Pagi itu, udara rumah masih dipenuhi aroma wangi roti panggang buatan Gladis. Ia sibuk di dapur, menyenandungkan lagu ceria sambil memotong buah. Alfito yang baru turun dari kamar masih terlihat mengantuk, rambutnya berantakan, tapi tetap tampan di mata istrinya.
“Selamat pagi, suami ganteng!” sapa Gladis sambil menaruh roti di piring.
“Pagi, istri bawel,” jawab Alfito dengan senyum miring.
Mereka duduk berdua di meja makan. Seperti biasa, Gladis tak bisa diam. Ia bercerita panjang lebar tentang rencana reuni SMA yang akan diadakannya akhir pekan depan.
“Fito, kamu harus ikut ya! Biar mereka tahu, aku udah punya suami keren. Nggak cuma keren, tapi juga mapan dan ganteng,” ujarnya dengan mata berbinar.
Awalnya Alfito hanya tersenyum. “Reuni SMA? Hmm, ya boleh deh. Aku penasaran juga, temen-temenmu kayak apa sih.”
Namun senyum itu perlahan luntur ketika Gladis menyebut sebuah nama.
“Oh iya, katanya Arman juga bakal datang. Kamu tahu kan, dia itu dulu pacar aku waktu kelas dua SMA.”
Seketika, tangan Alfito yang memegang cangkir berhenti di udara. Matanya menajam. “Arman? Mantan kamu?”
Gladis mengangguk santai. “Iya, tapi kan itu udah lama banget. Cuma cinta SMA. Aku bahkan lupa rasanya pacaran sama dia gimana.”
Tiga Hari Dingin
Hari pertama setelah obrolan itu, Alfito masih mencoba bersikap normal. Ia hanya lebih banyak diam. Kalau biasanya ia selalu mengantar Gladis sampai ke pintu kantor, kali ini ia hanya menunggu di mobil sambil pura-pura sibuk dengan ponsel.
Hari kedua, Alfito mulai benar-benar dingin. Pulang kerja, ia langsung masuk kamar tanpa banyak bicara. Gladis mencoba berceloteh soal drama Korea baru yang ditontonnya, tapi hanya dijawab dengan anggukan singkat.
Hari ketiga, Gladis hampir menangis. Ia membuatkan bekal favorit Alfito: nasi goreng dengan telur setengah matang, tapi suaminya hanya makan separuh.
“Fito… kamu kenapa sih? Ada masalah di kantor?” tanya Gladis hati-hati.
“Nggak ada,” jawabnya singkat, lalu menunduk menatap layar laptop.
Gladis menggigit bibir. Ia sadar ada yang salah. Dan entah kenapa, ia merasa semuanya bermula sejak ia menyebut nama Arman.
Malam itu, Gladis tak tahan lagi. Ia masuk ke kamar sambil membawa segelas cokelat panas.
“Sayang… aku bikinin cokelat. Aku tahu kamu suka kalau lagi capek.”
Alfito hanya melirik sekilas. “Makasih, taruh aja di meja.”
Hati Gladis tercekat. “Fito, kamu marah ya? Sama aku?”
“Nggak aku cuman capek aja, kenapa aku harus marah?” nada suaranya terdengar datar, tapi jelas menyimpan sesuatu.
Gladis duduk di sampingnya, memaksa menatap wajah suaminya. “Aku tahu kamu aneh sejak aku bilang soal reuni. Apalagi sejak aku sebut nama Arman. Kamu cemburu ya?”
Alfito tak menjawab. Hanya menghela napas panjang.
Gladis tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. “Sayang, Arman itu cuma masa lalu. Dulu aku pacaran sama dia ya cuma gaya-gayaan anak SMA. Bahkan aku lupa ulang tahunnya kapan. Jadi buat apa aku mikirin dia lagi? Aku udah nikah sama kamu. Aku udah punya kamu.”
Keesokan harinya, mereka menghadiri reuni. Aula sekolah sudah dihias meriah. Begitu Gladis masuk dengan gaun sederhana berwarna biru, semua mata tertuju padanya, dan pada Alfito yang gagah di sampingnya.
Tak lama, seorang pria tinggi berkacamata menghampiri. Senyumnya lebar.
“Gladis! Lama banget nggak ketemu!” Ia lalu menoleh ke arah Alfito. “Ini pasti suamimu, ya? Aku Arman.”
Gladis tersenyum sopan. “Iya, kenalin, ini Alfito, suamiku.”
Arman mengulurkan tangan, tapi Alfito hanya menyalaminya sekilas, lalu langsung merangkul pinggang Gladis erat-erat. Matanya menatap tajam, seakan memberi peringatan.
Sepanjang acara, Alfito jarang bicara. Wajahnya kaku, tangannya tak pernah lepas dari Gladis. Setiap kali Arman mencoba menyapa, Alfito selalu memotong dengan alasan, “Kami mau ambil minum dulu,” atau “Gladis mau keluar sebentar.”
Gladis akhirnya geram. Di parkiran, ia menarik tangan Alfito. “Fito, kamu kenapa sih? Kamu bikin aku malu di depan semua orang tahu nggak!”
“Kenapa? Karena aku nggak suka lihat mantan kamu senyum-senyum ke kamu kayak tadi. Aku ini suami kamu, karena aku nggak tahan bayangin kamu pernah jatuh cinta sama dia.” suara Alfito meninggi.
Gladis terdiam. Baru kali ini ia melihat suaminya benar-benar marah.
“Aku tahu itu masa lalu, tapi aku benci ngebayangin kamu pernah milih orang lain sebelum aku. Aku takut banget dan aku sadar kalau aku bukan pilihan terbaik. Kalau suatu hari kamu ninggalin aku…”
Suaranya pecah. Mata Alfito mulai berkaca-kaca.
Gladis terhenyak. Ia tak pernah melihat Alfito serapuh dan semarah itu. Pria yang biasanya penuh percaya diri, kini terlihat rapuh.
“Fito…” bisiknya pelan.
Tetesan air mata jatuh dari sudut mata Alfito. Ia cepat-cepat mengusapnya, tapi sudah terlambat. Gladis melihat semuanya.
“Jangan pernah tinggalin aku.. katanya lirih. “Aku bisa tahan kamu marah, ngambek, atau cemburu. Tapi aku nggak bisa bayangin kamu ninggalin aku buat orang lain. Bahkan kalau itu cuma bayangan masa lalu. Aku tahu usiaku dua belas tahun lebih tua dari kamu, aku khawatir kamu bosen, dan saat aku nggak muda lagi, kamu pergi."
Gladis langsung memeluknya erat. “Ya ampun, apaan sih. Sumpah kamu mikirnya sejauh itu sayang. Kamu nggak tua, kamu itu ganteng pake kuadrat tahu nggak, kaya, mapan, memangnya aku sebodoh itu. Kenapa kamu baru bilang sekarang? Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Fito. Kamu dengar? Nggak akan pernah. Kamu itu rumah aku, tempat aku pulang. Mana mungkin aku milih pindah rumah kalau rumahku udah sehangat ini."
Alfito terisak pelan, menyembunyikan wajah di bahu istrinya. “Aku cuma takut, sayang. Aku takut kehilangan kamu. Sumpah aku nggak sanggup."
Gladis mengusap rambut suaminya dengan lembut. “Asal kamu tahu ya, aku lho yang banyak kekurangan, aku juga takut kehilangan kamu. Tapi kita kan udah nikah. Aku milik kamu, kamu milik aku. Mantan SMA itu cuma bagian kecil dari cerita aku sebelum ketemu kamu. Bagian paling indahnya ya sama kamu sekarang.”
Alfito menghela napas berat, lalu menatap istrinya dengan mata merah. “Kamu serius nggak akan ninggalin aku?”
“Serius. Kalau aku berani ninggalin kamu, Omma pasti ngejar aku pake sapu lidi,” canda Gladis, mencoba mencairkan suasana.
Akhirnya, bibir Alfito melengkung tipis. Ia mencium kening istrinya lama sekali, seolah ingin menegaskan kepemilikan itu.
Malam itu, mereka berdua duduk di balkon rumah. Angin lembut bertiup, membawa aroma bunga kamboja.
“Sayang,” kata Alfito, “maaf ya tiga hari ini aku cuek. Aku egois.”
Gladis menggenggam tangannya. “Aku juga yang salah. Seharusnya aku nggak usah cerita detail soal mantan. Tapi aku cuma pengen kamu tahu kalau aku bangga udah nikah sama kamu. Aku pengen temen-temen SMA aku lihat betapa beruntungnya aku.”
Alfito tersenyum lemah. “Kamu benar-benar aneh. Tapi anehnya itu yang bikin aku cinta mati.”
Gladis menyandarkan kepala di bahunya. “Aku janji, mulai sekarang nggak akan bikin kamu khawatir soal masa lalu aku. Karena masa depanku udah jelas, yaitu kamu. Aku cuman cerita, nggak ada niat aku aneh - aneh, apalagi sampe ninggalin kamu, demi masa lalu yang nggak pernah pasti, maafin aku ya Fito, maafin aku.”
“Dan aku janji nggak akan cuek lagi. Kalau aku cemburu, aku bilang langsung. Nggak akan dingin tiga hari kayak kemarin. Itu nyiksa aku juga.”
Gladis meneteskan air matanya. "Aku yang paling nyesek tahu nggak, kamu diemin kayak gitu, sakit hati aku.. aku pikir kamu udah nggak sayang sama aku lagi."
"Ssshh udah jangan nangis ahh, mana mungkin aku nggak sayang sama kamu, wajar aku cemburu, karena aku sayang banget bahkan sebelum kita bertemu, setiap Omma posting foto kamu, aku udah suka dan selalu berkata dalam hati aku: "Ya Tuhan aku sayang banget sama ini perempuan."
Gladis langsung memeluk erat Alfito sembari memberi kecupan lemput di wajah tampan Alfito. "Makasih ya, karena kamu udah sayang banget sama aku, dengan semua kekurangan aku."
Mereka tertawa bersama. Lalu, dalam diam yang nyaman, Alfito berbisik lirih, “Aku sayang banget sama kamu, Gladis. Jangan pernah ragukan itu.”
Gladis menjawab dengan ciuman manis di pipinya. “Aku juga sayang kamu, Alfito Dewantara.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Alfito tertidur dengan hati yang benar-benar tenang. Karena ia tahu, Gladis nggak akan pernah pergi kemana pun, selama ia terus menjaga cinta itu dengan jujur dan setia.