***
Sebuah kabar mengejutkan, Belinda baru saja menjatuhkan telepon rumah dari genggamannya. Pandangannya datar, jantungnya berdegup kencang. Dagunya gemetar, matanya memerah. Acara nonton televisi di ruang tv akhirnya terinterupsi kala Satria dan Angga melihat ekspresi aneh Belinda setelah ia menerima telepon yang entah dari mana itu. Belinda yang nyaris terjatuh segera ditahan Satria.
"Ada apa, Ma? Barusan telepon dari siapa?" tanya Satria kelimpungan. Istrinya seperti baru saja melihat penampakan hantu.
"A... Aak..., Aksa, Pah. Aksa kecelakaan." Belinda mengusap dadanya yang naik-turun.
Angga dan Satria terkejut secara bersamaan. Kecelakaan? Aksa? Ruang tv itu lengang.
"Ayo sekarang kita cepet pergi ke rumah sakit, Pah. Cepetaaaan."
Naila yang berada di ujung tangga berhenti melangkah, terpegun di pijakannya. Aksa? Kecelakaan? Apa telinganya tidak salah mendengar? Kakinya melangkah mundur, pertahanannya hampir jatuh. Naila menelan ludah, sekujur tubuhnya seperti mati rasa.
***
Menurut berita, bus rute Bandung menuju Jakarta yang ditumpangi Aksa mengalami kecelakaan besar, badan bus bertabrakan dengan truk, terguling parah. Diduga akibat kelalaian sopir yang mengantuk. Berita itu mulai menyebar di beberapa stasiun tv. Sementara Belinda, Satria, Angga dan Naila berlarian di koridor salah satu rumah sakit. Rumah sakit yang paling dekat dari lokasi kejadian. Rumah sakit itu ramai, karena seluruh korban kecelakaan ditampung di sana. Baik korban yang masih bisa tertolong, juga korban yang telah meninggal dunia.
"Nggak. Aksa itu pulangnya besok, jadi dia nggak ikut dalam kecelakaan ini, Pah," kata Belinda yakin. Mungkin saja orang yang barusan meneleponnya keliru. Nama Aksa banyak sekali. Belinda yakin itu, tetap beroptimis penuh. Naila masih belum angkat bicara, sibuk meneleponi nomor Aksa di ponselnya, barangkali lelaki itu akan mengangkatnya. Tapi tidak, sudah berpuluh-puluh kali Naila memanggil, jawabannya sama; nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
"Mama nggak mau terjadi sesuatu sama Aksa, Pah." Satria segera membawa kepala Belinda ke pelukannya. Sebagai seorang Ibu, Belinda tidak mau anak lelakinya terluka. Sebelumnya dia tidak pernah membuat mamanya sekhawatir ini. Belinda terus berlirih pelan, menggeleng tidak mau. Angga hanya bisa menunggu kabar dari dokter.
"Nggak Ian. Kamu nggak boleh lakuin ini sama aku." Naila masih terus menghubungi nomor Aksa. Ia bersandar, menyimpan ponsel di telinganya, lalu mengembuskan napas lelah, Aksa tak kunjung mengaktifkan ponselnya. Naila telah berada di ujung keputusasaan. Rasa takut benar-benar melingkupinya, belum percaya kalau Aksa-lah yang berada dalam ruang UGD sana. Kalaupun benar Aksa, Naila berharap dia baik-baik saja.
Tak lama kemudian, dokter keluar. Mereka berempat langsung memusatkan pandangan pada doker berkacamata itu, mendekatinya dengan raut antusias.
"Kalian keluarga dari Aksa Wijaya?" tanya sang dokter. Belinda mengangguk-anggukan kepala. "Iya-iya, kami keluarganya, dok."
"Syukurlah. Pihak polisi menemukan dompet, berisi kartu nama korban bernama Aksa Wijaya. Dan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya..." dokter itu menarik napas pelan, siap meluncurkan kata-kata yang membuatnya tak enak. Belinda, Satria, Angga dan Naila menunggu, dengan wajah penuh pengharapan bercampur tegang. "Korban tidak bisa kami selamatkan. Luka yang dialaminya di kepala cukup parah. Oleh sebab itu, kami memohon maaf. Semoga kalian bisa menerima dengan lapang d**a. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lain."
Naila menjatuhkan ponselnya, benda itu terpelanting sampai menimbulkan suara. DEG! Jantungnya berdetak hebat. Ini pasti mimpi, dokter itu pasti sedang berbohong. Naila mencubit lengannya sekeras mungkin yang ia bisa, menekannya kuat-kuat, berharap akan terbangun dari mimpi buruk. Tapi ia malah meringis kesakitan. Harapan mimpi itu pupus.
Napas Belinda tersengal, karena terlalu terkejut, perempuan itu hampir kehilangan kesadaran. Satria berusaha menopang tubuh Belinda, dan akhirnya istrinya itu pingsan. Matanya tertutup. Angga segera membantu papanya untuk membawa mamanya berbaring di salah satu kamar rumah sakit.
Tidak. Ini tidak mungkin. Orang itu pasti bukan Aksa. Naila bergegas masuk ke dalam ruang UGD. "Nggak dokter pasti salah orang. Dokter pasti salah orang. Dia bukan Aksa." Dokter itu hanya menundukkan kepala, menyesal karena gagal menyelamatkan pasien.
Begitu sampai di lawang, Naila lihat tubuh lelaki yang terbaring di atas brankar dengan luka-lukanya. Suster-suster sedang mencabut alat-alat yang menancap di tubuhnya, mematikan monitor alat pendeteksi jantung. Naila memejamkan matanya yang berair, kakinya terus melangkah mendekat, seluruh tubuhnya betul-betul lemas tak bertenaga. Naila tiba di pinggir brangkar, terlihatlah wajah lelaki yang sangat ia cintai. Itu wajah Aksa, benar, itu adalah wajah Aksa. Kedua suster yang telah selesai, segera keluar dari ruangan, setelah sebelumnya memberi ucapan prihatin juga liontin perak berinisial 'N' kepada Naila
"Kami menemukan kalung itu di saku bajunya. Siapa nama mbak?"
"Saya Naila."
"Hmm, ini pasti milik mbak."
Naila memandang liontin perak di tangannya dengan mata mengabur. Apa ini hadiah yang dimaksud Aksa? Kalung berinisial 'N' yang berarti Naila. Ia genggam kalung itu kuat-kuat, lalu pandangannya beralih kepada Aksa. Naila menarik napas lewat mulutnya, dokter itu tidak salah. Ini benar-benarAksa, suaminya.
"Apa kamu tega lakuin ini sama aku? Kamu tega ninggalin aku gitu aja? Ninggalin Aksa junior kamu? Kamu kasih aku kebahagiaan, canda, tawa, tapi setelah itu kenapa kamu malah kayak gini? Kamu pergi untuk selama-lamanya. Kamu tutup mata kamu, harusnya kamu buka mata kamu saat aku datang. Harusnya kamu sambut aku dengan senyuman dan candaan seperti biasa, bukan malah tiduran kayak gini. Harusnya sekarang kamu tepatin janji kamu. Kamu jelasin apa arti kalung ini. Aku gak butuh dia, aku cuma butuh kamu. Seindah apa pun bentuk kalung ini, aku cuma pengin kamu. Kamu jahat, Ian. Kamu jahat..."
Naila memegang kedua pipi Aksa yang beku dengan tangannya yang gemetar hebat, tangisnya tersekat di tenggorokan, menatap Aksa intens. "Nggak Aksa. Nggak, jangan lakuin ini sama aku. Aksa buka mata kamu, bilang kalau ini semua salah. Kamu nggak mungkin ninggalin aku secepat ini, nggak, Aksa. Bangun sayaaang." Naila menangis sambil terus menepuk pipi Aka, menggeleng-gelengkan kepala tak ikhlas. Hatinya seperti teriris sembilu. Berharap kalau ini hanya mimpi buruk. Tadi Aksa baik-baik saja, bahkan ia menyuruh Naila untuk menunggu di rumah. Naila mencium pipi Aksa penuh pendalaman, sebuah kecupan ketulusan. "Aksa buka mata kamu! Bilang kalau kamu baik-baik aja, ini bukan kamu, aku percaya ini bukan kamu. Iaan tolong jangan nakut-nakutin aku. Kali ini becandaan kamu nggak lucu! Nggak lucu Aksa!" bentak Naila berlinangan air mata, mengguncang kedua bahu Aksa kencang, kesal karena Aksa tidak mau membuka mata dan menghentikan aksi gilanya. "Kamu boleh becanda sesuka hati kamu, tapi jangan sampai begini. Bukan ini kejutan yang aku mau. Jangan kasih aku kejutan kayak gini, aku nggak kau. Kamu mau aku sakit jantung? Kamu mau aku sakit gara-gara becandaan kamu ini yang berlebihan? Ian banguuuuun." Naila mencengkeram baju Aksa, tubuhnya benar-benar lemas, perutnya terasa nyeri. Tangannya masih setia menggenggam liontin perak itu. Napas Naila tersendat, tubuhnya terperenyak ke bawah dengan setengah kesadaran, namun suara tangisnya masih terdengar.
Angga yang baru saja masuk, mendapati Naila yang sudah tak berdaya. Rasa sakit di perutnya tak sebanding dengan rasa sakit ketika menghadapi kenyataan bahwa kini Aksa telah tiada. Laki-laki yang begitu ia sayang, yang begitu ia cinta. Laki-laki yang begitu istimewa. "Naila!" pekik Angga panik. Untung Angga datang tepat waktu, saat itu juga Naila pingsan.
Angga segera menggendong tubuh Naila yang lemah, membawanya keluar. Tersisa bekas air mata di wajah pucat Naila.
'Kamu nggak inget janji kamu Aksa? Untuk nggak bikin air mata aku jatuh? Di mana janji kamu? Apa kamu udah gak peduli lagi sama aku? Perempuan yang kamu bilang sebagai perempuan yang paling kamu cintain.'
Naila berbaring tak sadarkan diri. Angga mendapatkan berita setelah salah satu dokter memeriksa keadaan Naila.
"Janin dalam rahimnya tidak bisa tertolong. Mungkin karena Ibu Naila yang terlalu syok berat. Kabar buruk yang datang secara tiba-tiba, bisa mengakibatkan masalah yang fatal bagi calon anak yang baru menginjak fase sensitif."
Begitulah penjelasan sang dokter, Angga mengusap wajahnya frustrasi. Naila telah kehilangan Aksa, dia juga harus kehilangan bayinya. Apa Tuhan sekejam itu? Angga juga masih belum percaya, kalau adiknya, Aksa, telah tiada. Dia meninggalkan orang-orang yang menyayanginya tanpa pamit. Terlalu mendadak.
Jenazah Aksa yang telah dipindahkan ke kamar mayat, dihampiri papanya. Satria memandang kain yang menutupi seluruh tubuh Aksa selama beberapa detik. Dengan penuh keberanian dan ketegaran, Satria membuka kain putih itu. Wajah Aksa yang pucat dan kaku menjadi pemandangan utama kedua iris hitamnya. Melihat Aksa seperti ini, hati Satria terasa sangat perih. Bagaimana bisa dia meninggalkan papanya dengan waktu yang sangat cepat?
Satria tersenyum bangga. "Kamu anak kesayangan Papa Aksa. Kamu anak yang paling penurut. Dibandingkan kakak kamu, kamu yang paling takut sama orangtua. Papa minta ke kamu tolong beliin ini Aksa, tolong beliin itu Aksa, kamu langsung denger. Beda sama kakak kamu yang malas-malasan dan nyuruh lagi ke pembantu. Banyak yang bilang, kalau wajah Papa sama kamu itu mirip. Mau tetangga, saudara, dan orang lain yang baru melihat kita," ia tersenyum lagi. "Kita punya senyum yang sama. Dan kamu setuju itu, kamu ingin seperti Papa, jadi orang yang sukses. Bukan orang kaya, melainkan orang yang sukses. Seperti kamu bilang, orang kaya belum tentu sukses, sementara orang sukses, pasti dia punya masa depan cerah. Papa bangga, punya anak seperti kamu Aksa. Papa bangga sekali." Di antara heningnya kamar mayat, di depan Aksa yang tak akan pernah bernapas lagi, papanya terus bercerita. Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya dia bisa bercerita panjang dengan Aksa.
"Di umur kamu yang baru menginjak 22 tahun, kamu ketemu sama perempuan yang sangat kamu cintain, sampai kamu ngelangkahin kakak kamu untuk menikah dengan dia. Papa masih inget, dengan bangganya kamu bilang kalau kamu mau menikah. Papa masih inget, wajah cemberut kamu gara-gara Mama kamu yang nggak setuju. Dan selanjutnya, kamu tersenyum saat mendengar kalau Papa setuju dengan pernikahan kamu. Di sana, kita tertawa sama-sama. Kamu sangat mencintai Naila, Aksa. Jiwa kamu sebagai seorang laki-laki hebat itu ada. Kamu anak yang penuh tanggung jawab, kamu mandiri, kamu segalanya untuk Papa." Laki-laki memang sosok yang tak kenal dengan istilah air mata. Tapi, Satria hanya sebatas laki-laki biasa. Sebagai seorang Ayah, dia sangat terpukul dengan kematian anaknya. Anak yang begitu ia banggakan. Kedua matanya memerah, hingga satu tetes air mata jatuh dari pelupuknya. Satria mengusap hidung dan mulutnya, berusaha untuk tetap tegar dan kuat menerima kenyataan. "Mungkin Tuhan lebih sayang kamu, Nak. Itu sebabnya kamu pergi paling awal, ngeduluin Papa. Takdir yang berkata, bahwa Papa yang harus mengubur kamu," terasa begitu berat saat Satria mengatakan itu.
Hati Satria bagaikan dihujami ribuan jarum. Rasanya sakit, sangat sakit. Diam dan berusaha ikhlas, itu salah satu cara yang tepat untuk merelakan. Senyum Aksa masih terbayang dalam benaknya, suaranya ketika ia kecil, berlarian ke sana-kemari dengan kapal-kapalannya. Bermain bola, dan berenang. Tangisannya, juga pertengkaran bersama kakaknya. Memori itu seakan mengulas ulang kenangan indah, yang tak akan pernah terlupakan.
Satria merunduk.
Naila baru saja sadarkan diri. Angga yang semenjak tadi duduk di sebelahnya segera bergerak, menatap Naila khawatir. Perempuan itu sedang berusaha menjelaskan pengelihatannya. "Syukurlah kamu udah sadar, Naila," kata Angga cemas. Naila menatap sekelilingnya, merasa ada yang janggal. Ia segera bangun dari rebahan kala menyadari sesuatu. Cepat-cepat Angga membantu.
"Aku ada di rumah kan, Kak? Aku ada di rumah. Aku harus cepet-cepet turun ke bawah. Aksa udah nunggu aku." Naila menurunkan kakinya, bergegas pergi, tapi perutnya terasa begitu sakit. Ada apa ini? Tindakannya terhenti di detik itu.
"Kamu jangan ke mana-mana. Kamu baru aja keguguran..."
"A... apa?"
"Iya. Kamu baru aja kehilangan calon anak kamu."
"Maksud kakak apa aku keguguran? Kenapa bisa? Aku gak mau keguguran, nanti Aksa marah. Itu adalah anak yang paling dia dambain. Aku nggak mau keguguran..." Naila menatap kakak iparnya penuh permohonan. Memaksa agar dia mengatakan kalau semua ini hanya mimpi. Aksa masih ada, begitu pun dengan janinnya.
Namun Angga hanya membalas tatapan Naila tak bersemangat. Ia juga menginginkan hal itu, menganggap kalau ini semua hanyalah mimpi. Aksa adalah adik kesayangannya, menyulitkan Angga untuk menerima kenyataan.
"Kamu udah ikhlasin kepergian Aksa?" tanya Angga, pelan.
Naila tertegun, paru-parunya berhenti bernapas. Seakan dunianya redup. Lampu-lampu amor padam dalam waktu tak kurang dari satu detik.
"Nggak aku yakin banget semua ini cuma mimpi, kak. Aksa masih hidup, dia masih hidup. Nggak mungkin Aksa pergi, nggak mungkin, Kak! Kemarin-kemarin kita masih main video call, kemarin dia baru aja ngeledek aku. Bahkan tadi, dia nyuruh aku buat tunggu di rumah buat nyambut kedatangan dia. Aku masih inget, wajah Aksa, dia baik-baik aja, dia nggak lagi sakit. Jadi mana mungkin Aksa meninggal...?" Di depan Naila, Angga kehilangan kata-kata. Gagap. Naila terus ngelantur, tak memberikan waktu untuk Angga yang ingin membuat Naila sadar. "Kakak gak percaya sama aku? Ayo, kak kita ke rumah, Aksa udah nungguin di sana. Kasian kalau dia dateng terus nggak ada yang nyambut. Aku belum siapin makanan. Mama sama Papa, aku, kak Angga, kita harus pulang. Ayo, Kak." Naila memegang kerah baju Angga, menarik-nariknya secara paksa, merengek gemas. "Ayo cepetan, Kak. Kita temuin Ad..."
"Stop Naila. Aksa udah nggak ada!"
Sentakan Angga membuat Naila terpegun. Perlahan, pegangan tangan pada kerah baju Angga mengendur. Tangan itu melemas. Butiran-butiran air memenuhi matanya yang mengisyaratkan ketidakmampuan untuk menerima kenyataan. Angga langsung memeluk Naila, memberikan afeksi, tidak tega melihat Naila yang terlihat seperti orang gila. Dalam pelukan Angga, isak tangis Naila mulai terdengar. Tangisan yang awalnya kecil, semakin keras seiring dengan gerakan jarum jam yang berdenting di tembok. Angga berusaha untuk terus menenangkan Naila.
Di luar, ada ayah Naila yang baru saja tiba, telinganya langsung dihampiri suara tangisan putrinya yang sangat tersakiti. Batin ayah Naila ikut sakit. Belum siap bertemu dengan Naila yang sedang rapuh. Dia bersandar sejenak di dinding bercat putih itu, memandang langit-langit. Mengapa Tuhan menimpakan masalah yang sangat besar kepada putri semata wayangnya?
***