Bab 1

1469 Words
Gladis berjalan menelusuri lorong gedung kantor Alfito. Ini pertama kalinya ia berniat memberi kejutan pada suaminya. Kotak makan yang ia bawa masih hangat, aromanya memenuhi ruangan. “Alfito pasti senang,” gumamnya kecil sambil tersenyum. Begitu pintu ruang kerja terbuka, waktu seolah berhenti. Ada seorang perempuan di sana, berdiri terlalu dekat dengan Alfito. Lalu, sebelum Gladis sempat berkata apa pun, perempuan itu menubruk dan memeluk Alfito dengan cepat. Tubuh Gladis menegang. Kotak makan di tangannya jatuh, isinya berhamburan di lantai. Alfito menoleh, wajahnya terkejut, tapi bukan itu yang membuat d**a Gladis terasa sesak, melainkan cara tangan pria itu tidak langsung menolak pelukan itu. “Gladis…” panggil Alfito hendak meraih tangan Gladis. Namun langkah Gladis mundur perlahan, mencoba menelan kenyataan yang tiba-tiba menghantam. Ia pun pergi dari sana tanpa memberikan kesempatan pada Alfito untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. “Alfito ...” lirih Gladis. “Apa yang harus aku katakan pada anak kita?” lanjut sembari memegang perutnya yang masih datar. ***** “Gladis, umurmu itu sudah dua puluh delapan, bukan dua belas!” suara Omma bergema di ruang makan besar rumah keluarga Nyotowiryo, sambil mengetuk meja dengan sendok sup seperti hakim menjatuhkan palu sidang. Gladis yang baru saja menyuapkan sup ayam hangat hampir tersedak. “Omma! Aku masih muda, masih cantik, masih segar! Lagian, umur dua puluh delapan itu zaman sekarang belum telat, tahu!” “Belum telat kepalamu! Dulu Omma umur delapan belas sudah menikah! Kalau kamu terus-terusan sibuk sama perusahaan, nanti yang datang bukan jodoh, tapi keriput!” Gladis mendengus, menaruh sendok. “Omma, aku bahagia kok. Aku punya karier, punya gaji, punya saham, punya—” “Punya kucing!” potong Omma dengan nada mengejek. “Iya, Omma tahu. Setiap kali ditanya kapan punya suami, jawabannya: ‘Aku punya Mochi, kucingku.’” Gladis menepuk dahi. Omma memang tak pernah kalah kalau sudah urusan perjodohan. “Pokoknya, Omma sudah janjikan kau ketemu dengan pria pilihan Omma.” “Lagi?” Gladis mengangkat alis. “Kemarin-kemarin Omma kenalin aku sama dokter gigi yang hobinya koleksi sendal jepit. Sebelumnya, sama pilot yang alergi ketinggian. Omma, please… seleramu—” “Ssst!” Omma menepuk meja lagi. “Yang ini beda. Namanya Alfito Dewantara. Usianya empat puluh, tapi masih single. Kaya raya. Ganteng. Pokoknya, paket komplit!” Gladis hampir menyemburkan air minumnya. “Empat puluh?! Omma, itu… itu… bukan jodoh, itu paman-paman!” Omma mendelik. “Paman-paman tapi dompetnya lebih tebal dari semua pacar yang pernah kau tolak!” Akhirnya, dengan seribu kali menggerutu, Gladis setuju. Malam itu ia muncul di restoran hotel bintang lima, berniat menunjukkan muka paling jutek sepanjang hidupnya. Kalau bisa, bikin calon paman satu itu kapok. Tapi begitu matanya menangkap pria yang duduk di meja pojok, ia langsung berhenti melangkah. Alfito Dewantara. Ternyata… oh ternyata. Pria itu lebih mirip aktor drama Korea versi matang. Tinggi, rapi, dengan senyum tipis yang entah kenapa membuat Gladis mendadak ingin memesan es batu biar kepalanya dingin. “Gladis Nyotowiryo?” suaranya berat, seksi, dan ya ampun—Gladis langsung merasa seperti sedang audisi iklan parfum. “Iya, saya. Dan sebelum Anda terlalu jauh, saya cuma datang karena dipaksa Omma. Jadi jangan berharap lebih.” Gladis langsung duduk, menyilangkan tangan, wajahnya judes maksimal. Alfito hanya tersenyum. “Bagus. Saya juga cuma datang karena dipaksa sahabat saya yang kebetulan… ya, Omma-mu.” Gladis terperanjat. “Hah? Jadi… kita sama-sama korban perjodohan ini?” “Korban,” sahut Alfito sambil mengangkat gelas wine, seolah sedang bersulang. “Tapi saya tidak keberatan. Korbannya cantik sekali soalnya.” Gladis hampir tersedak lagi. Dia buru-buru menutupi wajah dengan menu, padahal pipinya merah merona. Sepanjang makan malam, ia berusaha menjaga jarak. Tapi setiap kali Alfito melontarkan komentar, entah kenapa yang keluar justru membuat Gladis ingin tertawa. “Omma bilang kau kerja keras sekali. Hati-hati, nanti kau menikah sama laptopmu.” Gladis mendelik. “Lebih baik menikah sama laptop daripada sama pria yang suka menggoda.” Alfito mengangkat bahu. “Kalau laptop bisa bikinmu senyum kayak sekarang, mungkin aku harus belajar jadi laptop.” Gladis terdiam. Duh, kenapa gombalannya garing tapi bikin jantung deg-degan?! Dan puncaknya, saat mereka keluar restoran, Alfito menuntun Gladis dengan menyentuh punggungnya. Sentuhan ringan saja, tapi— “Ya Tuhan…” Gladis bergumam pelan. “Kenapa rasanya kayak kesetrum colokan?” Alfito menoleh, senyum nakal. “Kalau colokan bisa bikin kau resah begini, bagaimana kalau aku yang langsung pegang tanganmu?” Gladis buru-buru mundur, wajahnya sudah sepanas sup tadi siang. Alfito tahu, kalau Gladis sedang gugup. "Kamu kenapa sih, grogi ketemu aku ya. Apa kamu ngira aku ini jelek, tua, bau minyak rambut?" Pipi Gladis memerah karena menahan rasa malu. "Apaan sih, nggak ya, kepedean kamu tuch." Alfito mengernyitkan dahinya. "Yakin kamu nggak gerogi, Gladis Nyotowiryo?" "Nggak usah bawel ya Alfito Dewantara." Alfito terkekeh pelan. "ih apal ya namaku, segitunya diinget sih." "Ahh udah ahh, nyebelin tahu nggak kamu tu, aku mau pulang! Ya udah kamu sana, naik mobil kamu sendiri, ngapain masih ikutin aku, acara pertemuan kita udah selesai, dan aku harap ya, kita nggak perlu lagi ketemu lagi." Alfito tersenyum, wajahnya semakin terlihat tampan, membuat Gladis gelisah, jantungnya berdebar nggak karuan, dan memacu adrelanin hasratnya, ingin melakukan bayangan imajinasi liarnya, namun dia berusaha menutupi hal itu dari Alfito. "Ya udah kamu duluan naik dulu, baru deh aku jalan pulang, silahkan." "Nggak jelas, sok manly banget." "Lho kan aku memang cowok, masa aku harus gemulai." "Diem Alfito..." Saat Gladis menaiki mobilnya, malam ini hari apesnya, entah kenapa yang semula mobilnyaa baik - baik saja, mendadak tidak bisa dinyalakan. Alfito melihat dari luar dan mendekat, mengetuk kaca mobil Gladis. Gladis pun membuka kaca mobilnya. "Mobilnya kenapa? Makannya diservice jadi biar nggak mogok." ucap Alfito saat meledek Gladis. "Eh enak aja kamu ya, kalau ngomong jangan sembarangan, aku tuch ya kalau urusan mobil nomor satu, nggak ada aku telat service. Tadi berangkat ke sini fine - fine aja kok. Hmm jangan - jangan ini kerjaan kamu ya, ngaku deh, biar kamu bisa pulang bareng aku, kamu suruh orang buat utak - atik mobil aku kan!" Alfito menggelengkan kepalanya. " Jelek banget pikiran kamu ya, jangan sembarangan, itu namanya pencemaran nama baik. Udah deh gini aja, naik mobilku, aku anterin pulang, ini udah malem, nggak baik wanita secantik kamu pulang sendirian, nanti Omma kuatir lagi." Gladis turun dari mobil, namun mengacuhkan ajakan Alfito. "Nggak usah, aku bisa pesan taxi online, nanti supirku tinggal aku minta ke sini, biar diderek ke bengkel." "Ya udah, kalau nggak mau ya aku nggak maksa, tetapi kamu tahu nggak, sebentar lagi wilayah sini rawan, sepi." "Biarin aja, lebih baik aku kenapa - napa dari pada harus satu mobil sama cowok yang sok manly, sok ganteng kayak kamu gitu." "Okay, aku pulang dulu ya, hati - hati kamu." Dua jam sudah menunggu, taxi online semua menolak pesanan, karena kebetulan titik mereka jauh - jauh. Gladis masih menunggu di depan restoran yang semakin lama, semakin sepi. Tak lama dari kejauhan, ada lima gerombolan lelaki berandalan, melihat kehadiran Gladis yang tengah sendirian, di depan restoran. "Ehh ada wanita cantik banget..., kamu mau pulang sama abang, ayo abang anter ya." ucap salah satu lelaki berandalan itu dan tangannya menyentuh tangan Gladis "Heh... jangan kurang ajar ya, jangan macem - macem." Gladis pun semakin ketakutan karena para lelaki berandalan itu semakin nekad mendekati dan mengganggu Gladis. Tak lama suara mobil berhenti, Alfito mendekat, menghajar semua berandalan itu. Gladis hanya bisa menangis, ditengah bagian lengan bajunya sudah robek akibat dilecehkan para gerombolan lelaki berandalan itu. "Masuk mobil Gladis... mereka biar jadi urusan aku." Satu jam berselang, akhirnya para lelaki berandalan itu pergi dan kabur. Alfito masuk ke mobilnya, melepaskan jaketnya. "Makannya aku bilang, dengerin, di sini itu rawan, kamu dibilangin susah sih." Hal yang mengejutkan terjadi tiba - tiba di malam itu. Gladis memeluk erat Alfito dan meneteskan air mata. Makasih... aku takut." "Kamu bukannya tadi bilang, lebih baik kenapa - napa, dari pada pulang sama aku, sekarang udah kejadian baru kamu bilang takut, tahu nggak, kalau aja aku telat dateng, apa yang mereka lakuin ke kamu tahu nggak, kamu itu nggak boleh kenapa - napa. Aku udah lama sayang sama kamu, asal kamu tahu." Gladis hanya terdiam. Dan semakin memeluk erat Alfito."Ya udah, jangan gitu lagi ya, aku tahu kita baru kenal sekarang ini, tetapi aku mau kamu selalu aman Gladis. Kita pulang ya, udah aku nggak marah kok. Aku tadi juga ada meeting di cafe dekat sini, pas pulang lihat kamu diganggu sama berandalan itu, langsung aku turun." Gladis hanya terus memeluk Alfito, entah seperti ada rasa nyaman, hangat, dan seperti terus ingin bersama Alfito setelah kejadian barusan yang menimpa Gladis. "Jangan bilang ke Omma ya." "Ya tenang aja, ya udah lepasin dulu pelukannya, kalau kamu peluk aku terus kayak gini, yang ada aku nggak bisa nyetir, apa mau di sini dulu, hmm." "Ya maaf, ayo kita pulang, anterin aku pulang ya." "Ya..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD