***
Naila menepati janji untuk membuatkan kakak iparnya kue. Menurutnya, ucapan yang telah dilontarkan, harus ditepati. Setalah semua bahan dan alat disiapkan, Naila mulai memecahkan beberapa telur, menyatukan bahan-bahan ke dalam wadah agar menjadi satu adonan. Daripada tidak ada kerjaan, lebih baik ia membuat kue. Kue yang akan dimakan oleh keluarga ini. Padahal Belinda sudah melarang Naila untuk berdiam diri di dapur. Melarang ini itu, memaksa Naila untuk diam di kamar.
Naila terlihat riang, bagaimana tidak, dua hari lagi adalah kepulangan Aksa. Naila tidak sabar menanti kehadirannya. Hampir setiap hari mereka berkomunikasi lewat video call. Untuk sekadar menyapa, dan bertanya tentang kondisi masing-masing, atau seperti biasa; becanda dan tertawa sebagai penutupnya.
"Wiih lagi ngapain kamu Naila?"
Naila menoleh ke belakang, ada Angga yang sedang membuka kulkas, mengambil air dingin.
"Eh kak Angga. Ini aku lagi bikin kue." Naila sedang fokus mengocok telur. "Kan sesuai sama janji aku waktu itu."
Angga tampak tertarik, setelah selesai menenggaka air putih, ia lekas menghampiri Naila. Memastikan tentang ucapan Naila. "Beneran kamu bikin kue? Padahal dulu kan cuma becanda."
"Yang namanya janji harus ditepatin, lah. Lagian, aku seneng kok, biar ada kegiatan. Kan bosen harus dieeem terus."
"Ya udah kakak bantu, ya?"
"Emang kakak bisa?"
"Kalau cuma bikin kue sih gampang, kecil!" Angga meremehkan.
"Oke." Naila menyetujuinya.
Semenjak pernikahan Aksa dan Naila, Angga jadi lebih dekat dengan Naila. Adik-kakak ipar yang akur dan karib. Angga bersyukur, adiknya bisa berjodoh dengan perempuan seperti Naila. Menurutnya, Naila itu orang yang asik, cepat sekali akrab, baik, dan bawelnya mampu membuat suasana menjadi lebih hidup. Pantas saja adiknya tergila-gila. Dia pandai dalam memilih perempuan.
Seperti sekarang, di tengah pembuatan kue pun, Naila terus menginteruksi Angga tata cara yang benar dalam memasukkan bahan-bahan, mengaduknya dan memberikan rasa yang pas. Beberapakali Angga melakukan kesalahan, Naila segera menegurnya secara gamblang, sampai membuat Angga takut sekaligus ingin tertawa. "Kakak tau nggak, kak. Dulu waktu ulang tahun aku, Aksa nyiapin kejutan. Dia bikinin aku kue bolu pake tangannya sendiri. Sampai kurung aku di dalem kamar selama berjam-jam."
"Oh, ya?"
Dapur itu berubah kotor, tepung terigu di berserakan di atas meja, juga tetesan-tetesan adonan yang berjatuhan --dikarenakan cara pembuatan yang tidak teratur, sambil main-main pula. Wajah Naila juga banyak dipenuhi tepung, begitu pun dengan Angga. Tadi mereka sempat saling melempati tepung akibat ulah Angga yang jail.
"Hmmmm iya. Dan kakak tau nggak rasanya gimana?"
"Manis."
Naila menggembungkan pipi, "Manis?" Tawanya hampir pecah, bukan karena kenyataan tentang kue buatan Aksa yang asin, melainkan karena mengingingat Aksa yang berani-beraninya membuat kue tapi hasilnya zonk.
"Rasanya asin, asiiin banget." Akhirnya Naila tertawa.
Angga ikut tertawa, "Waduh ada-ada aja tuh anak. So jago banget bikin kue, buat hadiah ulang tahun istri lagi. Mana hasilnya gagal." Angga menggeleng, masih tersisa tawanya yang renyah.
"Ya tapi aku bangga, sih. Aksa mau usaha. Dan menurut aku, kue itu lebih spesial daripada kue yang dibeli di toko, yang rasanya jauh lebih enak." Naila tetap membanggakan suaminya. Bukan rasa kue itu yang menjadi prioritas, melainkan tentang siapakah yang membuatnya. Aksa bilang, dia membuat kue itu dengan penuh cinta. Angga tersenyum memandang wajah Naila yang mungkin sedang merindukan Aksa.
Terdengar suara deringan telepon genggam milik Naila yang tergeletak di atas meja, layarnya nyaris dipenuhi titik-titik putih.
"Hp kamu bunyi, tuh." Angga mengarahkan dagunya pada ponsel Naila. Dengan cepat Naila berdiri dan mengambil ponsel itu, duduk kembali. Begitu melihat layar, ada panggilan video lewat w******p, dari 'My husband' alias Aksa. Naila melekukkan senyum, dugaannya benar. Ia segera menggeser layar.
"Hallo sayaaaang," sapa Aksa di sana. Dalam layar, ada wajah close up Aksa yang sedang tersenyum menampilkan giginya setelah sebelumnya menyapa.
"Iaaan." Naila tertawa. Wajahnya lebih bercahaya. Tampak bersemangat. Hari ini Aksa baru menghubunginya. Padahal Naila sudah menunggu sejak tadi pagi, sejak bangun tidur. Dan untunglah, Aksa masih mau menyempatkan diri.
"Emmm." Angga yakin, sekarang Naila akan mengacanginya, sibuk dengan Aksa.
"Kamu ngapain, tuh? Kok wajahnyanya putih-putih gitu? Kayak pake kapur ajaib."
"Bukan kapur. Enak aja masa aku coret-coret wajah aku pakek kapur buat ngusir kecoak? Kamu pikir aku gila?"
"Hahaha sori becanda. Terus apa? Sayang loh wajah kamu yang jelek makin tambah jelek." Aksa tertawa lagi. Sepertinya untuk mengejek Naila, sudah menjadi makanan sehari-hari.
Naila melotot. Aksa malah semakin menjadi-jadi. Bukannya bertanya kabar, ini malah sempat-sempatnya meledek.
"Kak liat nih kelakuan adik kakak, nyebelin banget." Naila mengarahkan layar hp-nya ke wajah Angga, agar wajah kakaknya bisa Aksa lihat. "Eh kok ada elo, sih?" tanya Aksa begitu gambar di layar ponselnya berubah menjadi wajah Angga. "Awas ya lo macem-macem sama Naila."
"Siapa yang macem-macem. Gue cuma nemenin dia bikin kue. Masa gue tikung ade gue sendiri, sih?"
Naila kembali menatap layar hp, "Iya. Kita lagi bikin kue bolu rasa cokelat. Dan yang pasti, rasanya nggak bakal asin," sindir Naila dengan suara elegannya, bermaksud untuk membalas ejekan Aksa tadi. "Kue-nya bakalan enak, manis dan sempurna. Seperti buatan koki di London."
"Idiiiih Naila Nora. Kamu nyindir aku ya gara-gara nggak bisa bikin kue yang sempurna? Jangan disama-samain sama koki di London, lah. Orang rasanya bakal beda jauh." Aksa mengerti akan sindiran keras Naila. Merasa kalau ia pernah membuat kue yang rasanya asin.
"Buat aku, pembuatnya juga udah sempurna," kata Naila, yang membuat kedua ujung bibir Aksa tertarik ke samping. Keduanya pun tertawa bersama, melupakan pertengkaran kecil sebelumnya. Aksa senang bisa melihat tawa Naila, begitupun Naila yang senang melihat tawa Aksa. Meski mereka sedang berada di jarak yang berjauhan, tapi hati mereka tetap dekat.
"Udah stop becandanya. Kita berlanjut ke sesi serius." Naila melanjutkan, mengakhiri gelakannya. "Sekarang aku tanya, kenapa kamu baru hubungin aku sekarang? Nge-SMS nggak, nelepon juga nggak. Aku khawatir tau. Takut terjadi apa-apa sama kamu."
"Maaf ya sayang. Hari ini aku bener-bener sibuk. Ini juga aku cuma dikasih waktu 10 menit. Dan itu cuma buat kamu seorang."
"Cius?"
"Mi apa?"
"Mi cintaa."
"Naila alay, yaa. Kalau aku ada di sana, udah aku cubit pipi kamu yang tembem itu, sama udah aku tarik hidung kamu yang pesek," di layar itu Aksa terlihat gregetan. Menunjuk-nunjukkan jari telunjuknya ke layar. Eskpresinya super gemas.
"Kayaknya tangan kamu gatel banget, ya. Pasti bawaannya itu pengen cubit aku. Aku yang jadi korbannya cuma bisa pasrah."
"Ikhlas, kan?"
Naila tersenyum. Bukan hanya ikhlas, tapi ridha hita'ala. Rela kalau itu bisa membuat Aksa bahagia. Bahagia yang sederhana.
"Ya udah kayaknya waktu aku udah abis. Aku tutup dulu, ya. Nanti aku hubungin kamu lagi. Jangan lupa jaga baik-baik Aksa junior-nya Juga jangan terlalu capek, nggak baik."
"Siap! Kiss-nya mana kiss-nya?" pinta Naila manja. Memamerkan bibirnya.
"Sejak kapan Naila minta di-kiss?"
Sebelum Naila menjawab, Aksa sudah lebih dulu mengecup dari jauh, sebatas mengecup layar ponselnya. Namun maknanya, sampai dengan selamat ke dalam hati Naila. Naila pun ikut mengecup layar ponselnya. Mereka tersenyum kembali.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsallam."
Wajah Aksa pun menghilang dari layar hp Naila. Perempuan itu tersenyum untuk beberapa detik. Aksa selalu berhasil membuatnya merasa bahagia dengan perlakuan-perlakuan sederhananya. Anggap saja ejekan-ejekan Aksa sebagai tanda kasih sayangnya.
Angga menggeleng-gelengkan kepala. "Emang bener ya kalian, nggak bisa terpisahkan."
"Iya dong, kak." Naila menyimpan ponselnya, kembali melanjutkan pekerjaannya. "Kakak kapan bawa calon istrinya? Biar Naila ada temen gitu."
"Belum ada yang pas, nih."
"Belum ada apa nggak laku?" gurau Naila yang langsung mendapatkan tatapan serius dari Angga. "Hahahaha becanda kali, kak. Jangan ambil serius. Naila yakin, kok. Cewek-cewek banyak yang ngantri, kan?"
"Yaaa begitu, deh." Angga masih terlihat acuh tak acuh dengan kisah asmaranya.
"Naila!"
Kontan Naila mengalihkan pandangannya pada asal suara. Begitu pun dengan Angga yang ikut melihat. Di lawang dapur, ada Belinda yang mendekat. Naila patah lidah, kenapa mama Aksa sudah pulang? "Aduuuuh kamu lagi ngapain, sih? Mama kan udah bilang, kamu harus diem di kamar. Jangan kemana-mana apalagi ngerjain kayak beginian aduuuuuh." Belinda yang sangat hati-hati tidak menginginkan Naila lalai dalam menjaga kandungannya.
"Cuma bikin kue, Ma. Lagipula Naila sehat-sehat aja, kok. Bosen kan di kamar terus. Nanti Mama boleh cobain deh kue bikinan Naila. Pasti enak."
"Kamu mau ngelawan Mama? Iya? Ini buat kebaikan kamu sama anak kamu. Punya menantu kok susah diatur, sih?"
Naila gelagapan. Menurutnya, mama Aksa terlalu berlebihan. Ia tidak berlari, hanya sebatas duduk dan membuat adonan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Kamu juga Angga, kamu nggak larang Naila?"
"Hehe, nggak-lah. Lagian, aku malah seneng Naila buat kue. Buat kita makan sama-sama."
"Beli juga bisa, kan?"
Naila terdiam, tertunduk. Tak mampu dan tak berani menentang kehendak mertuanya Di sisi lain, ia senang karena Belinda telah begitu perhatian. Namun di sisi lain pula, Naila merasa dirinya dikekang. Naila bisa mengerti, Belinda bersikap seperti itu hanya karena ingin cucunya baik-baik saja. Mendapatkan seorang cucu, adalah cita-cita yang paling mama Aksa inginkan.
"Kita ke kamar."
***
Sambil terus melakukan video call dengan Aksa, Naila terus meminum segelas susunya. Tak lupa dengan buah-buahan seperti, apel, jeruk, dan anggur juga ia makan. Hingga pipi Naila terlihat lebih mengembang. Di sana Aksa menangguk-anggukan kepala sembari tertawa, merasa lucu dengan cerita yang barusan Naila ceritakan tentang perintah-perintah mamanya yang terlalu berlebihan. Kasihan juga Naila. Setiap hari harus curhat tentang mertuanya. Kasihan, harus terus diatur dengan cara yang Naila tak suka.
"Kamu kapan pulang, siih? Aku udah nggak tahan lagi." Naila cemberut. "Aku udah tepatin janji aku buat ngasih bayi kita asupan sehat. Liat nih, aku udah makan buah-buahan yang banyak, s**u sehat pagi siang malam." Naila mengunyah buah apel merah di tangannya. Begitu semangat dan ceria. "Olahraga, dan makan sayuran setiap hari. Mama larang aku makan tanpa sayuran. Aku janji sama kamu, anak kita bakal lahir dan tumbuh sehat."
Aksa asik mendengar ocehan-ocehan Naila, tanpa ingin menginterupsi. Yang ia terbitkan hanya tawaan juga anggukan.
"Semoga aja aku nggak gendut karna terus makan. Kalau aku gendut, kamu nggak bakal suka, dong. Kalau nggak suka, gawat. Kamu bakal cari yang lebih seksi, yang lebih bagus badannya."
"Kata siapa? Mau kamu gendut, mau kamu kerempeng. Aku tetep cinta. Cinta aku cuma buat kamu, dan kamu harus percaya itu."
"Hmmm?? Seriuus?"
"Karena Aksa, hanya untuk Naila."
Lagi-lagi Naila tersenyum. Aksa selalu mempunyai cara yang istimewa untuk kembali menormalkan perasaannya. Kembali memberikan hawa yang meyakinkan kalau, Aksa tak akan pernah berpaling pada yang lain.
"Eh itu kamu lagi ada di mana? Di tempat tidur, kan? Ini baru jam lima sore. Biasanya kamu hubungin aku malem, jam sembilan waktu kamu udah selesai kerja."
"Tebak aja."
Naila mengernyit bingung.
Aksa menjauhkan ponsel dari wajahnya, supaya Naila bisa melihat dan tahu sekarang ia berada di mana. Tampak Naila membuka setengah mulutnya, bibirnya komat-kamit tidak percaya. Ini baru hari ke lima, tapi Aksa sudah berada di dalam bus? "I... itu... itu di bis, kan?" Naila tertegun. Apakah Aksa di sana dalam perjalan pulang? Atau ada pekerjaan lain yang mengharuskan dia untuk naik bus?
"Iya. Sekarang aku udah ada di bis. Perjalan pulang menuju Jakarta, ketemu kamuu sekaraaang."
"Serius kamu?!" Naila beringsut dari sandarannya. Lebih antusias dan berapi-api. Matanya berbinar. Menyorotkan harapan penuh. Euforia menyelubunginya.
"Iya aku sengaja pulang lebih awal. Kerjaan aku udah selesai, kok. Dan untungnya, atasan aku ngizinin aku buat pulang duluan, nggak bareng sama yang lain. Surpirseee buat kamu. Aku janji, hari ini kita ketemu. Kembali pulang ke rumah. Terlepas dari perintah-perintah Mama."
"Kenapa?" Naila bertanya mengapa Aksa begitu menginginkan itu semua.
"Buat kamu."
"Buat aku?" Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi lebih serius. Naila terlalu senang, Aksa begitu menyayanginya. Dia selalu mengedepankan kebahagiaannya. Rela melakukan apa pun.
"Aku bawain kamu hadiah. Tapi nanti aku kasih taunya kalau aku udah sampai, ya."
Naila mengangguk. Ia tak butuh hadiah, yang hanya ia inginkan adalah; Aksa bisa pulang secepatnya, dengan selamat. Bisa kembali becanda sama-sama, tertawa sama-sama, dan bercinta seperti biasa.
"I Love you Naila. Kamu tunggu aku di sana."
"Love you to." Terlalu rindu dan terharu, Naila meneteskan air mata. "Aku bakalan nunggu kamu."
***
Sekiranya, itulah beberapa fragmen dari kisahku bersama Aksa. Alasan mengapa kami menikah, kejutan Aksa di hari ulang tahunku, kue bolu asin buatannya, bagaimana caranya aku menghadapi seorang mertua. Bermain mesra di pasar malam menaiki wahana bianglala dan mengunjungi rumah hantu. Tentang dia yang takut ketinggian, tentang aku yang takut hantu. Sampai akhirnya dia pergi. Kisah yang amat manis untuk dikenang, dan amat pahit untuk ditelan. Yang terlalu indah untuk dilupakan. Malam itu adalah, malam paling mengerikan di sepanjang hidupku. Malam yang telah mengubah semua, mengubah arus kehidupanku. Mengubah semua angan. Berbelok arah pada kenyataan tak sejalan. Termasuk mengubah kisah asmaraku. Untuk kak Angga, Mama Belinda, Papa Satria, mereka seakan telah jauh dari jangkauanku. Mereka bukan siapa-siapa lagi. Takdir telah mengubah segalanya. Takdir yang menurutku paling kejam. Aku di sini terluka sendirian. Untuk selebihnya, akan kuceritakan nanti. Karena pada bagian selanjutnya, aku belum mampu untuk bercerita kepada kalian. Aku yakin, aku akan menangis lagi, mengingat Aksa lagi.
Naila menutup buku diary-nya. Sebutir air matan jatuh membasahi jilid buku diary biru yang selalu ia jadikan sebagai tempat curhat, tempat bercerita tentang keluh kesah. Di malam ini, Naila merenung, menatap bintang berkelip di langit hitam lewat jendela kamar tidurnya. Akankah besok ia akan menemukan kebahagiaan?