Bab. 5 Kesalahan yang fatal.

1543 Words
Malam mulai merambat jauh, Alex terlihat sudah rapi dengan setelan casualnya. Ia hendak pergi keluar rumah untuk mencari hiburan. "Lex, lu mau kemana?" tanya Pras begitu melihat Alex hendak meninggalkan rumah. Sambil berlalu Alex pun menjawab, "Bukan urusan lu." Alex bersikap acuh tak acuh kepada Pras. "Belakangan ini gue lihat lu sering pulang malam," ujar Pras sambil mengekor di belakang Alex. Alex menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap ke arah Pras seraya berseru, "Jangan campuri urusan gue! Karena lu kerja di sini bukan jadi baby sitter kan?" seru Alex sambil menunjuk d**a Pras. "Tapi Lex ...," panggil Pras kembali, tetapi Alex terus berlalu pergi dan tidak menghiraukan Pras yang belum selesai bicara. Untuk kesekian kali, Alex menyuruh Boy mengantarnya kembali ke tempat itu lagi. Di mana ia bisa melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapinya. Selain menyediakan minuman berahkohol tinggi, di sana juga kerap melelang wanita terutama yang masih virgin. Tempat itu sangat terjaga dan hanya orang-orang tertentu dari kelas atas yang dapat masuk ke sana. Tampak seorang wanita seksi sedang menyeret gadis muda yang sangat cantik dan memasuki tempat itu. Ia kemudian berbicara dengan seorang perempuan yang mempunyai kepentingan di sana. "Lu mo jual berapa?" tanya seorang wanita paruh baya kepada wanita itu. "Lelang saja lah!" jawabnya sinis sambil melirik gadis muda yang sedang menangis. "Baiklah, lu bisa tunggu di luar!" seru wanita paruh baya itu kemudian ia segera menarik paksa gadis di hadapannya dan membawa ke tengah. Sehingga menjadi pusat perhatian. "Oke ..! perhatian semuanya!" para tamu yang terlihat berkelas itu pun tertuju pada pemilik suara. "Ada barang baru ni! masih ori," ujarnya sambil menunjuk ke arah gadis yang sedang menangis. Kemudian pelelangan pun mulai. Terlihat perempuan muda itu sangat ketakutan dan sesekali memanggil seseorang. "Wow ...! beautyful ...! 100 juta," ucap seorang pria berkumis tebal membuka penawaran. "200 juta." Seorang laki-laki bermata sipit menaikan harga. Lelaki berkulit gelap pun menawar lebih tinggi, "300 juta." Untuk sementara suasana tampak hening. Hanya terdengar tangisan gadis yang malang. Di pojokan tampak seorang lelaki parlente jadi tertarik untuk ikut dalam acara pelelangan virgin itu. Ia tampak mempertajam penglihatannya lalu tersenyum sinis melihat gadis itu. "Ayo! siapa yang berani lgi?" tanya wanita pelelang itu kembali. "Satu miliar," tawar lelaki itu yang membuat semua mata tertuju ke padanya. Maka gadis itu pun jatuh kepada penawar tertingginya. Lelaki itu yang tak lain adalah Alex. Ia segera mengeluarkan buku cek dan menuliskan sesuai nominal yang sudah disebutkan tadi. Kemudian wanita paruh baya itu, menghampiri sambil membawa gadis tersebut. "Ingat ya Tuan, just one night!" seru wanita paruh baya itu sambil tersenyum nakal. "Ok," jawab Alex sambil memberikan selembar cek yang langsung diterima oleh wanita itu. Gadis itu terlihat senang dan takut melihat Alex yang menatapnya dengan tajam. Alex lalu berdiri dan menarik lengan gadis itu hingga tubuhnya beradu dengan d**a Alex yang bidang. Kemudian ia pun berkata, "Setelah mencarimu kemana-mana akhirnya ketemu juga." Gadis itu tidak menjawab, ia terlihat pusing mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut Alex. "Bawa dia Boy!" seru Alex sambil melangkah pergi dari tempat itu. *** Mobil yang ditumpangi oleh Alex meluncur menuju kediaman Bramasta. Ia ingin melewati malam ini dengan menikmati tubuh gadis itu di rumahnya. Lelaki itu tidak perduli jika Pras melihat perbuatannya. Tentu semua dilakukan Alex, di luar akal sehatnya. Alex berjalan dengan gontai, ia sedang mabuk berat. Boy mengikuti di belakangnya, sambil menyeret seorang wanita cantik yang terus menangis dan meronta. Kemudian gadis itu dibawa masuk ke kamar pribadi Alex. Alex menghempaskan gadis itu di atas kasur. Wanita tersebut terlihat sangat ketakutan dan memohon dengan iba. Alex hanya tertawa dengan bengis, sambil melepas jas dan membuka bajunya. "Tolong bebaskan aku!" gadis itu terus memohon tetapi sepertinya sia-sia belaka. "Inilah akibatnya jika kau telah berani menolakku, Riva!" geram Alex dengan tatapan yang buas. Wajah Riva selalu terbayang di mata Alex sehingga ia tidak sadar apa yang sedang dilakukannya. Alex terus mendekati wanita itu, di saat ia ingin menyentuhnya tiba-tiba gadis itu berteriak dengan histeris. Dengan sekali sentakan baju perempuan itu terkoyak sehingga, tampak dua gunung gembar yang membuat Alex semakin tertantang untuk mendakinya. Tanpa berpikir panjang lagi, Alex pun melancarkan aksinya. *** Alex terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar suara alarm berdering. Lelaki itu tampak menggeliat sehingga menampakkan otot tubuhnya yang kekar. Namun, tiba-tiba ia terkejut ketika menyadari dirinya tidak tidur sendiri. Ada seorang wanita yang berada dibalik selimut yang sama dengannya. Alex mencoba untuk mengingat kejadian semalam di antara mereka, tetapi gagal. Kemudian ia segera beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi. Alex berharap guyuran air bisa mengembalikan memorinya dan hanya satu kata yang dapat Alex ingat yaitu Riva. Beberapa saat kemudian Alex sudah keluar dari kamar mandi dan segera memakai baju. Kemudian ia menghampiri perempuan yang masih tergolek di atas pembaringannya. Untuk memastikan jika perempuan itu adalah Riva. "Benarkah wanita ini Riva?" lirih Alex hendak menyibak rambut yang menutupi wajah perempuan itu. Tiba-tiba pintu kamarnya terketuk sehingga Alex mengurungkan niatnya. Kemudian ia bergegas membukakan pintu. Tok ...! Tok ...! Ketika pintu terbuka, Alex melihat Pras yang berdiri di hadapannya. Lelaki itu tidak heran, pasti Pras sudah mendapat laporan dari asistan. "Lu tidur dengan siapa?" tebak Pras sambil melihat Alex yang sudah mandi basah. "Riva," jawab Alex sambil mengingat wajah Riva. Tiba-tiba terdengar suara wanita histeris dari dalam kamar Alex. Spontan mereka segera masuk untuk melihat apa yang telah terjadi. Perlahan Pras mendekati perempuan yang berada di balik selimut untuk mencoba menenangkannya. Betapa terkejutnya Pras ketika melihat wajah wanita cantik yang tampak ketakutan sambil menangis. "Apa Lu yakin ini, Riva?" tanya Pras dengan sambil menatap ke arah Alex. Alex terbelalak ketika melihat wajah gadis itu bukanlah Riva. Seketika jantungnya berdetak sangat cepat. Ia melihat wajah cantik perempuan itu dan berkata, "Ga mungkin." Alex terlihat mengacak rambutnya. Ia tidak percaya telah tidur dengan wanita lain dan itu bukan Riva tentunya. Akhirnya gadis itu berhasil ditenangkan oleh Pras. Lelaki itu kemudian memanggil seorang asistan untuk membawakan baju wanita. "You are crazy, Lex? Coba kalau ada Papi di rumah? Bisa anfal beliau," tutur Pras dengan tidak percaya apa yang telah diperbuat oleh Alex. "Gue ga nyangka bakalan begini, jadinya. Ini semua gara-gara Riva, perempuan sombong itu," umpat Alex dengan kesal. "Berhenti untuk menyalahkan Riva, Lex! Jangan melempar kesalahan pada orang lain! Lu harus bertanggung jawab kepada gadis itu." Pras berkata dengan seriusnya. "Tapi gue ga ...." Alex terlihat berpikir , ia tidak yakin dengan apa yang telah dilakukan terhadap wanita itu. "Ga sengaja dan ga berniat. Tetap aj Lex, lu harus bertanggung jawab,l!" ujar Pras dengan tegas. "Oke! Gue akan nikahi dia, tetapi jangan sampai keberadaannya terdengar keluar dari rumah ini!" seru Alex dengan khawatir. "Baiklah, lagipula gadis itu harus tenang dulu. Biar Gue yang coba untuk berbicara dengannya," saran Pras kembali, "oh ya, satu hal yang harus Lu ingat! Jangan sentuh minum-minuman keras lagi atau ...." Pras menghentikan pembicaraan ketika mendengar suara ketukan pintu. Tidak lama kemudian seorang asistan paruh baya masuk dan memakaikan perempuan itu baju. "Bi, tolong bawa mba ini ke paviliun belakang. Jika yang lain tanya bilang wanita ini calon istri Tuan Muda!" seru Pras sambil menatap wanita itu dengan prihatin. "Baik, Mas Pras," jawab Asistan itu dengan patuh. "Jangan izinkan siapapun masuk ke paviliun kecuali lu dan Mba Nur!" seru Alex dengan serius kepada Pras. "Gue ga mau ada orang luar yang tahu soal kasus ini, terutama papi." Pras tampak mengangguk ia mengerti akan ketakutan Alex. Jika kasus ini sampai terdengar oleh media maka nama baik keluarga Bramasta akan tercoreng. "Gue harap, ini bisa jadi pelajaran buat lu. Emosi itu tidak akan menyelesaikan masalah," saran Pras sambil berlalu dari hadapan Alex. Alex tidak menyahut, tetapi perkataan Pras seperti menampar dirinya. Ia sangat menyesal telah melakukan perbuatan konyol itu di rumah ini. Sungguh Alex tidak menyangka semua akan rumit jadinya. *** Pras segera menyusul wanita itu ke paviliun. Kemudian ia menyuruh hi seorang asistan untuk menyiapkan makan. Namun, perempuan itu terlihat shock sekali dan trauma. Bahkan kerap histeris sehingga membuat asistan yang mengurusnya tampak kewalahan. "Gimana Mba Nur?" tanya Pras dengan cemas. "Mba nya ga mau makan, Mas Pras. Nangis terus dari tadi," jawab Bi Asih sambil memegang sepiring nasi yang masih utuh. "Biar saya coba," ujar Pras sambil mengambil makanan itu. Pras terlihat membujuk dengan sabar sehingga perempuan itu pun terlihat lebih tenang. "Kamu jangan takut, aku akan menjagamu!" seru Pras sambil tersenyum. "Sudah jangan menangis, semua akan baik-baik saja!" Pras berkata sambil menyeka air mata wanita itu yang selalu tumpah. Kemudian dengan telaten Pras menyuapi wanita itu, meskipun hanya dimakan sesuap dua suap. "Sekarang kamu sudah aman di sini, beristirahat lah!" ujar Pras sambil menyelimuti tubuh wanita itu. Mendapat perlakuan dari Pras yang lemah lembut wanita itu pun tampak mengangguk. Pras kemudian duduk di pinggir ranjang untuk menemani. Lalu ia mulai bertanya kepada gadis itu dan mereka pun terlibat percakapan yang serius. "Sepertinya lebih baik kamu tinggal di sini dulu!" seru Pras setelah mendengar penuturan gadis itu. "Tapi aku takut Mas Pras, kalau ...," ungkap wanita itu hendak menangis lagi. "Jangan takut, aku jamin Tuan Muda Alex tidak akan menyakitimu." Pras berjanji yang membuat wanita itu merasa aman. Setelah berpesan kepada asistan untuk menemani wanita itu, kemudian Pras segera meninggalkan paviliun. Pras terlihat sangat kesal sekali dengan perbuatan Alex. Andai ia bisa membawa perempuan itu pergi dari rumah ini, tetapi itu tidak lah mungkin bisa dilakukannya. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD