Bab.4 Ditinggal

1519 Words
Pak Roby hanya bisa pasrah ketika pihak Bank menyita rumahnya. Sekarang ia sudah jatuh bangkrut. Akhirnya dengan berat hati Pak Roby dan keluarganya harus meninggalkan rumah itu. "Untuk sementara waktu kita mengontrak rumah di sekitar sini. Sampai menunggu Riva pulang!" seru Pak Roby ketika ia beserta keluarga hendak pergi dari kediamannya. "Papah .., kalau soal Riva itu gampang. Kita bisa titip pesan sama tetangga. Tapi kalau harus tinggal disekitar sini aku ga mau. Nanti apa kata orang, pasti semua akan membuly keluarga kita." Bella merasa keberatan dan memberikan pendapatnya. "Tapi Bel, kita harus pindah kemana?" tanya Bu Ina dengan bingung. "Mamah tenang saja aku sudah punya tempat baru. Di mana kita bisa tinggal dengan tenang," jawab Bela dengan yakin. Akhirnya setelah berembuk, mereka setuju dengan rencana Bela. Kemudian mobil yang membawa keluarga Pak Roby pun meluncur pergi. "Kamu sudah titip pesan kepada tetangga, Bel?" tanya Bu Ina mengingatkan. "Sudah, mamah tenang saja! Riva pasti akan segera menyusul kita!" jawab Bela dengan santai. "Apakah Riva belum bisa dihubungi juga?" Pak Roby bertannya dengan cemasnya. "Belum Pah, sepertinya ia tidak mau diganggu." Bela menjawab sambil tersenyum sinis. Mobil yang membawa keluarga Pak Roby terus meluncur meninggalkan kota Bogor. Mereka akan memulai kehidupan yang baru. Di tempat yang baru juga tentunya. *** Beberapa hari kemudian Riva pulang dari hiking. Ia sangat terkejut ketika mendapati, rumah orang tuanya telah disita oleh pihak Bank. Para tetangga pun tidak ada yang tahu kemana orang tuanya pindah. Juga tidak ada pesan yang dititipkan untuk Riva. Justru ia mendapat cibiran dari para tetangganya. "Rasain! lagian jadi anak tidak berbakti sih. Dilamar sama orang kaya malah pergi," cetus seorang tetangga saat melihat Riva menangis. "Wajar lah kalau kamu ditinggal. Keluargamu sangat marah dan malu," sambung yang lainnya. Mendengar itu semua membuat Riva jadi bingung dan tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Kenapa ia yang dipilih dan disalahkan, sedangkan dirinya tidak ikut dalam perjodohan itu. Semua pertanyaan itu seperti sebuah misteri yang perlu dicari jawabannya. Riva pun sangat menyesal telah pergi pada tempo hari sehingga seperti ini jadinya. "Papah, mamah, kalian ada dimana? Kenapa aku ditinggal?" tanya Riva dalam kesedihan. Ponsel Riva jatuh ke jurang saat hiking. Sehingga ia meminjam handphone tetangga untuk menghubungi keluarganya. Namun, semua nomor yang dituju tidak aktif. Gadis itu pun merasa heran, kenapa tidak ada yang dapat dicalling semua. Dalam keputusasaanya, tiba-tiba Riva teringat dengan satu-satunya keluarga Pak Roby yang ada di Jakarta. "Aku harus ke rumah Om Rudi," lirih Riva dengan penuh harap. Akhirnya Riva berangkat menuju Jakarta, meninggalkan kota Bogor. Mentari mulai menyingsing ketika Riva menginjakkan kakinya di Ibu Kota. Dengan berbekal seadanya, ia kemudian pergi ke alamat yang di tuju. Untung Riva masih ingat jalannya, meskipun sudah lama ia tidak ke rumah Om Rudi. Setelah sesekali bertanya akhirnya, Riva sampai di rumah pamannya. "Assalamualaikum ...," ucap Riva sambil mengetok pintu. Tok ..! Tok ..! "Waalaikumsalam ...," jawab seorang lelaki dari dalam rumah. "Vani!" sebut Om Rudi dengan panggilan kecil Rivania ketika pintu terbuka. "Om, ada papah dan mamah di sini?" tanya Riva penuh harap. "Mereka tidak ada di sini, Van." Om Rudi menggeleng. "Memangnya apa yang sudah terjadi?" tanyanya heran. Dengan terbata, Riva menceritakan semua yang telah menimpa keluarganya. Om Rudi tampak mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mengangguk. "Om, akan bantu mencari mereka. Untuk sementara kamu tinggal di sini dulu ya!" ujar lelaki itu sambil menenangkan. "Siapa yang mau tinggal di sini, Pah?" Tiba-tiba Tante Lia keluar dari rumah. "Ada apa ini?" tanyanya kembali ketika melihat Riva. "Nanti Papah ceritakan di dalam, ayo kita masuk!" jawab Om Rudi sambil merangkul Riva. Om Rudi kemudian menceritakan kepada istrinya maksud kedatangan Riva. Awalnya Tante Lia keberatan jika gadis itu harus tinggal dirumahnya, tetapi setelah Om Rudy sedikit membujuk dengan terpaksa ia menyetujuinya. "Baiklah, tapi Riva harus bantu tante ya karena Bi Ira sedang pulang kampung!" seru Tante Lia aji mumpung. Riva pun mengangguk dan menjawab, "Iya, Tante." Riva kemudian dipersilahkan beristirahat di kamar pembantu. Padahal masih ada kamar yang kosong. Om Rudi tidak bisa berbuat apa-apa karena istrinya yang memegang kendali di rumah ini. Bagi Riva tidak masalah ia tidur di mana pun. Asalahkan ada tempat berteduh. *** Pagi-pagi sekali Riva sudah bangun. Setelah menunaikan salat subuh, ia segera menuju ke dapur untuk membantu Tante Lia. Namun, Riva hanya bertemu dengan Om Rudi yang sedang membuat kopi. "Hallo Vani, kamu sudah bangun?" sapa Om Rudi sambil mengaduk. "Iya, Tante Lia mana, Om?" tanya Riva yang heran melihat Om Rudi membuat kopi sendiri. "Masih tidur," jawab Om Rudi, "Kamu mau Om buatkan teh manis atau s**u?" tanya lelaki itu penuh perhatian. "Tidak usah Om, Vani bisa buat sendiri," tolak Riva dengan tidak enak hati. Tetap saja Om Rudi membuatkan dua buah gelas minuman. Untuk Vani dan satu buatnya. "Duduk sini!" ajak Om Rudi sambil meletakkan minuman yang ia buat di atas meja makan. Vani tampak menurut dan segera duduk di depan Omnya. "Om, kenapa papah dan mamah tidak meninggalkan pesan untukku? Mungkinkah mereka sangat marah kepadaku?" tanya Riva dengan wajah yang sedih. "Om juga tidak mengerti, tapi rasanya tidak mungkin Kak Roby pergi begitu saja meninggalkan dirimu. Semalam Om juga sudah mencoba menghubungi nomor mereka, tetapi tidak ada yang aktif, aneh," jawab Om Rudi sambil memberikan pendapatnya. "Pasti papah dan marah karena aku pergi tanpa pamit," timpal Riva dengan penyesalan yang terpancar dari sorot matanya. "Sudah, kamu tenang saja! Om akan berusaha terus mencari mereka," hibur Om Rudi sambil mengelus tangan Riva. Waktu menunjukan pukul 07.00 WIB. Om Rudi segera pamit untuk pergi bekerja. Setelah itu Tante Lia bangun dan memperlihatkan sifat aslinya. "Vani, kesini!" seru Tante Lia dari kamar mandi. "Ya Tante," sahut Riva sambil menghampiri Tante Lia. "Bantuin Tante nyuci baju ya!" seru wanita itu dengan sinis. Riva pun menganguk, tetapi betapa terkejutnya ia melihat tumpukan baju kotor yang menggunung. Setelah itu Tante Lia memberikan perintah lagi. Padahal pekerjaan Riva belum selesai. Mulai dari mencuci piring, bersih-bersih rumah dan menyetrika semua ia lakukan sendiri. Sementara itu, Tante Lia tampak santai dengan gawainya di Sofa. Sudah hampir satu bulan Riva tinggal di rumah Om Rudi. Selama itu pula ia diperlakukan seperti pembantu oleh Tantenya. Setelah Omnya pulang kerja, barulah ia bisa beristirahat. Terkadang gadis itu menangis sampai terlelap tidur. Ingin rasanya ia pergi tetapi tidak tahu harus kemana. "Vani," panggil Om Rudi pada suatu malam. "Ya Om," Riva menghampiri, "Sudah ada kabar dari papah dan mamah?" tanyanya penuh harap. "Belum, tetapi Om akan terus mencari keberadaan Mereka. Hemm .., kamu mau kerja tidak?" tanya Om Rudi dengan serius. "Ijasah Vani kan ga ada Om, pasti dibawa papah dan mamah pindah," jawab Riva apa adanya. "Kalau kamu mau, Om punya kenalan di Yayasan penyalur asistan rumah tangga. Jadi kamu tidak perlu membuat lamaran kerja," tutur Om Rudi kemudian. Riva tampak terdiam sesaat, ia pun berpikir sepertinya itu lebih baik daripada tinggal di rumah ini. Riva sudah tidak tahan lagi diperlakukan seperti asistan oleh tantenya sendiri. Lagipula ia sudah tidak punya uang. Akhirnya Riva menerima tawaran Om Rudy, "Riva mau Om." "Ga bisa! Riva harus tetap tinggal di sini sampai orang tuanya ketemu!" seru Tante Lia tidak setuju jika Riva bekerja di tempat lain. "Tapi Mah, Riva butuh--" "Butuh uang? Nanti Mamah kasih!" potong Tante Lia tetap pada keinginnannya. Om Rudy tampak menghela nafas panjang. Ia tahu sekali sifat istrinya yang super duper pelit. Hal itu lah yang membuat dirinya jauh dari keluarga Pak Roby. "Sudah Riva kembali ke kamarmu!" seru Tante Lia sambil menatap tajam ke arah Riva. Tanpa membantah Riva segera menuju ke kamarnya. Kemudian Tante Lia pun segera pergi meninggalkan Om Rudy yang masih diam mematung. Di dalam kamar Riva pun menangis. Ia hanya bisa pasrah menjalani semuanya. Rasa bingung, sedih, sesal dan rindu berkecamuk di dalam dadanya. Andai ia bisa mengulang waktu dan tahu akan begini jadinya. Pasti Riva tidak akan pergi waktu itu, tetapi semua telah terjadi. Penyesalannya pun kini tiada guna. Akhirnya gadis itu pun tertidur dalam tangisnya. Azan subuh berkumandang, mengalun begitu syahdu. Riva tampak menggeliat dan mula membuka matanya perlahan. Gadis itu segera menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kemudian ia melakukan salat dua rakaat. "Riva," panggil seseorang dengan pelan. Riva terlihat mendengarkan dengan seksama sambil melipat mukena. Lalu ia segera membukakan pintu dan melihat Om Rudi yang datang. "Ada apa, Om?" tanya Riva yang melihat heran kedatangan pamannya itu. "Bukan Om tidak suka kamu tinggal di sini. Tapi Om ga rela jika tantemu berlaku semena-mena terus. Om yakin kamu pasti bisa," tutur Om Rudi sambil memberikan Riva sebuah kartu nama dan beberapa lembar uang ratusan. Riva mengerti maksud Om Rudy, memberikan semua itu kepadanya. Dengan haru gadis itu pun mengucapkan, "Terima kasih, Om." Riva segera memeluk pamannya. Om Rudi tampak mengelus kepala Riva seraya memberitahu, "Jika orang tuamu sudah ketemu, om akan kabari secepatnya, hati-hati ya!" pesannya kemudian. Riva tampak mengangguk dan kembali masuk ke kamar untuk membereskan bajunya. Kemudian ia pergi dari rumah itu. Jiwa petualangnya pun tertantang untuk menaklukkan kota Metropolitan Jakarta. Dengan berbekal sebuah kartu nama, akhirnya Riva menemukan yayasan yang dituju. Rupanya Om Rudi sudah memberitahu relasinya di sana sehingga Riva diterima dengan baik dan langsung ditraning. Berkat kecerdasan dan kecantikan yang dimiliki oleh Riva, ia akan segera mendapat penempatan. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD