Suara sendok beradu lembut dengan piring porselen. Aroma bubur abalone yang baru matang memenuhi ruang makan, hangat dan menenangkan. Omma duduk di ujung meja, tersenyum ramah seolah tidak ada kesedihan yang menggantung di rumah itu. Tak lama, pintu kamar terbuka. Alfito keluar dengan wajah lelah, tapi senyum tipis tetap ia paksakan. Ia melangkah ke meja makan, duduk di samping Gladis yang masih menunduk. “Harusnya Omma kasih kabar dulu kalau mau datang,” katanya lembut sambil mengambil napas panjang. “Aku bisa jemput, biar Omma nggak capek.” Omma tertawa kecil, suaranya lembut tapi berwibawa. “Ah, Omma masih kuat, Fito. Lagipula, ada sopir yang nganterin. Jangan khawatir, Nak. Omma cuma nggak tenang kalau kalian sendirian. Rumah ini pasti sepi sekali setelah semua yang terjadi.” Gladi

