Mendengar suara dari kamar mandi yang sudah Richard hapal itu membuat dia yang sejak tadi masih tertidur pulas di atas tempat tidur melompat seketika. Dia berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi. Dan menemukan Olivia yang sedang membungkuk di depan wastafel.
Morning sickness.
Richard memijat pelan tengkuk Olivia. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Padahal setiap hari dia melihat Olivia seperti itu, tapi tetap saja merasa khawatir.
Olivia mengangguk. Kemudian menyuruh Richard mengambilkan sebuah handuk kecil untuknya. Richard melakukannya. Dia membantu Olivia duduk di atas closet, lalu berlutut di depannya dan membersihkan sekitar bibir Olivia.
Olivia menutup matanya. “Aku benci seperti ini.” gumamnya.
“Kembali ke tempat tidur. Aku akan memesan teh dan sarapan pagi untuk kita.” Ucap Richard.
“Aku ingin pulang.” Keluh Olivia.
“Tidak sebelum kau mengisi perutmu.”
Olivia membuka matanya dengan bibir mengerucut lucu. “Kau hanya akan bersikap manis di hari ulang tahunku saja, hm?”
Richard tidak menjawab apa pun. Dia bergerak menggendong Olivia dan meletakan wanita itu ke tempat tidur. Olivia hanya tersenyum kecil.
Jangan terlalu berharap akan menemukan sosok romantis dari Richard. Dia sama sekali jauh dari itu. Richard bukan lelaki yang sering memberikannya sebuket bunga atau hadiah yang akan membuat wanita tersenyum haru mendapatkannya.
Tidak, dia bukan lelaki yang mau melakukan hal yang dia sebut merepotkan itu.
Ketika dia ingin menunjukkan sisi perhatiannya pada Olivia, dia akan menanyakannya langung pada Olivia. Apa yang sedang Olivia inginkan. Dan apapun jawaban yang Olivia berikan, pasti akan dia sanggupi dengan mudah.
Dan yang sangat Olivia sukai, Richard sangat senang memanjakannya. Bukan dengan barang-barang mewah. Ouh... percayalah, Olivia tidak terlalu menyukai kemewahan yang mengelilingi lelaki itu. Menurutnya... terlalu berlebihan.
Jet pribadi ketika mereka akan bepergian ke suatu tempat. Bodyguard yang akan mengikuti Olivia kemanapun. Perhiasan yang mulai menumpuk di kamar mereka yang Richard beli seperti dia sedang membeli permen.
Dia selalu membeli banyak perhiasan untuk Olivia dengan alasan sepertinya bagus kalau dipakai olehmu.
Yeah... begitulah Richard William ketika bersamanya.
Dan sekarang, selesai sarapan pagi di kamar mereka, Richard dan Olivia keluar dari kamar untuk pulang. Alex dan Gelard sudah menunggu di depan kamar mereka. Mengucapkan kalimat selamat pagi dan mulai mengikuti mereka dari belakang.
Lengan Richard masih selalu setia memeluk pinggang Olivia. Seolah Olivia akan berlari menjauh darinya jika dia tidak melakukan hal itu.
Mereka sudah berada di dalam lift. Saat pintu lift sudah hampir tertutup sempurna, tiba-tiba saja pintu itu kembali terbuka dan membuat seisi lift yang hanya di isi oleh Olivia, Richard, Gelard dan Alex melihat sosok Laura berdiri di sana dengan ponsel di telinga dan tampak serius bicara dengan seseorang.
Laura melangkahkan kakinya kedepan dengan kepalanya yang terangkat keatas. Kedua matanya melotot seketika.
“Laura?” sapa Olivia.
Laura tampak membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu namun kembali terkatup.
Pintu lift kembali tertutup, namun Alex cepat-cepat menahan tombol open hingga pintu lift kembali terbuka.
Olivia mengernyit menatap Laura yang terpaku seperti orang t***l di depan mereka. “Laura, hei, kau tidak ingin masuk?”
Masih dengan ponsel menempel di telinga, Laura mengerjap cepat kemudian tersenyum. Sebuah senyuman yang jelas terlihat di paksakan.
“Sepertinya aku harus menelepon dulu. Ini telepon penting, Olivia. Aku takut sinyal di dalam lift tidak begitu bagus.”
Olivia mengangguk ragu. Dan beberapa detik setelahnya, pintu lift kembali tertutup. Olivia menoleh pada Richard yang hanya diam ditempatnya. “Sepertinya Laura menginap di sini juga tadi malam.”
“Hm, sepertinya begitu.” Jawab Richard ringan.
Olivia kembali menatap ke depan, kali ini dengan dahi yang sedikit berkerut. “Tapi untuk apa dia menginap di Hotel?”
Richard mengerjap ketika memikirkan sesuatu. Kemudian bibirnya tersenyum samar. “Mungkin dia menginap dengan seseorang di sini.”
“Siapa?” tanya Olivia cepat.
Richard menggedikan bahunya ringan. “Aku tidak tahu, sayang. Tapi mungkin Alex tahu. Bukankah kau sering bertanya padaku memangnya apa yang tidak Alex ketahui di dunia ini? Coba kau tanyakan padanya.”
Dengan polosnya Olivia menoleh cepat pada Alex yang masih tampak tenang di tempatnya. “Bisa kau cari tahu apa yang Laura lakukan di sini sejak tadi malam, Alex?”
Alex menatap Olivia sepenuhnya. Dan wanita itu menatapnya dengan gurat wajah penasaran yang polos. Kemudian Alex melirik pada Richard yang juga menatapnya dengan ujung bibirnya yang berkedut menjengkelkan. Jika saja sedang tidak ada orang lain di sana selain mereka, dia pasti sudah akan mengumpat pada Richard.
“Maaf, Olivia. Tapi aku tidak tahu apa yang Miss Milano lakukan di sini.” Jawab Alex singkat.
Olivia mengangguk pelan dan memalingkan wajahnya. Menyisakan Alex dan Richard yang masih saling bertatapan satu sama lain dengan penuh arti.
Berhenti menatapku, b******n!
Kau sudah tertangkap basah, Alex.
***
“Mr. William, ada Nona Rachel yang mau menemui anda.”
Richard mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan sekretarisnya melalui telepon di mejanya. Tidak biasanya Rachel datang menemuinya di kantor. Bahkan wanita itu tidak memberitahunya lebih dulu. “Suruh saja dia masuk.”
Begitu Rachel masuk ke ruangannya dan duduk di depannya, Richard langsung menghentikan semua kegiatannya. “Ada apa?”
Rachel bersedekap di depannya. “Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Ada apa, Richard? Kenapa kemarin malam kau tidak melakukan apa yang seharusnya kau lakukan untuk Olivia?”
“Maksudmu?”
“Ouh, kau memang i***t. Berlutut dan memberinya cincin yang kumaksud.”
Richard mendengus sambil menyandarkan punggungnya. “Sudah ada banyak perhiasan di rumah kami yang kuberikan padanya dan Olivia bukan tipe wanita yang menggilai perhiasan. Dia bahkan jarang memakainya. Itu bukan hadiah yang dia mau.”
Kedua mata Rachel membulat seketika. Lelaki di depannya ini memang benar-benar i***t ternyata. “Bukan hadiah, Richard! Tapi lamaran!”
“Lamaran?”
“Ya! Lamaran. Will you marry me, Olivia? Harusnya itu yang kau katakan padanya. Bukan malah memberitahu orang-orang tentang kelahiran anak kalian nanti. Kau ini t***l, huh?”
Lamaran... itu artinya akan ada pernikahan.
Richard mulai duduk tidak nyaman di tempatnya. “Kami belum memikirkan hal itu, Rachel.”
“Kami atau hanya kau?” kedua mata Rachel menyipit seketika. “kemarin aku mengira kau akan melamarnya saat membuat pengumuman di depan semua tamumu. Dan dengan tololnya aku mengatakan pada Olivia tentang apa yang ada di kepalaku.”
“Apa? Kau mengatakan pada Olivia kalau...”
“Ya, ya, aku mengatakan padanya kalau kau mungkin akan melamarnya. Tapi ternyata tidak! Kau tahu, aku sangat merasa bersalah pada Olivia. Wajahnya seperti baru saja di siram air es saat kau malah mengatakan hal yang berbeda saat.”
s**t!
Rachel benar-benar membuat kepala Richard mendadak pusing. “Kenapa kau mengatakan hal yang tidak-tidak padanya, Rachel?” geram Richard tertahan.
Rachel mendengus. “Itu bukan hal yang tidak-tidak. Seharusnya kau memang melakukan itu! Kalian saling mencintai dan memutuskan kembali bersama. Olivia hamil, bayimu! Lalu apa otak jeniusmu itu tidak berpikir kearah sana? Kau mau Olivia melahirkan bayi kalian tanpa suami?”
“Ada aku!”
“Tapi kau bukan suaminya!”
“Aku ayah dari bayi kami.”
“Dan itu terdengar semakin menyedihkan. Kau mau bayi kalian lahir tanpa ikatan yang jelas?”
“Apa masalahnya? Banyak orang yang melakukan itu.”
“Hanya jika mereka berdua sama-sama menginginkannya. Tapi aku yakin seribu persen kalau Olivia tidak. Dia menginginkan pernikahan dan itu terlihat jelas di dahinya!”
Richard tahu yang dia lakukan saat ini hanya sebuah cara untuk melarikan diri. Pernikahan? Tidak... Richard tidak pernah sekalipun memikirkan hal itu sejak dia dan Olivia kembali bersama.
Bagi Richard, hidup mereka saat ini sudah sangat sempurna. Mereka saling mencintai dan akan selalu ada satu sama lain. lalu beberapa bulan lagi akan ada bayi mereka yang ikut membuat lengkap kesempurnaan mereka.
Untuk apa lagi pernikahan kalau semua kebahagiaan sudah lengkap menurutnya?
“Kami tidak akan menikah.” Cetus Richard.
“Kau bercanda?!” sembur Rachel.
Richard menyandar gusar, menatap Rachel. “Semua sudah lebih dari cukup, Rachel. Pernikahan tidak lagi penting untuk kami.”
“Kau atau Olivia?”
“Keputusanku akan selalu menjadi keputusannya.”
“Tapi pasti tidak akan adil untuknya!”
Richard memalingkan muka. “Aku tidak menemukan perbedaan ada pernikahan ataupun tidak. Tanpa menikah, kami sudah hidup bersama bahkan saling mencintai. Dan sebentar lagi kami akan melengkapi semua ini dengan keberadaan bayi kami. Bukankah inti dari pernikahan adalah semua itu?”
Rachel menatap Richard lekat. “Apa kau... takut dengan pernikahan?” kegelisahan Richard jelas terbaca oleh Rachel. “Kau takut jika harus menikah, Richard?”
Richard meneguk ludahnya berat. “Bagaimana kalau jawabannya adalah ya?”
Rachel menarik napasnya panjang sebelum memberi jawaban. “Cepat selesaikan rasa takut itu sebelum kau menghancurkan segalanya. “
***