Bab. 3 POV. Alex, Awal sebuah dendam

1510 Words
Aku segera membawa papi ke rumah sakit terdekat. Beberapa tenaga medis terbaik segera menangani papi dengan cepat. Aku sangat panik dan khawatir dengan kondisi papi yang menjadi kritis saat memasuki ruang ICU. "Dok, berapa pun biayanya tolong selamatkan Papi, saya!" seru Alex kepada seorang Dokter, yang tergesa menuju ruang ICU. "Pasti kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien, tolong dibantu dengan doa ya, Pak!" ujar Dokter tersebut sambil menutup pintu. Aku melepaskan jas dan membuang ke bangku. Kemudian menjambak rambut sambil tertunduk lesu. Perasaan sedih, cemas dan penyesalan berkecamuk di dalam d**a. Beberapa saat kemudian aku berdiri, dengan mata yang ia sembab. "Tenang Bro! Papi sudah ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini!" seru Pras yang melihat kepanikan di wajahku. "Coba tadi Gue ga ngotot, pasti Papi sekarang baik-baik saja," ucapku penuh sesal. "Kenapa pilih Riva sih, emang lu kenal?" tanya Pras ingin tahu. "Sebenarnya ...." Aku pun menceritakan awal pertemuan dengan Riva dan tidak terima dengan sikapnya. Apalagi saat lamaran tadi tidak melihat kehadirannya. Aku merasa tertantang untuk mendapatkan gadis sombong itu. Pras tampak mendengarkan dengan seksama. Kemudian ia menghela nafas panjang dan berpendapat, "Ga semua wanita itu silau dengan harta Lex dan ga semua cewek terpesona dengan ketampanan. Contohnya Riva, kalau menurut Gue, dia ga salah dalam hal ini. Ia mempunyai hak untuk menolak perjodohan itu." Aku tidak menjawab dan hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi dan itu semua karena keegoisanku. "Kita bantu doa, agar Papi bisa ngelewatin masa kritis yuk!" ajak Pras ketika mendengar suara azan sayup-sayup. Aku mengangguk dan segera memanggil Boy untuk stand by menjaga papi. Kemudian aku dan Pras pergi mencari mushola. Malam kian larut, tetapi papi belum juga sadarkan diri. Dari jendela pintu ruang ICU, terlihat orang yang sangat kusayangi itu terbaring lemah. Dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya. "Pi bangun, Pi ! Maafin Alex," lirihku dengan mata yang memancarkan ketakutan akan kehilangan. [Jika sesuatu terjadi dengan papiku, kau harus membayarnya dengan mahal Riva,] gumamku dalam hati sambil mengepalkan tangan menahan amarah. Ketika Pras menyuruh untuk pulang kumenolak. Tidak ingin rasanya pergi meninggalkan papi ketika ia belum sadar. Tidak tenang rasanya hati ini. Akhirnya Pras yang pamit untuk pulang setelah mengurus semua administrasi. Malam ini aku tidak bisa memejamkan mata dengan pulas. Entah mengapa rasa kantuk itu hilang begitu saja. Ku menyelusuri lorong rumah sakit yang sunyi. Mencoba mencari ketenangan dalam kegundahan rasa bersalah yang terus berkecamuk di dalam d**a. *** Pagi telah tiba, Pras terlihat sudah datang kembali ke rumah sakit. Ia segera menuju ke ruang tempat Pak Bram dirawat. "Tuan Muda kemana?" tanya Pras kepada Boy. "Tadi sih bilang mau ke mushola, Mas Pras," jawab Boy sambil meneguk kopi hitamnya. Pras pun segera mencari Alex, dia sangat khawatir dengan tuan mudanya itu. Dilihatnya Alex duduk di pojokan mushola yang sedang berdoa sambil sesegukan. Pras sudah Kehilangan seorang ayah sejak kecil. Jadi ia mengerti bagaimana perasaan Alex saat ini. "Sudah jangan nangis terus, tar gantengnya ilang loh," ledek Pras sambil memperhatikan wajah Alex yang sembab. Mendengar itu aku segera menyeka sisa-sisa air mata dan memakai sepatu kemudian berjalan dengan gontai beriringan dengan Pras. Berusaha tegar dalam keterpurukan saat ini. "Keluarga Pak Bram?!" panggil seorang Dokter yang keluar dari ruang ICU. "Saya, Dok!" sahutku sambil mempercepat langkah. "Pak Bram sudah melewati masa kritisnya, tetapi kondisi pasien masih lemah. Jadi beliau masih membutuhkan ketenangan," tutur seorang Dokter menjelaskan. "Alhamdulillah ...," ucapku mendengar hal itu dengan seulas senyum yang mengembang. Kemudian papi segera dipindahkan ke ruang inap kelas VIP. Aku dan Pras segera masuk ke ruang itu untuk melihat kondisinya. Melihat Papi yang sudah membuka mata dengan senang aku berkata, "Papi sudah sadar." Namun, papi memalingkan wajahnya ke arah Pras. Seolah ia tidak mau melihat diriku. Mungkin papi masih marah akan keegoisanku. Maka dari pada itu, aku segera mengucapkan, "Maafkan Alex Pi, aku janji akan menerima siapa pun pilihan papi." Papi tidak bergeming bahkan dengan lemah ia memanggil nama asisten pribadinya itu, "Pras." Aku segera menarik senyum ketika orang yang kucintai itu terlihat mengacuhkan kehadiranku. Pras terlihat mendekat ke arah papi sambil melihatku dengan perasaan tidak enak. Sepertinya kehadiranku tidak diharapkan di sini. Tanpa pamit aku segera keluar dari kamar itu dengan perasaan sedih. Pras pun berniat mengejar Alex, tetapi Pak Bram memegang tangannya dan berseru, "Biarkan!" Sepertinya papi masih marah dan kecewa kepadaku. Wajar jika ia bersikap seperti itu karena aku sudah membuat papi malu dan menghancurkan harapannya. Aku segera memanggil Boy dan langsung meninggalkan rumah sakit. Setelah sampai dirumah aku langsung menuju kamar. Aku tidak bisa menahan kantuk lagi dan tertidur dengan pulas. Pada sore harinya aku terbangun. Setelah membersihkan diri, aku berniat kembali ke rumah sakit. Dengan harapan papi akan memaafkan ku. Namun, tiba-tiba Boy memberi kabar jika papi lansung dibawa ke Singapura oleh dokter keluarga tanpa meminta persetujuanku. Aku sangat tidak percaya mendengarnya. Papi kembali menganggapku tidak ada sebagai putranya. Apakah ini cara papi menghukum ku? Entahlah kuharap semua akan segera membaik. Ingin rasanya kutanyakan alasan papi melakukan hal itu kepada Pras, tetapi aku memilih merajuk agar papi tahu kalau aku tidak terima diperlakukan seperti ini. "Ini semua gara-gara gadis sombong itu." Aku memekik sambil memukul tembok sampai meninggalkan jejak di sana. Entah mengapa aku semakin benci kepada Riva. Aku menganggap gadis itulah penyebab semua masalah ini. *** Hari selanjutnya aku dan Pras terlihat perang dingin. Entah mengapa kini aku jadi tidak suka kepada Pras. "Lex, ku kenapa cuek sama Gue?" tanya Pras membuka pembicaraan, "Oh ya soal papi--" "Gue udah tau." Potongku ketus. "Papi ingin dirawat di sana bersama wanitanya kan?" Aku menebak sambil menatap Pras dengan sinis. "Jangan asal bicara Lex! Beliau ga seperti itu," sergah Pras, tetapi aku tidak menghiraukannya dan berlalu pergi. "Lex, tunggu kita perlu bicara." Pras mencegah langkahku. Aku tatap wajahnya dengan tajam seraya berseru, "Minggir, urus saja lelaki tua itu dengan baik!" "Lex, cobalah berpikir dengan tenang!" balas Pras ia belum saja mau menyingkir dari hadapanku. "Iya, ini memang semua salah gue, tetapi gue sudah minta maaf dan ingin memperbaiki semuanya. Lalu apa yang gue dapat? Papi sudah tidak menganggap gue lagi sebagai putranya." Aku berkata dengan lantang sambil mendorong bahu Pras. Aku tinggalkan Pras yang terlihat mematung. Sempat melirik sekilas, ada sesuatu yang tidak dapat Pras sampaikan dan aku tidak mau tahu akan hal itu. Dengan diantar Boy yang merangkap sebagai Bodyguard. Aku meluncur menggunakan Marcedes bezn dan meninggalkan rumah. Bahkan sesampai di kantor aku tidak banyak bicara. Beberapa orang staf yang menyapa pun aku acuhkan begitu saja. Aku langsung memasuki ruangan kerja dan menghempaskan tubuh di kursi putar yang empuk. Rasa sesal, marah dan benci berkecamuk di dalam dadaku. Tidak pernah kuduga semua akan begini jadinya. Untuk kesekian kali, aku tetap menyalahkan Riva. Entah mengapa aku sangat geram jika mengingat kejadian itu. Apa yang kurang dari seorang Alex Bramasta. Aku sangat tampan dengan body yang atletis juga kaya raya. Hal itulah yang membuat aku sampai saat ini masih belum bisa terima. Jika seorang perempuan biasa seperti Riva dengan berani menolak diriku. Bayang-bayang wajah Riva terus bermain di benakku. Sungguh perempuan itu telah membuatku tidak bisa melupakannya. Aku masih ingat betul bagaimana, Riva menatap dengan juteknya. Semakin aku mencoba untuk tidak memikirkan wanita itu. Semakin kuat saja ingatanku tentang sesosok Riva. Bahkan seharian ini, aku sulit sekali untuk berkonsentrasi. "Kurang ajar kau Riva, lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu," lirihku dengan sorot mata yang menyimpan dendam. Aku segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang, "Cari info mengenai putri Pak Roby yang bernama Riva. Apapun yang ia lakukan beritahu aku!" perintahku dengan tegas. "Siap Boss," jawab seseorang dari sebrang sana. Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 WIB. Aku masih berada di kantor. Rasanya enggan sekali untuk pulang. Apalagi di rumah ada Pras, aku masih malas untuk bertemu dan berbicara dengan orang kepercayaan papi itu, meskipun kami sudah seperti sahabat dan dekat sekali. Sehabis Isya barulah aku meninggalkan kantor. Mobil yang membawaku meluncur di bawah terangnya lampu jalan. Pada saat melintasi salah satu hotel bintang lima yang menyediakan fasilitas mewah untuk orang-orang kaya. Tiba-tiba aku ingin untuk masuk ke sana, meskipun papi sudah melarangku untuk tidak pergi ketempat seperti itu, kini ku tidak perduli. Jika papi dapat mengambil keputusan sendiri, aku pun bisa. Lagi pula aku seorang lelaki dewasa yang dapat mempertanggung jawabkan perbuatanku. Aku berharap mungkin di tempat itu bisa melupakan semua yang telah terjadi. Termasuk wajah perempuan sombong yang sudah berani menolakku "Bos, nanti kalau Mas Pras tahu gimana?" tanya Boy mengingatkan. "Peduli apa dengan Pras? Awas jika kau berani buka mulut!" jawabku dengan emosi dan mengancam. Boy sangat patuh dan mengikuti keinginanku. Dengan segera kami memasuki hotel tersebut. Kemudian menuju ke salah satu ruangan, tempat om-om dan lelaki tajir melintir nongkrong. Aku melihat banyak sekali beraneka jenis minuman keras impor yang disediakan. Aku memilih tempat duduk yang paling pojok tidak lama kemudian, seorang waiters dengan berpakaian seksi menghampiri. Aku segera memesan beberapa botol vodka dan wiskey. Entah sudah berapa banyak minuman keras yang aku tenggak. Berharap semuanya mampu membuat moodku jadi baik. Sejenak melupakan kalau minuman keras hanya membuatku kehilangan akal sehat. Tanpa memikirkan akibatnya. Sementara Boy tidak ikutan minum karena, ia harus menjaga diriku jika sampai mabuk. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD