BAB 6 RINCIAN TUGAS

1103 Words
Sakti Luna tidak tahu kalau aku baru saja mendapat ide brilian untuk menjebaknya ke dalam permainanku. Dia tidak tahu bahwa ada sebuah rencana di balik senyumku yang mengembang itu. Sekembalinya dari pantai, aku siap melancarkan satu per satu rencana yang sudah kususun sedemikian rupa. Sesampainya di pekarangan, aku langsung menjelaskan tugas pertamanya. ”Pertama, kamu harus menyulap pekarangan ini menjadi enak dipandang. Rapi dan bersih. Kamu harus memotong rumput, menyapu halaman, dan menata kembali pot-pot berisi tanaman itu. Jangan lupa untuk menyiramnya setiap hari,” tuturku sangat rinci. “Baiklah, aku bisa mengurusnya,” sambutnya dengan semangat. Penuh sukacita menerima tugas pertamanya. “Bagus. Selanjutnya, ikut aku!” kataku lagi, memberi kode dengan gerakan kepala. Bagaikan seorang pengikut, Luna pun membuntutiku ke dalam rumah. “Yang kedua, kamu harus selalu membuat rumah ini dalam keadaan bersih dan rapi. Tidak boleh berantakan. Kamu harus menyapu, mengepel, dan merapikan barang-barang di setiap ruangan. Ingat, pastikan tidak ada debu menempel, terutama di barang-barang pribadiku,” jelasku mendadak tegas. Dengan wajah berseri-seri, Luna pun menyanggupi tugas yang ini. “Serahkan padaku. Aku juga bisa mengurus itu,” jawabnya mantap. Dia sama sekali tidak merasa terbebani dengan tugas yang harus diembannya. “Satu lagi, kamu juga harus memastikan ruangan ini selalu wangi,” tambahku. “Wangi? Bagaimana caranya?” ekspresi Luna mulai bingung. “Apa aku harus meletakkan berbagai macam bunga di dalam ruangan? Atau aku harus menabur bunga di tiap sudut ruangan?” tanyanya kemudian. Aku tertawa mengejek. “Apa-apaan itu? Itu cara kuno dan jadul sekali,” ledekku pada idenya. Lalu aku mengambil sesuatu dari dalam laci. Aku menyemprotkan pengharum ruangan yang sedang kupegang. Terlihat mata Luna mengikuti gerakan tanganku. Ia melihat percikan air keluar dari dalam tabung pengharum ruangan. Seketika ruangan berubah menjadi wangi. “Wah, ruangannya jadi wangi,” seru Luna berseri-seri. Ia lalu memperhatikan pengharum ruangan yang masih di genggamanku. Mendapati ekspresi itu, tentu saja aku langsung berakting, pura-pura tak mengerti. Aku langsung melemparkan pertanyaan padanya. “Kenapa? Kamu seperti baru melihat benda ini saja.” Mata Luna tak lepas dari pengharum ruangan itu. Baginya, benda itu seperti sesuatu yang menarik. Bahkan mungkin ajaib. “Ajari aku cara menggunakannya!” pinta Luna seraya merebut pengharum ruangan itu dari tanganku. “Apa kamu sedang bercanda?” kataku sembari merebut kembali pengharum ruangannya. Lalu meletakkannya kembali di tempat semula. Luna pun cuma diam menahan rasa kesalnya. “Ikut aku!” pintaku lagi. Sekarang, aku menuju dapur. Kuperhatikan area dapur dengan saksama. Semuanya terlihat rapi. Tapi sepertinya, ada yang salah di sana. “Apa ini?” tanyaku begitu melihat kejanggalan di dapur. “Kayu bakar,” jawab Luna spontan. “Siapa pun tahu kalau ini kayu bakar. Pertanyaannya adalah kenapa ada kayu bakar di sini?” “Tentu saja untuk memasak. Aku membuat tungku di belakang rumah,” jawabnya tanpa rasa bersalah. Seketika itu juga aku langsung memeriksanya ke belakang rumah. Ternyata benar. Ada tungku disana. “Kamu memasak di atas tungku?” tanyaku kemudian. Sambil lantas geleng-geleng kepala, benar-benar tak habis pikir. Namun aku berusaha untuk memaklumi. Aku sadar betul bahwa Luna bukan berasal dari zaman modern. Ragu, Luna bertanya. “Apa ... ada yang salah?” “Sudahlah, aku bisa maklum. Lain kali kamu harus memasak di atas kompor.” “Kompor?” “Ini dia yang namanya kompor,” tunjuknya pada kompor gas bertungku dua. “Kamu bisa menyalakan dan mematikannya seperti ini,” aku memberikan contoh. Sedangkan yang diberi tahu, manggut-manggut setengah takjub, karena apinya bisa muncul dan hilang sendiri. Aku lantas membuka lemari es. Sungguh, aku terkejut dibuatnya. “Dari mana kamu mendapatkan buah-buahan dan sayuran ini?” tanyaku penasaran, meski aku sudah dapat menebak jawabannya. “Ken yang memberikannya.” “Kenapa kamu menaruh buah-buahan di dalam freezer?” “Freezer?” ucap Luna spontan, mengulang ucapanku. “Apa lagi itu?” gumamnya tanpa sengaja. Aku pura-pura saja tak mendengar. “Oh, aku tidak tahu. Aku lupa,” sambungnya memberi alasan, cepat menyadari keadaan. “Kenapa aku bisa menyimpannya di situ ya?” ucapnya, pura-pura bertingkah bodoh, seraya memukuli kepalanya sendiri. “Ini tertukar. Ayam dan ikan yang harusnya diletakkan di sini,” kataku saat mendapati posisi bahan makanan yang tidak sesuai pada tempatnya. “Tolong pindahkan, simpan yang benar!” kataku memberi perintah. “Kalaupun mau membuat es buah, tidak seperti ini juga caranya,” omelku sekenanya, sambil mengambil apel merah lalu menggigitnya. Lantas, Luna segera melakukan tugasnya. Dia memindahkan sayuran dan buah-buahan pada rak yang bagian bawah. Sedangkan untuk freezer, dia mengisinya dengan ikan segar dan beberapa potong ayam. Sudah sesuai pada tempat yang semestinya. Tak lama kemudian, terdengar suara kokok ayam di ruangan itu. Suaranya yang dekat, tiba-tiba dan makin lama makin keras, membuat Luna terkejut bukan main. “Astaga! Apa itu?” ucapnya sambil memegang d**a. Sungguhan kaget. Matanya sampai terlihat awas dan menyelidiki sekitarnya. “Kenapa ada suara ayam? Di sini kan tidak ada ayam?!” tanyanya keheranan sendiri. “Tidak usah panik. Bunyinya berasal dari sini,” responku. Aku lantas mengeluarkan handphone dari saku celana jeansku. “Ini bunyi alarm,” tambahku, mencoba menerangkan. Luna malah terlihat lebih heran lagi. Matanya terus mengamati benda pipih bernama smartphone yang ada di genggamanku. Jelas baginya, ini adalah benda asing. Jelas baginya, ini adalah pertama kali dia melihat benda super canggih ini. Mungkin di pikirannya, bagi dia ini adalah benda ajaib yang sangat menarik perhatian untuk digunakan. “Oh ya ampun, aku salah mensetting alarmnya,” keluhku sambil mematikan alarmnya, padahal itu memang disengaja.   “Wah ... hebat!” cetus Luna tiba-tiba sambil tepuk tangan. “Benda apa itu? Apa itu benda yang bisa menirukan suara binatang?” tanyanya dengan polos. Membuatku ingin tertawa terbahak-bahak, tapi terpaksa harus menahannya. Sekarang, giliran aku yang pura-pura terlihat heran. “Apa hilang ingatan membuatmu melupakan semua yang ada di dunia?” balasku dengan pertanyaan. Kalimat itu berhasil membuat Luna tak mengatakan apa-apa lagi. Dia sepertinya menyadari kalau sikapnya hampir saja membuat dirinya ketahuan. “Jangan mengatakan lelucon yang tidak menarik seperti itu lagi! Masih ada setumpuk tugas yang harus kukatakan padamu,” lanjutku, sok tegas. “Ada lagi?!” kali ini Luna mulai protes. “Bukankah kamu bilang mau membalas semua kebaikanku?” “Baiklah,” jawabnya dengan nada setengah menyesal. Sepertinya ia mulai merasa kalau dirinya sudah masuk dalam jebakanku. Aku pun tersenyum puas melihatnya. Sudah sangat jelas, dia bukan manusia. Tapi aku harus menahan sebentar lagi untuk membongkar identitasnya. Aku menunggu momen yang tepat. “Satu lagi, jika pekerjaan di rumah sudah selesai, kamu harus bekerja di Kedai Camsun,” tambahku sebagai penutup. Luna pun cuma menghembuskan napas yang bertanda pasrah ketika mendengarnya. (*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD