Malam itu, mobil Alfito meluncur di jalanan kota yang mulai sepi. Gladis duduk di kursi penumpang dengan wajah masih sembab, matanya sesekali melirik ke arah Alfito yang fokus menyetir. Tangannya yang besar menggenggam setir dengan tenang, seolah baru saja bukan dia yang menghajar lima berandalan di depan restoran mewah.
“Kenapa ngeliatin aku mulu?” tanya Alfito, masih menatap lurus ke depan.
Gladis buru-buru memalingkan wajah ke jendela. “Siapa juga yang ngeliatin kamu, kepedean. Aku cuma… ngecek kaca jendela. Siapa tahu retak gara-gara kamu tadi mukul orang pake mobil.”
Alfito terkekeh, suaranya dalam dan santai. “Kalau kamu grogi, bilang aja. Nggak usah nyari alasan aneh gitu deh Gladis.”
Gladis mendengus. “Grogi apanya? Aku cuma… masih shock. Kamu pikir semua perempuan langsung jatuh cinta kalau ditolongin gitu aja?”
Alfito melirik sebentar, bibirnya terangkat nakal. “Kamu barusan meluk aku kayak boneka kesayangan lho, yang nggak mau dilepas, nggak sadar apa pura - pura lupa kamu. Kalau itu bukan tanda jatuh cinta, terus apa?”
“Bodoh!” Gladis menutupi wajah dengan tas kecilnya, merasa pipinya panas sekali. “Itu refleks! Aku cuma takut… bukan berarti aku suka!”
“Hm, kalau gitu baguslah.” Alfito tersenyum tipis. “Aku kan maunya kamu suka sama aku, bukan cuma sekadar butuh pelindung. Jadi aku masih punya PR. Aku bakalan buat kamu jatuh cinta sama aku, tanpa paksaan."
Gladis menatapnya, kaget sekaligus bingung. “Eh? Kamu serius barusan?”
“Kenapa? Memangnya aku kelihatan bercanda?” Alfito menoleh sebentar dengan wajah serius. “Gladis, aku ini bukan anak SMA yang main-main sama perasaan. Aku nggak butuh gebetan seminggu, terus putus dua hari. Aku sudah umur empat puluh, aku tahu apa yang aku mau.”
Gladis menelan ludah. Hatinya berdegup kencang. Ya Tuhan, ini orang ngomongnya santai tapi nusuk langsung ke jantung.
Mobil berhenti di depan gerbang besar rumah keluarga Nyotowiryo. Gladis turun, tapi langkahnya ragu. Omma pasti sudah tidur, tapi entah kenapa, malam itu dia ingin lebih lama di dekat Alfito.
“Udah sampe. Makasih ya, Fito,” ucap Gladis canggung.
“Fito?” pria itu menaikkan alis. “Baru kenal sehari, sudah panggil sayang gitu?”
Gladis hampir tercekik udara. “SIAPA YANG PANGGIL SAYANG, astaga kayaknya kamu telinganya harus dikorek tuch?! Aku cuma males nyebut Alfito Dewantara panjang-panjang.”
“Kalau gitu panggil aja ‘sayang’, lebih singkat,” sahut Alfito kalem, sambil menyender ke jok.
Gladis menutup wajah dengan kedua tangannya. “Astaga, aku nggak salah kenal paman gombal kan?”
Alfito terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Gladis. “Gladis.” Suaranya tiba-tiba lembut. “Aku nggak akan maksa kamu buat suka sama aku sekarang. Tapi aku juga nggak akan pura-pura nggak ada perasaan. Malam ini cukup bukti buat aku, kalau aku nggak bisa cuek sama kamu. Mungkin usia aku bagi kamu paman - paman, tetapi aku serius sama kamu."
Gladis tercekat. Lalu buru-buru membuka pintu mobil. “Aku masuk dulu! Jangan lupa ya, rahasiain semua dari Omma! Kalau Omma tahu, aku bisa mati berdiri.”
“Ya, tenang.” Alfito tersenyum misterius. “Rahasia kita… sementara.”
Omma sudah duduk di meja makan, sibuk menggulir ponsel sambil menyeruput teh. Begitu Gladis turun dengan mata agak bengkak, Omma langsung curiga.
“Kenapa matamu kayak panda? Jangan-jangan habis nangis karena ditolak Alfito?”
“APA?!” Gladis hampir menjatuhkan roti. “Omma, bisa nggak sekali aja nggak bikin gosip pagi-pagi?”
Omma mendelik. “Kalau gitu, cerita. Pertemuan semalam gimana?”
“Biasa aja.” Gladis mencoba sok cuek, padahal bayangan Alfito yang menangkis pukulan preman masih jelas di kepalanya. “Dia terlalu tua buatku, Omma. Aku nggak tertarik.”
Omma menyipitkan mata. “Kamu senyum-senyum sendiri tuh. Yakin kamu menolak perjodohan ini lagi?"
Gladis langsung menutupi wajah dengan roti. “Ini karena rotinya enak, bukan karena dia!”
Siang harinya, saat Gladis sibuk di kantor, ponselnya berbunyi. Notifikasi w******p muncul.
Alfito:
Udah makan siang? Jangan bilang kamu nikah sama laptop lagi.
Gladis menggigit bibir, mencoba menahan senyum. Ia mengetik cepat.
Gladis:
Makan kok. Jangan kepo. Lagi sibuk.
Tak lama, balasan datang.
Alfito:
Sibuk ngapain? Senyum-senyum liat layar?
Gladis hampir terlonjak. “Ihh, ini orang bisa telepati apa gimana sih!”
Gladis:
GR! Aku lagi baca laporan.
Alfito:
Laporan hati kamu yang mulai condong ke aku ya?
Gladis menjerit pelan di ruangannya, lalu menutup laptop sambil berguling di kursi. “Astaga… kenapa sih garing tapi bikin gemes gini! Ya Tuhan, kenapa otakku jadi sering ngeres si, setiap bayangan Alfito muncul."
Malamnya, Alfito tiba-tiba muncul di depan rumah Gladis, membawa sebungkus makanan.
“Ngapain kamu ke sini?!” Gladis hampir panik. “Kalau Omma lihat, tamat riwayatku.”
“Tenang, aku cuma mau kenalan sama kucingmu. Katanya kamu lebih sayang dia daripada manusia.”
Gladis mendelik. “Jangan bilang kamu—”
Pintu kamar terbuka. Seekor kucing putih bulat gendut berlari keluar, langsung melompat ke pangkuan Alfito.
“Mochi!” Gladis terkejut. Biasanya kucing itu galak sama orang asing. Tapi kali ini ia mendengkur manja di tangan Alfito.
Lelaki itu mengelus kepala kucing sambil tersenyum. “Lihat? Bahkan Mochi aja langsung jatuh hati. Kalau dia aja bisa, kenapa kamu nggak?”
Gladis terdiam, jantungnya seperti drum pesta.
“Ommaaa!!!” suara Gladis panik, mencoba menutupi situasi. “Ada orang aneh bawa makanan ke rumah!”
Tapi Omma hanya berseru dari dapur. “Kalau orangnya Alfito, biarin aja masuk. Dia calon cucu menantu Omma, kok.”
Gladis menutup wajahnya. Ya Tuhan, tolong tarik aku ke lubang sekarang juga.
Hari demi hari, entah bagaimana, Gladis mulai terbiasa dengan kehadiran Alfito. Kadang ia sengaja menghindar, tapi pria itu selalu punya cara untuk muncul dengan timing yang tepat, walau terkadang menyebalkan.
Suatu sore, mereka berjalan di taman kota. Alfito tiba-tiba menawarkan tangan.
“Pegang, biar nggak kesandung.”
Gladis mendelik. “Aku bukan nenek-nenek!”
“Bukan nenek-nenek, tapi pipinya merah kalau aku gini.” Alfito dengan cepat menyentuh pipi Gladis.
“ALFITO!!!”
Orang-orang di taman menoleh. Gladis ingin menelan bumi. Tapi diam-diam, ia tidak melepas tangannya dari genggaman Alfito.
Suatu malam, Gladis pulang lembur. Di depan kantor, hujan deras turun. Taxi online susah, dan ia tidak bawa mobil karena masih di bengkel.
Saat ia kebingungan, sebuah payung tiba-tiba terbuka di atas kepalanya.
“Kan aku sudah bilang, jangan pulang sendirian.” Suara itu. Hangat. Menenangkan.
Gladis mendongak. Alfito berdiri dengan kemeja putih yang agak basah di bahu, menatapnya penuh perhatian.
Untuk pertama kalinya, Gladis tidak membantah. Ia hanya tersenyum kecil. “Kenapa sih kamu selalu muncul pas aku butuh?”
Alfito menatapnya lembut. “Mungkin karena aku memang ditakdirkan buat ada di sampingmu.”
Gladis menunduk, air matanya bercampur dengan rintik hujan. “Aku benci kalau kamu ngomong gombal kayak gitu.”
“Tapi kamu suka, kan?”
Gladis menghela napas panjang. Lalu, tanpa sadar, ia menggenggam tangan Alfito erat-erat. “Jangan pergi lagi, ya.”
"Kamu ngomong apa barusan! Ulangin coba?"
"Ahh apaan si, lupain, aku lagi capek."
Beberapa hari kemudian, Omma kembali mengetuk meja makan sambil menatap Gladis.
“Jadi, kapan Omma bisa pesan katering untuk lamaran?”
Gladis tersedak jus jeruk. “OMMAAAA!!!”
Di ujung meja, Alfito hanya tersenyum kalem sambil mengelus Mochi yang mendengkur puas.
Dan Gladis, meskipun wajahnya merah padam, tidak bisa menahan debaran di dadanya. Ia tahu, perasaan itu sudah tak bisa dipungkiri lagi. Dan setelah Alfito mau pulang, dia mengajak Gladis sebentar ke luar, memberikan kejutan kecil, memberikan kalung berlian sederhana tetapi manis, dia memakaikan kalung itu, namun aroma parfum Alfito begitu menghipnotis Gladis, untuk kehilangan kendali akan hasrat liarnya yang selama ini terpendam. Gladis tiba - tiba menarik Alfito ke dalam pelukannya, dan malam itu di dalam mobil, mereka saling b******u mesra. "Ssshhh udah dulu, kita halalin ya, ijinin aku jadi suami kamu, Gladis. Sebut aja mau tanggal berapa, kalau kamu mau yang lebih dari ini, kita nikah dulu Gladis sayang."
"Okay..." jawab Gladis sembari melepaskan cumbuannya pada Alfito
Suasana di dalam mobil pecah, hasrat Gladis yang menggebu begitu semakin nggak karuan, karena melihat lelaki di sampingnya, bukan hanya sekedar napsu sesaat melainkan begitu ingin menjaga Gladis dengan kasih sayang yang tulus."