“Miss Sinclair, Mr. William bilang anda datang kemari hanya untuk makan siang. Tidak untuk bekerja.” Olivia memutar bola matanya malas saat Gerald menghampirinya yang sedang berada di balik meja kasir dan baru saja melayani customer. Sejak tadi, lelaki ini selalu saja mengamati gerak-geriknya, membuat Olivia merasa jengah. “Aku memang datang untuk makan siang, kan?” “Ya. Tapi itu sudah selesai sejak setengah jam lalu dan sekarang anda malah bekerja di sini.” Bantah Gerald dengan penuh ketegasan. “Gerald,” Olivia menyebut nama lelaki itu dengan penuh penekanan. “Apa kau tidak bisa lihat di sini sedang sangat ramai? Adam saja sampai harus ikut melayani semua tamu. Dan mereka jelas sedang membutuhkan bantuanku. Lagi pula aku hanya berdiri di sini.” Rutuk Olivia lkesal. “Berdiri terlalu lama bisa membuat kedua kaki anda pegal, Miss Sinclair.” Jawab Gerald cepat. Olivia berdecak padanya, membuat Gerald buru-buru menambahkan demi menyelamatkan dirinya. “Itu yang baru saja di katakan Mr. William padaku.” “Kau memberitahunya?!” sembur Olivia dengan kedua mata melotot. Gerald mengangguk, melirik jam tangannya sembari berujar. “Mr. William akan sampai kemari sekitar sepuluh menit lagi.” “Oh Tuhan!” desis Olivia frustasi. Apa Gerald sudah gila? Dia memberitahu Richard kalau sekarang Olivia sedang bekerja? Menyebalkan sekali! Apa Gerald tidak tahu kalau Richard pasti tidak menyukai apa yang dia dengar soal Olivia yang sedang bekerja? “Cepat antar aku pulang!” “Tapi Mr. William sebentar lagi akan datang.” “Aku tidak peduli, Gerald.” Olivia sudah keluar dari balik meja kasir dan melangkah cepat untuk keluar dari Kafe. Sebaiknya dia dan Richard tidak bertemu di sini atau lelakinya itu akan bersitegang dengan Adam. Richard akan selalu menyalahkan Adam jika melihat Olivia bekerja di sini. Sedangkan Adam tentu saja tidak akan terima di tuduh seperti itu. Adam bahkan sering mengomel padanya kalau Olivia terlalu sering datang dan bekerja. Dia sangat mencemaskan Olivia serta bayi dalam kandungannya. Adam menyayanginya, Olivia tahu itu. Tapi terkadang, lelaki itu juga sangat berlebihan pada kehamilannya. Dan belum sempat Olivia keluar dari Kafe, dia sudah melihat Richard masuk ke dalam Kafe, mengedarkan pandangannya menyapu seisi Kafe hingga kedua mata mereka bersitatap. Olivia merutuk pelan. Namun dia cepat-cepat menyunggingkan senyuman paling manis yang dia bisa demi menyelamatkan diri. Berjalan cepat, Olivia menghampiri Richard, melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu dengan maksud melarikan diri dari amarah lelakinya. “Gerald bilang—” “Aku baru saja mau pulang tapi kau malah datang kemari. Sudah makan, sayang?” Olivia sengaja bicara dengan nada mesranya yang manja. Berharap Richard sedikit terpengaruh dengan sikap manis Olivia meski sejujurnya Olivia sangat meragukan hal itu. Richard masih memandangnya datar. Dia bahkan tidak membalas pelukan Olivia. Tangannya masih tersimpan di dalam saku celananya. “Kau bilang hanya datang untuk makan siang, Miss Sinclair. Tapi kenapa Gelard bilang kau malah bekerja?” “Aku hanya menggantikan Samantha di kasir karena dia sibuk melayani tamu.” “Apa berdiri di balik meja kasir bukan sedang bekerja, hm?” Olivia mencebik, bibirnya mengerucut. Lalu dia memainkan jemarinya di atas d**a Richard, membuat pola melingkar selagi dia mengeluarkan suara manja andalannya. “Hanya sebentar, Rich... jangan marah, ya?” Dia tidak lupa mengerjap dengan cara yang menggemaskan. Membuat lelakinya mendengus samar, memeluk pinggangnya dengan satu tangan hingga Olivia berteriak penuh kemenangan di dalam hati. “Berhenti menggodaku terus menerus, Olivia. Kau tahu apa akibatnya, kan?” suara rendah yang selalu Olivia rasa sangat seksi itu terdengar. Olivia mengulum senyumnya. Bibirnya bergerak mencium rahang Richard menggoda. Namun semua itu harus terhenti ketika Adam menghampiri mereka dengan sindiran penuh sarkasme miliknya. “Tolong jangan memakai Kafe ini kalau kalian sedang ingin bermesraan.” Adam mencebik kuat saat melihat Richard menatapnya tak suka. Dia mengerti arti tatapan Richard padanya. “Apa? Kau mau menyalahkanku? Wanitamu itu yang bersikeras membantu. Dia bahkan dengan sombongnya mengatakan padaku kalau Kafe ini masih menjadi miliknya juga. Hei, Mr. William, aku punya ide. Bagaimana kalau kau mengembalikan uang yang sudah Olivia keluarkan untuk Kafe ini padaku, agar wanita di pelukanmu itu tidak punya alasan apa pun lagi untuk datang kemari.” Oh, tidak! Kedua mata Olivia melotot sempurna. Apa-apaan Adam, dia benar-benar melempar umpan yang pasti akan membuat Richard tertarik. Menjauhkan Olivia dari segala pekerjaan adalah impian seorang Richard William tentunya. Olivia menatap Richard waspada. Lelaki itu tampak berpikir sejenak. Membuat Olivia panik luar biasa. Jangan... please... please... please… “Oke. Sebutkan nominalnya pada Alex. Alex yang akan mengurusnya nanti.” Adam menyeringai. “Deal.” “Adam!” pekik Olivia. Menatap kesal kedua lelaki yang saat ini tampak senang dengan ide mereka masing-masing. Benar-benar keterlaluan, pikir Olivia. Siapa memangnya yang ingin menjual sahamnya di tempat itu? “Kalian pikir kalian ini siapa, huh? Seenaknya saja memutuskan semua itu tanpa persetujuanku.” “Ini semua demi Baby.” Sahut Richard cepat/ “Dia benar. Aku tidak mau kau stres karena selalu bertengkar dengan kekasihmu hanya karena kau terlalu sering datang kemari. Aku mau baby-nya uncle A selalu sehat sampai kami bertemu.” “Kalian ini...” napas Olivia tampak sedikit tersengal menahan geraman yang sejak tadi dia tahan. Olivia memejamkan matanya sejenak. “Gelard!” “Ya, Miss Sinclair?” “Antar aku pulang.” “Tapi Mr. William–” “Sekarang!” Gerald melirik Richard. Lelaki itu mengangguk sekali lalu membiarkan Olivia pergi bersama Gerald. Bibir Richard mengulas senyuman tipis sejenak. Percuma jika melarang, Olivia tidak akan menurut. Dia bisa menebak bagaimana nanti saat mereka bertemu di rumah. Olivia pasti merajuk dan mendiaminya. Richard tahu itu menyebalkan, tapi entah kenapa dia selalu menyukai sikap Olivia ketika merajuk. Selalu menggemaskan. “Jadi, kapan aku bisa mendapatkan uangnya?” tegur Adam dengan penuh semangat. Richard menatapnya datar. Senyumannya sudah lenyap. “Apa keluargamu baru saja bangkrut sampai kau sangat menginginkan uang itu?” “Apa?!” “Kau semakin terlihat menyedihkan, Adam. Dan tolong, berhenti memanggil bayiku dengan panggilan menjijikkan itu.” Richard menggelengkan kepalanya pelan sebelum berlalu meninggalkan Adam yang masih menatapnya tidak percaya. “Ja-jadi… dia membohongiku?!” pekik Adam kesal. “benar-benar sialan Mr. William itu. untung saja dia Ayah baby-nya uncle A, kalau tidak, sudah kutendang dan kublacklist dia dari tempat ini agar aku tidak melihat wajah menyebalkannya itu lagi,” Adam mengelus-elus dadanya dengan penuh dramatisir. “sabar, Adam… lelaki sejati tidak boleh mengumpat.” Adam menganggukkan kepalanya berkali-kali, bibirnya tersenyum manis. Namun ketika dia melirik ke arah pintu kafe dan melihat siluet Richard yang tampak begitu sombong, umpatannya keluar begitu bebasnya. “dasar sialan!” ***