Ditatapnya kuburan lama dengan nama 'Aksa' itu. Sekarang Belinda tahu, bahwa mayat yang berada di dalam sana adalah mayat Aksel, putra yang tak pernah ia peluk sama sekali. Putra yang tak pernah ia kecup, yang tak pernah ia suapi makanan, yang tak pernah ia mandikan, yang tak pernah ia beri uang jajan untuk bekal ke sekolah. Rasanya sangat sakit. Setelah sekian lama tidak berjumpa, yang diharapkan adalah pertemuan manis dan air mata haru, bukan perpisahan lebih jauh lagi. Terpaksa angan untuk mendekap tubuhnya tumpas. Tak ada lagi kesempatan, walau hanya setitik tinta dalam kertas. Belinda tak mampu membendung air matanya lagi. Diusapnya tanah merah yang mengubur tubuh Aksel yang pasti sekarang sudah menjadi tengkorak kering. Perempuan itu memegang dadanya, menahan gejolak rindu dan tang

