BAB 7 PENGAKUAN

1128 Words
Ken Langit senja berangsur gelap. Matahari sudah membenamkan dirinya untuk bergantian dengan bulan. Kala itu aku sudah lebih dulu bangun sebelum malam menjelang.    Aku mengamati robot Wulan. Ini sudah waktunya dia berubah wujud. Perlahan, robot itu pun bergetar. Menunjukkan tanda-tanda akan berubah. Tak mau ketahuan sedang mengamati, aku lantas bergegas menuju pintu depan untuk membukanya. Bagaimanapun, sirkulasi udara di rumah ini harus berjalan baik. Meskipun itu udara malam.    Saat aku berbalik badan, Wulan sudah jadi manusia. Aku cuma menatapnya sekilas, lalu melanjutkan kegiatanku tanpa menyapanya. Bergegas membuka laptop untuk bekerja.    Merasa diabaikan, Wulan pun berkomentar. "Apa kamu selalu kayak gitu sama semua orang?"    Aku diam saja. Aku tidak punya minat untuk menanggapi pertanyaannya.    "Gak bisa ya, bersikap lebih manis sama perempuan?" celotehnya sambil duduk di kursi rotan. Nampaknya dia keberatan dengan sikap dinginku.    "Aku cuma bisa melakukannya pada satu orang," jawabku sekenanya, yang tanpa sadar itu terkesan seperti bagian dari curhat. Aku terpancing olehnya.    Jawaban itu tentu membuat Wulan jadi bertanya lagi. "Beruntung banget orang itu. Boleh aku tau siapa orangnya?"    Terlanjur sudah menjawab pertanyaan sebelumnya, aku pun terpaksa menjawab pertanyaan yang ini. "Orangnya tinggal di rumah sebelah," jawabku pendek.    Sesaat, Wulan terdiam. Diamnya lebih seperti heran atau penasaran dengan apa yang baru saja kukatakan. Dia seperti memendam kalimat tanya tentang bagaimana bisa seseorang yang dingin sepertiku bersikap manis pada perempuan. Bukan tidak mungkin, dia juga ingin melihat seperti apa rupa orang yang kumaksud.    "Boleh kupinjam bajumu?" tanya Wulan, mengganti topik percakapan.    "Memangnya kenapa dengan baju itu?"    "Aku kurang nyaman sama kimono ini. Aku mau ganti baju," ungkapnya.    Aku belum merespon. Tapi Wulan sudah meneruskan kalimatnya. "Akan lebih baik, kalau kamu belikan aku baju yang lain. Baju perempuan," cetusnya memberi ide.    "Aku ngerti. Untuk sementara, bertahanlah dulu dengan baju itu," saranku. Tapi entah mengapa, gerakan tubuhku tidak sinkron dengan perkataanku. Aku hendak berdiri dan mengambil pakaian di lemari. Kuberikan baju itu pada Wulan untuk berganti pakaian.    Sebenarnya itu adalah baju yang kubeli khusus untuk Luna. Aku membelinya secara online. Baru tiba sore tadi. Tapi mendengar Wulan ingin berganti pakaian, hatiku jadi tergerak untuk memberikan baju itu padanya. Biarlah. Untuk Luna akan kuberikan yang lain. Masih ada paket yang belum sampai.    "Ini," aku menyerahkan baju itu kepada Wulan. "Kamu bisa ganti baju di kamar itu," tunjukku pada satu kamar.    "Kok kamu punya baju perempuan?" komentarnya lagi.    "Itu hadiah buat pacarku. Tapi gak masalah. Masih ada baju lain yang bisa diberikan."    Pacar? Sejak kapan Luna jadi pacarku? Itu sudah masa lalu. Sekarang kita hanya berteman. Begitu ralatku dalam hati.    Sesaat kemudian, Wulan selesai berganti pakaian. Kali ini dia tidak menggangguku. Dia memilih asik sendiri di depan TV, menonton tayangan drama sambil menikmati camilannya. Dia tahu aku sedang bekerja. Tapi dia tidak tahu kenapa aku bekerja di malam hari.    "Kamu selalu lembur tiap hari ya?" tanya Wulan tiba-tiba, saat tayangan drama berganti jeda iklan.    "Ini bukan lembur. Aku memang kerja di malam hari," sahutku.    "Apa yang kamu kerjakan?" dia bertanya lagi. Mungkin dia penasaran, pekerjaan apa sehingga aku harus mengerjakannya di malam hari.    "Kamu gak perlu tau," jawabku seperti biasa, yang mungkin terdengar ketus.    "Ih, gitu amat," komentar Wulan seketika. Dia jengkel menerima jawabanku.    Tak lama kemudian, dia berjalan menuju pintu. Kulihat, dia memerhatikan suasana di luar rumah. "Aku keluar sebentar," izinnya tiba-tiba.    "Mau kemana?" tanyaku ringan. "Jalan-jalan sebentar di sekitar rumah. Aku mau tau kondisi kampung ini seperti apa. Cuma mau lihat-lihat aja," terangnya kemudian.    "Jangan jauh-jauh," pesanku.    "Oke, aku ngerti kok."    "Jangan terlalu lama. Hati-hati dilihat orang," pesanku lagi.    "Siap, Bos!" sahutnya dengan gelagat memberi hormat, tersenyum, lalu menghilang di balik pintu.    Jangan salah paham. Ini bukanlah bentuk perhatian kepada Wulan. Aku hanya tidak mau robotku kenapa-kenapa.    Selepas Wulan pergi, Luna muncul di ambang pintu. Dia datang mengetuk pintu yang memang sudah terbuka, meminta perhatianku yang tengah fokus ke laptop.    Aku menoleh saat pintu diketuk pelan. Senyumku langsung mengembang melihat dia datang. "Luna?!" ucapku spontan. Aku langsung bergerak menujunya. Meninggalkan pekerjaan yang masih setengah jalan. "Ayo masuk," terusku, mempersilakan Luna untuk masuk.    Di tangannya ada sesuatu yang dia bawa. Sebuah wadah berisi makanan. "Ini untuk kamu," katanya sembari menyodorkan wadah itu padaku. Dengan senang hati aku menerimanya. "Wah, apa ini?" tanyaku setelah menerimanya.    "Aku coba-coba membuat makanan. Aku ingin kamu mencicipinya. Semoga rasanya enak," tutur Luna.    Aku tertawa sebentar. Tawa ini mengundang pertanyaan Luna. "Kenapa tertawa?" tanyanya keheranan.    "Ada apa sama gaya bicaramu? Kenapa kamu pakai bahasa formal?" jawabku setengah terkikik. "Santai saja," kataku lagi.    "Oh itu," tanggapnya singkat. Lalu ia cuma nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang sudah pasti tidak terasa gatal sama sekali.    Aku lantas melihat isi wadah itu. Ternyata dia membawakan aku mie kuah dengan topping ikan bumbu yang dihancurkan, ditambah telur mata sapi di atasnya. Mungkin ini bisa dibilang ramen ala Luna. Entah dari mana dia mendapatkan ide untuk membuat makanan seperti itu. "Kelihatannya enak. Pasti aku habisin. Makasih ya," ucapku terus terang, seraya tersenyum padanya. Dia pun membalas senyumku dengan lebar.    "Oh ya, tadi kulihat ada perempuan keluar dari sini. Siapa dia?" tanyanya penasaran.    "Oh, itu," kalimatku menggantung. Aku menimbang sebentar. Haruskah kuberitahu Luna tentang Wulan?    "Siapa?" desaknya. "Bukan siapa-siapa," jawabku pada akhirnya. Lantas dengan refleks tanganku mengusap kepalanya, seperti yang biasa kulakukan di masa lalu. Ah, nampaknya aku masih menyayangi orang ini. Tidak. Bukan masih, tapi selalu.    Untuk beberapa detik, Luna membiarkan tanganku berada di kepalanya. Membiarkanku mengusap kepalanya dengan lembut. Ekspresi wajahnya lebih terlihat seperti heran dan merasakan sesuatu. Luna sempat menatap tanganku yang kini hinggap di kepalanya, sebelum akhirnya pandangan kami bertemu dan saling bertatapan.    Namun, tiba-tiba saja Luna menepis lenganku dan langsung berdiri. Ia mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat dan diam seribu bahasa. Tak lama, dia akhirnya berkata sesuatu. "Aku pulang dulu," ucapnya sambil lantas berlalu dari hadapanku. Buru-buru ingin pulang.    ***    Luna    Aku pulang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Aku merasa ada yang salah dengan tubuhku. Namun entah apa.    Sesampainya di rumah, aku disambut dengan pertanyaan. "Dari mana?" tanya Sakti saat melihatku datang. Dia sedang asik dengan benda pipih di tangannya, yang belum kuketahui apa namanya. Membiarkan dirinya ditonton oleh televisi.    "Dari rumah Ken," jawabku lesu, sambil lantas duduk di kursi sebelahnya. Tanganku langsung memegangi d**a yang kian terasa aneh. Merasakan sesuatu.    Sakti yang menyadari itu, spontan bertanya. "Dadamu kenapa?"    Aku menggeleng. "Entahlah. Sepertinya ada yang salah dengan tubuhku. Aku tidak tahu ini apa."    "Bagaimana rasanya?" tanya Sakti lagi, masih sambil bermain benda pipih itu.    "Jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Padahal aku tidak melakukan apapun. Ini terasa aneh. Apa aku baik-baik saja?" jawabku dengan penuh rasa khawatir.    "Yakin tidak melakukan apa-apa?" Sakti malah bertanya balik.    "Aku cuma bertemu Ken sebentar. Itu saja," aku menjelaskan.    Mendengar itu, Sakti langsung menatapku serius. Ia meletakkan benda pipihnya di atas meja dan fokus berbicara padaku.    Apa yang akan Sakti katakan? Kenapa dia menatapku setajam itu? Aku jadi cemas dibuatnya.    (*) 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD