Bab 4

1429 Words
Pagi pertama setelah malam penuh kenangan itu, Gladis terbangun dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia, grogi, dan sedikit tidak percaya. Ia menoleh pada sosok suaminya yang masih terlelap, lalu mendesah. “Kenapa sih aku malah makin jatuh cinta? Padahal niat awalnya kan cuma… ya ampun, bahkan aku lupa niat awalnya apa.” Belum sempat ia melamun lebih jauh, ponsel Alfito yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah nama muncul di layar: “Sekretaris Lala”. Gladis menyipitkan mata. “Hah? Sekretaris? Jam segini udah ganggu? Dasar perempuan nggak tahu diri.” Dengan cepat ia mengambil ponsel itu, hampir saja ingin menjawab. Namun sebelum jarinya menyentuh tombol hijau, Alfito menggeliat, lalu merebut ponselnya dengan mata setengah terbuka. “Sayang… jangan lihat begitu, itu kerjaan…” gumamnya. “Kerjaan? Jam enam pagi?” Alfito terkekeh lelah. “Lala memang rajin. Kalau ada jadwal meeting, dia suka ingetin dari subuh.” Gladis mengerucutkan bibir. “Rajin… atau kepo?” “Sayang… kamu cemburu ya?” “Apaan sih! Aku nggak pernah cemburu sama sekretarismu itu.” Namun sepanjang hari, Gladis tak bisa berhenti memikirkan perempuan bernama Lala itu. Beberapa hari kemudian, Gladis untuk pertama kalinya ikut ke kantor Alfito. Katanya, biar kenal lingkungan kerja suaminya. Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, Gladis sudah menyiapkan senyum. Tapi senyum itu langsung hilang ketika melihat seorang perempuan muda, tinggi semampai, dengan rok pensil ketat dan blouse putih menyambut Alfito. “Selamat pagi, Pak Fito,” suara perempuan itu lembut sekali. “Jadwal rapat sudah saya siapkan.” “Pagi, Lala.” Alfito tersenyum singkat. Gladis langsung berdiri tegak, tangannya menyelip ke lengan suaminya. “Halo, saya Gladis… istrinya Alfito.” Sekretaris itu tampak terkejut sebentar, lalu menunduk sopan. “Oh, tentu, Bu Gladis. Senang bertemu.” Tapi mata Gladis menyipit. Ia merasa sapaan itu terlalu datar. “Senang bertemu? Masa suaranya kayak mesin fotokopi rusak.” Sepanjang perjalanan ke ruang kerja, Gladis terus memelototi punggung Lala. “Kenapa jalan kamu goyang-goyang gitu? Ini kantor, bukan catwalk.” bisiknya ketus. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Alfito heran. “Ah, nggak! Aku cuma… ya ampun, lantai ini licin banget ya, Fito. Sampai aku harus pegangan terus sama kamu.” Alfito menahan tawa, sadar betul istrinya sedang terbakar cemburu. Siang hari, Gladis duduk di sofa ruang kerja Alfito. Ia sedang membaca majalah ketika Lala masuk membawa nampan. “Ini kopi hitam tanpa gula, Pak. Seperti biasa.” Sebelum Alfito sempat menyentuh, Gladis langsung berdiri. “Sebentar! Suamiku sekarang suka kopi manis. Aku tahu karena semalam dia minum kopi s**u buatan aku, dan dia bilang itu kopi terenak di dunia.” Lala terdiam. “Oh… baiklah, Bu.” “Jadi mulai sekarang, jangan sok tahu soal urusan kopi suamiku ya.” Gladis menambahkan senyum penuh kemenangan. Begitu Lala keluar, Alfito menahan tawa sampai perutnya sakit. “Ya Tuhan, Gladis. Kamu lucu banget. Serius kamu marah gara-gara kopi?” Gladis menoleh dengan wajah merah. “Aku bukan marah… aku cuma… menjaga hak cipta kopi manis untukku doang. Kamu kayaknya ngentengin banget sih, aku nggak mau tahu nggak urusan apapun kamu sekarang, biar aku yang urus." Alfito mendekat, memeluk pinggangnya. “Kamu itu… aduh, bikin aku pengen cium kamu sekarang juga.” “Jangan! Ini kantor, ada CCTV!” “Biarin, biar semua orang tahu aku sayang banget sama kamu.” Keesokan harinya, Gladis kembali ke kantor Alfito dengan alasan “bosan di rumah”. Padahal ia punya kantor sendiri juga, namun kali ini dia mengurus sebuah misi, yaitu mengawasi interaksi suaminya dengan sekretarisnya. Ia menyamar dengan kacamata hitam besar dan syal lebar, duduk di kafe seberang kantor. Dari sana, ia mengintip ke dalam lobi dengan teropong kecil, yang entah bagaimana ia dapatkan dari Omma. “Target bergerak,” gumamnya seperti agen rahasia. “Sekretaris mendekat ke suami. Jarak… 0,5 meter. Terlalu dekat!” Beberapa orang di kafe menatap heran, tapi Gladis tak peduli. Ia bahkan mencatat semua interaksi di buku catatan pink bergambar Mochi. Tiba-tiba, Alfito mengirim pesan. ‘Sayang, aku lihat kamu di kafe. Habis ini jangan pura-pura jadi agen FBI lagi, ya. Masuk aja ke dalem, kalau kangen.’ Gladis langsung menunduk malu. “Ya ampun, ketahuan! Gawat…” Malam itu, ketika kantor sepi, Gladis akhirnya meledak. Ia menatap Alfito dengan wajah serius. “Fito, aku nggak suka kamu terlalu dekat sama sekretaris itu.” Alfito terdiam, lalu mendekat perlahan. “Sayang, kamu tahu kan aku cuma sayang sama kamu. Sekretaris itu cuma kerja. Nggak lebih, nggak kurang. Gini lho ya, jauh sebelum kita kenal, dia sekretaris andalan aku, aku nggak ada apa - apa sama dia, kamu ih aneh tahu nggak, cemburu boleh, tetapi lihat aku, kalau aku suka sama Lala dari dulu, ngapain aku sampe nikah sama kamu." “Tapi dia… dia cantik, tinggi, dan… suaranya halus banget. Aku kan cuma… ya kamu tahu lah. Aku mau ikut kelas zoomba sama olahraga, biar badan aku juga lebih bagus." Alfito mengangkat dagu istrinya. “Apaan sih, nggak usah, aku nggak pernah keberatan, wajah kamu udah cantik, aku sayang sama kamu. Kamu jauh lebih dari semua itu. Kamu satu-satunya yang bisa bikin aku ketawa sampai perut sakit, kamu alesannya yang udah bikin aku pengen pulang cepat tiap hari, dan bikin aku percaya kalau cinta bisa datang dari ribut-ribut kecil.” Gladis terdiam, matanya berkaca-kaca. “Kamu beneran cuma sayang sama aku?” “Cuma kamu. Sampai aku tua nanti, sampai rambutku putih.” Gladis memukul pelan d**a suaminya. “Dasar gombal kelas berat.” Tentu saja, drama kecil ini tak lepas dari radar Omma. Suatu malam, beliau menelepon Gladis. “Cemburu itu wajar, sayang. Tapi jangan sampai suamimu malah bingung. Kalau kamu takut sekretarisnya rebut Fito dari kamu, kamu harus lebih manis dari dia.” “Ommaaa… gimana caranya aku lebih manis?” “Ya masakin, bikinin bekal, kasih perhatian. Ingat, jalan ke hati pria itu lewat perut.” Gladis menatap panci di dapur dengan penuh tekad. “Oke deh, mulai sekarang aku akan menaklukkan suamiku lewat bekal kantor!” Keesokan harinya, Alfito masuk kantor dengan kotak bekal besar buatan Gladis. Begitu dibuka, semua isinya penuh hiasan: nasi berbentuk hati, telur gulung bertuliskan “Love U”, dan sosis gurita tersenyum. Seluruh kantor geger. “Wah, Pak Fito, romantis banget istrinya!” Alfito cuma bisa tersenyum kaku. “Iya, istriku… unik.” Sementara itu, Lala tampak kikuk. Ia meletakkan kopi di meja tanpa komentar. Gladis yang kebetulan ikut masuk hanya melirik tajam. “Lihat tuh, Fito. Aku bukan cuma istri, aku juga chef pribadi. Jangan coba-coba tukar sama kopi instan.” Alfito menahan tawa, lalu menarik Gladis ke pelukannya. “Sayang, udah ya, udah... kamu ini bikin greget tahu nggak.” Malam itu, Gladis duduk di balkon rumah sambil memandangi langit. Alfito datang membawa dua cangkir cokelat panas. “Kamu tahu nggak, aku justru suka kamu cemburu.” Gladis menoleh cepat. “Kamu gila? Aku hampir stres, Fito!” “Tapi aku suka. Karena itu bukti kamu sayang banget sama aku.” Gladis menunduk, wajahnya memerah. “Ya iya sih… aku takut kehilangan kamu. Padahal aku tahu kamu nggak mungkin macam-macam juga, aku takut kehilangan kamu aja, aku sadar akan semua kekurangan aku." Alfito mencium keningnya lembut. “Heii tatap mataku sebentar, kenapa si ngomong begitu, sejak kapan aku keberatan akan kekurangan kamu, nggak ada ya, aku sayang banget sama kamu, jangan selalu merendahkan diri kamu. Aku lho suami kamu, hati ini udah terkunci sejak awal. Aku nggak akan pernah ada niat aneh - aneh. Karena bagiku, kamu itu rumah. Dan aku nggak akan pernah pulang ke tempat lain.” Gladis terdiam, lalu tersenyum. “Ya ampun, kenapa aku bisa jatuh cinta sama lelaki gombal sepertimu, sih?” “Karena cuma aku yang bisa bikin kamu marah, ketawa, nangis, dan bahagia dalam satu paket.” Gladis tergelak, lalu menyandarkan kepala di bahunya. “Oke, aku janji mulai besok aku nggak akan lebay cemburu lagi. Tapi kalau sekretarismu bikin aku curiga lagi… siap-siap aja aku pasang CCTV di meja kerjamu.” Alfito tertawa keras. “Deal. Tapi CCTV-nya jangan bentuk kucing lagi kayak yang kemarin, ya. Semua orang ketawa liatnya.” Gladis menutup wajah. “Astagaaaa… itu rahasia! Kamu tahu dari mana?!” “Sayang, nggak ada yang bisa lolos dari suamimu ini.” Dan tawa mereka berbaur dengan langit malam, menutup hari dengan manis, konyol, dan penuh cinta. Cemburu ternyata bukan racun, selama ada tawa dan cinta yang jadi obatnya. Gladis akhirnya sadar, ia tak perlu takut kehilangan, karena cinta yang tulus akan selalu kembali padanya. Dan Alfito, seperti biasa, berhasil membuat semua drama kecil berubah jadi kisah komedi romantis yang tak pernah membosankan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD