Sementara itu di dalam rumah Hani.
Setelah merasa bahwa tidak lagi ada teriakan keras dan cacian dari penagih utang, Hani buru-buru melepaskan pelukannya dari sang anak. Berbanding terbalik dengan sang ibu, gadis kecil itu tidak memperlihatkan raut wajah takut apapun, mungkin sudah sering penagih utang mendatangi tempat tinggalnya hingga rasa takut yang pada awalnya berangsur-angsur hilang menjadi kebiasaan.
Hani terlihat takut dan buru-buru ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya.
Si gadis kecil yang merupakan anak perempuannya itu mengikuti kemana Hani melangkah.
"Bu, Ibu ingin ke mana?" tanya anak cilik itu, "banyak baju yang ibu masukan ke dalam tas."
Gadis kecil itu hanya melihat bingung ke arah sang ibu yang terlihat panik.
Hani baru tersadar bahwa ada anaknya di dekatnya. Sambil melirik ke arah sang anak, Hani berkata, "Ibu harus menghindari Om Yosep itu, dia orang jahat."
"Kenapa Om itu jahat, Bu?" tanya gadis kecil itu polos.
Hani mengembuskan napas kasar dan lelah, dia menatap sang anak dan berkata, "Hana, dengar Ibu, Ibu sudah lelah, Nak. Ibu sudah lelah hidup miskin dan pinjam uang terus-menerus ke orang-orang. Ibu ini manusia, pengen juga hidup enak dan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang kaya yang dihormati banyak orang, bukan orang miskin seperti ini yang selalu dihina oleh orang-orang, bahkan ayahmu saja menghinaku di depan keluarganya. Ibu sudah tidak tahan lagi, Hana!" Hani terlihat frustasi saat mengatakan kalimat yang baru saja diucapkan pada sang anak.
Hana, nama sang gadis cilik itu. Dia melihat ke arah ibunya.
"Bu, apa kita akan pindah rumah lagi?" tanya Hana.
Hani menatap dalam-dalam ke arah anak perempuannya selama beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.
“Ya, pindah rumah lebih baik,” balas Hani.
*
Hana melihat sang ibu sedang memasak untuk menu makan malam mereka. Telur ceplok setengah matang. Entah mengapa hati Hana sangat senang saat melihat sang ibu memasak untuk pertama kalinya. Selama dia hidup, sang ibu selalu membeli makanan jadi, sang ibu selalu sibuk ke sana ke mari seperti seorang pekerja bisnis yang mengejar targetnya agar terpenuhi setiap bulan. Biasanya, dia yang akan memasak sendiri telur ceplok setengah matang itu jika sang ibu telat pulang setiap malam.
Hani meletakkan telur ceplok setengah matang di atas piring yang telah diberi satu sendok nasi. Lalu diberikan pada Hana yang telah duduk bersila di lantai beralaskan tikar sambil memegang sendok.
"Ini, makan malam kamu," ujar Hani.
Hana terlihat sangat senang, dia menerima gembira piring itu dan berkata pada ibunya. "Ibu, terima kasih."
Ucapan Hana terdengar sangat tulus dan polos.
Hani memandang sang anak agak lama, dia tak mengangguk untuk beberapa saat. Hani memilih untuk melihat sang anak makan dengan lahap. Makan malam pertama sang anak yang dimasak olehnya. Dalam pikiran Hani, entah sudah berapa lama dia tidak melihat sang anak makan dengan lahap dan penuh dengan damai.
Di samping Hana, sebuah tas ransel yang telah penuh dengan isi pakaian Hana terduduk rapi, seakan tas ransel itu siap dibawa oleh sang empunya tas.
Hana makan dengan lahap sambil tersenyum riang.
Selama melihat senyum riang sang anak, mata Hani memerah lalu berkaca-kaca.
"Bu, ada apa? kenapa mata ibu merah?" tanya Hana. Gadis ini menghentikan sementara aktivitas makan dan melihat ke arah sang ibu.
Hani menggelengkan kepala lalu berbalik agar sang anak tak melihat beberapa tetes air mata jatuh dari dua pelupuk matanya.
"Ibu tidak apa-apa, hanya kelilipan. Kamu makan yang cepat lalu tidur, besok kamu harus pergi," jawab Hani.
"Um, baik, Bu," sahut Hana patuh, dia kembali melanjutkan aktivitas makan.
Saat sedang makan, Hani berkata dengan nada lirih.
"Hana," panggil Hani.
"Ya, Bu?" sahut Hana setelah itu dia menatap sang ibu.
"Nanti kalau kamu ketemu dengan Ayahmu, jangan mudah marah dan kesal, yah?" ujar Hani. Seakan ini adalah nasehat.
Hana menatap sang ibu.
"Bu, kita mau ketemu Ayah Hana?" tanya Hana.
Hani menatap wajah sang anak.
"Kamu nggak mau ketemu sama Ayah?" tanya Hani berbalik.
"Tentu saja Hana mau, Bu! Hana senang, belum pernah ketemu Ayah!" jawab Hana senang.
Hani mengangguk agak puas.
"Bagus, ayo minum dulu, setelah itu tidur sama Ibu," ujar Hani.
Hana mengangguk senang, dia menerima gelas berisi air mineral yang diberikan oleh sang ibu.
"Bu, tunggu Hana cuci piringnya, yah, lalu kita tidur sama-sama," ujar Hana seperti sudah tak sabaran.
Hani menggelengkan kepalanya.
"Biarkan piring dan gelas kotornya Ibu saja yang cuci," ujar Hani.
Hana lagi-lagi tersenyum senang karena sang ibu telah membawa piring dan gelas kotor ke tempat cucian.
Saat tengah malam tiba, Hana terlihat memeluk erat sang ibu, namun Hani malah mengusap kepala sang anak. Rambut anaknya sebahu, tujuan dia memotong rambut anaknya karena itu permintaan dari anaknya sendiri. Sang anak menyadari bahwa dia tidak leluasa merawat rambutnya yang panjang, jadilah dipotong pendek.
Flashback beberapa hari sebelumnya.
“Bu, bolehkah Hana minta tolong agar rambut Hana dipotong pendek saja?” ujar Hana.
Hani yang sedang menggaris lipstik pada bibirnya melirik ke arah sang anak.
“Kenapa mau dipotong?” tanya Hani.
“Hana agak susah mengikat rambut Hana, Bu,” jawab Hana.
Hani mengangguk.
Flashback end.
"Hana, maafin Ibu, yah, jika selama ini kamu nggak ibu perhatikan. Nanti pas ketemu Ayah, Hana harus jadi anak baik, biar bisa disayang Ayah," ujar Hani pelan.
*
Pada pagi harinya, sepasang ibu dan anak itu berdiri di sebuah gerbang rumah yang cukup besar dan mewah.
Hana memandangi rumah itu.
"Bu, kita kenapa ke sini?" tanya Hana.
Hani memberikan empat lembar kertas dan selembar foto berukuran 4x6 cm untuk dipegang oleh Hana.
"Hana, pegang ini!" pinta Hani.
Hana menuruti.
Hani berjongkok di depan sang anak lalu mengusap lembut rambut sang anak, setelah itu dia berkata, "Nanti pas ketemu orang yang ada di foto ini, ini Ayah. Bilang ke Ayah kalau Ibu yang suruh Hana datang ke sini untuk tinggal dengan Ayah, Hana bisa bilang, kan?"
Hana mengangguk pelan.
Hani tersenyum lalu mengecup kening sang anak. "Ayo masuk!" pinta Hani.
Hani membuka gerbang rumah itu lalu mendorong pelan Hana masuk. Namun, Hana berbalik dan bertanya, "Ibu tidak ikut masuk?"
Hani tersenyum kecut, dia menjawab, "Ibu di sini melihat Hana bertemu Ayah."
Hana terlihat ragu, pasalnya ini adalah kali pertama dia datang ke rumah sebesar ini, namun karena melihat wajah sang ibu, Hana tidak lagi terlihat ragu.
"Nanti kalau sudah masuk ke rumah Ayah, Hana tetap di dalam, yah, jangan keluar lagi, nanti Ayah marah," ujar Hani.
Hana mengangguk.
Hana berjalan pelan mendekat ke arah rumah dua lantai. Halaman rumah ini cukup luas. Hana berbalik dan menengok ke arah pagar rumah, sang ibu tersenyum menenangkan, hal ini membuat Hana bertambah berani untuk mendekat ke arah rumah itu.
Seorang lelaki paruh baya mendekat ke arah Hana. "Waduh, Dek, main jauh, yah, sampai tersesat di sini?" tanyanya.
Hana menatap wajah pria paruh baya lalu manatap foto, dia menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Hana mau ketemu Ayah."
….