Bab 7

1087 Words

Udara sore itu dingin dan berdebu ketika mobil berhenti di depan rumah. Alfito turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Gladis. Perempuan itu berdiri lama di ambang pintu, memandangi dinding rumah yang dulu selalu terasa hangat. Sekarang, semuanya seperti kehilangan warna. Langkahnya pelan saat masuk ke ruang tamu. Tatapannya jatuh pada meja makan. Di sanalah ia biasa duduk sambil menulis daftar belanja sambil menatap Alfito yang sibuk membuat jus jeruk di pagi hari. Sekarang meja itu kosong. “Kalau kamu mau, aku bisa pesan makanan luar dulu,” kata Alfito, suaranya lembut tapi penuh hati-hati. Gladis hanya menggeleng. “Aku nggak lapar.” Ia melangkah ke kamarnya. Tempat tidur yang dulu terasa nyaman kini seperti jurang yang dingin. Malam tiba dengan cepat. Di luar, hujan turun pelan,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD