Delapan Belas

2573 Words

*** "Saya lagi amnesia. Izinin saya terus ada di dekat kamu. Sampai suatu hari nanti, saya kenal kamu lagi..." kata Aksel pelan. Matanya menyorotkan permohonan terdalam. Naila terdiam, otaknya langsung berspekulasi. Apa mungkin Aksel ini Aksa? "Saya mohon..." Mata Naila menyipit. Garis berlipat tercetak di keningnya. Kakinya melangkah kian mendekat seiring dengan menghilangnya kernyitan di dahi. Matanya menatap mata Aksel dalam. Berusaha mendapatkan sebuah jawaban. Ketika terbakar amarah, Naila selalu melihat mata Aksa, di sana ia akan menemukan jawaban; entah Aksa sedang berbohong atau sedang jujur. Dan sekarang, lain halnya, Naila berharap agar bisa menemukan mata Aksa di manik mata Aksel. Mata yang sama, selalu mengisyaratkan keteduhan. Seakan melihat orang yang sama. Meski kadang w

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD