Sakti
Usai meditasi, aku kembali mempelajari catatan kuno yang sempat kuabaikan karena harus menuju Kedai Camsun. Aku harus menemukan pencerahan mengenai apa yang tengah terjadi di sini. Aku harus mencari kebenaran tentang apa yang kulihat. Aku harus mencari tahu siapa sosok wanita yang kutemui. Aku harus bisa memecahkan keganjilan-keganjilan yang ada, agar semuanya menjadi jelas dan bisa ditindaklanjuti.
Sampailah aku pada satu halaman yang berjudul “Ketika Siluman Menjadi Manusia”. Dari catatan itu, aku tahu bahwa wanita yang sempat kutemui adalah bukan manusia. Dia adalah siluman kucing yang hidup di dalam tubuh manusia. Namun yang jadi pertanyaan, untuk apa siluman itu repot-repot menjadi manusia? Tidakkah ia tahu bahwa menjadi manusia itu rumit?
***
Luna
Masih terlalu pagi ketika seseorang mengetuk pintu rumah dari luar. Aku bahkan masih tertidur dan menarik selimutku hingga menutupi sekujur tubuh. Sungguh, ketukan itu sangat mengganggu. Tapi nampaknya, sang pengetuk pintu tak peduli dan terus mengetuk sampai pintu itu terpaksa harus kubuka.
Dengan mata setengah terpejam, aku terpaksa bangun untuk melihat siapa yang datang. Kubuka pintu itu dan ... tak ada siapa-siapa. Mataku melihat sekitar rumah, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru pekarangan. Namun tetap tak ada siapa pun. Ini orang iseng apa gimana? Pikirku kala itu. Lalu pandanganku turun ke bawah karena merasa mencium bau sesuatu. Dan ternyata benar, ada sesuatu di sana. Aku mendapati seekor ikan goreng dibungkus plastik bening tergeletak begitu saja di teras. Ini yang ajaib. Seketika rasa kantukku hilang dan mataku berbinar-binar melihat ikan itu. “Ikan?!” seruku bahagia, bagaikan mendapat keberuntungan besar di pagi hari. Tanpa pikir panjang, aku pun segera meraih ikan tersebut.
Aku jongkok dan hendak mengambilnya. Tapi anehnya, ikan itu malah bergerak sendiri. Ikannya tiba-tiba pindah dan menjauh satu meter dari posisi sebelumnya. Jujur, aku tak banyak berpikir atau bahkan sekadar untuk curiga. Aku hanya fokus pada ikannya saja. Aku tergila-gila pada ikannya yang cukup besar.
Aku melangkah maju dan hendak mengambilnya lagi. Tapi lagi-lagi ikan itu pindah sendiri. Aku melangkah lagi dan hendak mengambilnya lagi. Dan untuk kesekian kalinya, ikan itu pun pindah lagi. Ikannya semakin menjauh, setiap kali akan diraih. Terus saja begitu, sampai tahu-tahu aku sudah berada jauh dari rumah. Aku bahkan sampai tak menyadari kalau yang kuinjak saat ini adalah pasir pantai yang lembut. Aku terlalu menggenggam keinginanku akan ikan itu. Sampai aku lupa bahwa sekarang diriku sudah pindah tempat.
Mataku masih fokus pada ikan yang kutuju. Untuk kesekian kalinya, tanganku berusaha meraihnya. Aku belum mau menyerah. Namun, saat aku berjongkok, kulihat sepasang kaki berdiri tak jauh dari tempatku. Aku pun tak jadi mengambilnya. Aku mengangkat wajah dan berdiri tegak, memandang lurus ke depan, tepat kepada objek yang terpaut dua meter dari posisiku. Ada seorang lelaki yang mengendalikan ikan itu dengan seutas tali yang sangat panjang.
Lelaki itu tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya. Lemparan senyumnya tentu menciptakan banyak pertanyaan yang bermunculan di ruang pikirku. Sebelum aku mengajukan salah satu kalimat tanya, lelaki itu sudah lebih dulu angkat bicara. “Tidak kusangka, kamu begitu menyukai ikan,” komentarnya, setengah meledek.
Aku tak menghiraukan ucapannya. Aku tak menanggapinya dengan kalimat apa pun. Aku hanya memandangi lelaki itu saja. Memandangi wajahnya yang terasa tak asing, dengan tatapan curiga.
“Selamat datang di bumi!” kata lelaki itu lagi, seraya menggerakkan kedua tangannya seperti sedang menyambut.
“Apa?” kali ini aku tak bisa menahan responku sebagai ungkapan keterkejutan atas ucapan lelaki itu.
Dengan cepat lelaki itu pun meralat ucapannya. “Maksudku, selamat datang di desa kami!” ia mengulangi gerakan tangannya. Seolah sedang menyambutku.
Tanpa basa-basi, aku pun segera bertanya. “Kamu siapa?” tanyaku seraya menatapnya tajam.
Lelaki itu mendekat. “Kamu tidak ingat aku?” tanyanya sembari memandangku dalam jarak dekat. Ia mencondongkan badannya ke arahku, sehingga membuat badanku agak condong ke belakang. “Aku tidak tahu,” jawabku sambil melangkah mundur dan mengalihkan pandangan dari tatapannya. Lelaki ini membuatku takut juga. Wajahnya saja yang tampan, tapi sikapnya padaku membuatku tak nyaman. Aku khawatir, jangan-jangan orang ini juga tahu siapa aku sebenarnya. Jika itu benar, maka sungguhlah aku sedang ada di posisi yang tidak aman sekarang.
“Baiklah. Perkenalkan, namaku Sakti,” ucapnya, sambil menyodorkan tangan untuk berjabat.
Aku mengabaikan permintaan jabat tangannya. Aku diam saja, memandang ke sembarang tempat. Aku tak berani menatapnya. Aku cuma bisa melirik tangannya saja.
“Apa kamu takut padaku?” tanyanya kemudian.
Mendengar itu, aku langsung sadar kalau aku tak boleh terlihat takut. Kalau aku ketakutan, maka aku akan ketahuan. “Tidak,” jawabku segera, menyangkal penilaiannya. Aku terpaksa memberanikan diri melihat wajahnya lagi. Kali ini aku harus menampilkan tatapan yang tidak takut pada apa pun.
Dia belum berkomentar. Tapi masih menunggu aku menjabat tangannya, memperkenalkan diriku juga. Sementara aku malah terus memandanginya, karena sepertinya aku ingat sesuatu.
“Kenapa bengong? Apa aku setampan itu?” katanya lagi, sembari menarik kembali tangan kanannya yang tak mendapat sambutan, lalu memindahkannya ke pipi, mengelus pipinya sendiri.
Tidak kusangka, ternyata orang ini narsis juga. Tapi aku tak peduli dengan sikap narsisnya. Aku sedang fokus untuk menciumi aroma tubuhnya. Dan ya, aku tak salah lagi. “Kamu yang kemarin kan?” tanyaku sebagai respon.
“Syukurlah kalau sudah ingat,” jawabnya singkat. Ia lantas melipat kedua tangannya di d**a. Seperti siap menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan lebih dulu menginterogasinya dengan pertanyaan-pertanyaanku yang sudah menumpuk.
“Apa kamu yang menolongku?”
Dia hanya mengangguk. Sedangkan aku merasa lega, karena pada akhirnya bisa bertemu dengan orang yang telah menolongku. Aku lantas menarik napas dan memperkenalkan diri.
“Namaku Luna. Terimakasih sudah bersedia menolongku. Aku sungguh sangat berterimakasih karena telah menolongku dan memberiku tempat tinggal,” ucapku setengah menunduk.
“Bukan masalah,” responnya singkat. Sambil masih melipat kedua tangannya. Kali ini disertai dengan kaki kanan yang dihentak-hentakkan. Ia seolah tak sabar menunggu diriku menghabiskan semua pertanyaanku.
“Lalu rumah itu? Apa itu rumahmu? Kenapa kamu menghilang?” tanyaku bertut-turut.
“Akan kujelaskan. Sebenarnya rumah itu memang khusus diperuntukkan bagi siapa saja yang baru datang ke bumi.”
“Apa?” aku tak percaya ada tempat semacam itu. Pernyataannya benar-benar membuatku kaget. Apa pula tujuannya dengan menyediakan tempat khusus seperti itu?
“Maksudku, bagi siapa saja yang baru datang ke desa ini,” ralatnya segera.
“Oh, syukurlah,” ucapku lega.
“Apanya yang syukur?”
“Oh, ya ... itu, berarti kan rumahnya tanpa pemilik,” jawabku segera. Sebelum gelagatku terdeteksi olehnya.
“Aku pemiliknya.”
“Oh, maaf,” kataku, malu sendiri. “Tapi kenapa kamu menghilang?”
Terlihat Sakti sedikit bimbang. Ia seperti sedang menimbang sesuatu. Dan ia pun berkata. “Aku menghilang untuk mencari tahu tentang dirimu.”
Lagi, batinku merasa tertekan dengan ucapannya. Demi Tuhan, kalimat itu sungguh terdengar sangat menegangkan. Apa yang akan dikatakannya kemudian? Apakah dia juga tahu siapa aku? Atau malah tahu siapa aku sebenarnya?
Aku memilih diam. Menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya. Lebih tepatnya, mempersiapkan diri kalau-kalau dia akan mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi.
“Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu bermain-main dengan tubuh itu?” tanya Sakti setelahnya. Kali ini wajahnya berubah serius.
Benar kan? Cepat atau lambat dia pasti akan melontarkan pertanyaan semacam itu. Membuatku harus menarik napas dalam-dalam sebelum menjawabnya. “Apa maksudmu?” tanyaku. Mencoba bersikap tenang.
“Kamu baru saja mengalami kecelakaan. Tapi malah berputar-putar di jalanan. Kenapa tidak minta tolong warga?” ungkapnya kemudian.
Apa aku tak salah dengar? Jadi hanya ini yang dia tahu? Sepertinya aku terlalu berpikir berlebihan.
“Aku ...,” kalimatku menggantung. “Aku merasa asing dengan tempat ini. Jadi aku tidak tahu harus ke mana. Aku juga tidak ingat siapa diriku,” jawabku setelah berhasil menemukan alasan. Bisa juga aku mengarang cerita, pikirku.
“Jadi ceritanya, kamu hilang ingatan?”
“Begitulah,” kataku sambil memegangi kepalaku yang masih dibalut perban.
“Tapi kamu tahu namamu,” komentar Sakti.
“Tetangga rumahmu, dia mengenali aku. Katanya aku adalah temannya.”
“Tetangga yang mana?”
“Samping kanan rumah.”
“Maksudmu, Ken?” Sakti memastikan tebakannya.
“Iya,” kataku sambil mengangguk.
Ada yang aneh. Sakti terlihat manggut-manggut dengan tatapan kosong, seperti sedang memahami sesuatu.
“Kalau begitu, kamu bisa cepat pulang ke rumahmu,” cetusnya kemudian.
Aku jelas langsung menggeleng tak setuju. Hal ini membuat Sakti menatapku curiga. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku dan Ken sudah lama hilang kontak. Dia tidak tahu di mana tempat tinggalku sekarang. Jadi, aku masih boleh kan tinggal di rumahmu? Setidaknya sampai ingatanku pulih,” pintaku dengan tangan memohon.
Sakti menimbang sebentar. “Baiklah, anggap saja kita sedang melakukan kerjasama yang saling menguntungkan,” ucapnya. Seolah baru mendapatkan ide.
“Maksudnya?” aku belum mengerti.
“Kamu boleh tinggal, tapi harus melakukan sesuatu untukku. Setuju?” kali ini dia menyodorkan tangannya lagi untuk berjabat.
“Setuju. Aku akan melakukan apa pun. Aku akan balas semua kebaikanmu,” jawabku mantap. Seraya menjabat tangannya sebagai tanda persetujuan.
Sakti pun melempar senyum manisnya yang ternyata belakangan kuketahui mengandung maksud tertentu.
(*)