke Kakekmu.”
“Tidak perlu, Kakek tidak akan percaya ceritamu.”
“Pasti percaya asalkan Kamu ganti pakaianmu dengan yang lain.” Keith menunjuk baju tidur dibadan Rachel, “Tapi kalo kamu pulang dengan pakaian ini, Kakekmu tidak percaya ceritaku. Bahkan tidak percaya ceritamu.”
“Ya sudah mana semua bajuku?” Rachel kena dengan omongan Keith, dilirik dirinya yang memang masih menggenakan baju tidur.
“Semua bajumu sudah dirusak Robert. Tapi Aku sudah belikan yang baru wat Kamu. Ayuk kamu kembali ke kamarku. Mandi, pakai baju barumu, lalu sarapan sedikit, dan kuantar menemui kakekmu.”
“Dimana baju itu?”
“Di kamarku.” Keith kembali menjelaskan bahwa baju yang dibelikan Vienna sebenarnya sudah Vienna taruh di kamarnya, “Please, kita ke kamarku. Lalu kamu segarkan dirimu, pakai bajumu, baru sarapan. Setelah itu Aku antar kamu pulang.”
Rachel menghela nafas, tidak ada pilihan. Dia ikut Keith kembali ke kamar Keith. Keith lalu kasih tas itu ke Rachel, dibawa Rachel ke depan kamar mandinya.
“Mandilah. Aku tunggu kamu di teras depan kamarku ini.”
Keith lalu meninggalkan Rachel, ke teras depan kamar. Rachel bergegas berganti baju, lalu diam-diam pergi dari Keith. Namun Vienna cepat mencegat Rachel.
“Rachel.” Vienna mencegat Rachel disuruh Walter. Walter tidak mau Rachel pulang tanpa diketahui Keith. Bisa hancur hati Keith. “Aku Vienna mamanya Keith.” Dia perkenalkan dirinya sebab Rachel mengamatinya dengan heran, “Ayuk kita ngobrol di ruang keluarga di lantai dasar.” dipegang lengan Rachel, diberikan rasa nyaman untuk Rachel yang shock ini. “Ayo nak.”
“Bu,” Rachel pelan melepas tangan Vienna, “Maaf, izinkan Rachel pulang.”
“Lalu gimana Keith? Keith sudah berjanjikan mengantarmu pulang, dan melindungimu dari kakekmu.”
“Tidak perlu semua itu, Bu. Nanti kakek malah kena serangan jantung.”
“Kakekmu sakit jantung?” Vienna terkejut mendengar ini, ditatapnya Rachel dengan menyelidik.
JLEB.
Rachel tersentak mendengar ini. Tersadar kelepasan omongan mengenai Muria Espanola kakeknya, ayah kandung ibunya. Muria blasteran Italy Padang. Tadinya pengusaha sukses di Jakarta, lalu mengalami kebangkrutan sehingga hidup sederhana bersama Emily ibunda Rachel. Emily kemudian menikah sama Ivan pengusaha muda. Sayangnya Ivan selingkuh dan kabur dengan perempuan lain. Terpaksalah Emily kerja keras untuk Rachel, dirinya, dan Muria.
“Rachel?”
“Ibu, maaf, izinkan Rachel pulang. Keith dan kalian tidak perlu bersusah payah bertanggungjawab atas kenakalan Keith.”
Vienna menghela nafas, gadis ini harga dirinya tinggi, tidak mudah diiming sesuatu.
“Rachel!” terdengar suara Keith yang panik, “Rachel, kamu dimana?” dia kelimpungan tidak menemukan Rachel di kamarnya, “Rachel!”
Rachel dan Vienna saling memandang mendengar suara Keith yang panik kehilangan Rachel. Tampak Rachel memohon agar Vienna membantunya lepas dari Keith. Vienna menghela nafas, bingung harus bagaimana.
+ TO BE CONTINUE +