***
Dengan pakaian serba hitam, Naila bersandar di dinding dapur. Sementara semua keluarga berbondong-bondong pergi ke pemakaman untuk menguburkan Aksa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Air mata meluncur bebas di pipi Naila. Kejadian tadi malam seakan mengutuknya dengan telak. Ia tidak sanggup melihat Aksa disemayamkan. Terlalu berat dan sakit. Naila meremas dadanya.
"Kamu nggak ikut ke pemakaman Aksa?" Angga yang sejak tadi mencari keberadaan Naila akhirnya menemukan Naila di sini.
"Aku nggak sanggup, Kak. Aku nggak sanggup." Naila menggeleng. "Gimana bisa aku ngeliat orang yang paling aku sayang pergi? Dikubur di antara tanah-tanah merah. Ini terlalu berat buat aku."
"Tapi kamu istri Aksa. Kamu harus ada di sana. Kasian Aksa, kamu nggak nganter dia ke tempat peristirahatan terakhirnya," bujuk Angga.
Namun Naila hanya diam, menatap lurus ke depan, berusaha menahan tangis. Tak menganggap kata-kata Angga, sibuk dengan kesedihannya. Angga memandang Naila iba, tangannya terangkat dan mengusap bahu Naila pelan. Oke, dia mengerti perasaan Naila, Angga tak akan memaksa. Detik berikutnya, Angga pun melangkah pergi, ikut dalam pemakaman jenazah Aksa. Tubuh Naila tergelosor. Memeluk kedua lipatan kakinya sendirian, di antara kesunyian. Matanya terangkat, Naila menyeka air mata.
***
Proses pemakaman telah selesai dilaksanakan. Orang-orang mulai meninggalkan area pemakaman, tinggal tersisa keluarga terdekat. Belinda, Satria dan Angga. Suasana berkabung sedang melingkupi. Memang berat rasanya, kehilangan orang tersayang. Namun, siapa yang bisa melawan takdir? Usia, jodoh, dan rezeki sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Tugas kita hanyalah menerima baik. Anggap kalau kehendak Tuhan adalah jalan yang paling terbaik.
Belinda masih menangis, menaburi bunga-bunga di atas makam bertanah merah dan masih basah itu sambil berjongkok. Melihat batu nisan bertuliskan Aksa Wijaya yang berada di ujung makam, membuat hati Belinda kembali tergores. Di belakang, Satria berusaha menenangkan istrinya, agar dia mau belajar ikhlas, kuat dalam menghadapi cobaan.
"Aksa anak yang baik, Pah. Mama yakin, dia pasti udah tenang di sana. Tapi kenapa dia tega ninggalin Mama?" suaranya patah-patah. "Aksa anak kesayangan Mama, kamu jahat. Mama udah nurutin semua kemauan kamu, tapi kenapa sekarang kamu malah ningglin Mama?" Belinda bersedu-sedan. Wajah Aksa ketika ia masih kecil masih terbayang-bayang dengan nyata.
Satria mengajak Belinda untuk berdiri, berhenti menangisi Aksa yang telah tenang di atas sana. Istrinya itu lekas memeluk Satria. Kedua bahunya berjengit. Sebagai seorang Ibu yang melahirkan, membesarkan, merawat, dan menyayangi dengan penuh kasih sayang, Belinda merasakan sakit yang luar biasa. Harus kehilangan putranya yang masih sangat muda. Yang masih mempunyai masa depan jauh. Harapan-harapan kepada Aksa telah pupus.
Angga memandang kuburan Aksa dengan kenangan-kenangan yang pernah terjalin dengan adiknya di benak. Pasti ia akan merasakan kesepian, teman untuk bertengkar dan becanda telah tiada. Angga kehilangan sosok adiknya.
Naila berlarian mencari makam Aksa di antara makam-makam yang berjajar, dari makam yang telah ditumbuhi rumput, hingga yang masih basah. Sadar kalau ia telah salah, seharusnya ia ikut menemani kepergian Aksa. Tangannya terus mengusap pipinya. Naila berhenti berlari, dia tiba di dekat makam Aksa. Naila tidak percaya ini. Melihat kuburan suaminya, seperti melihat hal paling mengerikan di dunia fana. Angga yang melihat keberadaan Naila, hanya diam. Belinda masih sibuk menangis dalam pelukan Satria.
Pelan-pelan, Naila berjongkok, menatap gundukan tanah yang telah ditaburi bunga-bunga. Melawan ketakutan untuk tidak melihat tempat peristirahatan terakhir Aksa. Mata yang telah mengering, kembali dialiri air mata. Setelah sekian menit menatap kuburan itu, Naila bersuara. "Katanya kamu pengin kita punya anak 10, biar kamu bisa ejek aku sepuasnya sama kesepuluh anak kita. Kenapa? Kamu marah karena aku sempet nolak? Itu sebabnya kamu pergi ninggalin aku? Gara-gara kamu, satu anak dari kesepuluh anak kita pergi. Aku nggak bisa jaga anak kita, maafin aku." Naila langsung memeluk batu nisan bertuliskan nama Aksa Wijaya itu. Menangis sesenggukan, membayangkan kalau yang dipeluknya itu adalah tubuh Aksa. Tubuh yang menjadi penghangat ketika ia bersedih, dan tangannya, akan dengan sabar mengusap air mata Naila. "Aksa jangan tinggalin aku... Jangan tinggalin aku... Aku mohon..." buliran bening terus berlinang.
Belinda yang baru menyadari keberadaan Naila, melepas kepalanya dari pelukan Satria, menoleh pada Naila yang sedang bersimbah air mata, menciumi batu nisan Aksa. Sambil terus memandang Naila penuh kebencian, Belinda mendekat. Sekarang ini ia ingin sekali memaki seseorang yang menjadi penyebab kematian anaknya. Belinda tiba di sebelah Naila, Naila berhenti menangis. Perempuan itu segera berdiri dan menghadapi mertuanya.
"Ma, dia bukan Aksa, Ma. Naila yakin itu. Aksa nggak mungkin ninggalin aku. Dia janji sama aku untuk pulang ke rumah. Aksa nggak mungkin meninggal. Mama pasti bisa ngerasain sesuatu, kan? Mama pas---"
Belinda menampar pipi Naila keras, sampai menimbulkan suara. Satria dan Angga sama-sama terkejut. Terutama Naila. Aura ketegangan segera membungkus.
"Diem kamu! Jangan bicara lagi! Kamu yang udah nyebabin ini semua! Ini semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu anak saya meninggal! Gara-gara kamu saya kehilangan anak kesayangan saya! Kamu perempuan pembawa sial Naila! Kenapa Aksa yang harus meninggal?! Kenapa?! Kenapa bukan kamu?! Kenapa?!" Belinda mencengkeram kedua bahu Naila dan menggoyangnya keras. Emosi meluap tanpa ada ampun, tanpa ada jeda. "Kalau aja anak saya nggak ngotot pengin nikah sama kamu semua ini nggak akan pernah terjadi! Harusnya saya larang Aksa buat nikah sama perempuan macam kamu! Kamu yang membutakan hati anak saya!! Saya benci kamu Naila!!!" Belinda berada di puncak histeris. Angga segera mengambil tindakan, dia beringsut mendekati Belinda dan Naila, berusaha menjauhkan mamanya yang murka dari Naila yang tak berdaya. "Saya muak sama kamu! Saya benci sama kamu! Aksa meninggal gara-gara kamu!"
"Naila juga nggak mau Aksa meninggal, Ma. Mama harusnya ngertiin Naila jugaa. Naila tau Mama terpukul atas kematian Aksa, tapi tolooong, Naila juga kehilangan Aksa." Naila membela dirinya dengan berusaha bicara apa adanya.
"Tapi kalau dia nggak nikah sama kamu, semua ini nggak bakalan pernah terjadi! Saya tau, gara-gara kamu Aksa pulang lebih awal! Saya sering denger kamu teleponan sama dia, kamu bilang kamu kangen dia. Kepulangan Aksa itu harusnya hari ini, dan seharusnya hari ini dia masih ada, dia nggak bakalan meninggal! Dia nggak akan ninggalin saya!" Belinda seolah sedang mengamuk tingkat tinggi. Matanya berkilat-kilat dan memerah.
Naila menangis tak tertahan, tertunduk tidak berani melihat tatapan kebencian yang dilemparkan Belinda. Satria menggeleng, tidak setuju dengan rajukan Belinda terhadap Naila. "Belinda. Semua ini takdir. Tuhan yang udah mengatur semuanya. Kamu nggak bisa nyalahin Naila secara sepihak. Dia juga sama-sama terpukul karena sama-sama kehilangan Aksa. Salah kalau kamu nyalahin dia."
"Pikir pakek logika, Pah!" Belinda beralih menatap suaminya, wajahnya merah padam. "Harusnya Aksa pulang hari ini. Kalau dia pulang hari ini, dia nggak bakal ngalamin kecelakaan maut itu!" kembali ditatapnya Naila yang masih terisak. "Itu semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu! Gara-gara kamu! Perempuan pembawa sial!"
"Mama stop. Kasian Naila. Bener kata Papa, Mama nggak bisa nyalahin dia. Naila juga nggak tau kalau Aksa bakal ninggalin kita secepat ini."
"Kamu belain perempuan yang udah jelas-jelas salah ini?!"
"Kalau Naila salah Naila minta maaf, Ma. Tapi Naila mohon, jangan benci Naila," lirih Naila. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di d**a Angga, hanya kepada dialah ia bisa berlindung. Angga mengusap-ngusap punggung Naila, berbisik supaya dia tidak terlalu memercayai perkataan mamanya. Mamanya itu hanya sedang emosi karena belum bisa menerima kematian Aksa yang mendadak.
Belinda kembali menangis. Kebencian terhadap Naila semakin menggebu-gebu. Mereka semua berlarut dalam kesedihan.
***
Mereka kembali ke rumah membawa kepedihan. Sepanjang perjalanan Angga yang selalu mendampingi Naila. Naila bingung, bertanya-tanya, mengapa ayahnya tidak datang di pemakaman Aksa.
Belinda menghentikan langkah begitu berada lima langkah dari pintu utama. Naila dan Angga yang berada di belakang ikut berhenti. Belinda membalikan badan, menghunuskan pandangannya kepada Naila.
"Kamu ngapain ikut ke sini? Pergi. Aksa udah nggak ada. Jadi kamu udah nggak punya hubungan apa-apa lagi sama keluarga ini. Kemas barang-barang kamu, dan pergi. Menjauhlah dari keluarga kami."
Naila memejamkan matanya.
"Loh, nggak bisa gitu dong, Ma. Kita kasih waktu Naila untuk nenangin diri di sini," protes Angga ---yang lagi-lagi membela Naila. Dia adalah istri Aksa, sudah kewajibannya untuk menjaga Naila. Karena Angga sangat yakin, Aksa tidak terima jika Naila diperlakukan tidak baik.
"Kamu mau jadi Aksa ke dua Angga? Mau belain dia? Percaya sama dia?"
"Mama harusnya inget Aksa. Dia nggak bakal sedih kalau Mama bentak-bentak Naila. Apa Mama nggak inget pesan Aksa sebelum dia pergi?"
Satria tidak bisa berbuat apa-apa. Bicara pun rasanya sulit. Percuma melarang, istrinya akan bersikukuh untuk mengusir Naila dari sini. Hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk berbicara baik-baik dengan Belinda.
"Oke tante." Naila tahu Belinda tak akan sudi dipanggil 'Mama' oleh dirinya. Hubungan mereka telah putus sejak kematian Aksa. "Naila bakalan pergi."
"Loh Naila?"
"Nggak pa-pa, Kak."
Dengan matanya yang sembab, Belinda mendelik. Baguslah.
"Tapi izinin Naila buat ganti pakaian dulu. Cuma 10 menit." Naila bergegas melangkah menuju kamarnya. Angga menjangkau kepergian Naila dengan gelisah. Secepat itukah dia mengambil keputusan?
"Mama heran. Kenapa sejak tadi kamu belain perempuan itu terus. Padahal, di sini, dalam hal ini, Mama yang paling terluka Angga! Harusnya kamu ada di sebelah Mama, bukan dia!"
"Ma, bukannya Angga belain Naila. Angga juga kasian sama Naila, dia kehilangan Aksa, suaminya. Kita sama-sama kehilangan. Mama jangan egois, dong."
"Dan Mama ini mamanya Aksa. Dan perempuan itu, dia yang bikin adik kamu meninggal. Harusnya kamu sadar itu! Kamu mau jadi anak yang durhaka udah bilang Mama egois?"
"Tapi Ma..."
"Aaaah! Mama males denger alasan kamu!" Belinda malas melanjutkan konfrontasi ini. Tak akan pernah ada ujung.
Angga memandang mamanya serbasalah.
***
Naila membuka pintu kamar, suasana lengang menyambutnya. Sinar matahari masih setia menerangi. Tapi yang dirasa, hanya keredupan. Cahaya menyelimuti, tapi dunianya gelap. Sunyi dan sepi. Bantal dan selimut tertata rapi dengan sangat sempurna. Di sinilah, di tempat inilah, dulu dia dan Aksa beristirahat setelah melaksanakan pernikahan yang sangat melelahkan. Bahkan Aksa sempat mengatai Naila jelek, meski memakai make-up pun, dia masih saja jelek. Naila ingat Aksa pernah menjatuhkan tubuh Naila di atas kasur itu. Hingga akhirnya, mereka melalukan malam pertama dengan suasana romantis.
Kaki itu mengayun lemah. Naila duduk di atas karpet, meletakkan kepalanya pada tepian kasur. Air mata jatuh lagi. Tujuan ia kemari bukan untuk berganti pakaian, melainkan untuk mengenang kebersamaan ia ketika sedang bersama Aksa sebelum mereka memutuskan untuk pindah. Hanya butuh waktu 10 menit Naila merenung. Di atas kasur ini, mereka pernah tidur bersama, berpelukan, dan bercerita. Kadang becanda. Sebelum tidur, Aksa tak lupa untuk selalu mencium kening Naila. Entah sekali, atau lebih dari dua kali. Naila terisak memeluk tubuhnya sendiri. Aksa juga pernah membenamkan bibirnya di bibir Naila dengan posisi duduk, di tengah ranjang, dengan baju piama yang sama. Saat ciuman itu berlangsung, tangan Aksa menjelajahi punggung Naila. Lalu Aksa berkata, "Sekarang nggak bakal ada yang larang kita untuk ngelakuin itu. Semuamya bebas. Aku milik kamu, kamu milik aku. Papa kamu nggak akan larang."
Meski berusaha untuk tetap kuat, tetap saja Naila tidak bisa menahan laju air mata. Dadanya sesak, bagai ditindih beban berat berton-ton. Kembali tangannya meremas d**a dan memukulnya. Naila merindukan Aksa. Ia ingin menumpahkan segala keluh kesah kepadanya. "Aku kangen kamu Ian." Seprai kasur itu basah. Terlalu banyak air mata yang berjatuhan.
Mata Naila beralih pada sebuah bingkai foto pernikahan yang tersemat di atas bufet. Ada Aksa dan dirinya yang sedang memakai busana pengantin. Ekspresi penuh sukacita mendominasi. Aksa tampak sangat tampan dengan kameja hitamnya, senyum manis membingkai wajahnya. Naila meraih pigura itu, memandangnya walau matanya buram. Mengotrol tangisnya. Berkali-kali dadanya naik-turun.
"Kita lewatin kebersamaan kita di sini selama dua minggu. Banyak kenangan yang indah. Walaupun sebentar, kamu berhasil bikin aku nggak bisa lupain masa-masa indah kita. Memori yang nggak akan pernah bisa aku ilangin. Suara kamu, senyuman kamu, cubitan kamu di pipi aku, aku nggak akan pernah lupa. Gimana bisa aku kembali ke rumah kita? Di sana terlalu banyak kenangan kita Aksa. Ledekan-ledekan yang selalu kita keluarin. Tentang kita yang selalu beres-beres rumah sama-sama. Tentang kamu yang marah-marah setiap kali aku nyalain lagu yang aneh yang ngeganggu tidur kamu. Kamu..." senyum Aksa dalam foto itu begitu menohok d**a Naila. Menyakiti batin dan perasaan. Hingga Naila tak sanggup berbicara lagi. Aksa tak akan pernah merespon. Dia hanya tersenyum, tersenyum, dan tersenyum. Senyum permanen yang akan selalu menghiasi wajahnya. Naila membawa foto itu ke dalam rengkuhannya, tangisnya pecah untuk kesekian kali. Perih membelenggu. Tak ada obat, terlalu pilu.
"Ketemu kamu adalah anugerah terindah Tuhan, aku bersyukur. Dulu, kamu itu junior-nya aku di kampus. Dan aku senior kamu yang selalu ngatur ini dan ngatur itu. Awalnya kita sering berantem, karena kamu selalu nggak mau nurutin perintah senior. Kayak cerita dalam novel. Dari benci jadi cinta. Dari berantem jadi saling sayang. Terkesan klise, namun maknanya sangat indah. Itu adalah kita. Kita yang pada akhirnya saling mencintai, mengikrarkan janji, untuk saling setia. Kita yang berbalutkan canda dan tawa. Kita yang saling menyempurnakan. Tak pernah mengenal air mata. Susah, sedih, seneng, kita lewatin sama-sama. Aku cinta kamu Naila, bahkan lebih dari sekadar kata cinta. Kamu adalah perempuan yang bikin aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, setelah mamaku. Terima kasih, kamu udah pilih aku sebagai lelaki berarti dalam hidup kamu. Karena kamu, aku ngerasa sempurna. Kamu bagaikan air, yang mengguyur jiwa aku, mengubah bagian kotor, menjadi bersih, bahkan lebih bersih dari sebelumnya. Menimbulkan sinar terang, yang akan menerangi kamu sebagai gantinya. Kamu yang cemburuan, aku suka. Kamu yang selalu ngingetin aku supaya jangan kepincut sama cewek lain, aku suka. Semua yang ada dalam diri kamu yang apa adanya, aku suka."
Kata-kata Aksa yang pernah diucapkan terakhir kalinya, kembali terngiang di telinga Naila. Menemani tangisannya.
"Aku juga cinta sama kamu. Nggak pa-pa. Nggak pa-pa. Aku ikhlas Ian, aku ikhlas."
***